MasukKeesokan harinya, Aska mengajakku keluar. Ia membelikanku banyak pakaian dan perlengkapan wanita. Kami menghabiskan waktu di tempat-tempat yang kusukai, mulai dari mengunjungi toko buku hingga menikmati es krim di pinggir jalan.
"Kamu sudah puas berjalan-jalan hari ini?" tanya Aska dengan suara lembut saat kami sudah berada di dalam mobil. Aku mengangguk antusias sembari terus menikmati es krim di tanganku. Ia terkekeh pelan. "Dasar gadis kecil. Makan es krim saja sampai berantakan seperti ini." Aku tertegun saat ia mengulurkan tangan. Ibu jarinya menyapu sisa es krim di sudut bibirku dengan gerakan perlahan. Mataku mengerjap beberapa kali. Sentuhan lembut itu seolah mengalirkan aliran listrik yang mengejutkan ke seluruh tubuhku. "Mari kita pulang. Kamu pasti sangat lelah," lanjutnya sebelum aku sempat memberikan respons. Sesampainya di apartemen, aku meletakkan semua tas belanja di atas meja. Tanpa membuang waktu, aku langsung menjatuhkan diri di atas sofa panjang ruang tamu. "Tidak ingin mandi terlebih dahulu?" tanya Aska yang baru saja menyusul masuk. Aku hanya bisa menyengir lebar. "Aku sangat lelah," ujarku sembari meluruskan kaki. Aska menghampiriku. Ia duduk di ujung sofa yang sama, lalu dengan lembut mengangkat kedua kakiku dan menempatkannya di atas pangkuannya. Ia mulai memijat betis dan telapak kakiku dengan gerakan yang teratur. Aku tersentak dan segera menarik kakiku kembali. "Tidak perlu, Aska. Kamu sendiri pasti lelah, kan?" "Aku suka caramu memanggil namaku. Terdengar manis di telingaku." Ia tersenyum menawan. "Aku rutin berolahraga, jadi aku tidak mudah lelah seperti gadis kecil di depanku ini." Melihat postur tubuhnya yang atletis dan tegap, aku tidak meragukan ucapannya. Namun, sebutan 'gadis kecil' itu membuatku refleks mengerucutkan bibir, berusaha mengabaikan rasa panas yang menjalar di pipiku mendengar kata-kata "manis" yang baru saja ia ucapkan. "Bagaimana bisa kamu menyebutku gadis kecil? Tinggiku mencapai 170 sentimeter. Tidak ada bedanya dengan wanita yang berusia di atas dua puluh lima tahun," sanggahku tidak terima. Aska tertawa kecil. Ia mengacak rambutku dengan gemas. "Kamu memang tinggi, tapi wajah polosmu itu tidak bisa menipu siapa pun. Kamu tetaplah seorang gadis kecil bagiku." Menyebalkan sekali. Aku menggembungkan pipi sembari meniup poni ke atas. Aska justru semakin terbahak mendengar gerutuanku. Namun, beberapa saat kemudian, sebuah pikiran melintas di benakku. "Aska, apa kamu tidak pergi bekerja?" "Semua urusan kantor sudah ada yang menangani," jawabnya santai. "Apakah tidak masalah jika kamu tidak masuk hari ini? Bagaimana jika kamu dipecat?" Aku benar-benar khawatir. Jika hal itu terjadi, aku akan merasa sangat bersalah. Aska menatapku dengan tatapan jenaka. "Mana ada yang berani memecat pemilik perusahaan? Yang ada, justru aku yang akan memecat mereka." Aku tertegun sejenak. Pantas saja ia bisa dengan mudah memberikan uang sebesar seratus juta rupiah kepada Arif. Seketika, aku menunduk dan merasa gelisah. "Ada apa? Mengapa wajahmu berubah muram?" Aska menyadari kegelisahanku. Aku menatapnya dengan keraguan yang nyata, jemariku bertautan gelisah di pangkuan. "Mengenai uang