Share

Bab 3

Penulis: Ghanita
Setelah hari itu, aku sakit parah. Tengah malam, aku muntah darah dan pingsan. Sultan ketakutan setengah mati dan memanggil tim medis terbaik untuk mengobatiku.

"Sayang, asal kamu bisa sembuh, ke depannya aku akan menuruti apa pun maumu dan menjalani hidup baik-baik bersamamu!"

Setelah itu, dia memang jadi jauh lebih menahan diri dan Yuvika juga meninggalkan perusahaannya. Hidup kami seakan-akan kembali ke masa dulu yang penuh kasih. Tiga putri kami pun sangat senang karena ayah mereka bisa sering menemani mereka.

Sampai beberapa hari lalu, saat aku pulang dari rumah sakit setelah merawat adikku, aku tanpa sengaja melihat Sultan membawa tiga putri kami dan Yuvika makan di sebuah restoran viral yang baru dibuka. Lewat jendela kaca besar, aku melihat Sultan dan Yuvika saling menyuapi dari mulut ke mulut.

Tiga putriku duduk di seberang sambil tertawa riang. "Ayah dan Mama malu-maluin banget!"

Aku seketika seperti tersambar petir. Tiga putri yang kubesarkan dengan tanganku sendiri justru memanggil perempuan lain dengan sebutan mama.

Di luar, tiba-tiba hujan deras. Aku bahkan tidak tahu bagaimana caranya aku bisa berjalan pulang. Saat tiga putriku pulang dan melihatku basah kuyup, tatapan mereka penuh rasa jijik. "Kenapa ada mama yang kelihatan pantas, tapi ada juga mama yang begitu memalukan?"

Dulu mereka bertiga juga pernah mengatakan hal serupa. Aku mengira mereka sedang membicarakan orang tua murid lain di sekolah, jadi aku tidak terlalu memikirkannya. Namun, ternyata mereka sedang membandingkanku dengan Yuvika. Mereka lebih menyukai mama yang itu.

Saat ini, hatiku bahkan lebih sakit daripada saat tahu Sultan berselingkuh. Mereka adalah anak-anak yang kubesarkan sendiri!

Aku menahan air mata. Suaraku agak serak. "Aku ibu kandung kalian. Kalau kalian memanggil orang lain mama, jangan lagi memanggilku mama."

Di dalam hatiku masih ada secercah harapan terakhir, menunggu jawaban mereka.

Putri sulung menatapku dengan jijik, lalu berkata dengan kesal, "Kamu cuma bisa pakai trik tarik-ulur begini ya? Pantas saja Papa meremehkanmu!"

Putri kedua mendengus dingin. "Ya sudah, nggak usah manggil! Lagian aku juga nggak mau manggil! Kami sudah punya mama baru!"

Putri bungsu yang masih kecil ikut-ikutan berkata, "Kakak nggak manggil, aku juga nggak manggil."

Aku menatap tiga wajah di depanku yang sangat mirip Sultan, lalu tertawa getir. Tubuhku basah kuyup dan menggigil kedinginan. Aku diam-diam berbalik masuk ke kamar mandi.

Setelah mengantar ketiga anak pulang, Sultan langsung pergi. Dia menyuruh pelayan menyampaikan bahwa malam ini dia harus lembur semalaman. Aku sudah tidak punya tenaga lagi untuk meneleponnya dan menanyai apa pun. Malam itu, aku kembali muntah darah dan pingsan.

Dalam keadaan setengah sadar, aku mendengar para pelayan panik. Seseorang menelepon Sultan. "Tuan, Nyonya muntah darah lagi dan pingsan. Cepat pulang!"

Di seberang sana terdiam sejenak, lalu aku mendengar suara Yuvika. "Sultan, cepat ke sini dong! Kita belum coba mainan baru ini!"

Sultan membentak dengan tidak sabar ke arah telepon, "Keisya sampah itu main drama apa lagi sih? Manja juga harus tahu batas! Kalian semua nggak perlu mengurusnya! Aku mau lihat apa dia benar-benar akan mati!"

Pada akhirnya, aku tetap dibawa pelayan ke rumah sakit untuk diselamatkan. Sultan baru tiba di rumah sakit saat fajar. Bekas merah di lehernya sangat mencolok, seolah-olah sengaja dipamerkan.

