Share

Bab 2

Author: Windara
Sesaat kemudian, dia berkata dengan datar, "Selera kamu terlalu rumit. Aku nggak bisa ingat dan selalu salah racik. Lebih baik kamu racik sendiri."

Padahal, seleraku sama sekali tidak rumit. Aku hanya tidak mau cabai.

Levin bisa mengingat hampir sepuluh macam bahan saus cocolan kesukaan Yara, bahkan sampai takaran masing-masing. Namun setiap kali meracik saus untukku, dia selalu memasukkan cabai.

Setelah selesai meracik saus dan kembali, aku berdiri terpaku di depan meja sambil membawa mangkuk saus. Tempat yang tadinya kududuki kini ditempati Yara.

Mereka berdua sedang mengobrol dan tertawa. Levin yang pertama menyadari keberadaanku. "Yaya sedang haid, dia nggak boleh kena dingin. Tukar tempat duduk dengannya."

Aku perlahan duduk.

Angin dingin langsung menerpa betisku. Perut bagian bawahku terasa mulas dan nyeri. Yara selalu bilang kami adalah sahabat terbaik, bahkan siklus haid kami pun jatuh pada hari yang sama.

Layar ponselku menyala. Ada pesan dari Pak Zayn.

[ Jenna, kita berangkat tiga hari lagi. Ada masalah? ]

Aku mendongak. Levin sedang menjepit babat yang baru matang dan meletakkannya ke mangkuk Yara. Aku kembali menunduk dan mengetik balasan.

[ Nggak masalah. ]

Gulungan daging domba sudah matang. Aku mengambil sumpit dan hendak mengambilnya.

"Kamu mau makan itu?" Wajah Levin sedikit menggelap.

Tanganku yang sedang menjepit sepotong daging domba terhenti di atas panci.

"Hm?"

"Itu aku masak untuk Yaya."

Sambil berkata begitu, dia mengambil mangkuk bersih dari samping. Dia mengangkat semua gulungan daging domba yang sudah matang dari dalam panci dan memasukkannya ke mangkuk.

Dia menatapku dan terdiam sejenak. Detik berikutnya, dia bahkan mengambil potongan daging domba yang sedang kujepit dan memasukkannya ke mangkuk itu.

Terakhir, dia meletakkan mangkuk yang sudah penuh dengan gulungan daging domba di samping Yara.

"Nih. Bukannya kamu bilang gulungan daging domba yang kumasak paling cocok sama seleramu? Semuanya buat kamu. Nggak akan ada yang bisa merebutnya."

Semua yang baru saja terjadi terlihat jelas oleh Yara. Namun, dia tidak mengatakan apa pun. Mungkin dia memang tidak merasa ada yang salah. Dia sudah terbiasa menerima perhatian Levin dan selalu diprioritaskan olehnya.

Bahkan di hadapanku, pacar Levin yang sekarang, Yara tetap merasa sudah sewajarnya dialah yang diperhatikan dan diprioritaskan oleh Levin.

"Aduh."

Gerakan Levin saat memasukkan gulungan daging domba terlalu kuat hingga kuah panas memercik ke punggung tanganku. Aku refleks menarik tangan karena kesakitan. Saat kulihat, kulitku sudah memerah.

Detik berikutnya, empat jariku tiba-tiba digenggam.

Levin menatap punggung tanganku yang memerah dengan alis berkerut rapat.

"Kamu ini nggak tahu menghindar sedikit? Selalu saja bikin orang khawatir."

Levin berdiri, tetapi tangannya masih menggenggam tanganku. Aku tetap duduk tanpa bergerak. Ada rasa perih yang perlahan menjalar di hatiku. Dia berbalik dan menatapku dari atas.

"Kamu mau menunggu sampai tanganmu bengkak?"

Aku pun berdiri dan mengikutinya ke wastafel. Dia mengatur aliran air, lalu menggandeng tanganku dan meletakkannya di bawah air mengalir untuk mendinginkan luka. Gerakannya sangat lembut.

