Short
Siapa yang Sudi Terjerat Cinta dan Benci Bersamamu?

Siapa yang Sudi Terjerat Cinta dan Benci Bersamamu?

By:  SallyCompleted
Language: Bahasa_indonesia
goodnovel4goodnovel
22Chapters
4views
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

Ketika untuk kesembilan kalinya Keisha Sinaga membawa pisau untuk memergoki Omar Damanik berselingkuh di ranjang, dia justru mendapati bahwa perempuan yang berada di atas ranjang itu adalah adik kandungnya sendiri. Omar yang selama ini selalu bersikap dingin, justru langsung merebut pisau itu dan menghunjamkannya dengan keras ke perutnya sendiri. "Jangan sakiti Nadine." Matanya memerah saat menatap Keisha tanpa berkedip, bahkan suaranya bergetar. "Apa pun yang mau kamu lakukan buat membalas dendam padaku, aku bakal terima. Sekarang, apa kamu sudah puas?" Keisha terpaku di tempat. Ujung jarinya mati rasa karena tersiram darah yang panas. Pada detik berikutnya, ayah Keisha yang buru-buru datang langsung menamparnya dengan keras. Bentakan penuh amarah pun menghujaninya, "Keisha, kamu sudah gila, ya? Nadine cuma merebut suamimu. Memangnya itu masalah besar? Kamu malah datang ke sini dan mempermalukannya!" Ibunya pun menunjuk Keisha sambil memakinya, "Kamu sudah lima tahun menikah dengan Keluarga Damanik, tapi nggak juga kunjung hamil. Entah sudah berapa banyak wanita simpanan yang menantang posisimu sebagai Nyonya Damanik. Adikmu mau membantumu, itu keberuntunganmu! Kamu bukannya tahu diri dan berterima kasih, malah membalas kebaikannya dengan keburukan!" Pada saat itu, Keisha hanya merasa semua ini begitu gila dan menggelikan. Suaminya yang telah bertahun-tahun berseteru dengannya, justru mengalah demi adiknya. Orang tua kandungnya sejak awal sampai akhir tahu bahwa adiknya telah menjadi wanita simpanan, tetapi mereka tetap membiarkannya. Sama seperti sejak kecil hingga dewasa, mereka selalu memanjakan dan lebih menyayangi Nadine Sinaga. Apa pun kesalahan yang dilakukan Nadine, mereka akan selalu memaafkannya. Sedangkan terhadap dirinya, yang ada hanyalah tuntutan dan kecaman tanpa henti. Kalau begitu, pernikahan dan keluarga yang sudah rusak ini …. Semuanya tidak lagi dia inginkan.

View More

Chapter 1

Bab 1

"Siapa keluarga Tuan Omar? Tolong dampingi ke rumah sakit buat menandatangani persetujuan."

Ketika suara dokter terdengar, barulah Keisha tersadar.

Dia menatap pria yang terbaring di atas tandu dengan kemeja yang telah basah kuyup oleh darah, lalu mengatupkan bibirnya rapat-rapat.

Rasa sakit luar biasa saat pisau itu menembus perutnya tadi bahkan tidak mampu membuat Omar menundukkan kepala. Namun, sebelum jatuh pingsan, hal terakhir yang dilakukannya bukanlah menyelamatkan diri, apalagi menoleh pada Keisha.

Omar justru menahan rasa sakit sambil dengan lembut menyeka air mata di sudut mata Nadine dan menenangkan ketakutannya.

Baru setelah melihat sendiri kedua orang tua Keisha membawa Nadine pergi dengan selamat, dia akhirnya jatuh kehabisan tenaga dan membiarkan darah mengalir membasahi seluruh tubuhnya.

Dari awal hingga akhir, Keisha hanya seperti penonton yang tidak dibutuhkan, diam-diam menyaksikan seluruh sandiwara konyol ini.

Selama ini, Keisha belum pernah melihat Omar kehilangan kendali karena begitu mengkhawatirkan seseorang.

Bagaimanapun, setelah bertahun-tahun saling berseteru, saat pertikaian mereka mencapai puncaknya.

Keisha pernah mengendarai mobil balap dan menabrak suaminya beserta selingkuhannya hingga enam tulang rusuk mereka patah.

Sementara Omar pernah melemparkannya ke laut dan membiarkannya dikejar hiu selama tiga hari tiga malam.

Begitulah cara mereka saling membalas dalam pernikahan ini.

Perselingkuhan, kebencian, dan kegilaan.

Namun, tidak satu pun dari mereka bersedia mengalah sedikit pun.

Seolah-olah hanya dengan menghancurkan satu sama lain, mereka bisa menemukan jalan keluar.

Namun, kini, Omar justru menatapnya dengan sorot mata yang penuh sindiran dan rasa iba.

"Nadine memang adik kandungmu, tapi dia sama sekali nggak kayak wanita gila sepertimu."

Setelah mengatakan itu, dia menghela napas, seolah telah mengambil keputusan untuk mengalah.

"Jangan sentuh dia. Apa pun yang mau kamu lakukan buat membalas dendam padaku, aku bakal menerimanya."

Jari-jari Keisha mengepal perlahan. "Apa maksudmu?"

Omar tersenyum, tetapi sorot matanya terasa begitu dingin.

"Aku mengaku kalah."

"Sekarang, apa kamu sudah puas? Bukannya ini hasil yang selama ini kamu mau?"

"Tapi, Keisha, kamu juga nggak menang."

Jari-jari Keisha mencengkeram telapak tangannya sendiri hingga kukunya menancap ke dalam daging. Rasa sakit yang menusuk perlahan menjalar.

