Masuk"Gue nggak butuh gaun mewah, Kael. Gue butuh cara buat lewat dari detektor biometrik di gerbang depan," desis Braelyn sambil menatap pantulan dirinya di cermin buram toilet umum pangkalan truk. Kain flanelnya sudah berganti dengan setelan pelayan katering—kemeja putih ketat dan rok hitam selutut yang berhasil dicuri Kael dari mobil boks yang terjebak macet dua jam lalu.
Kael, yang suaranya terdengar dari pelantang telinga modifikasi di balik rambut sanggul Braelyn, mendengus reny
"Suara itu mustahil milik Adrian, rekaman tersebut sudah kita musnahkan di dimensi nol!" seru Kael panik, jemarinya menekan tombol terminal secara membabi buta.Pengeras suara di sudut ruangan terus memuntahkan deru tawa mekanik yang memecah konsentrasi mereka. Lampu indikator merah darah berkedip semakin cepat, mempercepat hitung mundur di layar terminal utama. Eryx menghentikan hantamannya pada pintu besi, menatap tajam ke arah ventilasi udara di atas rak arsip. Bau ozon dan mesiu membakar rongga hidung mereka, menciptakan sensasi sesak yang menguji ketahanan mental."Itu bukan rekaman lama, Kael, sistem ini dikendalikan oleh salinan kesadaran yang tertanam di dalam server pusat," balas Eryx dingin, mencengkeram erat batangan besinya.Braelyn menatap lekat-lekat foto tua di tangan kanannya, mengabaikan suara bising yang mencabik gendang telinga. Jari-jarinya meraba permukaan kertas foto yang mulai mengelupas, menemukan kode angka tersembunyi di balik bingkai k
"Siapa pun yang membuka pintu itu, bersiaplah menghadapi kenyataan bahwa kita tidak akan pernah kembali," seru Eryx dingin, mempererat genggamannya pada batangan besi tanpa kilau.Gagang pintu besi berkarat itu berputar sempurna diiringi suara decitan logam tua yang memecah keheningan lantai cermin. Kepulan debu tipis beraroma tanah tua menyembur keluar dari balik ambang pintu yang perlahan terbuka melebar. Cahaya putih lembut dari ruang hampa di luar memancar menerangi wajah ketiga buronan yang berdiri tegang. Kael menelan ludah susah payah, meraba saku jaketnya untuk memastikan tidak ada lagi perangkat elektronik yang tersisa."Kita sudah sejauh ini, mundur sama saja menyerahkan leher pada eksekutor," balas Kael tercekat, menatap bayangan samar di balik pintu.Braelyn melangkah maju mendahului kedua rekannya, membiarkan angin dingin dari ruangan asing itu menyapu rambutnya. Telapak tangan kanannya yang kini polos tanpa sirkuit emas mendadak terasa ringan namun
"Lepaskan tanganmu, Adrian, atau kita semua akan hancur bersama memori busuk ini!" raung Braelyn penuh amarah, mencengkeram erat pergelangan tangan musuhnya di tengah badai gravitasi.Pusaran merah darah di bawah kaki mereka berputar semakin kencang, merobek lapisan baja ruangan menjadi serpihan debu kosmik. Kilatan cahaya emas dari telapak tangan Braelyn beradu sengit dengan pendaran hitam di lengan Adrian. Suara deru waktu yang memekakkan telinga mencabik udara, membuat ruang hampa tersebut bergetar hebat. Eryx merangkak maju menembus badai gravitasi, mengulurkan tangan kirinya untuk menggapai kerah jaket Braelyn."Jangan biarkan dia menyeret lu masuk ke dalam celah itu, Wilson!" seru Eryx sekuat tenaga, menahan hantaman angin dimensi yang hampir meremukkan tulang rusuknya.Kael terhempas jauh ke sudut ruangan, mencengkeram erat konsol darurat yang tersisa sambil menjaga layar gawainya tetap menyala. "Sistem stabilisasi runtuh seratus persen! Kalau kita tidak
