ログインSesekali, orang-orang datang membawa kotak abu. Beberapa mengetuk pintu dengan wajah berpura-pura sedih, beberapa lagi bahkan tersenyum kecil, seolah kematian bisa dinegosiasikan dengan uang.
Namun Hanan tidak tertipu. Tatapannya tajam, seperti seseorang yang sudah kehilangan terlalu banyak. Setiap kali mereka datang, ia hanya membuka kotak, menatap isinya, lalu menggeleng pelan, seolah melihat sisa-sisa manusia lain hanya membuat kehampaannya semakin dalam. Tim forensik berusaha keras, tetapi jawaban mereka tidak pernah berubah. “Ini bukan Senia.” Hingga akhirnya… Harapan pun ikut mati. ---- Sebulan berlalu, namun keluarga Citra dan Haykal tak lagi membicarakan pernikahan atau masa depan Livia dan Hanan. Livia terus mendesak, tapi mereka tak peduli. Mereka terlalu tenggelam dalam rasa bersalah dan penyesalan, mereka sibuk menelusuri masa lalu, mencoba menemukan titik di mana diri mereka mulai berubah menjadi monster. Rasa bersalah menggantung di atas kepala mereka seperti bayangan hitam yang tidak bisa ditiadakan. Setiap malam, mereka terbangun oleh bayangan wajah Senia, wajah pucatnya, suaranya yang bergetar, ketakutannya yang mereka abaikan. Dan ketika mereka mengira penderitaan mereka telah mencapai dasar terdalam… Pagi itu datang. Rekaman audio terakhir Senia diputar di seluruh stasiun berita. Suara Senia terdengar rapuh, seperti seseorang yang sudah lama berhenti bermimpi. Suara Livia terdengar dingin, manipulatif, tajam seperti pisau yang membelah tenggorokan. Begitu audio itu menyebar, kota Yiwa seperti disiram bensin. Dan seseorang, entah siapa, menyalakan api. Saham keluarga Citra dan Haykal runtuh. Pemegang saham mengamuk. Dunia usaha mencemooh mereka. Nama mereka berubah dari kehormatan menjadi kutukan. Semua mata tertuju pada kebusukan keluarga itu. Semua lidah menuntut darah mereka. Orang-orang mulai menyadari sesuatu yang lebih mengerikan. Senia tidak pernah berencana mati. Dia dibunuh secara perlahan, melalui kata-kata, tekanan, dan pengkhianatan. Dan pelakunya adalah kekasih dan keluarganya sendiri. --- Di sudut lain kota, seorang pria di kamar apartemen gelap menatap layar ponselnya. Axel Wirale. Suara emas negara Yiwa. Kini wajahnya memucat, matanya berkaca-kaca. Ia membaca nama itu lagi. Senia. Gadis kecil yang dulu datang kepadanya dengan tangan gemetar, membawa selembar lirik lagu yang ditulis dengan air mata. Gadis yang ia lindungi, yang ia rahasiakan, yang ia kira akan tumbuh dan bertahan. Namun kini… yang tersisa hanyalah berita kematian yang kejam. Setelah satu jam mencari kepastian, Axel mengetik. “Adik kecilku… mengapa semua orang meninggalkanmu? Dunia terlalu gelap untukmu. Kakak akan menyimpanmu dalam setiap nada yang kau tinggalkan.” #Seniacitrasana Postingan itu meledak seperti bom. Ribuan komentar masuk. Namun karena Axel diam… rumor liar muncul seperti jamur beracun. Mereka menyebut Senia jalang. Mereka menuduhnya menggoda Axel. Mereka mengatakan ia pantas mati. Beberapa bahkan menulis bahwa Livia seharusnya diberi penghargaan karena telah mendorong Senia ke kematian tragisnya. --- Orang tua Livia panik seperti hewan yang terjebak. Mereka memerintahkan tim humas perusahaan untuk mengalihkan isu, namun langkah bodoh itu justru membuat publik semakin marah. Nama Senia kembali dicabik-cabik. Foto-fotonya diubah menjadi bahan hinaan yang menyakitkan. Seakan dunia bersatu untuk menelanjangi martabat gadis yang bahkan sudah tidak bisa membela diri. --- Dua jam setelah unggahannya, Axel menerima telepon. Suaranya pecah ketika ia melihat fitnah kejam yang merusak nama Senia. Ia menghapus postingan itu, tetapi semuanya sudah terlambat. Para penggemarnya yang fanatik, menyulut