Share

Perjalanan Pulang

Author: Mediasari012
last update Last Updated: 2026-01-23 16:40:22

Matahari telah sepenuhnya terbenam, menyembunyikan sisa-sisa sinarnya di balik cakrawala. Pendar cahaya lampu-lampu pantai mulai mengambil alih, menerangi dinginnya malam yang perlahan merayap.

Desiran ombak yang datang silih berganti terdengar menenangkan, seolah mampu meredam segala kegelisahan. Jam di pergelangan tangan Arsya hampir menunjukkan pukul tujuh malam.

“Kita pulang jam berapa?” tanya Arsya pada istrinya yang masih berdiri menghadap laut, menikmati semilir angin malam yang menerpa
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Aku Milikmu, Tuan Arsya!   Hampir Ketahuan

    Tring!Suara ponsel Sisil kembali berdering, ponsel yang tadi dilemparkan oleh Ken kini sudah teronggok di atas tempat tidur."Ah, pasti si Arsya sialan itu lagi!" guammnya malas.Gadis itu merebahkan tubuhnya disamping Ken,membiarkan ponsel itu terus berdering dan mati dengan sendirinya.Dan, lagi-lagi ponsel itu kembali berdering yang membuat kesabaran Sisil berada di puncaknya, ia sangat kesal sekali."Aaa! Siapa sih!" dengusnya sembari meraih ponselnya.Raut wajah kekesalannya berubah menjadi tegang saat ini begitu ia tahu siapa yang meneleponnya saat ini."Mira?" ucapnya pelan.Mendengan nama Nona mudanya disebutkan, Ken seketika duduk dari tidurnya."Halo, Mira. Ada apa?" tanya Sisil yang sudah menjawab panggilan itu."Kenapa lama sekali menjawabnya?" tanya Amira kesal."I-iya maaf, tadi aku ada di kamar mandi," kilah Amira beralasan."Buka pintunya! Aku udah ada di depan kamar kamu," ucap Amira."Apa!" pekik Sisil tidak sadar."Cepat, buka!"Tok ... tok ... tokAmira mengetuk

  • Aku Milikmu, Tuan Arsya!   Hampir Hilang Kendali

    "Asal kamu tahu, aku tidak pernah bergurau tentang masalah hati,” lanjut Ken dengan suara rendah dan serius.Deru napasnya terasa hangat di wajah Sisil. Jarak mereka begitu dekat hingga Sisil bisa melihat pantulan dirinya di mata laki-laki itu. Ia terpaku. Bibirnya sedikit terbuka, tetapi tak satu kata pun keluar. Hanya degup jantungnya yang terdengar semakin keras di telinganya sendiri.“Apa kamu sanggup menutup mata dan telingamu dari laki-laki lain?” tanya Ken pelan, namun tegas. “Lakukan semua itu hanya untukku. Bukan karena kamu takut aku pergi, tapi karena kamu tulus menjaga perasaanku.”Glek.Sisil menelan ludahnya yang tiba-tiba terasa pahit. Tangannya yang semula menggantung di udara perlahan mencengkeram ujung kemeja Ken, seolah mencari pegangan.Selama ini, ia memang terobsesi pada ketampanan Ken. Ia sudah lama memendam rasa, bahkan sebelum laki-laki itu benar-benar mengenalnya. Namun di balik itu semua, Sisil masih membawa kebiasaannya—bergaul bebas dengan banyak teman la

  • Aku Milikmu, Tuan Arsya!   Ken Cemburu

    “Arya?” Ken membaca nama di layar ponsel itu dengan suara rendah. Tatapannya yang semula tenang perlahan berubah dingin. Rahangnya mengeras, urat di pelipisnya tampak menegang. “Siapa dia?”Tanpa menunggu jawaban, Ken menyentuh tombol hijau dan mengaktifkan pengeras suara. Nada sambung itu terdengar menggema di kamar yang hening.“Sisil, susah banget sih dihubungi?” Suara laki-laki dari seberang terdengar santai, seolah tidak tahu sedang berada di ujung tanduk. “Sisil, apa kamu lupa kalau nanti malam aku udah ngajak kamu makan malam?”Ken tersenyum tipis. Senyum yang sama sekali tidak mencapai matanya. Sorotnya menatap Sisil lekat-lekat, seakan menunggu satu kesalahan kecil saja untuk meledak.Glek.Tenggorokan Sisil terasa kering. “Sialan kau, Arsya! Bisa-bisanya meneleponku dalam situasi seperti ini,” batinnya kesal.“Sisil?” Suara di telepon itu terdengar lagi, kali ini dengan nada curiga karena tak mendapat jawaban.“Ya?” jawab Ken datar.Sisil refleks hendak merampas ponselnya, t