Saat Sultan melihatku menatap lehernya, dia langsung menarik dan mencabut jarum infus di tanganku. "Keisya, kamu sudah makin hebat ya, sampai bisa berakting buat menipuku?"

"Kamu pikir cara begini bisa membuatku iba? Ini cuma bikin aku makin muak sama kamu! Karena kamu nggak tahu diri seperti ini, biaya perawatan lanjutan adikmu akan dihentikan!"

Selesai berbicara, dia mengeluarkan ponselnya dan menelepon asistennya. Aku langsung panik.
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Aku Pergi Ketika Dia Memilih Wanita Lain   Bab 10

    Aku berdiri dan menatapnya dengan dingin. "Sultan, kamu benar-benar kejam!"Sultan tertegun sejenak. Dia tidak menyangka bahwa saat bertemu denganku lagi, yang dia terima justru amarah.Dengan panik, dia berlari menghampiriku dan memelukku. "Aku hanya ingin membalaskan dendammu! Aku sudah mengirim mereka semua ke sini supaya menebus dosa di hadapanmu!"Setelah berkata demikian, dia menoleh ke arah tiga putri kami. Saat ini, di mata ketiga putri kami masih tersisa sedikit kebingungan. Begitu melihat ayah mereka memanggil, mereka tanpa sadar berjalan mendekat.Setelah mengalami penderitaan dibakar api, mereka kini menuruti semua perkataan Sultan tanpa berpikir. Ketiganya pun berdiri rapi dan memanggilku dengan takut, "Mama."Di sisi lain, tubuh Yuvika bergetar hebat. Dengan wajah murka, dia menatap kami. "Dasar pasangan hina! Aku pasti nggak akan melepaskan kalian!"Setelah berkata demikian, dia berbalik dan menghilang di udara.Sultan menoleh ke arahku dan mendapati tubuhku mulai menjad

  • Aku Pergi Ketika Dia Memilih Wanita Lain   Bab 9

    Aku berada di sampingnya, menatap wajahnya yang dipenuhi niat untuk mati, lalu menghela napas. "Sultan, kenapa kamu harus begini?"Anak-anak masih kecil. Mereka hanya tidak diajari dengan baik. Kalau dipikir-pikir, sebenarnya sifat mereka padaku saat ini tidak menjadi masalah besar buatku. Jika melihat kembali hidupku, sepertinya aku memang bukan ibu yang benar-benar layak.Saat aku tenggelam dalam kenangan, putri sulung kami tiba-tiba terbangun. Begitu melihat apa yang dilakukan ayahnya, dia ketakutan dan menjerit. Hanya saja, lakban menutupi mulutnya.Saat itu, Sultan sudah menuangkan seluruh minyak yang ada di tangannya. Dia duduk di samping putri sulung kami dan membuka lakbannya. "Ada yang ingin kamu katakan?"Putri sulung menatap ayahnya yang terasa asing, lalu terus berteriak, "Mama Yuvi, tolong aku! Cepat selamatkan aku!"Sultan tidak menyangka bahwa sampai saat ini putrinya masih tidak tahu di mana letak kesalahannya. Dia melangkah maju dan menendang anak itu dengan kejam."Be

  • Aku Pergi Ketika Dia Memilih Wanita Lain   Bab 8

    Sejak masih di rumah sakit, Sultan sudah menanyakan penyebab kematianku kepada dokter. Dokter dengan tegas mengatakan bahwa kematianku disebabkan oleh cairan kotor yang kemudian menyebabkan luka terinfeksi hingga meninggal. Artinya, Yuvika-lah pelaku sebenarnya yang membunuhku.Namun, dia sama sekali tidak merasa bersalah. Karena itu, Sultan menambahkan beberapa obat tidur ke dalam kue kecil yang dipanggangnya, lalu menyuapkannya kepada Yuvika dengan senyuman lebar.Setelah memakan kue itu, Yuvika merasa pusing. Dia berbaring di ranjang dan langsung tertidur lelap, sementara anak-anak pun ikut tergeletak di tempat mereka masing-masing.Aku berdiri di samping mereka, menatap semuanya dengan agak bingung. Apa sebenarnya yang ingin dilakukan Sultan? Kenapa bahkan anak-anak pun dia beri obat?Aku berdiri di sampingnya dan berkata dengan tak berdaya, "Sultan, berhentilah."Sebenarnya aku sama sekali tidak memahaminya. Jelas-jelas dia yang lebih dulu bersama Yuvika dan mengkhianatiku. Lalu s