kekacauan yang lebih gelap. Mereka mengedit wajah Senia menjadi karikatur hinaan. Mereka menyeret nama mendiang itu ke dalam lumpur. Axel hanya ingin berduka. Namun dunia menuduh gadis itu bahkan setelah ia tiada. Dan ketika dia melihat semuanya menjadi begitu brutal, Axel perlahan-lahan memutuskan satu hal. Jika dunia sudah membakar Senia hidup-hidup, maka ia akan membuka semuanya. Tidak peduli janji apa yang ia buat pada Senia. Tidak peduli harga apa yang harus ia bayar. “Karena baginya, membiarkan hal ini terjadi akan lebih kejam bagi Senia daripada dirinya sendiri, meski mengingkari janji berarti membiarkan dunia menghancurkan ingatan tentang gadis itu.” Tiga jam kemudian, Axel menyalakan kamera. Dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya, suaranya gemetar. Axel memulai rekaman itu dengan raut wajah yang tampak habis ditempa rasa bersalah berbulan-bulan. Suaranya datar, bukan karena ia tenang, tapi karena ia sudah terlalu lelah untuk menyembunyikan apa pun. Kamera merekam semua detail, mata merah, tangan yang sesekali gemetar, dan jeda panjang yang tidak pernah ia potong. Ia menceritakan pertemuan pertamanya dengan Senia. “Waktu itu… Senia baru berusia enam belas tahun. Dia bekerja sambil tetap memakai seragam sekolah yang tersembunyi di balik jaket usangnya. Aku… aku harus jujur. Ada saat-saat aku tergoda, ingin mendekatinya. Tapi begitu kulihat betapa rapuh dan mudanya dia… aku merasa jijik pada diriku sendiri. Hina. Tapi anehnya, perasaan itu tidak cukup untuk membuatku pergi. Aku tetap di sana, terpaku, karena sesuatu tentang Senia… sesuatu yang tidak bisa kujelaskan, mengikatku tanpa kusadari.” “Pertemuan kedua kami? Itu di sebuah studio musik kecil yang hampir roboh. Aku berdiri di pintu, menatapnya menyapu lantai sambil bersenandung. Suaranya… entah bagaimana, menghentikan semua kata-kata yang ingin kukatakan. Jernih, kuat, tapi ada keraguan yang dalam. Seperti… seperti seseorang yang selalu merasa salah, meski ia melakukan hal yang benar.” “Setelah itu, aku mulai bekerja sama dengannya, membuat lagu-lagu bersama. Awalnya hanya untuk mencoba… tapi perlahan aku sadar, Senia bukan sekadar berbakat. Dia menyelesaikan bagian paling rumit dari komposisi kami dengan ketenangan yang menakutkan. Tapi setiap kali aku memujinya… dia hanya menunduk. Menelan ketakutan yang terlalu berat untuk diungkapkan.” “Aku bertanya pada diriku sendiri, kenapa aku begitu terpikat padanya. Jawabannya sederhana… Senia tidak pernah mencoba menjadi yang terbaik. Dia hanya ingin bertahan. Dan aku? Aku… aku terikat pada ketahanan itu. Pada keheningan yang menutupi rasa sakitnya. Pada keberanian yang jarang muncul ke permukaan.” Aku mengamatinya diam-diam, dan perlahan mengerti, Senia tidak pernah mencoba menjadi yang terbaik. Ia tidak peduli dengan pujian, tidak peduli dengan pengakuan. Yang ia inginkan hanyalah bertahan, bertahan di tengah dunia yang selalu ingin menjatuhkannya. “Kalian tahu… akhirnya aku menyadari penyakit jantung Senia. Aku melihat sendiri bagaimana dia sering memegang dadanya ketika terlalu lelah, napasnya tersendat, tapi dia tetap memaksakan diri bekerja. Tetap datang tepat waktu, seolah hidupnya tak pernah memberi pilihan lain selain bertahan.” “Aku… aku mulai membeli lagu-lagunya dengan harga tinggi. Aku tahu itu bukan solusi. Tapi itu satu-satunya cara aku bisa memberinya sedikit ruang untuk bertahan, meski hanya sementara.” “Setelah kelulusan, dia menghilang. Tanpa pesan. Tanpa penjelasan. Yang dia tinggalkan hanyalah permintaan sederhana, agar aku tak menyebut namanya lagi.” “‘Kalau nanti aku nggak ada,’ katanya waktu itu, ‘anggap saja aku memang tak pernah ada.’ Saat itu, aku tak mengerti maksudnya.” “Tapi sekarang… aku mengerti. Dan dengan suara bergetar ini, aku hanya bisa mengakui semuanya, membiarkan bukti-bukti itu berbicara sendiri.”Toni berjalan mendekat ke arah Nando. Berbeda dengan sikapnya di depan kedua orang tuanya, kali ini ia jauh lebih berani menghadapi putra sulungnya sendiri.“Nando,” ucapnya sambil menatap dingin. “Apa kau tidak mau menyapa ayah dan ibumu ini?”Nando menatap lurus ke arah Toni. “Maaf, tapi ibuku sudah lama mati. Dan ayahku? Dia tidak layak mendapatkan sapaanku.”Suasana aula itu langsung sunyi, wajah Toni berubah gelap.“Kamu!”“Aku apa?” potong Nando, “Kau ingin aku memanggil wanita simpananmu sebagai ibu?”Wajah Angelin memucat, “Nando, jaga bicaramu!”“Bicaraku? Kenapa? Apa ada yang salah?” Nando tersenyum tipis. “Sepertinya aku masih cukup sopan karena belum mengusirmu keluar dari acara keluarga ini.”“Nando!” bentak Toni.Beberapa anggota keluarga mulai mendekat diam-diam untuk mendengarkan pertengkaran itu.Nando menatap ayahnya tanpa perubahan ekspresi sedikit pun.“Kau mendekatiku hanya untuk memintaku menyapamu sebagai orang tua? Kalau benar kau peduli soal itu, kau seharusny
Begitu pakaian mereka selesai disesuaikan, Nando tidak langsung meninggalkan butik itu. Ia meminta pelayan mengambil katalog koleksi musim ini dan duduk kembali di sofa ruang tunggu yang menghadap rak pajangan gaun. Senia duduk di sampingnya dengan tongkat di tangan. Punggungnya tegak, lututnya rapat, wajahnya menghadap lurus ke depan seperti seseorang yang sedang mendengarkan keadaan di sekitarnya dengan hati-hati.Nando membalik halaman katalog tanpa benar-benar memperhatikannya. Pandangannya sesekali beralih ke arah Senia sebelum akhirnya ia bertanya pelan, “Kamu mau buah?”Senia menoleh ke arah suaranya. “Buah apa?”“Kamu mau anggur?”Senia mengerutkan bibir kecilnya beberapa detik sebelum mengangguk. “Boleh.”Nando mengambil mangkuk kecil berisi anggur dari meja kaca di depan mereka lalu menyerahkannya ke tangan Senia.“Makanlah.”“Terima kasih.”Nando kembali membuka katalog pakaian wanita di pangkuannya. Ia sedang memilih beberapa pakaian rumah untuk Senia ketika gerakan kecil
“Rekam yang tadi sekali lagi, Mari. Aku ingin dengar ulang bagian tengahnya.”Senia berdiri di samping piano dengan tangan masih menempel di permukaan tuts yang sudah mulai ia hafal bentuknya. Mari segera menyiapkan ponsel dan mengangguk kecil. “Baik, Nona. Anda sudah bisa memulainya.”Nada kembali mengalun di ruang itu, dan kali ini terasa lebih rapi dan terarah dari sebelumnya. Senia tidak pernah menghitung waktu juga tidak berniat untuk menghentikan dirinya di tengah jalan. Ia memainkan bagian yang sama berulang kali sampai merasa cukup, lalu perlahan menarik tangannya menjauh.“Sudah, Mari, aku ingin beristirahat dulu sebentar dan untuk hasilnya, kita dengar nanti saja.”Mari mematikan rekaman, lalu mendekat untuk membantu. “Nona ingin ke mana sekarang?”“Ke ruang tengah, sharusnya nenek masih ada di sana kan.?”Mari mengangguk dan langsung meraih lengan Senia, membimbingnya keluar dari ruang musik. Langkah mereka pelan, teratur, melewati lorong yang sudah mulai terasa akrab bagi
Kakek Nando menghela napas panjang, “Kalau sejak awal kakek tahu dia mengkhianati ibumu, saham keluarga tidak akan pernah kakek serahkan untuk dia kelola sendiri. Kakek tidak pernah menyangka, bahwa putra kakek ternyata seorang bajingan.”Nando berdiri tegak di hadapan pria tua itu, menahan semua reaksi yang ingin muncul. “Yang sudah terjadi tidak akan pernah bisa diubah, Kek. Sekarang yang penting adalah apa yang akan kita lakukan setelah ini. Ayah sudah terlalu jauh masuk ke dalam struktur perusahaan, dia pandai membangun pengaruh, dan dewan direksi berpihak padanya. Aku tidak bisa menarik semuanya sekaligus. Aku harus mengambilnya perlahan, satu per satu.”Kakek Nando menatapnya tajam. “Lalu? Kamu pikir cara termudahnya lewat Rendra?”“Iya,” jawab Nando tanpa ragu. “Dia celah yang paling jelas.”“Nando, jangan pernah remehkan anak itu. Walaupun aku tidak akan mau mengakuinya sebagai keturunan keluarga ini, ayahmu hampir menjadikannya tuan muda keluarga ini dan menggantikanmu seteng
