Share

Bab 3

Author: Windara
"Sekarang kamu tahu, 'kan?"

Levin menatapku dengan ekspresi seolah berkata, "sudah tahu begini kenapa masih dilakukan". "Terkadang berhenti sebelum kerugiannya semakin besar adalah pilihan yang lebih bijak."

Aku mengangguk setuju. "Ya, memang sudah waktunya berhenti."

Dia tampak puas dengan jawabanku, bahkan untuk pertama kalinya setelah sekian lama dia memujiku, "Kalau kamu selalu penurut begini, pasti lebih baik."

Setelah membayar tagihan, kami keluar dari restoran.

Di bawah cahaya lampu jalan, kepingan salju berjatuhan dari langit. Aku berdiri berdampingan dengan Yara, sementara Levin berdiri di depan Yara untuk melindunginya dari angin.

Angin utara yang menusuk terasa seperti pisau yang menyayat wajahku. Aku menggigil kedinginan.

Levin membantu mengancingkan kancing terakhir mantel Yara, lalu berjalan menghampiriku. Dia melepas syalnya dan melingkarkannya di leherku. "Sudah malam. Yaya nggak aman kalau pulang sendirian, jadi aku antar dia. Setelah sampai rumah dan beres-beres, langsung tidur saja. Nggak usah tunggu aku."

Rumah Yara berada di arah yang berlawanan, tetapi jaraknya kurang lebih sama dengan rumah kami.

Aku terdiam sejenak, lalu memanggilnya, "Levin."

Levin menggenggam tangan Yara dan menuruni anak tangga. Suaraku tenggelam dalam deru angin yang menderu.

Jalanan membeku dan sangat licin. Jarak satu kilometer terlalu dekat sehingga tidak ada pengemudi yang mau menerima pesananku.

Setelah berpikir beberapa saat, aku memutuskan berjalan kaki pulang.

Satu kilometer sebenarnya tidak jauh. Namun di tengah salju yang turun, angin dingin yang menerjang, dan jalanan yang begitu basah serta licin, perjalanan itu terasa sangat sulit.

Salju membasahi rambutku, sementara angin utara menerpa wajahku hingga terasa perih. Aku terjatuh, lalu bangkit.

Jatuh lagi, bangkit lagi.

Entah sudah berapa kali hal itu terulang.

Tangan dan bokongku terasa sakit karena berkali-kali terjatuh. Akhirnya aku berhasil sampai di gerbang kompleks perumahan. Namun baru saja melangkah masuk, kakiku kembali terpeleset dan aku jatuh lagi.

Aku terdiam beberapa saat untuk memulihkan diri. Saat baru hendak bangkit, ponselku berbunyi.

Aku mengeluarkannya. Levin yang menelepon.

"Jenna, jalanan basah dan licin banget. Kalau nggak ada aku, entah sudah berapa kali Yaya jatuh di jalan."

Mataku terasa panas.

"Yaya memutuskan nggak pulang dan akan menginap semalam di hotel. Dia perempuan, nggak aman kalau tinggal sendirian di hotel, jadi aku harus menemaninya. Aku cuma mau kasih tahu, nggak usah tunggu aku."

"Levin, bantu aku keringkan rambut." Suara Yara terdengar dari seberang telepon.

"Levin," panggilku dengan suara tercekat.

Pertanyaan yang tadi tidak sempat kuucapkan di depan restoran hotpot akhirnya keluar dari mulutku.

"Pernah nggak kamu berpikir kalau aku juga seorang perempuan? Aku bahkan pacarmu. Pernah nggak kamu memikirkan apakah aku aman berjalan sendirian di malam hari saat jalanan basah dan licin seperti ini? Apa aku akan jatuh atau nggak?"

Satu-satunya jawaban yang kudapat hanyalah deru angin yang menderu.

Begitu Yara memintanya membantu mengeringkan rambut, Levin langsung menutup telepon tanpa peduli bahwa aku bahkan belum selesai bicara.

Kedua tanganku bertumpu di atas salju. Air mataku jatuh ke permukaan salju, membentuk cekungan-cekungan kecil.

Ponselku kembali berbunyi. Ibuku yang menelepon.

"Nana, bukannya besok kamu mau bawa pacarmu pulang untuk makan bersama? Ibu mau tanya dia suka makan apa, supaya besok pagi Ibu bisa pergi membelinya."

Aku menutup mulut rapat-rapat dengan tangan, menahan agar isak tangisku tidak terdengar.

"Nana?"

Butuh waktu cukup lama sampai akhirnya aku berhasil menenangkan diri. "Bu, dia nggak jadi datang."

Di meja makan, aku memberi tahu Ayah dan Ibu tentang penugasanku ke Swiss selama tiga tahun. Begitu mendengarnya, mereka berdua langsung tertegun.

Beberapa saat kemudian, barulah mereka tersadar. "Kok mendadak sekali?"

Sebenarnya tidak mendadak. Ketika proyek itu mulai direncanakan enam bulan lalu, aku memang kandidat terbaik untuk ditugaskan ke luar negeri. Hanya karena Levin, aku terus menolak menyetujuinya.

"Berapa lama?"