seratus juta itu ... apa aku boleh mencicilnya? Atau selama aku tinggal di sini, biarkan aku membersihkan apartemen dan memasak untukmu sebagai gantinya," tawarku lirih. Aku menjeda sejenak, mencari setitik kepastian di matanya. "Kamu pasti bercanda, kan? Tentang mengeluarkan uang sebanyak itu hanya untuk membebaskanku dan menjadikanku milikmu?" "Tidak perlu," jawab Aska. Ia menyandarkan punggung ke sofa, tampak sangat tenang. "Setiap hari akan ada asisten rumah tangga paruh waktu yang datang untuk mengurus tempat ini dan menyiapkan makanan." Aska menyunggingkan senyum tipis, jenis senyum yang sulit diartikan. "Soal memilikimu? Ya, aku cuma bercanda. Aku tidak punya kebiasaan memaksa wanita untuk tetap tinggal jika hatinya ingin pergi." Aku tertegun, merasa sedikit bodoh sekaligus lega secara bersamaan. "Lalu, jika bukan dengan itu, dengan apa aku harus membayar utangku?" Aska menatapku lurus, tatapannya melembut namun tetap intens. "Cukup jadilah teman bicara untukku. Itu lebih dari cukup." "Hanya itu?" Aku memastikan dengan nada tidak percaya. "Hanya menjadi teman bicara untuk uang seratus juta? Aska, itu tidak masuk akal. Di luar sana, orang bisa menyewa pembicara profesional dengan harga jauh lebih murah." Ia mengedikkan bahu dengan santai. "Mungkin. Tapi aku tidak sedang mencari pembicara profesional. Aku mencari ... seseorang yang nyata." Ia lalu mencondongkan tubuh ke arahku. "Jika kamu merasa bosan karena tidak ada pekerjaan, kamu boleh memasak atau melakukan apa pun yang kamu inginkan di sini. Anggap saja ini rumahmu sendiri." Aku terdiam, mataku menyapu seisi apartemen mewah ini. Hanya ada satu pintu kamar di sana. Kamar utama yang luas dengan dinding kaca menghadap lampu kota. "Lalu, apa kamu akan tidur di sofa setiap malam?" "Tidak masalah. Aku terbiasa tidur di mana saja saat bekerja lembur." "Tapi itu tidak adil," protesku, merasa bersalah. "Ini rumahmu, Aska. Seharusnya aku yang tidur di sofa." "Dengar," ucapnya lembut namun tak terbantahkan. "Selama aku masih bernapas, aku tidak akan membiarkan seorang perempuan tidur di sofa sementara aku mendengkur nyaman di atas kasur. Itu bukan cara laki-laki memperlakukan tamu, apalagi seseorang sepertimu." Aska terdiam sejenak sambil menatapku, sudut bibirnya terangkat, membentuk senyum tipis yang tampak sedikit lebih santai. "Tubuhmu lebih kecil, kamu butuh istirahat yang berkualitas. Sedangkan aku? Aku bisa tidur di lantai hutan kalau perlu. Jadi, tutup perdebatan ini. Aku tetap di sofa." "Tapi tetap saja aku merasa sangat berutang padamu. Rasanya tidak benar menerima semua ini secara cuma-cuma." Aska terkekeh pelan. "Kamu keras kepala juga, ya? Baiklah. Kalau kamu merasa tidak enak hati, bayar aku dengan hal-hal kecil saja." "Seperti apa?" "Seperti...." Ia menggantung kalimatnya sejenak, matanya menelusuri wajahku dengan intensitas yang membuat pipiku memanas. "Pastikan setiap aku pulang, lampu ruang tamu sudah menyala dan ada seseorang yang menyambutku di pintu. Itu sudah cukup untuk memotong bunga utangmu hari itu." Aku tertegun. Permintaan itu terdengar jauh lebih intim daripada sekadar membersihkan lantai. Itu adalah ritual seorang istri, bukan seorang penghutang. "Bagaimana? Deal?" Aska mengulurkan tangannya, menunggu jawabanku. Aku ragu sejenak, sebelum akhirnya menyambut tangannya. Kulitnya terasa hangat dan kokoh. "Deal." Aska tersenyum, kali ini bukan senyum tipis yang misterius, tapi senyum tulus yang membuat dadaku berdesir aneh. Ia menarik tanganku sedikit lebih dekat ke arahnya sebelum melepaskannya. .....................