LOGINTawa di wajah Xander perlahan menghilang. Pria itu menoleh. Menatap Jenny lekat-lekat untuk waktu yang cukup lama. Ketakutan dan kepanikan tercetak jelas di wajahnya.
“Kamu mau bercerai?” Xander balik bertanya.
Jenny hanya mengangkat kedua bahunya dengan sangat santai. “Entahlah..” Jenny tersenyum sedikit jahil. “Aku cuma takut nggak bisa jatuh cinta sama kamu.”
Xander tertegun sejenak, sebelum akhirnya tawa renyah lolos begitu saja dari bibirnya.
“Kalau gitu, aku harus usaha lebih keras.”
“Silahkan!” balas Jenny sambil bangkit berdiri. “Aku tunggu usahamu,” ujarnya santai, lalu melangkah pergi.
Xander menatap punggung Jenny yang berjalan menjauh dengan langkah lincah. Entah mengapa, ucapan wanita itu justru membuatnya semakin yakin bahwa dia pasti bisa memenangkan hati istrinya.
Xander segera melangkah lebat untuk menyusul. “Kamu ingat nggak, waktu kecil pernah hilang di taman bermain?” tanyanya sambil mengambil alih semua barang belanjaan Jenny.
Dahi Jenny berkerut, matanya menyipit mencoba mengingat. “Enggak, emang pernah?”
Xander tertawa kecil. “Pernah. Dan aku dihukum Mama setelah itu,” kenang Xander. “Pokoknya, tugasku waktu kecil cuma buat PR dan menjaga kamu.”
“Tapi, kamu terlalu berlebihan jaganya.” protes Jenny.
Xander hanya mendengus kecil. Karena ucapan Jenny memang benar adanya. Dari dulu dia selalu berlebihan menjaga Jenny, dan merasa Jenny benar-benar tanggung jawabnya.
“Kalau kita punya anak perempuan, kamu bakal seposesif itu juga jaganya?” tanya Jenny polos. Kalimat itu meluncur begitu saja dari bibirnya tanpa dia pikir panjang.
Langkah Xander seketika terhenti. Tubuhnya menegang. Ia menatap Jenny cukup lama tanpa memberi jawaban.
“Kenapa?” tanya Jenny bingung. Dia sama sekali tidak menyadari bahwa pertanyaannya barusan sukses membuat jantung Xander berdegup dua kali lebih cepat.
“Emang kamu mau punya anak?”
“Mau lah, suatu saat nanti.”
Jawaban spontan itu membuat Xander ingin bersorak. Baginya, kalimat sederhana itu rasanya seperti embusan angin segar yang menyejukkan. Dia melipat bibir rapat-rapat, bersusah payah menahan senyum yang nyaris jebol.
"Kalau nanti kita punya anak, aku bakal pastikan kamu dan anak kita akan selalu bahagia. Bisa jadi aku semakin posesif sih.."
Jenny menaikkan sudut bibirnya. Ada perasaan hangat di dadanya saat mendengar pernyataan Xander. Walaupun saat ini dia belum bisa yakin dengan perasaannya sendiri. Dia menyadari, selama ini Xander hanya ingin menjaganya, walaupun caranya salah.
.
.
.
Setelah satu minggu berlalu, Jenny kini berdiri di depan pintu ruangan rahasia Xander. Ruangan yang sejak kejadian itu tidak pernah dikunci lagi. Jantungnya berdebar sangat kencang saat telapak tangannya menyentuh kenop pintu.
Dengan sisa keberaniannya, Jenny mendorong pintu itu dengan gerakan lambat dan melangkah masuk. Begitu kakinya menapak di dalam, debar jantungnya perlahan berangsur kembali normal. Dia mengedarkan pandangannya ke setiap sudut ruangan.
“Aku sudah ganti semuanya..” Suara berat Xander menggema dari arah ambang pintu. Pria itu dengan sengaja mengikuti Jenny sejak tadi.
Jenny tidak menoleh. Dia terus mengitari ruangan tersebut. Di dinding yang dulunya misterius, kini terpajang foto pernikahan mereka serta beberapa foto terbaru Jenny saat sedang fashion show. Kali ini, sudah tidak ada lagi foto hasil menguntit.