"Tiga tahun."

Suasana hening selama dua detik.

Ibu menatapku dengan khawatir. "Nana, apa pacarmu nggak setuju kamu ditugaskan ke luar negeri? Kalian bertengkar gara-gara itu, makanya dia nggak ikut pulang bersamamu?"

"Pasti begitu." Ayah mengernyit dan menghela napas pelan. "Wajar kalau dia nggak setuju. Kamu perempuan, harus tinggal di negeri orang selama tiga tahun. Dia pasti khawatir."

Levin bisa mengkhawatirkan Yara yang berjalan sendirian di malam hari. Dia juga khawatir Yara menginap sendirian di hotel. Namun, dia tidak pernah merasa perlu mengkhawatirkanku.

Ponselku berbunyi. Levin menelepon. Aku terdiam sejenak sebelum akhirnya mengangkatnya.

"Kamu di mana?"

"Di rumah orang tuaku."

Ujung telepon terdiam selama dua detik. "Bukannya kita sudah sepakat pulang sama-sama?"

Aku melirik waktu. Kami sudah sepakat berangkat pukul delapan pagi. Sekarang sudah hampir pukul sebelas, dan baru saat ini dia teringat bahwa seharusnya dia pulang bersamaku.

"Yaya masuk angin. Aku bawa dia ke rumah sakit. Setelah infusnya selesai dan kami pulang, aku buatin wedang jahe untuknya. Aku jadi lupa waktu."

"Tolong sampaikan permintaan maafku ke orang tuamu. Nanti waktu tahun baru, aku akan ikut denganmu mengunjungi mereka."

"Hm."

Telepon ditutup.

Tak lama kemudian, unggahan terbaru Yara muncul di media sosialku. Tidak ada tulisan apa pun, hanya sebuah foto. Ayah dan ibu Yara duduk berdampingan di sofa. Levin dan Yara membungkuk dari belakang, mendekatkan diri ke bahu kedua orang tua Yara yang duduk di depan.

Mereka tampak seperti sekeluarga. Tak lama kemudian, komentar mulai bermunculan.

[ Foto keluarga? ]

[ Kalian balikan? ]

[ Jenna pasti nangis sampai mati. ]

Aku tidak menangis.

Tanganku menutupi dada, tetapi aku juga tidak merasakan sakit apa pun.

Ponselku bergetar. Zayn mengirimkan informasi penerbangan yang akan berangkat lusa pagi.

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Aku Pacarnya, Wanita Lain yang Dimajanya   Bab 9

    Levin menundukkan kepala, suaranya sedikit tercekat. "Aku salah. Aku minta maaf. Pulanglah denganku. Mulai sekarang aku pasti akan berubah."Sekali lagi dia mencoba meraih tanganku, tetapi aku menghindar dengan dingin. "Levin, nggak semua kesalahan punya kesempatan untuk diperbaiki. Hubungan kita benar-benar sudah berakhir.""Nggak, belum berakhir." Levin tiba-tiba meninggikan suaranya, tetapi suaranya sedikit bergetar. "Jenna, aku tahu aku salah dan aku juga sudah berjanji akan berubah. Aku sampai datang jauh-jauh ke Swiss untuk mencarimu. Apa kamu benar-benar nggak bisa kasih aku satu kesempatan lagi?"Aku menolaknya dengan tegas. "Nggak bisa."Levin menatapku. Beberapa saat kemudian, matanya memerah. "Jenna, aku tahu aku salah. Bahkan kesalahanku sudah keterlaluan.""Aku bisa mengerti kalau kamu nggak mau memaafkanku semudah itu. Tapi aku nggak akan menyerah begitu saja. Aku akan membuatmu melihat sendiri perubahanku."Malam harinya setelah menyelesaikan kesibukan seharian, aku memb

  • Aku Pacarnya, Wanita Lain yang Dimajanya   Bab 8

    Mobil berhenti di tempat parkir bawah tanah, lalu mesinnya dimatikan. Levin tidak langsung turun. Dia melirik ponselnya.Pukul delapan malam. Dari pukul lima sore sampai sekarang, baru tiga jam berlalu.Kenapa baru tiga jam?Untuk pertama kalinya, Levin merasakan bahwa tiga jam ternyata bisa sepanjang ini. Dia teringat hotpot yang mereka makan dua hari lalu. Hotpot yang membuat Jenna sampai mengambil cuti dan mengantre selama enam jam.Bagaimana Jenna bisa bertahan melewati enam jam yang begitu membosankan? Selama itu, dirinya bahkan tidak pernah sekali pun bertanya apakah Jenna haus, lapar, atau kedinginan.Ketika Jenna tidak mau menuruti permintaannya untuk mengganti rencana dan makan masakan barat, dia bahkan menuduh Jenna sedang ngambek. Kenapa dirinya bisa sebajingan itu?Levin menyalakan sebatang rokok.Kemudian sebatang lagi.Satu demi satu.Puntung rokok berserakan memenuhi lantai, tetapi dia masih tidak ingin turun dari mobil. Dia tidak ingin naik ke rumah. Atau lebih tepatnya

