Short
Aku Pergi Ketika Dia Memilih Wanita Lain

Aku Pergi Ketika Dia Memilih Wanita Lain

Oleh:  GhanitaTamat
Bahasa: Bahasa_indonesia
goodnovel4goodnovel
10Bab
11Dibaca
Baca
Tambahkan

Share:  

Lapor
Ringkasan
Katalog
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi

Pada hari perceraian, aku hanya membawa pergi satu set pakaian yang kupakai saat menikah dulu. Rumah, mobil, harta, dan anak-anak ... semuanya kutinggalkan untuk Sultan. Dia menatapku dengan agak terkejut, lalu mencibir. "Kamu sudah pikirkan baik-baik? Tiga anak itu kamu besarkan dengan tanganmu sendiri dan sekarang kamu lepaskan mereka? Kalau kamu benar-benar nggak menginginkan apa pun, aku juga nggak akan minta biaya nafkah darimu. Itu adil." Aku segera menandatangani perjanjian itu, lalu menyahut dengan datar, "Mm, sangat adil." Sultan terdiam sejenak sebelum akhirnya perlahan menandatangani namanya. "Kalau nanti kamu nyesal, kita bisa ...." Aku mengibaskan tangan untuk memotong ucapannya, lalu pergi tanpa menoleh lagi. Dulu Sultan sering mengatakan bahwa aku menikah dengannya demi uang dan kekuasaan, bahkan mencoba mengikatnya dengan anak-anak. Tidak apa-apa. Saat dia mengurus jenazahku nanti, dia akan mengerti semuanya.

Lihat lebih banyak

Bab 1

Bab 1

Aku seperti melarikan diri saat keluar rumah. Entah kenapa, Sultan justru mengejarku.

"Kenapa terburu-buru begitu? Di luar 'kan dingin. Kenapa nggak pakai mantel tebal?"

Dia menyodorkan mantel bulu cerpelai di tangannya kepadaku, tetapi aku menolaknya.

"Ini beli pakai uangmu, jadi aku nggak akan ambil."

Sultan tertegun beberapa detik. Di matanya terselip sedikit amarah dan kesedihan. Biasanya dia pasti akan meluapkan ketidakpuasannya padaku, tetapi kali ini nada suaranya justru melunak.

"Ucapanku tadi belum selesai. Kalau kamu nyesal, kembali dan cari aku ya." Selesai berbicara, dia menaruh sebuah benda logam pipih dan bulat yang terasa dingin ke tanganku.

"Ini koin harapanmu." Sultan sengaja menekan telapak tanganku, seolah-olah segalanya berada dalam kendalinya.

Aku menggenggam erat koin harapan yang sudah bertahun-tahun tidak muncul itu. Perasaanku bercampur aduk.

Saat baru menikah, dia pernah membuat seratus koin harapan khusus. Katanya sebagai hadiah untukku. Waktu itu cinta kami masih membara. Setiap bulan aku akan mendapatkan satu koin harapan yang bisa kutukar dengan satu permintaan kepadanya.

Belakangan, tak peduli bagaimana aku bermesraan dengannya atau berusaha menyenangkannya, dia tidak pernah lagi memberiku hadiah itu. Dua tahun terakhir, aku tetap menyenangkannya seperti dulu, tetapi tak satu pun koin harapan kudapatkan.

Aku sudah memohon lama sekali karena aku ingin menukar koin harapan dengan satu kesempatan untuk bermesraan dengannya. Sudah lama dia tidak membiarkanku mendekat dan hubungan kami pun semakin renggang.

Namun, apa pun yang kulakukan, Sultan tetap tidak mau memberiku koin harapan. Tak disangka, saat kami akan bercerai, aku justru dengan mudah mendapatkan satu koin. Benar-benar konyol!

Tak lama setelah aku pergi, grup para pelayan langsung gempar. Beberapa orang sekaligus menandai namaku.

[ Nyonya, perut Nona Besar sakit. Harus diberi obat apa? ]

[ Nyonya, piano Nona Kedua terkena air. Nomor layanan servisnya berapa? ]

[ Nyonya, besok Nona Ketiga ada kelas pendidikan dini. Jadi pergi atau nggak? ]

[ Nyonya, Tuan Sultan pergi minum-minum. Apa resep sup pereda mabuknya? ]

....

Aku menghela napas tak berdaya, lalu dengan sabar menjawab satu per satu. Di akhir, kutambahkan satu kalimat.

[ Aku dan Sultan akan segera cerai. Ke depannya, urusan-urusan seperti ini harus kalian tangani. ]

Aku tidak pernah bersikap sombong di rumah. Hubunganku dengan para pelayan juga selalu baik. Mereka pun ramai-ramai membujuk.

[ Kalau hanya pertengkaran kecil, sebaiknya mengalah. Kalian punya tiga putri yang manis, nggak perlu sampai cerai. ]

[ Asal Nyonya seperti dulu, manja sedikit dan mengalah, Tuan nggak akan mempermasalahkannya. Selama ini juga selalu begitu, 'kan? ]

Mereka semua mengira kali ini sama seperti sebelumnya. Asal aku menunduk dan berkompromi dengan Sultan, kami akan berdamai lagi. Namun, kali ini benar-benar berbeda.

Aku tiba-tiba sadar. Aku sudah tidak punya alasan untuk terus mencintai lagi.

[ Kali ini sungguhan. Ke depannya, tolong kalian jaga ketiga anak itu dengan baik. ]

Grup mendadak sunyi. Setelah beberapa saat, barulah seseorang berkata.

[ Kami semua menyaksikan perjalanan Nyonya dan Tuan. Kalian dulu begitu saling mencintai, kenapa harus sampai pada perceraian? ]

Aku tersenyum pahit. Namun, pernikahan kami memang sudah tidak punya ruang untuk diselamatkan lagi.
Tampilkan Lebih Banyak
Bab Selanjutnya
Unduh

Bab terbaru

Bab Lainnya

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

Tidak ada komentar
10 Bab
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status