Xander melangkah mendekat. “Kalau kamu ngga suka ada foto-foto itu, aku bisa lepas sekarang," tegas Xander. Dia benar-benar ingin berubah dan terus belajar mencintai Jenny dengan cara yang benar.
“Suka kog.” Jenny menunjuk beberapa bagian dinding dan meja yang kosong. “Mulai sekarang, di bagian yang kosong ini cuma boleh diisi foto-fotonya aku yang keren.”
Xander terkekeh geli. “Narsis,” ejek Xander.
“Bukan narsis, tapi emang hasil fotoku selalu keren,” timpal Jenny tidak mau kalah.
Xander hanya menggangguk pasrah. Ia berusaha memberikan validasi yang dibutuhkan Jenny, sekaligus berusaha mencairkan ketegangan di antara mereka.
“Hari ini mulai foto lagi?”
“Iya, udah kelamaan libur. Nanti aku dipecat dari agensi,” sahut Jenny sambil tersenyum. Dia lalu melirik Xander yang sudah rapi dengan setelan jas formalnya. “Udah mau berangkat?”
“Iya.” Xander melihat jam dari arloji mewah di pergelangan tangannya. “Aku pulang agak malam hari ini. Nanti kalau kamu mau party, kabari ya. Biar aku jemput.”
Jenny mencebikkan bibirnya kesal. “Ck, aku nggak party dulu. Hari ini agendaku penuh, pasti capek," sahut Jenny sambil melangkah maju mendekati tubuh Xander.
Tanpa sadar, tangan Jenny bergerak merapikan simpul dasi Xander yang sedikit miring. Dan..gerakan sederhana itu sukses membuat jantung Xander berdegup kencang. Ini pertama kalinya,Jenny menaruh perhatian pada penampilannya. Sebuah perhatian kecil yang selalu di nantikan Xander.
Siang itu, mereka kembali disibukkan oleh rutinitas masing-masing. Namun, kali ini ada yang berbeda. Di sela kesibukan, keduanya mulai rutin bertukar pesan receh. Mereka sama-sama berusaha menjadi pasangan sesuhngguhnya. Dan perubahan kecil itu berhasil membuat hubungan mereka terasa menghangat secara perlahan.
“Vero..” panggil Jenny pada asistennya yang sedang fokus memeriksa jadwal di tablet. “Aku mau tanya sesuatu,deh.”
“Tanya apa, Ci?”
Jenny menarik lengan Vero, membawanya menjauh dari keramaian orang-orang agensi, menuju ruang ganti yang lebih privat. “Kamu pernah jatuh cinta nggak?” tanya Jenny dengan ekspresi sangat serius.
Vero tersenyum malu-malu, matanya langsung berbinar. “Pernahlah, Ci!” jawabnya antusias.
“Rasanya gimana? Tandanya apa?” Jenny mencodongkan tubuh ke arah Vero, dengan wajah sangat penasaran. Selama ini, ia hanya sekedar berpacaran, tapi tidak pernah benar-benar merasakan jatuh cinta. Ia hanya menganggap pria-pria itu hanyalah sebagai pengisi kekosongan hatinya.
“Em..kalau jatuh cinta itu rasanya aneh, Ci,” ujar Vero sambil mengajak Jenny duduk di sofa. “Awalnya, kita mulai mikirin dia, pas dia lagi nggak ada di dekat kita.
“Terus kita jadi merasa lebih bahagia saat deket dia,” sambung Vero, menjelaskan seperti pakar cinta. “Terus kadang kita gampang kesal kalau mereka jauh, Ci.. semacam kita mulai ketergantungan dengan kehadirannya gitu-“
Tok! tok!
Ketukan pintu memotong penjelasan Vero. Kedua wanita itu segera menoleh secara bersamaan. Sementara di ambang pintu, Sandra sudah berdiri dengan wajah yang tampak sangat gugup.
Jenny menghela napas. Ingatannya kembali pada insiden buruk di club malam seminggu yang lalu. Sebuah kejadian yang membuatnya menemukan berbagai kenyataan mengerikan.
“Jen, aku..aku mau minta maaf soal malam itu,” ucap Sandra, melangkah ragu mendekati Jenny. "Maafin aku, Jen.."
