LOGINTing... tong...
Suara lonceng stasiun bergaung nyaring, memantul di dinding-dinding keramik putih yang berlumut dan retak. Bunyi itu terasa begitu nyata, beritme konstan, seolah sengaja mengejek detak jantung Braelyn yang mendadak berpacu gila-gilaan. Aroma karat besi, oli dingin, dan sisa pembakaran mesin uap menyengat indra penciumannya, mengusir paksa sisa-sisa aroma lavender bumi asli yang baru saja ia dekap erat beberapa detik lalu.
Batin-nya menjerit histeris hing
"Kita berhasil mendarat... astaga, kita benar-benar berhasil keluar hidup-hidup dari sana," desis Kael terengah-engah, merebahkan tubuhnya di atas hamparan tanah rumput yang basah oleh embun pagi.Ledakan terakhir menara transmisi utama menyisakan kembang api cahaya keemasan yang perlahan memudar di angkasa. Jaring grid ungu yang selama ini mencekam langit bumi telah lenyap tak bersisa, digantikan oleh hamparan langit biru fajar yang begitu luas dan bersih. Bau sisa ozon dan logam terbakar perlahan tersapu oleh angin lembah yang sejuk. Braelyn berdiri tegak di samping reruntuhan kawah pendaratan, menatap telapak tangannya yang kini kehilangan pendaran emas terakhirnya."Sistem itu sudah mati, Adrian tidak akan pernah bisa kembali menulis ulang takdir manusia," ucap Braelyn lirih, namun penuh ketegasan.Kael bangkit perlahan, meraba saku jaketnya yang kini kosong tanpa kabel atau perangkat optik rusak. Tidak ada lagi alarm darurat, tidak ada lagi kode sandi atau
"Masukkan perintah eksekusi darurat sekarang, Kael! Perisai ini tidak akan bisa menahan terjangan data itu lebih lama lagi!" teriak Braelyn tertahan, mengatupkan rahangnya erat-erat untuk menahan beban hantaman gelombang hitam Adrian.Kaca-kaca perisai emas mulai memperlihatkan retakan tipis akibat tekanan badai data yang luar biasa dahsyat. Adrian meraung murka, wujudnya berubah menjadi pusaran bit digital hitam pekat yang menghujani kubah perlindungan tanpa henti. Kael mengibaskan jemarinya di atas konsol utama dengan kecepatan maksimum. Darah segar menetes dari hidungnya akibat radiasi kuantum yang membakar saraf optik peretas muda itu. Layar terminal utama kini berkedip hijau terang, menandakan aliran protokol pemusnahan berhasil dibalikkan."Protokol balik arah mencapai sembilan puluh lima persen! Aku sedang menyedot seluruh daya inti menara untuk memantulkan balik serangan Adrian ke server pusatnya!" balas Kael histeris, menyatukan sisa kabel optik terakhir denga
"Tubuhmu hanyalah kode yang berulang, Adrian! Kau tidak punya wujud nyata untuk menantang kami!" bentak Braelyn, menyiapkan kepalan tangannya yang membara dengan pendaran energi emas.Tubuh Adrian tampak berkedip, bukan terdiri dari daging dan darah, melainkan proyeksi data padat yang terhubung langsung dengan kabel-kabel raksasa di langit-langit menara. Pria itu berdiri di tengah ruangan, dikelilingi oleh ribuan pod yang mulai terbuka satu per satu. Uap dingin keluar dari pod tersebut, menyelimuti lantai logam dengan kabut tebal yang mencekam. Adrian tersenyum sinis, menatap kedua penyusup itu dengan tatapan merendahkan."Wujud nyata adalah konsep usang, Braelyn. Di sini, aku adalah arsitek, hakim, dan algojo," jawab Adrian tenang. "Kedatangan kalian di pusat transmisi ini adalah komponen terakhir yang dibutuhkan sistem. DNA Wilson yang mengalir di nadimu adalah kunci enkripsi yang selama ini dicari oleh protokol penghapusan total."Kael membelalak, jemarinya y