Siang itu berjalan tanpa gangguan, tenang dengan cara yang membuat semuanya tampak wajar sejak awal, seolah tidak ada hal penting yang akan muncul dari percakapan sederhana di dalam ruangan itu, padahal setiap kalimat yang diucapkan perlahan membuka sesuatu yang selama ini tersembunyi tanpa pernah benar-benar dibicarakan secara langsung. Senia duduk bersama nenek Nando, menjaga posisinya tetap di tempat yang sama sejak percakapan dimulai, sementara di bagian lain rumah itu Nando duduk berhadapan dengan kakeknya, membicarakan bisnis yang terus menuntut perhatian tanpa jeda.“Senia… bagaimana kamu bisa bertemu dengan Nando? Ceritakan pada nenek.”“Kami bertemu di jalan, Nek. Waktu itu Nando menyelamatkanku saat aku mengalami kecelakaan lalu lintas.”Nenek Nando sedikit terkejut mendengar penjelasan Senia, sebab ia tahu dengan pasti bahwa Nando bukanlah orang yang mau berbuat baik pada orang asing, terlebih pada seorang wanita. “Keluargamu di mana?”“Nek… orang tuaku sudah meninggal. Sa
Langkah Senia terdengar pelan dan teratur ketika ia berjalan dengan tongkatnya menuju meja di ruang tengah kamar mereka. Ia sudah mulai menghafal jarak dan arah di dalam ruangan itu, meskipun setiap langkahnya masih menyimpan kehati-hatian yang tidak bisa dihilangkan begitu saja. Tongkat di tangannya menyentuh permukaan lantai lebih dulu sebelum kakinya bergerak, memastikan tidak ada benda yang menghalangi jalannya.“Nando… kau sudah keluar?” tanyanya dengan suara yang tidak terlalu keras.“Belum,” jawab Nando dari arah yang tidak terlalu jauh. “Aku menunggumu. Bukankah sangat tidak mungkin jika aku membiarkanmu keluar sendiri dari kamar ini?.”Jawaban itu datang tanpa emosi yang berlebihan, terdengar seperti sesuatu yang memang wajar.Senia hanya mengangguk pelan, lalu melanjutkan langkahnya menuju arah suara tersebut.Ketika ia sudah cukup dekat, langkahnya melambat, menunggu isyarat atau arahan berikutnya.“Duduklah lebih dulu, Aku akan menata rambutmu.” ucap Nando dengan suara dat
Senia membuka mata ketika mendengar suara orang lain di sekitarnya. Namun tetap gelap yang ia lihat. Tidak ada cahaya, barang sedikitpun.Hanya hitam yang sama seperti sebelumnya. Napasnya sedikit memburu. Tangan kanannya bergerak perlahan, meraba lengan kirinya. Ada sesuatu yang menempel di sana.
Tidak ada suara dari rumah kayu tua di ujung desa itu. Pintu depannya tertutup rapat. Engselnya berkarat. Tidak pernah terdengar terbuka. Di dalam, seorang gadis terbaring di lantai kayu yang dingin. Napasnya berat, pendek, tersendat. Bibirnya pecah-pecah. Kering hingga hampir berdarah. Perutnya
Video itu berisi file lagu, email, rekaman suara, notasi asli, semua menunjukkan bahwa Senia adalah otak kreatif dari sebagian karya Axel. Tidak ada dramatisasi. Semua data menunjukkan fakta yang sama, Axel bukan satu-satunya pencipta.Setelah video dirilis, komentar kebencian yang sebelumnya mengh
Tidak ada satu pun yang menyadari bahwa kematian sedang berjalan perlahan menuju Senia.Tubuhnya melemah, penglihatannya mengabur, dan setiap helaan napas terdengar seperti perjuangan terakhir hidupnya. Ratusan wajah di sekelilingnya memudar menjadi bayang-bayang tak berbentuk…hingga yang tersisa