Jenny ridak memberikan jawaban, matanya mulai memanas melihat sahabatnya itu. Ia menatap Sandra dengan sorot mata kecewa. Bagaimana bisa sahabatnya melakukan hal itu kepadanya?
“Aku nggak sengaja, Jen.”
“Nggak sengaja?” Suara Jenny mulai bergetar menahan emosi. “Aku minta tolong kamu loh waktu itu..Tapi, kamu malah mengabaikanku begitu aja!”
Sandra hanya menunduk. “Aku cuma takut Leo benci sama aku.” Ia berusaha menghindari tatapan mata Jenny.
“Maksudmu apa?” dahi Jenny berkerut, nadanya mulai meninggi. "Apa yang kamu takutkan?!"
Sandra terdiam untuk beberapa saat ,sebelum akhirnya ia mengangkat kepalanya perlahan. Wanita yang berusia dua puluh enam tahun itu menatap Jenny. Dengan suara lirih ia berusaha memberi pengakuan yang selama ini ia sembunyikan.
“Karena aku suka Leo. Tapi Leo... sukanya sama kamu.”
Suara klakson yang bersahut-sahutan di jalanan kota yang padat. Di kursi belakang mobil, Xander mendekap erat tubuh lemas Jenny yang masih belum sadarkan diri. Telapak tangan istrinya yang sangat dingin dan sisa keringat dingin di kening Jenny membuat dada Xander terasa sesak karena kepanikan yang teramat luar biasa.“Cepat sedikit!” bentak Xander pada sopir pribadinya, suaranya meninggi dengan napas yang memburu berantakan.Begitu mobil berhenti tepat di depan lobi IGD rumah sakit, Xander tidak menunggu pintu dibukakan. Ia langsung menendang pintu mobil, menggendong tubuh Jenny dengan kedua lengannya, dan berlari menerobos pintu kaca rumah sakit sembari berteriak memanggil dokter.Tubuh Jenny segera dipindahkan ke atas brankar, dan pintu ruang pemeriksaan bergeser menutup, menyisakan Xander yang terpaksa menunggu di luar dan berjalan mondar mandir dengan pikiran kacau.Pintu ruangan akhirnya bergeser terbuka. Tanpa membuang waktu, Xander langsung menerobos masuk dengan langkah lebar.
Keesokan paginya, suasana kamar terasa jauh lebih tenang. Xander terbangun lebih dulu. Ia menatap wajah damai Jenny yang masih terlelap di sampingnya sebelum perlahan beranjak dari ranjang. Sembari meraih ponselnya dengan gerakan sepelan mungkin, ia melangkah menuju balkon luar untuk menghubungi asisten pribadinya.Tidak butuh waktu lama bagi Ryan untuk menjawab di seberang sana. [“Selamat pagi, Pak.”]“Ryan, atur penerbangan sore ini ke Maldives,” perintah Xander langsung.Begitu telepon ditutup, Xander mengembuskan napas panjang. Rasa bersalah karena telah merusak liburan berharga mereka di Venesia masih tersisa di dadanya, dan ia bertekad ingin menebus kesalahan itu sekarang juga.Saat Xander melangkah kembali ke dalam kamar, ternyata Jenny sudah terjaga. Sambil mengerjapkan matanya yang masih mengantuk, wanita itu langsung merentangkan kedua tangannya lebar-lebar ke udara, meminta pelukan dari sang suami.“Selamat pagi, Istriku yang cantik,” bisik Xander lembut. Ia langsung menyam
Xander hanya terdiam di balik kemudi. Ia menatap lurus ke depan dengan pandangan kosong, mencengkeram setir erat-ratu tanpa mengeluarkan sepatah kata pun.“Xander…” Jenny berusaha memecah keheningan yang mencekam di dalam mobil.“Tolong jangan bicara apa pun. Biarkan aku sendiri,” pinta Xander lirih, tetap menolak untuk menoleh.Melihat kerapuhan suaminya, Jenny akhirnya memilih mengalah. Ia kembali diam, menahan seluruh rasa cemasnya demi memberikan ruang yang sangat dibutuhkan Xander saat itu.Waktu berjalan sangat lambat. Tiga hari sudah berlalu sejak kepulangan mendadak mereka, namun Xander memilih mengurung diri. Ia terus bungkam di dalam rumah, mengabaikan keberadaan Jenny seolah-olah wanita itu tak terlihat.Sambil menghela napas panjang, Jenny berdiri di ambang pintu ruang kerja. Matanya menatap nanar ke arah Xander yang sedang meneguk whisky sendirian, tenggelam dalam dunianya yang carut-marut.Jenny memberanikan diri untuk melangkah mendekat. Ia berlutut di samping kursi sua
