MasukPada hari perceraian, aku hanya membawa pergi satu set pakaian yang kupakai saat menikah dulu. Rumah, mobil, harta, dan anak-anak ... semuanya kutinggalkan untuk Sultan. Dia menatapku dengan agak terkejut, lalu mencibir. "Kamu sudah pikirkan baik-baik? Tiga anak itu kamu besarkan dengan tanganmu sendiri dan sekarang kamu lepaskan mereka? Kalau kamu benar-benar nggak menginginkan apa pun, aku juga nggak akan minta biaya nafkah darimu. Itu adil." Aku segera menandatangani perjanjian itu, lalu menyahut dengan datar, "Mm, sangat adil." Sultan terdiam sejenak sebelum akhirnya perlahan menandatangani namanya. "Kalau nanti kamu nyesal, kita bisa ...." Aku mengibaskan tangan untuk memotong ucapannya, lalu pergi tanpa menoleh lagi. Dulu Sultan sering mengatakan bahwa aku menikah dengannya demi uang dan kekuasaan, bahkan mencoba mengikatnya dengan anak-anak. Tidak apa-apa. Saat dia mengurus jenazahku nanti, dia akan mengerti semuanya.
Lihat lebih banyakAku berdiri dan menatapnya dengan dingin. "Sultan, kamu benar-benar kejam!"Sultan tertegun sejenak. Dia tidak menyangka bahwa saat bertemu denganku lagi, yang dia terima justru amarah.Dengan panik, dia berlari menghampiriku dan memelukku. "Aku hanya ingin membalaskan dendammu! Aku sudah mengirim mereka semua ke sini supaya menebus dosa di hadapanmu!"Setelah berkata demikian, dia menoleh ke arah tiga putri kami. Saat ini, di mata ketiga putri kami masih tersisa sedikit kebingungan. Begitu melihat ayah mereka memanggil, mereka tanpa sadar berjalan mendekat.Setelah mengalami penderitaan dibakar api, mereka kini menuruti semua perkataan Sultan tanpa berpikir. Ketiganya pun berdiri rapi dan memanggilku dengan takut, "Mama."Di sisi lain, tubuh Yuvika bergetar hebat. Dengan wajah murka, dia menatap kami. "Dasar pasangan hina! Aku pasti nggak akan melepaskan kalian!"Setelah berkata demikian, dia berbalik dan menghilang di udara.Sultan menoleh ke arahku dan mendapati tubuhku mulai menjad
Aku berada di sampingnya, menatap wajahnya yang dipenuhi niat untuk mati, lalu menghela napas. "Sultan, kenapa kamu harus begini?"Anak-anak masih kecil. Mereka hanya tidak diajari dengan baik. Kalau dipikir-pikir, sebenarnya sifat mereka padaku saat ini tidak menjadi masalah besar buatku. Jika melihat kembali hidupku, sepertinya aku memang bukan ibu yang benar-benar layak.Saat aku tenggelam dalam kenangan, putri sulung kami tiba-tiba terbangun. Begitu melihat apa yang dilakukan ayahnya, dia ketakutan dan menjerit. Hanya saja, lakban menutupi mulutnya.Saat itu, Sultan sudah menuangkan seluruh minyak yang ada di tangannya. Dia duduk di samping putri sulung kami dan membuka lakbannya. "Ada yang ingin kamu katakan?"Putri sulung menatap ayahnya yang terasa asing, lalu terus berteriak, "Mama Yuvi, tolong aku! Cepat selamatkan aku!"Sultan tidak menyangka bahwa sampai saat ini putrinya masih tidak tahu di mana letak kesalahannya. Dia melangkah maju dan menendang anak itu dengan kejam."Be
Sejak masih di rumah sakit, Sultan sudah menanyakan penyebab kematianku kepada dokter. Dokter dengan tegas mengatakan bahwa kematianku disebabkan oleh cairan kotor yang kemudian menyebabkan luka terinfeksi hingga meninggal. Artinya, Yuvika-lah pelaku sebenarnya yang membunuhku.Namun, dia sama sekali tidak merasa bersalah. Karena itu, Sultan menambahkan beberapa obat tidur ke dalam kue kecil yang dipanggangnya, lalu menyuapkannya kepada Yuvika dengan senyuman lebar.Setelah memakan kue itu, Yuvika merasa pusing. Dia berbaring di ranjang dan langsung tertidur lelap, sementara anak-anak pun ikut tergeletak di tempat mereka masing-masing.Aku berdiri di samping mereka, menatap semuanya dengan agak bingung. Apa sebenarnya yang ingin dilakukan Sultan? Kenapa bahkan anak-anak pun dia beri obat?Aku berdiri di sampingnya dan berkata dengan tak berdaya, "Sultan, berhentilah."Sebenarnya aku sama sekali tidak memahaminya. Jelas-jelas dia yang lebih dulu bersama Yuvika dan mengkhianatiku. Lalu s
Sultan tidak menyangka putri-putrinya bisa begitu tidak berperasaan. Dengan marah, dia menepuk tubuh putri sulung. "Coba kamu ngomong sembarangan lagi! Mamamu sudah pergi, tapi kamu masih bisa bicara seperti itu tentangnya!"Namun, mereka masih tertawa di samping, sama sekali tidak menunjukkan kesedihan.Putri sulung mengangkat bahu dengan acuh tak acuh. "Terus kenapa? Lagian, mama yang ini juga nggak penting! Kami punya mama yang lebih baik!"Sultan tahu siapa yang mereka maksud. Padahal ibu mereka justru dibunuh oleh Yuvika. Bahkan dia sendiri tahu betapa besar pengorbanan Keisya untuk mereka. Lalu, bagaimana dengan mereka? Kenapa putri-putrinya bisa menjadi sedingin ini?Sultan menatap anak-anaknya. Tubuhnya gemetar karena marah. Dia terus-menerus menyalahkan dirinya sendiri, bahkan menampar pipinya sendiri dua kali dengan keras.Putri bungsu melihat keadaannya dan ketakutan sampai menangis dengan kencang. Seluruh ruang rawat menjadi kacau. Aku sampai merasa telingaku sakit karena k
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.