แชร์

Bab 9

ผู้เขียน: Ellow_dikata
last update วันที่เผยแพร่: 2026-03-29 11:33:00

Bara duduk di sebelah Senia.

Kasur sedikit berderit saat berat tubuh pria itu bertumpu di satu sisi. Tangannya terangkat, lalu meraih wajah Senia tanpa ragu, memaksanya menghadap tepat ke arahnya.

Meski Senia tidak bisa melihat, Bara tetap menatapnya cukup lama. Tatapannya tidak berubah.

Mata hitam yang kosong itu… justru membuatnya semakin tertarik. Tenang, tidak melawan.

Dan yang paling membuatnya puas, wajahnya. Sangat mirip dengan seseorang yang tidak seharusnya ia lihat lagi.

Senia tidak b
อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป
บทที่ถูกล็อก

บทล่าสุด

  • Aku Mati Kenapa Kalian Menangis?   Bab 46

    Toni berjalan mendekat ke arah Nando. Berbeda dengan sikapnya di depan kedua orang tuanya, kali ini ia jauh lebih berani menghadapi putra sulungnya sendiri.“Nando,” ucapnya sambil menatap dingin. “Apa kau tidak mau menyapa ayah dan ibumu ini?”Nando menatap lurus ke arah Toni. “Maaf, tapi ibuku sudah lama mati. Dan ayahku? Dia tidak layak mendapatkan sapaanku.”Suasana aula itu langsung sunyi, wajah Toni berubah gelap.“Kamu!”“Aku apa?” potong Nando, “Kau ingin aku memanggil wanita simpananmu sebagai ibu?”Wajah Angelin memucat, “Nando, jaga bicaramu!”“Bicaraku? Kenapa? Apa ada yang salah?” Nando tersenyum tipis. “Sepertinya aku masih cukup sopan karena belum mengusirmu keluar dari acara keluarga ini.”“Nando!” bentak Toni.Beberapa anggota keluarga mulai mendekat diam-diam untuk mendengarkan pertengkaran itu.Nando menatap ayahnya tanpa perubahan ekspresi sedikit pun.“Kau mendekatiku hanya untuk memintaku menyapamu sebagai orang tua? Kalau benar kau peduli soal itu, kau seharusny

  • Aku Mati Kenapa Kalian Menangis?   Bab 45

    Begitu pakaian mereka selesai disesuaikan, Nando tidak langsung meninggalkan butik itu. Ia meminta pelayan mengambil katalog koleksi musim ini dan duduk kembali di sofa ruang tunggu yang menghadap rak pajangan gaun. Senia duduk di sampingnya dengan tongkat di tangan. Punggungnya tegak, lututnya rapat, wajahnya menghadap lurus ke depan seperti seseorang yang sedang mendengarkan keadaan di sekitarnya dengan hati-hati.Nando membalik halaman katalog tanpa benar-benar memperhatikannya. Pandangannya sesekali beralih ke arah Senia sebelum akhirnya ia bertanya pelan, “Kamu mau buah?”Senia menoleh ke arah suaranya. “Buah apa?”“Kamu mau anggur?”Senia mengerutkan bibir kecilnya beberapa detik sebelum mengangguk. “Boleh.”Nando mengambil mangkuk kecil berisi anggur dari meja kaca di depan mereka lalu menyerahkannya ke tangan Senia.“Makanlah.”“Terima kasih.”Nando kembali membuka katalog pakaian wanita di pangkuannya. Ia sedang memilih beberapa pakaian rumah untuk Senia ketika gerakan kecil

  • Aku Mati Kenapa Kalian Menangis?   Bab 44

    “Rekam yang tadi sekali lagi, Mari. Aku ingin dengar ulang bagian tengahnya.”Senia berdiri di samping piano dengan tangan masih menempel di permukaan tuts yang sudah mulai ia hafal bentuknya. Mari segera menyiapkan ponsel dan mengangguk kecil. “Baik, Nona. Anda sudah bisa memulainya.”Nada kembali mengalun di ruang itu, dan kali ini terasa lebih rapi dan terarah dari sebelumnya. Senia tidak pernah menghitung waktu juga tidak berniat untuk menghentikan dirinya di tengah jalan. Ia memainkan bagian yang sama berulang kali sampai merasa cukup, lalu perlahan menarik tangannya menjauh.“Sudah, Mari, aku ingin beristirahat dulu sebentar dan untuk hasilnya, kita dengar nanti saja.”Mari mematikan rekaman, lalu mendekat untuk membantu. “Nona ingin ke mana sekarang?”“Ke ruang tengah, sharusnya nenek masih ada di sana kan.?”Mari mengangguk dan langsung meraih lengan Senia, membimbingnya keluar dari ruang musik. Langkah mereka pelan, teratur, melewati lorong yang sudah mulai terasa akrab bagi

