Beranda / Rumah Tangga / Aku Milikmu, Tuan Arsya! / Terbongkarnya Rahasia Cassandra

Share

Terbongkarnya Rahasia Cassandra

Penulis: Mediasari012
last update Terakhir Diperbarui: 2025-12-30 10:09:43

Di sebuah kafe eksklusif di pusat kota, Cassandra dan Riana yang tak lain adalah Mama Arsya sedang duduk berhadapan di sebuah ruangan VIP. Lampu temaram, aroma kopi mahal, dan alunan musik jazz lembut sama sekali tak mampu meredakan kegelisahan di wajah Cassandra.

Riana menyilangkan kaki, lalu menatap wanita di depannya dengan sorot mata penuh perhitungan.

“Sandra, ini kesempatan kamu buat meraih cinta Arsya lagi,” ucap Riana pelan namun tegas. “Perempuan itu sekarang sudah pergi entah ke mana.”

Cassandra menghela napas panjang. Jari-jarinya saling bertaut di atas meja, menunjukkan kegugupan yang tak bisa ia sembunyikan.

“Benar, Ma. Tapi aku nggak yakin,” sahutnya lirih. “Apa Arsya masih mencintaiku? Mama tahu sendiri, hari ini suasana kota sudah sangat kacau gara-gara titah pencarian Amira. Segitu gilanya dia sama wanita kampung itu.”

Cassandra menunduk sesaat, lalu melanjutkan dengan suara bergetar, “Dulu, waktu aku pergi, dia nggak sampai segila ini.”

Riana menggeser kursinya, lalu
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Aku Milikmu, Tuan Arsya!   Rahasia Ken dan Arsya

    Tiga belas tahun yang lalu …Arsya kecil duduk meringkuk di samping pusara sang Papa yang masih basah. Setelah acara pemakaman, seluruh keluarga dan kerabat Papanya telah bubar, meninggalkan area pemakaman satu per satu.Kini hanya tersisa Arsya, Ken, dan Lion—ayah dari Ken sekaligus orang kepercayaan mendiang Papa Arsya semasa hidupnya.“Arsya, sampai kapan kamu akan berada di sini?” tanya Lion.“Sampai Papaku bangun lagi, Paman,” jawab Arsya pelan.“Kamu harus tetap meneruskan hidup. Kalau kamu seperti ini, Papamu pasti kecewa. Kamu putra mahkota Arkana Group. Tidak sepantasnya seorang putra mahkota bersikap seperti ini. Bangun, Arsya!” ucap Lion tegas.Lion memang terkenal tegas dalam segala keadaan. Tak heran jika ia menjadi tangan kanan di perusahaan terbesar itu. Sikap kerasnya bukan hanya ia tunjukkan pada Arsya, tetapi juga pada anak laki-lakinya sendiri—tanpa toleransi sedikit pun.Sejak Ken berusia tujuh tahun, ayahnya sudah menggemblengnya hingga menjadi laki-laki berdarah

  • Aku Milikmu, Tuan Arsya!   Niat Sisil

    “Kak, dia siapa?” tanya Elesha sambil melirik Aiden.Amira menarik tangan adiknya yang sedang berdiri di samping Sisil. Mereka berdua terlihat sedang mengobrol singkat.“Sapa mereka, kenapa diam aja?” bisik Amira pelan.“Saya Aiden, adiknya Kak Mira,” ucap Aiden gugup sambil menyalami Elena dan Elesha. Ia juga menyalami serta mencium tangan Riana dengan sopan.“Aaaa, ganteng banget!” pekik Elena dan Elesha bersamaan.“Heeh!” sergah Arsya. Ia terkejut melihat sikap kedua adik perempuannya yang terlalu kecentilan.“Kuliah di mana? Nanti kuliah di sini sama aku ya,” celetuk Elena tanpa malu.“Maaf, Kak. Saya masih SMP kelas tiga. Baru mau ujian akhir,” jawab Aiden jujur.“Apa?!” pekik Elena tidak percaya.“Tapi kenapa kamu tinggi banget? Tinggimu udah hampir sama kayak Kak Arsya,” lanjutnya sambil menatap Aiden dari ujung kepala sampai kaki.“Berarti sama sepertiku dong. Nanti SMA-nya bareng sama aku aja di sini,” celetuk Elesha dengan nada puas, merasa menang dari kakaknya.“Cuma beda t