***.................Aku memutuskan untuk mengikuti saran Aska. Setiap kali rasa bosan melanda dan tidak ada aktivitas yang berarti, aku meminta Arum untuk tidak datang ke apartemen. Sebagai gantinya, aku akan terbangun saat fajar menyingsing, lalu mulai membersihkan seluruh ruangan dan menyiapkan hidangan.Seperti pagi ini, aroma masakan memenuhi dapur. Selesai memasak, aku segera menata hidangan di meja makan. Namun, karena Aska belum juga keluar dari kamarnya, aku terpaksa melangkah ke sana untuk mengajaknya sarapan."Aska, makanan sudah siap," ucapku lembut."Iya, sebentar lagi," jawabnya singkat.Ia menoleh sekilas ke arahku sebelum kembali menghadap cermin, tampak sibuk bergelut dengan simpul dasinya."Sepertinya dasi ini sedang tidak bersahabat denganku pagi ini," gerutunya pelan.Aku melangkah mendekat, merasa terpanggil untuk membantu. "Biarkan aku yang melakukannya. Kamu bisa terlambat jika terus bertengkar dengan selembar kain itu," godaku sambil meraih ujung dasinya.Untuk pertama kalinya
Keesokan harinya, Aska mengajakku keluar. Ia membelikanku banyak pakaian dan perlengkapan wanita. Kami menghabiskan waktu di tempat-tempat yang kusukai, mulai dari mengunjungi toko buku hingga menikmati es krim di pinggir jalan."Kamu sudah puas berjalan-jalan hari ini?" tanya Aska dengan suara lembut saat kami sudah berada di dalam mobil.Aku mengangguk antusias sembari terus menikmati es krim di tanganku.Ia terkekeh pelan. "Dasar gadis kecil. Makan es krim saja sampai berantakan seperti ini."Aku tertegun saat ia mengulurkan tangan. Ibu jarinya menyapu sisa es krim di sudut bibirku dengan gerakan perlahan. Mataku mengerjap beberapa kali. Sentuhan lembut itu seolah mengalirkan aliran listrik yang mengejutkan ke seluruh tubuhku."Mari kita pulang. Kamu pasti sangat lelah," lanjutnya sebelum aku sempat memberikan respons.Sesampainya di apartemen, aku meletakkan semua tas belanja di atas meja. Tanpa membuang waktu, aku langsung menjatuhkan diri di atas sofa panjang ruang tamu."Tidak
Aku pernah menginjakkan kaki di apartemen milik Mira, namun unit itu tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan tempat ini. Inilah yang agaknya disebut sebagai hunian kelas atas. Ruangannya begitu lapang, dihiasi perabotan mewah yang memanjakan mata. Sayangnya, hanya ada satu kamar tidur utama di sini.Sejak melangkah masuk, aku lebih banyak diam. Pria itu menyuruhku mandi dan aku menurut tanpa banyak tanya."Mandi dulu, bersihkan dirimu dari sisa kekacauan malam ini," katanya pelan saat kami baru sampai di depan pintu.Setelah selesai, ia memintaku masuk ke kamarnya untuk berganti pakaian."Di kamarku, pakai saja apa yang ada," tambahnya.Di atas tempat tidur, ia telah menyiapkan satu set pakaian bersih untukku.Aku mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru kamar, memastikan tidak ada orang lain di sana."Apakah dia akan masuk tiba-tiba?" gumamku cemas.Dengan gerakan cepat, aku mengenakan pakaian tersebut, lalu merebahkan diri di atas kasur yang empuk.Pikiranku seketika melaya