"Adrian? Tidak mungkin... lu seharusnya sudah mati di reruntuhan laboratorium itu!" teriak Braelyn histeris, melangkah mundur dengan napas tercekat.Figur berkerudung putih di hadapan mereka perlahan menurunkan penutup kepalanya, menampakkan senyum sinis di atas wajah yang dipenuhi garis sirkuit buatan. Ruangan tanpa gravitasi itu mendengung pelan, membiarkan tubuh Adrian melayang stabil di tengah pusaran cahaya biru pucat. Kael segera meraba gawainya dengan tangan gemetar, memindai struktur genetik figur tersebut untuk memastikan tidak ada kesalahan sensor."Kematian hanyalah konsep usang yang diciptakan oleh manusia lemah seperti kalian," balas Adrian dingin, suaranya menggema tajam di setiap sudut dinding logam.Eryx langsung merapatkan cengkeramannya pada batangan besi berkilau emas, menatap tajam ke arah pria yang menjadi sumber segala malapetaka mereka. "Lu cuma klon sisa eksperimen yang mencoba bertahan hidup dengan mencuri memori orang lain."Adri
"Kalau pemilik aslinya sudah menunggu di atas, kenapa kita harus repot-repot mengetuk pintu?" seru Kael sinis, merapikan ransel perlengkapannya yang nyaris copot.Eryx menatap tajam ujung koridor gelap yang membentang di hadapan mereka, memastikan tidak ada lagi jebakan tersembunyi yang tersisa. Lorong itu berdinding logam dingin dengan lampu indikator merah yang berkedip lemah mengikuti ritme denyut nadi. Uap tipis beraroma ozon kembali merembes keluar dari lantai gril baja, menciptakan kabut tipis di sekitar sepatu mereka. Suara tetesan cairan misterius terdengar menggema beraturan dari kedalaman kegelapan di ujung sana."Jangan gegabah melangkah, Kael, lorong ini dirancang untuk menguji kestabilan mental," desis Braelyn memperingatkan, telapak tangan kanannya tetap berpendar emas stabil.Kael mendengus pelan, meraba sisa granat pulsa di sakunya untuk memastikan senjatanya masih berfungsi optimal. "Lebih baik mati melangkah daripada berdiam diri menunggu merek
"Jangan mendekati ambang pintu itu, Kael!" seru Eryx tajam, menahan lengan peretas muda yang hendak melangkah lebih dulu ke pelataran struktur melayang.Kael mengurungkan niatnya, menarik kembali kakinya yang hampir menyentuh permukaan lantai transparan di depan gerbang utama. Layar gawainya mendadak memancarkan pendaran merah berkedip cepat disertai bunyi alarm peringatan bernada tinggi. Partikel cahaya biru lembut yang tadinya menyelimuti struktur megah itu berubah kelam menjadi kelabu pekat. Suara dengungan mekanik berfrekuensi rendah mulai bergetar dari balik dinding logam berat di hadapan mereka."Sistem pertahanan di dalam sana baru saja mendeteksi kehadiran kita," ujar Kael dengan napas memburu, jemarinya menari liar di atas papan ketik virtual.Braelyn menyipitkan mata, menatap lekat-lekat lambang siber asing yang kini berubah warna menjadi merah menyala di atas gerbang. Telapak tangan kanannya kembali memancarkan pendaran sirkuit emas yang berdenyut sel
“Apa maksudmu dengan pesan ini?”Braelyn menatap layar ponselnya sambil berbicara pelan, seolah pengirimnya bisa langsung menjawab dari seberang sana. Ujung jarinya masih menggantung di atas layar, ragu apakah harus membalas atau tidak. Kalimat itu terlalu tepat, terlalu tajam,
“Jangan datang lagi tanpa pemberitahuan.”Braelyn berdiri tegak di hadapan Eryx, suaranya tenang namun tegas. Ia tidak mundur selangkah pun meski pria itu masih berada terlalu dekat untuk ukuran seorang tamu.Eryx tidak terlihat tersinggung. Tatapannya justru mengamati wajah Braelyn
“Siapa kamu sebenarnya?”Pertanyaan itu keluar begitu saja dari bibir Braelyn, pelan namun penuh tekanan, seolah ditujukan pada bayangan di luar jendela yang sudah lama menghilang. Ia sendiri tidak tahu kepada siapa kalimat itu ditujukan. Pada orang di dalam mobil hitam itu, at
“Bangun, Braelyn. Kau baik-baik saja?”Suara itu terasa begitu nyata, begitu dekat, hingga membuat Braelyn tersentak. Ia membuka mata lebih lebar, menatap sosok pria paruh baya yang berdiri di samping tempat tidurnya. Wajah itu tidak asing. Justru terlalu ia kenal.Ayahn