  • Aku Pergi Ketika Dia Memilih Wanita Lain   Bab 7

    Sultan tidak menyangka putri-putrinya bisa begitu tidak berperasaan. Dengan marah, dia menepuk tubuh putri sulung. "Coba kamu ngomong sembarangan lagi! Mamamu sudah pergi, tapi kamu masih bisa bicara seperti itu tentangnya!"Namun, mereka masih tertawa di samping, sama sekali tidak menunjukkan kesedihan.Putri sulung mengangkat bahu dengan acuh tak acuh. "Terus kenapa? Lagian, mama yang ini juga nggak penting! Kami punya mama yang lebih baik!"Sultan tahu siapa yang mereka maksud. Padahal ibu mereka justru dibunuh oleh Yuvika. Bahkan dia sendiri tahu betapa besar pengorbanan Keisya untuk mereka. Lalu, bagaimana dengan mereka? Kenapa putri-putrinya bisa menjadi sedingin ini?Sultan menatap anak-anaknya. Tubuhnya gemetar karena marah. Dia terus-menerus menyalahkan dirinya sendiri, bahkan menampar pipinya sendiri dua kali dengan keras.Putri bungsu melihat keadaannya dan ketakutan sampai menangis dengan kencang. Seluruh ruang rawat menjadi kacau. Aku sampai merasa telingaku sakit karena k

  • Aku Pergi Ketika Dia Memilih Wanita Lain   Bab 6

    Saat ini, wajah Yuvika tampak serius. Dia memutar otak, berusaha mencari alasan. Namun, apa pun pembelaan yang dia lontarkan, Sultan tetap tidak akan memercayainya.Sultan menatap matanya yang terus bergerak karena gelisah, lalu akhirnya menunjuk ke arah luar pintu sambil berteriak dengan marah, "Pergi dari sini! Aku nggak mau melihatmu lagi!"Yuvika tahu Sultan sedang marah besar, jadi hanya bisa pergi dengan lesu.Setelah dia pergi, Sultan melangkah maju dan menggenggam tanganku, ekspresinya penuh dengan penyesalan. "Keisya, maafkan aku .... Aku benar-benar tertipu olehnya! Kali ini kamu mau 'kan maafin aku?"Aku tidak menatapnya, hanya memejamkan mata dan berpura-pura tidak mendengar.Tak lama kemudian, dokter dan perawat bergegas masuk. Mereka dengan hati-hati menggunting perbanku dan melihat luka bakarku bertambah parah. Mereka pun membersihkan sisa sup yang masih menempel, memecahkan lepuhan, lalu membalutku kembali.Sultan berdiri di samping, menahan rasa perih di hati sambil te

  • Aku Pergi Ketika Dia Memilih Wanita Lain   Bab 5

    Sultan tertegun. Dengan wajah tidak percaya, dia bertanya, "Apa katamu? Keisya mati? Mana mungkin dia mati?"Selesai berbicara, dia mengerutkan kening, lalu pergi ke rumah sakit.Di sampingnya, Yuvika sengaja menambahkan hasutan. "Palingan dia cuma cemburu sama kita, jadi sengaja main trik seperti ini supaya terlihat lebih unggul!"Saat berbicara, dia menempel ke punggung Sultan, menggesek-gesekkan tubuh seksinya, mencoba menggodanya.Namun saat ini, hati Sultan justru terasa gelisah. Dia tidak menyangka hal seperti ini bisa terjadi.Setibanya di rumah sakit, barulah dia melihat orang yang terbaring di ranjang. Saat itu, aku sudah sadar, hanya saja luka bakar di sekujur tubuhku membuatku sangat kesakitan.Aku menatap langit-langit dengan pandangan hampa. Sebenarnya aku sudah siap mati. Di dunia ini, aku sudah tidak punya satu pun keluarga. Lantas, apa arti hidup bagiku?Sultan menatap bekas luka bakar yang melepuh di tubuhku. Tak satu kata pun mampu keluar dari mulutnya. Dengan wajah y

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status