Keisha dan Omar jatuh cinta pada pandangan pertama saat masih kuliah.

Cara mereka berinteraksi memang cukup unik. Mereka suka bertaruh satu sama lain.

Saat berusia dua puluh tahun, Keisha ditugaskan memimpin sebuah tim untuk melakukan penelitian di wilayah barat laut. Dia bertaruh bahwa Omar akan datang mencarinya.

Omar benar-benar menempuh perjalanan sejauh 2.300 kilometer dan datang ke bawah apartemennya untuk menyatakan cinta.

"Keisha, kamu menang! Maukah kamu jadi pacarku? Aku benar-benar nggak bisa hidup tanpa dirimu!"

Saat berusia dua puluh tiga tahun, dia bertaruh bahwa Omar akan melamarnya.

Omar menerbangkan sembilan ratus ribu tangkai mawar dan berlutut dengan satu lutut di hadapannya.

"Keisha, kamu menang! Jadilah istriku. Aku rela kalah padamu seumur hidupku!"

Padahal, saat pernikahan, mereka saling memasangkan cincin dengan tangan mereka sendiri. Ketika berciuman dengan penuh haru, mereka begitu bahagia, seolah telah memenangkan seluruh dunia.

Namun, dia tidak menyangka bahwa taruhan Omar adalah membuatnya jatuh cinta sedikit demi sedikit dan menjadikannya sebagai tameng.

Omar mengejarnya dan menikahinya hanya untuk memenuhi perjodohan antara Keluarga Damanik dan Keluarga Sinaga, serta melindungi wanita yang benar-benar dicintainya.

Ketika Keisha mengetahui kebenarannya, dia sudah mengandung lima bulan.

Saat pertama kali memergoki Omar berselingkuh di atas ranjang, Keisha langsung bertengkar dengan mereka.

Dalam kekacauan itu, dia dan wanita tersebut jatuh dari lantai atas secara bersamaan.

Keisha keguguran.

Wanita itu meninggal.

Sejak saat itu, Omar seolah berubah menjadi orang lain.

Dia terang-terangan berselingkuh dan setiap beberapa hari sekali menjadi bahan perbincangan hangat, hingga Keisha menjadi bahan tertawaan di seluruh kalangan keluarga kaya.

Sementara Keisha menyimpan dendam di dalam hati. Dia terus menyeret Omar dan bertarung dengannya tahun demi tahun.

Hingga kini, dia sudah mulai merasa lelah.

Keisha mengembuskan napas. "Sudah berapa lama kamu bersamanya?"

"Setahun."

Tepat satu tahun. Hati Keisha terasa nyeri. Dia meletakkan sebuah surat perjanjian perceraian di hadapannya.

"Tanda tangani. Kita cerai."

Omar tertegun sesaat, lalu terkekeh.

"Keisha, trik pura-pura menjauh supaya aku mengejarmu ini benar-benar murahan."

"Kamu sudah mengejarku selama bertahun-tahun. Bukannya semua itu karena kamu nggak rela melepaskan keuntungan yang diberikan statusmu sebagai Nyonya Damanik? Kalau kita bercerai dan Grup Damanik nggak lagi berinvestasi pada timmu, menurutmu seberapa jauh kamu masih bisa melangkah?"

Keisha mengabaikan sindirannya dan mengulang sekali lagi, "Tanda tangani."

Omar sedikit mengernyit, tetapi tidak ragu. Dia langsung menandatangani surat perjanjian perceraian itu.

"Aku harap kamu benar-benar datang ke Kantor Catatan Sipil."

Omar mengucapkan kalimat itu dengan nada menantang.

Keisha tidak bereaksi. Dia diam-diam berbalik dan berjalan keluar dari kamar rawat.

Tepat saat itu, dia melihat di kamar rawat seberang, orang tuanya sedang mengelilingi Nadine yang hanya mengalami sedikit lecet.

Ayahnya dengan sabar mengatur ketinggian tempat tidur Nadine.

"Kalau ada yang terasa nggak nyaman, bilang ke Ayah."

Ibunya dengan telaten membantu Nadine minum.

"Sayang, jangan buru-buru. Minumnya pelan-pelan."

Nadine melirik Keisha yang berada di luar, lalu berpura-pura bertanya dengan hati-hati, "Ayah, Ibu, gara-gara melindungiku, Kak Omar sampai bertengkar hebat dengan Kak Keisha. Kak Keisha nggak bakal membenciku, 'kan?"

"Buat apa takut? Dia sendiri nggak becus. Kalau nggak bisa pertahankan suaminya, jangan salahkan orang lain."

"Tenang saja. Kalau dia berani menyakitimu, Ayah dan Ibu pasti nggak bakal melepaskannya."

Setiap kata bagaikan siksaan yang mengiris hati.

Seolah Keisha bukan putri mereka, melainkan musuh mereka.

Keisha bertatapan dengan sorot mata penuh kemenangan yang dilayangkan Nadine kepadanya, tetapi wajahnya tetap tanpa ekspresi.

Dia berbalik dan pergi. Sesampainya di ujung lorong, dia mengeluarkan ponselnya dan langsung menelepon nomor yang sudah lama tidak dihubungi.

Panggilan itu langsung diangkat. Suara pria di seberang terdengar hangat dan jernih.

"Nona Keisha, sudah dipertimbangkan?"

"Aku setuju buat memberikan lisensi paten dan formula obat terbaru yang dikembangkan timku pada kalian, tetapi aku punya satu syarat."

Nada suara Keisha tenang, tetapi tegas.

"Dalam acara tender setengah bulan lagi, buat Omar dan Keluarga Sinaga kalah telak."

Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

No Comments
22 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status