LOGINPada tahun ketiga aku memalsukan kematianku, aku didatangi oleh ibu dan anak dari Keluarga Surya. Demi mengusir mereka, aku mengancam akan bunuh diri sambil membawa pisau. Sampai putri kami yang berusia tujuh tahun memegang selang oksigen ayahku. Gina berdiri di samping, mengancam dengan suara bergetar. "Ezra, kamu mau ayahmu mati atau menikahiku kembali, keputusan ada di tanganmu!" Aku terlalu emosi hingga sekujur tubuhku gemetar, tetapi terpaksa aku meletakkan pisau dan menikahinya kembali. Begitu kembali ke rumah yang tidak asing itu, aku berubah menjadi sosok ayah dan suami yang paling sempurna di Keluarga Surya. Adik angkatku sedang murung dan butuh ditemani Gina. Aku segera menyingkir ke hotel, bahkan aku tidak menghubungi Gina meskipun aku menderita maag parah hingga harus menjalani operasi. Putriku sedang susah makan, dia ingin makan masakan pamannya. Aku langsung menjemput Juan tanpa ragu untuk tinggal bersama kami. Bahkan pada hari ulang tahunku, Juan tiba-tiba berkata sambil menangis. "Aku iri padamu, Kak. Kamu punya istri dan putri sebaik mereka, nggak kayak aku, aku nggak pernah mendapat hadiah ulang tahun sebagus ini." Aku melepas gelang manik di pergelangan tanganku kemudian memasangkannya ke tangannya tanpa ragu. Manik-manik merah itu terlihat menyala di pergelangan tangan Juan, sangat memukau. Gina sangat marah. Dia meraih tanganku sambil berkata dengan penuh emosi. "Ezra, gelang ini adalah hadiah tanda cinta yang dulu kuberikan kepadamu!"
View MoreGina masih belum mau menyerah.Dia terus berusaha mencari orang yang dulu membantuku memalsukan kematian, seolah selama dia bisa menemukan orang itu, aku bisa hidup kembali.Usahanya memang tidak mengecewakan, akhirnya dia berhasil melacak keberadaan orang itu di wilayah barat daya.Dia pergi ke sana malam itu juga.Ternyata orang itu bukanlah dukun, melainkan seorang lelaki tua berseragam militer.Gina berlutut."Tolong beri tahu saya, di mana dia?"Lelaki tua itu menggelengkan kepala, suaranya tenang dan tegas."Dulu aku bantu dia karena aku berutang budi pada ayahnya, makanya aku membantunya memalsukan kematian."Mata Gina berbinar. "Berarti kali ini ….""Nggak bisa untuk kali ini."Lelaki tua itu menyela dengan suara tenang."Dia masih hidup saat itu, aku bisa membantunya. Kali ini, dia sudah meninggal. Aku nggak bisa membantu orang yang sudah meninggal."Setelah itu, lelaki tua itu memberikan dokumen rahasia."Lihat sendiri. Ini adalah informasi yang belum sempat dia sampaikan pad
Gina tidak percaya aku sudah meninggal.Sekalipun tenaga medis sudah menyatakan aku sudah meninggal, sekalipun tubuhku sudah dingin ….Dia masih menangis, lalu menaruh jasadku dengan lembut ke dalam ruang pendingin yang dia perintahkan untuk dibuat dalam semalam.Gina mulai mencari bukti seperti orang gila.Dia memeriksa semua rekaman CCTV di rumah dan memeriksa semua catatan medisku di rumah sakit.Dia masih bersikeras menyatakan bahwa aku masih hidup."Dia pura-pura mati tiga tahun lalu, kali ini dia pasti pura-pura lagi."Pada hari ketiga, dia pergi ke panti rehabilitasi.Dia ingin menjemput ayahku kembali ke rumah Keluarga Surya.Begitu masuk kamar pasien, dia mendapati ranjang kosong.Gina terkejut."Di mana ayahnya?"Kepala perawat menunduk."Pak Heri … sudah meninggal tiga hari lalu.""Nggak mungkin!""Aku memberinya perawatan medis yang terbaik, obat terbagus, dokter terbagus! Kenapa dia bisa meninggal?"Kepala perawat mengeluarkan rekaman suara, lalu menyerahkannya kepada Gina
Suara sirine ambulans makin menjauh, bekas darah di taman bermain juga segera dibersihkan.Juan menepuk ujung pakaiannya, lalu berbalik dan pergi ke tempat parkir.Mira berdiri di tempat, menatap lantai yang sudah dibersihkan dengan tatapan kosong."Paman … kita nggak pergi ke rumah sakit?"Juan tidak menoleh."Rumah sakit banyak virus, kondisi tubuhku sedang nggak sehat, bagaimana kalau sampai aku tertular virus?"Mira menatap Juan, meski sebenarnya belum sepenuhnya mengerti.Paman tidak pergi ke rumah sakit pasti karena takut sakit.Ibu pernah bilang, kondisi paman sangat lemah."Kalau begitu … setelah ibu pulang, baru kita menjenguk ayah, ya?"Juan tidak menjawab. Dia membuka pintu mobil, lalu duduk di kursi penumpang depan.Mira membuka pintu. Saat melihat kursi belakang kosong, dia merasa agak takut.Mira berkata dengan suara pelan."Paman, boleh nggak temani aku duduk di belakang? Aku … takut sendirian."Juan menoleh sambil mengerutkan alis."Kamu sudah umur berapa? Masih minta d
Pisau itu menembus dadaku, darah langsung menyembur keluar.Jantung buatanku berhenti.Tubuhku tiba-tiba terasa ringan, seolah melayang.Di tengah pandanganku yang mulai kabur, Gina terlihat panik dan berteriak sampai suaranya serak."Ezra!"Jiwaku melayang, aku melihat Gina memeluk tubuhku yang berlumuran darah.Gina menekan lukaku dengan keras, mencoba menghentikan pendarahan.Sayang makin ditekan kuat, darah makin banyak yang keluar. Darah terus mengalir melalui sela-sela jarinya, sama sekali tidak bisa berhenti."Ezra! Ezra!"Dengan suara bergetar, dia terus memanggil namaku."Lihat aku! Jangan tidur! Kamu nggak boleh tidur!"Mira terdiam di tempat. Dia membuka mulut, tetapi tidak mampu mengucapkan sepatah kata pun.Dengan mata sembap, Gina berteriak seperti orang gila sambil melihat ke orang-orang di sekitarnya."Dokter! Panggil ambulans! Cepat!"Orang-orang berhamburan dengan panik, petugas ambulans pun segera datang.Petugas memeriksa nadi dan mataku."Nona, maaf, dia sudah meni












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.