"Grid cahaya ungu itu tidak sekadar mengurung atmosfer, tapi juga memblokir total seluruh gelombang komunikasi kita ke luar orbit bumi," ujar Kael cemas, menatap layar gawai yang dipenuhi garis statis merah.Langit di atas mereka tampak begitu menakutkan, terbentang luas bagaikan sangkar raksasa berwujud jaring energi kosmik. Ratusan monolit hitam berdiri kokoh menembus awan, memancarkan dengung frekuensi tinggi yang membuat udara terasa berat untuk dihirup. Braelyn mengatupkan rahangnya rapat-rapat, mengawasi pergerakan titik-titik cahaya yang berpatroli di sepanjang garis grid tersebut."Jaring itu ditenagai langsung dari menara transmisi utama di garis khatulistiwa," ucap Braelyn dingin, mengepalkan tinjunya hingga berbunyi. "Kalau kita tidak menghancurkan pusat kendalinya, bumi akan selamanya menjadi sangkar steril bagi eksperimen mereka."Kael meraba sanksi kabel optik yang tersisa di pergelangan tangannya, mencoba menangkap sisa frekuensi radio yang lolos
"Tahan posisi di belakangku, Kael, jangan biarkan pilar energi itu menyentuh sirkuit daruratmu!" seru Braelyn lantang, melesat kilat menembus hujan puing beton yang berjatuhan.Pendaran emas di telapak tangannya menyala terang, membelah kepulan asap tebal dan menangkis hantaman gelombang kejut hitam yang meluncur beringas. Ratusan pasukan purba bermata kosong melangkah serentak dari dalam tabung pemulihan, mengacungkan senjata purwarupa bertegangan tinggi ke arah mereka berdua. Suara dengung frekuensi rendah dari pilar energi menghantam gendang telinga tanpa ampun, memicu rasa pusing luar biasa di kepala Kael."Sistem kendali fasilitas ini terkunci total dari pusat, aku tidak bisa memutus aliran energi hitam itu!" raung Kael histeris, membanting tinjunya ke atas papan konsol yang terbakar.Peretas muda itu berguling cepat menghindari terjangan proyektil plasma yang melelehkan lantai baja di sisinya. Percikan api kosmik menyembur liar dari sela-sela kabel yang te
"Siapa kalian yang berani membangkitkan sisa benih terakhir peradaban sebelum waktunya tiba?" suara sosok berjubah putih itu menggema berat memecah keheningan ruangan.Braelyn berdiri tegak di depan Kael, mengarahkan tatapan tajam tanpa rasa gentar sedikit pun. Wanita itu menggenggam sisa serpihan besi erat-erat, bersiap menghadapi segala kemungkinan terburuk. Figur tinggi itu melangkah maju melewati genangan uap dingin yang mengepul di lantai baja. Sorot mata tajam di balik jubah putih tersebut memancarkan aura dominasi yang menekan rongga dada."Kami bukan pencuri yang ingin merusak tempat ini, kami adalah orang-orang yang mengakhiri simulasi busuk Adrian," balas Braelyn dingin, mempertahankan posisi siaganya.Figur itu berhenti tepat beberapa meter di hadapan mereka, memperhatikan lamat-lamat sisa pendaran emas di telapak tangan Braelyn. Garis senyum tipis terukir di wajah sosok tersebut, menyiratkan pengenalan mendalam akan garis keturunan Wilson. Kael mengi
“Siapa kamu sebenarnya?”Pertanyaan itu keluar begitu saja dari bibir Braelyn, pelan namun penuh tekanan, seolah ditujukan pada bayangan di luar jendela yang sudah lama menghilang. Ia sendiri tidak tahu kepada siapa kalimat itu ditujukan. Pada orang di dalam mobil hitam itu, at
“Bangun, Braelyn. Kau baik-baik saja?”Suara itu terasa begitu nyata, begitu dekat, hingga membuat Braelyn tersentak. Ia membuka mata lebih lebar, menatap sosok pria paruh baya yang berdiri di samping tempat tidurnya. Wajah itu tidak asing. Justru terlalu ia kenal.Ayahn
“Minum ini dulu, Braelyn. Kamu pasti lelah.”Suara Nevan Conner terdengar lembut, nyaris terlalu sempurna untuk dipercaya. Senyum di wajahnya tetap sama—hangat, penuh perhatian, seperti pria yang selama ini ia cintai tanpa ragu. Gelas kristal itu terulur di hadapannya, berisi cairan berwarna bening
“Jangan datang lagi tanpa pemberitahuan.”Braelyn berdiri tegak di hadapan Eryx, suaranya tenang namun tegas. Ia tidak mundur selangkah pun meski pria itu masih berada terlalu dekat untuk ukuran seorang tamu.Eryx tidak terlihat tersinggung. Tatapannya justru mengamati wajah Braelyn