  • Aku Milikmu, Tuan Arsya!   Permintaan Maaf Riana

    “Aiden?”Amira mendapati adik laki-lakinya duduk sendirian di taman indoor rumah sakit. Remaja itu menoleh saat mendengar namanya dipanggil, matanya terlihat sayu, dengan lingkar gelap yang tak bisa disembunyikan.Amira melangkah mendekat lalu duduk di sebelahnya. Ia menatap wajah Aiden yang tampak jauh lebih dewasa dari usianya, kelelahan jelas tergambar di sana.“Kakak kira kamu ikut sama Ibu,” ucap Amira pelan.“Nggak, Kak. Satu minggu lagi aku ujian akhir. Sekarang aku mau pamit pulang dulu,” sahut Aiden sambil tersenyum tipis.“Pulang?” Amira menoleh cepat, terkejut.“Iya, Kak.”“Nggak boleh. Kamu ikut kakak aja dulu. Ujiannya masih satu minggu lagi, kan?”Amira melirik ke arah Arsya yang berdiri tak jauh dari mereka. Laki-laki itu mengangguk kecil, senyum tipis tersungging di wajahnya seolah menyetujui keputusan Amira.“Nggak usah, Kak. Aku nggak apa-apa. Aku bisa tinggal sendiri kok,” jawab Aiden. “Kak Mira yang perempuan aja bisa, masa aku yang laki-laki nggak bisa? Malu lah,

  • Aku Milikmu, Tuan Arsya!   USG

    Kurang lebih satu jam persiapan dilakukan, dan semuanya telah siap untuk berangkat menempuh perjalanan panjang. Beberapa dokter tampak mendorong ranjang pasien beserta sejumlah alat medis keluar dari ruangan.“Tasya, kamu harus bisa, Sayang! Kamu harus berjuang. Kamu harus janji sama Kak Mira, kamu harus kembali ke sini dengan senyum manis kamu. Maaf … Kakak nggak bisa menemani kamu,” ucap Amira sambil menangis, tangannya erat memegangi tepi ranjang yang terus didorong menjauh.Dengan sigap, Arsya menarik tubuh istrinya agar tidak terus mengikuti langkah para dokter.“Jangan terlalu dipikirkan. Pikirkan dirimu sendiri dan anak yang ada di dalam kandunganmu, Nak. Jangan putus berdoa. Ibu berangkat, ya,” ucap Damini sambil mencium kedua pipi Amira.Damini mengangguk hormat ke arah Arsya dan Ken, lalu berjalan cepat menyusul dokter yang sudah lebih dulu melangkah. Ia berjalan berdampingan dengan putra laki-lakinya, sesekali menyeka air mata yang jatuh.“Apa kamu menangis lagi, atau kemas

  • Aku Milikmu, Tuan Arsya!   Di Rujuk ke Florida

    Amira sudah berada di ruangan Tasya. Suasana di dalam kamar rawat itu terasa dingin, bukan hanya karena pendingin udara, tetapi juga karena kecemasan yang terus menekan dadanya. Ia berdiri di samping ranjang adiknya, sementara seorang dokter tengah menjelaskan kondisi Tasya dengan wajah serius.“Nona, tadi saya sudah berbicara dengan sekretaris Ken. Tasya akan segera dirujuk ke Florida untuk menjalani operasi transplantasi jantung,” ucap dokter itu dengan nada profesional.Amira menelan ludah. Jantungnya berdegup lebih cepat.“Berapa biayanya kira-kira, Dok?” tanyanya, suaranya terdengar pelan namun bergetar.“Untuk biaya keseluruhannya saya belum bisa memastikan secara detail. Namun, pasti menghabiskan dana miliaran rupiah dan kemungkinan akan dilakukan beberapa tahap operasi,” jawab dokter itu hati-hati.Mata Amira membulat. Ia terpaku di tempatnya, seolah informasi itu menamparnya tanpa ampun.“Dok … saya harus berunding dulu dengan ibu saya,” ucap Amira lirih. “Karena saya tidak p

  • Aku Milikmu, Tuan Arsya!   My Dream Come True

    Sesampainya di rumah sakit, Amira langsung disambut pemandangan yang membuat dadanya terasa sesak. Beberapa pengawal yang dikerahkan Arsya beberapa hari terakhir tampak berjaga di berbagai sudut. Suasana rumah sakit yang biasanya tenang kini dipenuhi bisik-bisik panik, langkah kaki tergesa, dan wajah-wajah tegang.Untuk pertama kalinya, Amira benar-benar melihat kekacauan kota hari ini secara langsung.“Dia benar-benar udah gila,” gerutunya pelan, dengan rahang mengeras.Amira segera turun dari taksi. Tanpa menunggu pengemudi menutup pintu, ia sudah berjalan cepat memasuki rumah sakit. Napasnya memburu, jantungnya berdegup tidak beraturan.Tak jauh dari pintu masuk, Aiden sudah berdiri. Mata remaja itu sembab, merah, dan basah. Bahunya turun naik menahan tangis yang nyaris pecah.“Jangan nangis. Di mana ibu?” tanya Amira lembut, sembari mengusap air mata yang mengalir di pipi adik laki-lakinya itu.“Di ruang ICU, Kak,” jawab Aiden lirih, suaranya hampir tak terdengar.Tanpa menunggu p

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status