  • Aku Milikmu, Tuan Arsya!   Kegugupan Sisil

    “Sekretaris Ken!” Amira beralih mengajak Ken berbicara, suaranya terdengar ringan, tetapi jelas berniat menggoda.“Ya, Nona?” jawab Ken sopan dari kursi kemudi. Tatapannya tetap lurus ke depan, fokus pada jalan.“Kenapa dari dulu Anda tidak korupsi saja? Pasti saat ini Anda sudah sangat kaya,” ucap Amira tergelak, bahunya sampai bergetar menahan tawa.Ken hanya tersenyum tipis. “Tanpa korupsi pun saya sudah kaya, Nona.”“Iya deh, iya. Laki-laki suci tak berdebu,” balas Amira kesal, memutar bola matanya dengan dramatis.Sisil yang duduk di samping Ken hanya bisa menahan napas. Bibirnya sudah berkedut ingin tertawa, tetapi ia mati-matian menahannya. Ia tahu, jika ia sampai membuka suara, yang keluar pasti bukan kata-kata, melainkan ledakan tawa yang tak bisa dihentikan.Keheningan di dalam mobil itu mendadak pecah ketika suara alarm dari ponsel Arsya berbunyi nyaring.Tin! Tin! Tin!“Ken, hentikan mobil,” perintah Arsya tenang sembari mematikan alarm tersebut.“Baik, Tuan,” jawab Ken pa

  • Aku Milikmu, Tuan Arsya!   Rasanya Seperti Telur

    Setelah puas berburu jajanan, mereka semua segera keluar dari area bazar yang masih ramai oleh pengunjung. Lampu-lampu gantung berwarna kuning temaram mulai menyala seiring senja turun perlahan. Aroma minyak goreng, gula karamel, dan bumbu bakar masih melekat di udara.Amira memeluk dua kantong plastik besar berisi jajanan, wajahnya berseri-seri seperti anak kecil yang baru mendapat hadiah ulang tahun. Sisil berjalan di sampingnya sambil sesekali mengintip isi kantong itu dengan mata berbinar. Sementara Arsya melangkah sedikit di depan, raut wajahnya terlihat waspada seolah jajanan itu adalah benda asing yang mencurigakan.Ken berjalan paling belakang, memastikan tak ada yang tertinggal.Begitu sampai di area parkir, mereka segera memasuki mobil. Ken duduk di kursi kemudi, Sisil di sampingnya, sementara Arsya dan Amira di kursi belakang.“Sayang, bisa tukar tempat duduk nggak sama Sisil?” tanya Amira lembut. Ia sudah tak sabar ingin membongkar jajanan dan berbagi cerita seru dengan sa

  • Aku Milikmu, Tuan Arsya!   Bazar

    “Kamu juga terbagi, kita terbagi,” balas Amira pelan.“Aku nggak mau terbagi. Seratus persen hanya boleh jadi milikku,” ucap Arsya, nadanya terdengar posesif tapi matanya memancarkan kekanak-kanakan yang menggemaskan.Amira terkekeh. “Wah, sepertinya bentar lagi aku bakal punya dua bayi. Bayi kecil di perutku, dan bayi besar yang lagi meluk aku sekarang.”Arsya mendengus pelan, tapi pelukannya justru makin erat. Seolah-olah ia benar-benar takut kehilangan satu persen pun dari istrinya.“Kalau kamu berani bagi perhatianmu, aku bakal saingi dia,” gumamnya di telinga Amira.“Saingi janinmu sendiri? Dasar nggak tahu malu,” balas Amira sembari menepuk dada bidang suaminya.Dengan sedikit paksaan dan banyak bujuk rayu, akhirnya Amira berhasil melepaskan diri dari dekapan itu. Ia mendorong tubuh Arsya ke arah kamar mandi.“Cepat mandi! Jangan manja terus.”Arsya berjalan sambil menggerutu pelan, tapi tetap menuruti perintah istrinya. Pintu kamar mandi tertutup, dan Amira hanya bisa menggelen

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status