Share

Bab 4

Author: Windara
Setelah kembali ke rumah, aku mendorong pintu kamar tidur dan seketika tubuhku membeku.

Levin dan Yara sedang berbaring menyamping di atas ranjang, tubuh mereka menempel satu sama lain.

Mendengar suara pintu dibuka, Levin menoleh ke arahku. "Kok sudah pulang? Aku kira kamu akan menginap semalam di rumah orang tuamu."

Tenggorokanku terasa tercekat. Aku bahkan tidak mampu mengeluarkan suara sedikit pun.

Beberapa saat kemudian, Levin sepertinya menyadari sesuatu. Dia buru-buru menarik tangannya dari perut bagian bawah Yara. Kepanikan terlihat jelas di matanya.

"Jangan salah paham. Yaya sedang haid dan kebetulan juga masuk angin, sakitnya sampai nggak tertahankan. Aku cuma bantu dia mengusap perut supaya rasa sakitnya berkurang."

Sudut bibirku tertarik membentuk senyum hambar.

Dulu saat aku mengalami nyeri haid sampai berguling-guling kesakitan, aku pernah meletakkan tangan Levin di perut bagian bawahku dan memintanya membantu mengusapnya.

Namun, dia langsung menarik tangannya, lalu menyodorkan segelas air hangat kepadaku dan berkata bahwa aku akan baik-baik saja kalau minum lebih banyak air hangat.

Kedua kakiku terasa berat hingga tidak mampu melangkah. Levin menarikku keluar dari kamar, lalu berbalik dan menutup pintu dengan sangat pelan.

"Yaya baru saja berhasil tidur. Jangan sampai buat dia terbangun."

Aku menarik napas dalam-dalam, lalu berbalik menuju lemari dan mengeluarkan koper.

"Bisa nggak berhenti ngambek?"

Levin langsung merebut koperku. Wajahnya seketika menggelap, sementara suaranya sengaja direndahkan, seolah takut mengganggu seseorang. "Aku sudah jelasin semuanya. Aku dan Yaya nggak punya hubungan apa-apa."

Dia berhenti sejenak, lalu alisnya berkerut tidak sabar. "Lagi pula, kalau aku dan dia memang bisa bersama, memangnya kamu masih akan punya kesempatan?"

Tiba-tiba, aku merasa diriku seperti sebuah lelucon. Ternyata Levin bersamaku hanya karena aku pilihan keduanya. Dia hanya menerima keadaan. Seolah-olah bersamaku adalah sebuah kemurahan hati yang dia berikan kepadaku.

'Levin, sekarang kamu boleh mengambil kembali kemurahan hatimu itu. Kali ini, aku yang nggak mau lagi menerima keadaan.'

"Aku nggak ngambek. Aku mau perjalanan dinas." Aku menarik kembali koperku. "Penerbanganku lusa pagi. Aku pulang untuk membereskan barang."

"Perjalanan dinas? Ke mana?"

"Swiss."

"Berapa lama?"

Yara mendekat. "Ada apa?"

"Perjalanan dinas ke Swiss. Dia berangkat lusa pagi." Levin membantuku menjawab.

Yara menatap Levin dan tampak mengembuskan napas lega. "Kalau begitu, masalahnya sudah selesai, 'kan?"

Aku menatapnya dengan bingung.

Yara bersandar di kusen pintu. "Kami juga akan berangkat lusa untuk melihat aurora. Tapi kami cuma berhasil mendapatkan dua tiket. Tadinya aku nggak tahu harus gimana ngomong sama kamu."

Dua tiket.

Satu untuk Yara dan satu untuk Levin.

Akulah orang ketiga yang tidak dibutuhkan.

"Nah, sekarang masalahnya sudah selesai."

Yara berjalan masuk. "Setelah kamu pulang nanti, kita cari kesempatan untuk pergi sama-sama."

Tidak perlu. Tidak akan ada kesempatan lagi.

"Levin, aku juga harus pulang untuk membereskan koper."

Levin menegur dengan nada memanjakan, "Di luar anginnya kencang dan dingin. Perutmu baru saja kupijat sampai nggak sakit, kamu mau sakit lagi?"

Yara menatap Levin dengan ekspresi serba salah.

Beberapa saat kemudian, Levin menemukan solusinya. "Kamu nggak perlu pulang. Di sini ada pakaianmu."

Benar. Aku sudah tinggal bersama Levin selama tiga tahun, tetapi ruang ganti pakaian di rumah ini justru khusus milik Yara.

Pada hari aku pindah ke sini, Levin berkata bahwa tanpa persetujuan Yara, dia tidak enak memindahkan barang-barangnya. Aku bertanya, lalu bagaimana dengan pakaianku?

Dia membuka pintu salah satu kamar tamu, menunjuk lemari di dalamnya dan berkata bahwa tidak ada yang memakai lemari itu, jadi aku bisa menyimpan pakaianku di sana.