Aku terdiam, terpaku di tempatku berdiri. Sementara itu, mata Arif berbinar penuh ketamakan."Seratus juta? Kamu serius? Tentu saja, ini nomor rekeningku!" seru Arif dengan nada gemetar karena senang.Ia segera menunjukkan nomor rekening melalui ponselnya.Proses itu tidak memakan waktu lama. Setelah memastikan uang masuk ke rekeningnya, arif tersenyum lebar."Kita memang tidak saling mengenal, tetapi terima kasih banyak," ucapnya. "Kamu benar-benar penyelamatku, kawan!" pungkasnya tanpa rasa malu."Arif, kamu sudah menerima uangku lebih dulu! Jangan berkhianat!" Temannya yang tadi merasa tidak terima dan mulai tersulut emosi. "Kamu tidak bisa melakukan ini! Kesepakatan adalah kesepakatan!""Aku kembalikan uangmu. Maaf saja, nominalmu jauh lebih kecil, jadi jangan banyak protes." Arif melemparkan kembali sepuluh juta itu ke atas meja dengan angkuh. "Urusan kita selesai.""Sekarang wanita ini sudah menjadi milikku sepenuhnya. Jangan pernah berani mengganggunya lagi, jangan menemuinya,
Kegilaan Arif semakin memburuk setiap harinya. Ia tampak terjebak dalam kecanduan judi yang mendalam. Bahkan ketika uangnya habis, hasratnya untuk berjudi tetap membara, hingga ia tak lagi peduli dengan ikatan darah."Sial! Aku kalah lagi." Dari balik meja, Arif mengacak rambutnya dengan frustrasi.Ia meneguk minumannya hingga tandas tanpa sisa."Berikan aku satu kartu lagi! Aku tahu keberuntunganku ada di putaran ini!" serunya pada bandar yang hanya menatapnya dingin."Sudahlah, Arif. Kamu sudah kalah telak. Kamu tidak memiliki apa-apa lagi sekarang. Lebih baik kamu pulang," ejek salah satu rekannya dengan nada merendahkan."Lihat kantongmu itu, sudah kosong seperti harga dirimu malam ini," tambah yang lain sambil tertawa terbahak-bahak."Tidak. Aku tidak terima. Jika aku bermain sekali lagi, aku pasti menang. Aku akan mengalahkan kalian semua." Arif menggebrak meja hingga gelas-gelas di atasnya berdenting. "Kalian hanya beruntung karena aku sedang sial!""Kamu hanya bermimpi. Bu
Setibanya di kontrakan kecil kami yang pengap, Arif mengempaskanku ke kursi kayu dengan kasar. Belum sempat aku menyeimbangkan diri, ia sudah menodongku tanpa basa-basi."Mana uangnya?" desisnya. Jemarinya mencengkeram daguku dengan kuat, memaksaku menatap matanya yang merah."Uang apa? Kamu sudah mengambil seluruh gajiku kemarin," jawabku, berusaha melawan rasa sakit."Jangan bohong! Aku tahu pelanggan kaya itu memberimu tip yang besar tadi." Ia tertawa sinis, wajahnya mendekat ke wajahku dengan tatapan tajam. "Aku melihatnya sendiri dari jauh, Karin. Jadi, jangan coba-coba menipuku!"Cengkeramannya menguat hingga kuku-kukunya terasa menusuk kulitku. Aku meringis kesakitan."Sakit, Kak! Lepasin!" jeritku tertahan. "Kamu menyakitiku!"PLAK!Satu tamparan mendarat di pipi kiriku. Telingaku berdenging seketika. Aku tertegun, menahan panas yang menjalar di wajah."Masih mau bungkam?" geramnya. Ia tidak memberiku waktu untuk bernapas.PLAK!Tamparan kedua menyusul jauh lebih keras