Air mengalir melewati punggung tanganku, lalu membasahi punggung tangan Levin sebelum akhirnya jatuh ke wastafel.

Levin terus menatap punggung tanganku.

"Gulungan daging domba tadi sebenarnya aku masak untukmu."

Begitu mendengar ucapannya, aku menundukkan kepala.

Kekesalan yang selama ini menumpuk di dalam hatiku seolah perlahan terkikis.

Saat kami kembali ke meja, Yara sedang mengambil potongan terakhir gulungan daging domba. "Levin, gulungan daging domba yang kamu masak memang paling enak. Semuanya sudah kuhabiskan."

Sudut bibir Levin langsung terangkat, tampak senang mendengarnya. "Masih mau? Aku masakkan lagi."

Piring berisi gulungan daging domba sudah kosong. Levin melambaikan tangan kepada pelayan, berniat memesan satu porsi lagi.

Yara menelan potongan terakhir, lalu mengibaskan tangannya. "Nggak usah, aku sudah makan terlalu banyak. Kalau makan lagi, nanti malah enek."

Bagian panci yang tadinya digunakan untuk memasak gulungan daging domba kini sudah dipenuhi sawi putih.

Teringat ucapan Levin di dekat wastafel tadi, aku menatapnya. Tatapan Levin tampak bingung. "Kenapa?"

Saat itu aku tiba-tiba menyadari bahwa orang yang bisa membuat Levin langsung memahami maksudnya hanya dengan satu tatapan adalah Yara, bukan aku.

Sebenarnya aku ingin bertanya kepada Levin. Gulungan daging domba yang dia masak untuk Yara tidak boleh kusentuh sepotong pun. Namun, gulungan daging domba yang dia masak untukku justru boleh dihabiskan Yara tanpa tersisa sedikit pun.

Kenapa?

Melihat kebingungan di mata Levin, sepertinya aku sudah menemukan jawabannya.

Untuk Yara, dia benar-benar mencurahkan perhatian. Sedangkan untukku, dia hanya peduli kalau kebetulan teringat.

Jarak dari wastafel kembali ke meja hanya belasan langkah, tetapi dia sudah melupakannya.

Kalau sudah lupa, ya sudahlah. Memaksanya untuk mengingat juga tidak ada artinya.

Aku menggeleng. "Nggak apa-apa."

Aku meletakkan sumpit di sisi meja, tetapi entah sejak kapan beberapa potong akar houttuynia sudah ditambahkan ke mangkuk saus cocolanku.

"Bukannya kamu paling suka makan akar houttuynia? Tadi pesan banyak, makan yang banyak."

Setelah berkata begitu, Levin memiringkan tubuhnya ke samping dan mengambil tisu untuk menyeka saus yang menempel di sudut bibir Yara.

Dalam diam, aku membenamkan potongan-potongan akar houttuynia itu ke dasar mangkuk saus. Yang suka makan akar houttuynia bukan aku, melainkan Yara.

Yara menatap ke arahku. Pandangannya jatuh pada piring kecil untuk menaruh sisa makanan di samping tanganku. Piring itu masih bersih, bahkan tidak terkena sedikit pun noda minyak.

"Nana, kamu nggak suka?"

Levin juga menoleh ke arahku. Aku pun bertanya pada diriku sendiri.

Aku sengaja mengambil cuti, mengantre sejak pukul dua siang hingga pukul delapan malam, dan mendapat nomor antrean 3601.

Setelah mengorbankan begitu banyak hal hanya untuk bisa makan hotpot ini, ketika akhirnya benar-benar mencicipinya, aku baru menyadari sesuatu.

Kenapa rasanya tidak seenak yang kubayangkan? Bahkan rasanya sulit kutelan, sampai-sampai sekarang aku hanya ingin segera pergi dari sini.

Tatapanku beralih dari Yara kepada Levin.

Pengorbanan yang kulakukan demi bisa bersama Levin jauh lebih banyak daripada yang kulakukan demi seporsi hotpot ini.

Rasa kecewa ketika semua harapan dan angan-anganku dulu tidak menjadi kenyataan juga jauh lebih besar daripada kekecewaanku terhadap hotpot ini.