Begitulah, pakaianku tersimpan di lemari kamar tamu selama tiga tahun. Sekarang, bahkan kamar tidur utama pun sudah ditempati Yara. Kalau begitu, sudah waktunya semua kembali kepada pemiliknya.

Levin menghela napas pelan. "Lebih baik aku bantu kamu berkemas."

Setelah berkata demikian, dia berbalik dan hendak melangkah.

"Levin," panggil Yara.

Kemudian dia menatap ke arahku. "Lebih baik kamu bantu Nana berkemas saja. Aku bisa mengurus barang-barangku sendiri."

Levin tidak bergerak. Dia hanya menoleh ke belakang.

"Setiap kali selalu bilang bisa. Memangnya kapan kamu nggak pernah ketinggalan barang? Pada akhirnya, bukannya aku juga yang harus membereskan semuanya untukmu?"

Ketika tatapan Levin beralih kepadaku, dia terdiam sejenak. "Dia bisa mengurusnya sendiri. Dia nggak butuh bantuanku."

Bukan karena aku tidak membutuhkannya. Namun, karena dia pernah berkata kepadaku, "Jenna, kalau sesuatu bisa kamu lakukan sendiri, jangan datang mencariku."

"Baiklah, Levin. Jadi kamu sengaja menyindirku karena aku pelupa, ya? Awas saja, kupukul kamu!"

Yara mengejar Levin, lalu mereka keluar dari kamar tamu bersama-sama.

Ponselku bergetar.

[ Karena adanya penyesuaian dari pihak maskapai, jadwal penerbangan Anda dimajukan 15 jam 45 menit. Mohon melakukan perjalanan lebih awal. ]

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Aku Pacarnya, Wanita Lain yang Dimajanya   Bab 9

    Levin menundukkan kepala, suaranya sedikit tercekat. "Aku salah. Aku minta maaf. Pulanglah denganku. Mulai sekarang aku pasti akan berubah."Sekali lagi dia mencoba meraih tanganku, tetapi aku menghindar dengan dingin. "Levin, nggak semua kesalahan punya kesempatan untuk diperbaiki. Hubungan kita benar-benar sudah berakhir.""Nggak, belum berakhir." Levin tiba-tiba meninggikan suaranya, tetapi suaranya sedikit bergetar. "Jenna, aku tahu aku salah dan aku juga sudah berjanji akan berubah. Aku sampai datang jauh-jauh ke Swiss untuk mencarimu. Apa kamu benar-benar nggak bisa kasih aku satu kesempatan lagi?"Aku menolaknya dengan tegas. "Nggak bisa."Levin menatapku. Beberapa saat kemudian, matanya memerah. "Jenna, aku tahu aku salah. Bahkan kesalahanku sudah keterlaluan.""Aku bisa mengerti kalau kamu nggak mau memaafkanku semudah itu. Tapi aku nggak akan menyerah begitu saja. Aku akan membuatmu melihat sendiri perubahanku."Malam harinya setelah menyelesaikan kesibukan seharian, aku memb

  • Aku Pacarnya, Wanita Lain yang Dimajanya   Bab 8

    Mobil berhenti di tempat parkir bawah tanah, lalu mesinnya dimatikan. Levin tidak langsung turun. Dia melirik ponselnya.Pukul delapan malam. Dari pukul lima sore sampai sekarang, baru tiga jam berlalu.Kenapa baru tiga jam?Untuk pertama kalinya, Levin merasakan bahwa tiga jam ternyata bisa sepanjang ini. Dia teringat hotpot yang mereka makan dua hari lalu. Hotpot yang membuat Jenna sampai mengambil cuti dan mengantre selama enam jam.Bagaimana Jenna bisa bertahan melewati enam jam yang begitu membosankan? Selama itu, dirinya bahkan tidak pernah sekali pun bertanya apakah Jenna haus, lapar, atau kedinginan.Ketika Jenna tidak mau menuruti permintaannya untuk mengganti rencana dan makan masakan barat, dia bahkan menuduh Jenna sedang ngambek. Kenapa dirinya bisa sebajingan itu?Levin menyalakan sebatang rokok.Kemudian sebatang lagi.Satu demi satu.Puntung rokok berserakan memenuhi lantai, tetapi dia masih tidak ingin turun dari mobil. Dia tidak ingin naik ke rumah. Atau lebih tepatnya