Begitu pintu mobil tertutup rapat, Xander langsung memberikan perintah kepada sopir pribadinya tanpa basa-basi. “Ke rumah Mama saya.” Suaranya terdengar begitu datar, berat, dan dingin.Jenny menghela napas pendek mendengar keputusan sepihak itu, namun ia tetap memilih untuk tidak bersuara. Wajahnya tampak sangat pucat dan lelah.Dengan gerakan lemas, ia menyandarkan kepalanya ke bantalan kursi mobil.Entah mengapa, secara tiba-tiba kepalanya terasa begitu berat, disertai dengan rasa mual luar biasa.Jenny meremas dress nya, berusaha sekuat tenaga menahan rasa sakit dan gejolak di perutnya itu, lalu memilih memejamkan matanya rapat-rapat sepanjang perjalanan.Setibanya di kediaman mewah keluarga besar mereka, Xander langsung melangkah masuk ke dalam rumah dengan langkah kaki yang kasar.Gebrakan pintu dan raut wajahnya seketika membuat para pelayan di rumah itu tersentak kaget dengan kepulangan mendadak mereka yang tanpa kabar.Dari arah ruang tengah, Rosa berjalan mendekat. “Lho, kal
“Apa maksudmu?!” teriak Xander, urat-urat di lehernya menegang parah. Cengkeramannya di baju Leo semakin mengencang, menuntut jawaban atas tuduhan gila yang baru saja ia dengar.Leo justru mendengus santai. Memanfaatkan kelengahan Xander yang tengah syok, ia menghentakkan kedua tangannya, mendorong kuat tubuh Xander hingga pria itu mundur beberapa langkah.Leo bangkit berdiri, sembari menyeka sisa darah di dagunya.“Tanya saja pada Rosa!”Leo merogoh saku jaketnya, lalu melemparkan selembar foto tua ke atas lantai di hadapan Xander. Foto itu menampilkan wajah Rosa saat masih muda, tersenyum lebar di samping seorang pria berwajah bule yang asing. Di balik kertas foto tersebut, tertera sebuah alamat yang ditulis dengan tinta hitam.Tanpa sepatah kata lagi, Leo berbalik dan melangkah keluar dari kamar hotel, meninggalkan pintu yang terbuka lebar dan keheningan yang mencekam.Xander mematung. Matanya terpaku pada foto di atas lantai, memproses kenyataan pahit yang tiba-tiba menghantam hid
Melihat celah sempit, Jenny memberanikan dirinya dan berusaha berlari kencang untuk meraih ponsel di atas ranjang. Namun, gerakan Leo lagi-lagi jauh lebih cepat. Pria itu menyergap maju, menangkap pergelangan tangan Jenny, lalu menahannya dengan cengkeraman kencang hingga membuat Jenny memekik kesakitan.Mata Jenny mulai berkaca-kaca, genangan air mata ketakutan mulai mengaburkan pandangannya. Ia panik setengah mati.“Kenapa kamu terus mengangguku?! Sampai kamu jauh-jauh ke sini…dari mana sebenarnya kamu tahu keberadaanku?!” teriak Jenny histeris sembari meronta, berusaha sekuat tenaga melepaskan cengkeraman tangan Leo.Leo justru tertawa puas, sebuah suara tawa yang terdengat mengerikan di dalam kamar yang sunyi itu. Ia mengangkat dagu Jenny dengan kasar menggunakan tangan satunya.“Mengganggumu?” Leo menggelengkan kepalanya pelan, masih dengan wajah menyeringai sinis. “Aku tidak berniat mengganggumu, Jenny.”Jenny seketika menghentikan sikap berontaknya. Detak jantungnya seolah berh