Aku menekan rasa getir di dalam hati, lalu tersenyum tipis. "Mungkin memang nggak cocok untukku."

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Aku Pacarnya, Wanita Lain yang Dimajanya   Bab 9

    Levin menundukkan kepala, suaranya sedikit tercekat. "Aku salah. Aku minta maaf. Pulanglah denganku. Mulai sekarang aku pasti akan berubah."Sekali lagi dia mencoba meraih tanganku, tetapi aku menghindar dengan dingin. "Levin, nggak semua kesalahan punya kesempatan untuk diperbaiki. Hubungan kita benar-benar sudah berakhir.""Nggak, belum berakhir." Levin tiba-tiba meninggikan suaranya, tetapi suaranya sedikit bergetar. "Jenna, aku tahu aku salah dan aku juga sudah berjanji akan berubah. Aku sampai datang jauh-jauh ke Swiss untuk mencarimu. Apa kamu benar-benar nggak bisa kasih aku satu kesempatan lagi?"Aku menolaknya dengan tegas. "Nggak bisa."Levin menatapku. Beberapa saat kemudian, matanya memerah. "Jenna, aku tahu aku salah. Bahkan kesalahanku sudah keterlaluan.""Aku bisa mengerti kalau kamu nggak mau memaafkanku semudah itu. Tapi aku nggak akan menyerah begitu saja. Aku akan membuatmu melihat sendiri perubahanku."Malam harinya setelah menyelesaikan kesibukan seharian, aku memb

  • Aku Pacarnya, Wanita Lain yang Dimajanya   Bab 8

    Mobil berhenti di tempat parkir bawah tanah, lalu mesinnya dimatikan. Levin tidak langsung turun. Dia melirik ponselnya.Pukul delapan malam. Dari pukul lima sore sampai sekarang, baru tiga jam berlalu.Kenapa baru tiga jam?Untuk pertama kalinya, Levin merasakan bahwa tiga jam ternyata bisa sepanjang ini. Dia teringat hotpot yang mereka makan dua hari lalu. Hotpot yang membuat Jenna sampai mengambil cuti dan mengantre selama enam jam.Bagaimana Jenna bisa bertahan melewati enam jam yang begitu membosankan? Selama itu, dirinya bahkan tidak pernah sekali pun bertanya apakah Jenna haus, lapar, atau kedinginan.Ketika Jenna tidak mau menuruti permintaannya untuk mengganti rencana dan makan masakan barat, dia bahkan menuduh Jenna sedang ngambek. Kenapa dirinya bisa sebajingan itu?Levin menyalakan sebatang rokok.Kemudian sebatang lagi.Satu demi satu.Puntung rokok berserakan memenuhi lantai, tetapi dia masih tidak ingin turun dari mobil. Dia tidak ingin naik ke rumah. Atau lebih tepatnya

  • Aku Pacarnya, Wanita Lain yang Dimajanya   Bab 7

    Di atas meja makan masih ada kotak-kotak makanan sisa kemarin. Levin berjalan menghampiri untuk membereskannya. Dia menggabungkan semua makanan yang belum habis ke dalam satu wadah, lalu tiba-tiba gerakannya terhenti.Tatapannya jatuh pada segelas air putih di atas meja. Itu adalah air yang dia tuangkan untuk Jenna, untuk menghilangkan rasa pedas.Levin menyadari bahwa selain suhunya yang sudah berubah, air itu hampir sama persis seperti saat dia menyodorkannya kepada Jenna. Bahkan tidak ada sedikit pun noda minyak di gelasnya.Saat itulah dia menyadari bahwa Jenna sama sekali tidak menyentuh satu pun hidangan di meja.Entah kenapa, segelas air putih itu membuat hatinya terasa sedikit perih. Kenapa dirinya bisa selalai itu sampai tidak memesan beberapa hidangan yang tidak pedas?Setelah selesai membereskan meja makan, Levin masuk ke dapur. Dia mengeluarkan bahan makanan satu per satu. Tahu pedas, telur tumis cabai, lobster air tawar pedas ....Semuanya adalah makanan kesukaan Yara. Kal