  • Aku Pacarnya, Wanita Lain yang Dimajanya   Bab 7

    Di atas meja makan masih ada kotak-kotak makanan sisa kemarin. Levin berjalan menghampiri untuk membereskannya. Dia menggabungkan semua makanan yang belum habis ke dalam satu wadah, lalu tiba-tiba gerakannya terhenti.Tatapannya jatuh pada segelas air putih di atas meja. Itu adalah air yang dia tuangkan untuk Jenna, untuk menghilangkan rasa pedas.Levin menyadari bahwa selain suhunya yang sudah berubah, air itu hampir sama persis seperti saat dia menyodorkannya kepada Jenna. Bahkan tidak ada sedikit pun noda minyak di gelasnya.Saat itulah dia menyadari bahwa Jenna sama sekali tidak menyentuh satu pun hidangan di meja.Entah kenapa, segelas air putih itu membuat hatinya terasa sedikit perih. Kenapa dirinya bisa selalai itu sampai tidak memesan beberapa hidangan yang tidak pedas?Setelah selesai membereskan meja makan, Levin masuk ke dapur. Dia mengeluarkan bahan makanan satu per satu. Tahu pedas, telur tumis cabai, lobster air tawar pedas ....Semuanya adalah makanan kesukaan Yara. Kal

  • Aku Pacarnya, Wanita Lain yang Dimajanya   Bab 6

    Levin masuk ke rumah sambil membawa sekantong besar berisi bahan makanan, lalu mengganti sepatu di dekat pintu masuk."Jenna.""Yaya bilang sebelum berangkat, kita makan besar dulu supaya puas menikmati makanan Indonesia. Cepat keluar sini, bantu-bantu."Namun, satu-satunya jawaban yang terdengar hanyalah suara gesekan saat dia mengganti sepatu."Jenna?"Levin mengenakan sandal rumah, meletakkan bahan makanan di dapur, lalu langsung menuju kamar tamu. Hal pertama yang terlihat adalah ranjang lipat yang kosong. Kemudian, dia menyadari dua koper yang sebelumnya berada di samping lemari juga sudah tidak ada.Levin tertegun sesaat.Pergi? Seharusnya tidak. Bukankah penerbangannya baru besok pagi?Dia keluar dari kamar tamu, lalu mencari ke kamar utama, kamar mandi, bahkan gudang. Namun, Jenna tidak terlihat di mana pun. Dia segera berjalan ke pintu masuk dan melihat sepasang sandal di dalam tempat sampah.Wajah Levin langsung menggelap, lalu kepanikan melintas di matanya. Dia bergumam, "Cu

  • Aku Pacarnya, Wanita Lain yang Dimajanya   Bab 5

    Saat makan malam, Levin memesan makanan dari luar. Dia memesan delapan atau sembilan macam hidangan sampai meja makan hampir tidak muat menampung semuanya.Mata Yara langsung berbinar. "Levin, kamu pintar banget pilih makanan. Semua hidangan ini favoritku!"Aku mengamati hidangan di atas meja berkali-kali. Pada akhirnya, aku hanya menyuapkan dua sendok nasi putih ke dalam mulut. Semua hidangan dipenuhi lapisan cabai yang merah menyala.Beberapa saat kemudian, Levin menyodorkan segelas air putih kepadaku. "Jenna, kamu bisa coba belajar makan pedas. Jadi kalau nanti kita makan bersama, nggak perlu serepot ini."Sendok yang sedang kugunakan untuk menyuapkan nasi langsung terhenti. Dadaku terasa begitu sesak.Lagi-lagi seperti ini. Dia mengingat setiap makanan kesukaan Yara, tetapi justru tidak ingat bahwa aku sama sekali tidak bisa makan pedas. Bahkan dia menganggapku merepotkan.Sungguh menggelikan.Aku mendorong gelas air itu menjauh. "Setelah besok, nggak akan merepotkan lagi."Levin t

  • Aku Pacarnya, Wanita Lain yang Dimajanya   Bab 4

    Setelah kembali ke rumah, aku mendorong pintu kamar tidur dan seketika tubuhku membeku.Levin dan Yara sedang berbaring menyamping di atas ranjang, tubuh mereka menempel satu sama lain.Mendengar suara pintu dibuka, Levin menoleh ke arahku. "Kok sudah pulang? Aku kira kamu akan menginap semalam di rumah orang tuamu."Tenggorokanku terasa tercekat. Aku bahkan tidak mampu mengeluarkan suara sedikit pun.Beberapa saat kemudian, Levin sepertinya menyadari sesuatu. Dia buru-buru menarik tangannya dari perut bagian bawah Yara. Kepanikan terlihat jelas di matanya."Jangan salah paham. Yaya sedang haid dan kebetulan juga masuk angin, sakitnya sampai nggak tertahankan. Aku cuma bantu dia mengusap perut supaya rasa sakitnya berkurang."Sudut bibirku tertarik membentuk senyum hambar.Dulu saat aku mengalami nyeri haid sampai berguling-guling kesakitan, aku pernah meletakkan tangan Levin di perut bagian bawahku dan memintanya membantu mengusapnya.Namun, dia langsung menarik tangannya, lalu menyod

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status