  • Aku Pacarnya, Wanita Lain yang Dimajanya   Bab 7

    Di atas meja makan masih ada kotak-kotak makanan sisa kemarin. Levin berjalan menghampiri untuk membereskannya. Dia menggabungkan semua makanan yang belum habis ke dalam satu wadah, lalu tiba-tiba gerakannya terhenti.Tatapannya jatuh pada segelas air putih di atas meja. Itu adalah air yang dia tuangkan untuk Jenna, untuk menghilangkan rasa pedas.Levin menyadari bahwa selain suhunya yang sudah berubah, air itu hampir sama persis seperti saat dia menyodorkannya kepada Jenna. Bahkan tidak ada sedikit pun noda minyak di gelasnya.Saat itulah dia menyadari bahwa Jenna sama sekali tidak menyentuh satu pun hidangan di meja.Entah kenapa, segelas air putih itu membuat hatinya terasa sedikit perih. Kenapa dirinya bisa selalai itu sampai tidak memesan beberapa hidangan yang tidak pedas?Setelah selesai membereskan meja makan, Levin masuk ke dapur. Dia mengeluarkan bahan makanan satu per satu. Tahu pedas, telur tumis cabai, lobster air tawar pedas ....Semuanya adalah makanan kesukaan Yara. Kal

  • Aku Pacarnya, Wanita Lain yang Dimajanya   Bab 6

    Levin masuk ke rumah sambil membawa sekantong besar berisi bahan makanan, lalu mengganti sepatu di dekat pintu masuk."Jenna.""Yaya bilang sebelum berangkat, kita makan besar dulu supaya puas menikmati makanan Indonesia. Cepat keluar sini, bantu-bantu."Namun, satu-satunya jawaban yang terdengar hanyalah suara gesekan saat dia mengganti sepatu."Jenna?"Levin mengenakan sandal rumah, meletakkan bahan makanan di dapur, lalu langsung menuju kamar tamu. Hal pertama yang terlihat adalah ranjang lipat yang kosong. Kemudian, dia menyadari dua koper yang sebelumnya berada di samping lemari juga sudah tidak ada.Levin tertegun sesaat.Pergi? Seharusnya tidak. Bukankah penerbangannya baru besok pagi?Dia keluar dari kamar tamu, lalu mencari ke kamar utama, kamar mandi, bahkan gudang. Namun, Jenna tidak terlihat di mana pun. Dia segera berjalan ke pintu masuk dan melihat sepasang sandal di dalam tempat sampah.Wajah Levin langsung menggelap, lalu kepanikan melintas di matanya. Dia bergumam, "Cu

  • Aku Pacarnya, Wanita Lain yang Dimajanya   Bab 5

    Saat makan malam, Levin memesan makanan dari luar. Dia memesan delapan atau sembilan macam hidangan sampai meja makan hampir tidak muat menampung semuanya.Mata Yara langsung berbinar. "Levin, kamu pintar banget pilih makanan. Semua hidangan ini favoritku!"Aku mengamati hidangan di atas meja berkali-kali. Pada akhirnya, aku hanya menyuapkan dua sendok nasi putih ke dalam mulut. Semua hidangan dipenuhi lapisan cabai yang merah menyala.Beberapa saat kemudian, Levin menyodorkan segelas air putih kepadaku. "Jenna, kamu bisa coba belajar makan pedas. Jadi kalau nanti kita makan bersama, nggak perlu serepot ini."Sendok yang sedang kugunakan untuk menyuapkan nasi langsung terhenti. Dadaku terasa begitu sesak.Lagi-lagi seperti ini. Dia mengingat setiap makanan kesukaan Yara, tetapi justru tidak ingat bahwa aku sama sekali tidak bisa makan pedas. Bahkan dia menganggapku merepotkan.Sungguh menggelikan.Aku mendorong gelas air itu menjauh. "Setelah besok, nggak akan merepotkan lagi."Levin t

  • Aku Pacarnya, Wanita Lain yang Dimajanya   Bab 4

    Setelah kembali ke rumah, aku mendorong pintu kamar tidur dan seketika tubuhku membeku.Levin dan Yara sedang berbaring menyamping di atas ranjang, tubuh mereka menempel satu sama lain.Mendengar suara pintu dibuka, Levin menoleh ke arahku. "Kok sudah pulang? Aku kira kamu akan menginap semalam di rumah orang tuamu."Tenggorokanku terasa tercekat. Aku bahkan tidak mampu mengeluarkan suara sedikit pun.Beberapa saat kemudian, Levin sepertinya menyadari sesuatu. Dia buru-buru menarik tangannya dari perut bagian bawah Yara. Kepanikan terlihat jelas di matanya."Jangan salah paham. Yaya sedang haid dan kebetulan juga masuk angin, sakitnya sampai nggak tertahankan. Aku cuma bantu dia mengusap perut supaya rasa sakitnya berkurang."Sudut bibirku tertarik membentuk senyum hambar.Dulu saat aku mengalami nyeri haid sampai berguling-guling kesakitan, aku pernah meletakkan tangan Levin di perut bagian bawahku dan memintanya membantu mengusapnya.Namun, dia langsung menarik tangannya, lalu menyod

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status