  • Aku Pacarnya, Wanita Lain yang Dimajanya   Bab 6

    Levin masuk ke rumah sambil membawa sekantong besar berisi bahan makanan, lalu mengganti sepatu di dekat pintu masuk."Jenna.""Yaya bilang sebelum berangkat, kita makan besar dulu supaya puas menikmati makanan Indonesia. Cepat keluar sini, bantu-bantu."Namun, satu-satunya jawaban yang terdengar hanyalah suara gesekan saat dia mengganti sepatu."Jenna?"Levin mengenakan sandal rumah, meletakkan bahan makanan di dapur, lalu langsung menuju kamar tamu. Hal pertama yang terlihat adalah ranjang lipat yang kosong. Kemudian, dia menyadari dua koper yang sebelumnya berada di samping lemari juga sudah tidak ada.Levin tertegun sesaat.Pergi? Seharusnya tidak. Bukankah penerbangannya baru besok pagi?Dia keluar dari kamar tamu, lalu mencari ke kamar utama, kamar mandi, bahkan gudang. Namun, Jenna tidak terlihat di mana pun. Dia segera berjalan ke pintu masuk dan melihat sepasang sandal di dalam tempat sampah.Wajah Levin langsung menggelap, lalu kepanikan melintas di matanya. Dia bergumam, "Cu

  • Aku Pacarnya, Wanita Lain yang Dimajanya   Bab 5

    Saat makan malam, Levin memesan makanan dari luar. Dia memesan delapan atau sembilan macam hidangan sampai meja makan hampir tidak muat menampung semuanya.Mata Yara langsung berbinar. "Levin, kamu pintar banget pilih makanan. Semua hidangan ini favoritku!"Aku mengamati hidangan di atas meja berkali-kali. Pada akhirnya, aku hanya menyuapkan dua sendok nasi putih ke dalam mulut. Semua hidangan dipenuhi lapisan cabai yang merah menyala.Beberapa saat kemudian, Levin menyodorkan segelas air putih kepadaku. "Jenna, kamu bisa coba belajar makan pedas. Jadi kalau nanti kita makan bersama, nggak perlu serepot ini."Sendok yang sedang kugunakan untuk menyuapkan nasi langsung terhenti. Dadaku terasa begitu sesak.Lagi-lagi seperti ini. Dia mengingat setiap makanan kesukaan Yara, tetapi justru tidak ingat bahwa aku sama sekali tidak bisa makan pedas. Bahkan dia menganggapku merepotkan.Sungguh menggelikan.Aku mendorong gelas air itu menjauh. "Setelah besok, nggak akan merepotkan lagi."Levin t

  • Aku Pacarnya, Wanita Lain yang Dimajanya   Bab 4

    Setelah kembali ke rumah, aku mendorong pintu kamar tidur dan seketika tubuhku membeku.Levin dan Yara sedang berbaring menyamping di atas ranjang, tubuh mereka menempel satu sama lain.Mendengar suara pintu dibuka, Levin menoleh ke arahku. "Kok sudah pulang? Aku kira kamu akan menginap semalam di rumah orang tuamu."Tenggorokanku terasa tercekat. Aku bahkan tidak mampu mengeluarkan suara sedikit pun.Beberapa saat kemudian, Levin sepertinya menyadari sesuatu. Dia buru-buru menarik tangannya dari perut bagian bawah Yara. Kepanikan terlihat jelas di matanya."Jangan salah paham. Yaya sedang haid dan kebetulan juga masuk angin, sakitnya sampai nggak tertahankan. Aku cuma bantu dia mengusap perut supaya rasa sakitnya berkurang."Sudut bibirku tertarik membentuk senyum hambar.Dulu saat aku mengalami nyeri haid sampai berguling-guling kesakitan, aku pernah meletakkan tangan Levin di perut bagian bawahku dan memintanya membantu mengusapnya.Namun, dia langsung menarik tangannya, lalu menyod

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status