  • Aku Mati Kenapa Kalian Menangis?   Bab 43

    Kakek Nando menghela napas panjang, “Kalau sejak awal kakek tahu dia mengkhianati ibumu, saham keluarga tidak akan pernah kakek serahkan untuk dia kelola sendiri. Kakek tidak pernah menyangka, bahwa putra kakek ternyata seorang bajingan.”Nando berdiri tegak di hadapan pria tua itu, menahan semua reaksi yang ingin muncul. “Yang sudah terjadi tidak akan pernah bisa diubah, Kek. Sekarang yang penting adalah apa yang akan kita lakukan setelah ini. Ayah sudah terlalu jauh masuk ke dalam struktur perusahaan, dia pandai membangun pengaruh, dan dewan direksi berpihak padanya. Aku tidak bisa menarik semuanya sekaligus. Aku harus mengambilnya perlahan, satu per satu.”Kakek Nando menatapnya tajam. “Lalu? Kamu pikir cara termudahnya lewat Rendra?”“Iya,” jawab Nando tanpa ragu. “Dia celah yang paling jelas.”“Nando, jangan pernah remehkan anak itu. Walaupun aku tidak akan mau mengakuinya sebagai keturunan keluarga ini, ayahmu hampir menjadikannya tuan muda keluarga ini dan menggantikanmu seteng

  • Aku Mati Kenapa Kalian Menangis?   Bab 42

    Siang itu berjalan tanpa gangguan, tenang dengan cara yang membuat semuanya tampak wajar sejak awal, seolah tidak ada hal penting yang akan muncul dari percakapan sederhana di dalam ruangan itu, padahal setiap kalimat yang diucapkan perlahan membuka sesuatu yang selama ini tersembunyi tanpa pernah benar-benar dibicarakan secara langsung. Senia duduk bersama nenek Nando, menjaga posisinya tetap di tempat yang sama sejak percakapan dimulai, sementara di bagian lain rumah itu Nando duduk berhadapan dengan kakeknya, membicarakan bisnis yang terus menuntut perhatian tanpa jeda.“Senia… bagaimana kamu bisa bertemu dengan Nando? Ceritakan pada nenek.”“Kami bertemu di jalan, Nek. Waktu itu Nando menyelamatkanku saat aku mengalami kecelakaan lalu lintas.”Nenek Nando sedikit terkejut mendengar penjelasan Senia, sebab ia tahu dengan pasti bahwa Nando bukanlah orang yang mau berbuat baik pada orang asing, terlebih pada seorang wanita. “Keluargamu di mana?”“Nek… orang tuaku sudah meninggal. Sa

  • Aku Mati Kenapa Kalian Menangis?   Bab 41

    Langkah Senia terdengar pelan dan teratur ketika ia berjalan dengan tongkatnya menuju meja di ruang tengah kamar mereka. Ia sudah mulai menghafal jarak dan arah di dalam ruangan itu, meskipun setiap langkahnya masih menyimpan kehati-hatian yang tidak bisa dihilangkan begitu saja. Tongkat di tangannya menyentuh permukaan lantai lebih dulu sebelum kakinya bergerak, memastikan tidak ada benda yang menghalangi jalannya.“Nando… kau sudah keluar?” tanyanya dengan suara yang tidak terlalu keras.“Belum,” jawab Nando dari arah yang tidak terlalu jauh. “Aku menunggumu. Bukankah sangat tidak mungkin jika aku membiarkanmu keluar sendiri dari kamar ini?.”Jawaban itu datang tanpa emosi yang berlebihan, terdengar seperti sesuatu yang memang wajar.Senia hanya mengangguk pelan, lalu melanjutkan langkahnya menuju arah suara tersebut.Ketika ia sudah cukup dekat, langkahnya melambat, menunggu isyarat atau arahan berikutnya.“Duduklah lebih dulu, Aku akan menata rambutmu.” ucap Nando dengan suara dat

  • Aku Mati Kenapa Kalian Menangis?   Bab 7

    Senia membuka mata ketika mendengar suara orang lain di sekitarnya. Namun tetap gelap yang ia lihat. Tidak ada cahaya, barang sedikitpun.Hanya hitam yang sama seperti sebelumnya. Napasnya sedikit memburu. Tangan kanannya bergerak perlahan, meraba lengan kirinya. Ada sesuatu yang menempel di sana.

  • Aku Mati Kenapa Kalian Menangis?   Bab 6

    Tidak ada suara dari rumah kayu tua di ujung desa itu. Pintu depannya tertutup rapat. Engselnya berkarat. Tidak pernah terdengar terbuka. Di dalam, seorang gadis terbaring di lantai kayu yang dingin. Napasnya berat, pendek, tersendat. Bibirnya pecah-pecah. Kering hingga hampir berdarah. Perutnya

  • Aku Mati Kenapa Kalian Menangis?   Bab 5

    Ayah Citra melanjutkan, suaranya kini lebih berat, namun jauh lebih dingin.“Kami tidak pernah membedakan kalian karena cinta. Kami membedakannya karena rasa bersalah. Karena sejak kalian lahir, kami yakin Senia tidak akan hidup lama. Tapi dia bertahan… bertahun-tahun… dengan tubuh yang seharusnya

  • Aku Mati Kenapa Kalian Menangis?   Bab 4

    Suara Jonathan pecah. Ia merosot berlutut dan menangis sambil memohon maaf, memeluk kaki ibunya. “Aku yang membuatnya mati perlahan, Bu… aku ikut mendorong dia…”Ayah Citra menatapnya tajam. “Kau tahu dia bekerja paruh waktu?”Jonathan mengangguk kecil. “Aku pikir… dia cuma ingin terlihat baik di m

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status