Masuk“Siapa yang suruh langsung kerja?!” Jenny mengambil laptop dari pangkuan Xander dengan mata melotot.
Syukurlah, setelah tiga hari dirawat, akhirnya Xander diperbolehkan pulang dari rumah sakit. Dokter menyarankan banyak beristirahat dan membatasi aktivitas fisik berat sementara waktu agar tubuhnya tidak kekurangan oksigen.
“Aku cuma keracunan asap loh, Jen. Bukan lagi sakit sekarat,” bantah Xander sambil berusaha menarik laptopnya kembali.
“Tetap aja, bekerja itu aktivitas berat. Tangan aja masih diperban kok udah aneh-aneh.”
“Aku cuma membuka email, Jenny.”
“Xander!”
“Oke, tanganku diam di tempat.” Xander akhirnya pasrah mengangkat kedua tangannya.
Sementara itu, Ryan yang sejak tadi berdiri mendengarkan omelan Jenny hanya bisa menggeleng kecil. Pria itu menahan tawa. Ternyata, seorang Xander William bisa kalah telak oleh wanita.
“Ryan, buka email-nya,” perintah Xander santai, memanfaatkan asistennya.
Jenny langsung menoleh ke arah Ryan. Tatapannya penuh intimidasi. “Kamu ngapain ke sini? Siapa yang suruh kamu ngasih pekerjaan ke Xander?”
“Bukan... bukan saya yang kasih pekerjaan, Ci. Pak Xander yang suruh saya datang buat bekerja.”
"Terus kamu nurut aja? Kalau disuruh terjun ke jurang juga nurut, hah?”
Xander melipat bibirnya rapat-rapat, menahan tawa melihat asistennya disemprot habis-habisan oleh istrinya.
“Ya... saya kan masih butuh gaji bulanan buat nyambung hidup, Ci,” bela Ryan dengan suara mencicit. “Lagian, sebenernya dalam hati saya juga setuju kok kalau Pak Xander harusnya istirahat.”
“Nah, tuh tahu! Terus ngapain masih ke sini bawa laptop? Sini, aku sita!”
Ryan mengangguk pasrah dan menyerahkan laptopnya ke tangan Jenny. Matanya melirik takut-takut ke arah Xander yang kini gantian melotot ke arahnya karena dianggap berkhianat.
“Saya serba salah... kalau gitu saya pamit—”
“Duduk,” potong Jenny tegas sambil melangkah menuju pantry, meninggalkan kedua pria itu yang seketika mati kutu.
Tak lama, Jenny kembali dan menyodorkan mangkok ke Xander dan Ryan bergantian. Kedua pria itu mendadak kaku, bagaikan terdakwa yang sedang menerima vonis di meja hijau.
Ryan menatap nanar isi mangkoknya, lalu melirik Xander dengan kode mata 'Ini beneran harus dimakan, Pak?'
“Makan aja, daripada kita berdua diamuk,” bisik Xander pasrah, lalu menelan minumannya dengan dahi berkerut.
Ryan kembali menunduk dan menyendok minuman sarang burung itu. Beberapa kali dia berhenti mengunyah; rasanya benar-benar aneh di lidahnya, hambar, tidak ada tambahan gula sedikitpun.
“Itu bagus buat paru-paru, biar bersih dari asap,” cetus Jenny dari arah dapur.
Xander hampir saja tersedak karena menahan tawa mendengar penjelasan istrinya. “Kamu enggak ada jadwal foto hari ini?” tanya Xander, berharap Jenny segera pergi dan membebaskan mereka.
“Ada.”
Hampir saja Xander dan Ryan bersorak dalam hati. Namun, semesta tampaknya sedang tidak berpihak pada mereka.
“Tapi udah aku batalin.” Jenny bersedekap, menatap mereka penuh kemenangan.
Xander menghela napas pasrah, lalu memasang wajah paling memelas yang jarang dia perlihatkan. "Dua jam aja, Jen. Setelah itu aku janji tidur seharian. Tolong ya? Kasihan Ryan udah telanjur ke sini."
Jenny menimbang-nimbang, menatap Xander dan Ryan bergantian dengan mata menyipit sebelum akhirnya mendengus. "Oke! Dengan syarat, habiskan dulu sarang burungnya sekarang juga."
Setelah drama perdebatan yang cukup panjang itu, akhirnya Xander bisa mendapatkan laptopnya kembali. Bos dan asisten itu hanya diberi waktu bekerja selama dua jam. Beberapa kali Jenny bahkan sengaja berjalan di belakang mereka untuk mengintip apa saja yang sedang mereka kerjakan.
“Pak, ternyata punya istri model juga enggak enak, ya...” bisik Ryan amat pelan saat Jenny sedang lengah.
“Buat saya enak.”
“Seram, Pak. Kayak ibu saya kalau lagi ngomel.”
“Saya laporin Jenny loh.”
Ryan langsung terdiam dan menghentikan bisik-bisik itu. Namun dalam hati dia bersyukur. Baru pertama kalinya sepanjang sejarah dia bekerja, dia bisa berbisik receh seperti ini dengan bosnya yang biasanya kaku.
Menjelang malam, Ryan berpamitan pulang. Rasanya pria itu bisa bernapas lega seketika begitu melangkah keluar dari rumah setelah berjam-jam berada di bawah intimidasi Jenny.
Di dalam kamar, Xander menatap lekat Jenny yang sedang menyiapkan perban dengan gerakan kaku. “Kamu enggak pernah ngobatin orang, ya?”
Jenny menggeleng jujur. Seumur hidup, dia selalu diurus oleh orang lain. Dia benar-benar hidup layaknya seorang putri. Tapi kali ini, dia sadar harus mulai belajar mengurus orang lain selain dirinya sendiri.
“Aku enggak pernah ngobatin siapa-siapa.” Jenny mulai meraih tangan Xander, membersihkan sisa lukanya, lalu mengoleskan obat dengan hati-hati.
Xander terdiam. Dia memperhatikan wajah Jenny dari jarak yang sangat dekat dan menikmati setiap detiknya. Membiarkan Jenny meniup lukanya dan mengganti perbannya dengan hasil akhir yang agak berantakan. Pria perfeksionis itu tidak peduli lagi dengan estetika perban sekarang; yang ada di pikirannya hanyalah cara manis Jenny merawatnya. Sesuatu yang tidak pernah dia bayangkan sebelumnya.
“Jen...”
“Hm?”
“Maaf ya.”
“Buat apa?”
“Aku udah buat kamu takut.”
Jenny tersenyum tipis lalu mendongak. Wajah mereka begitu dekat hingga deru napas hangat satu sama lain bisa terasa. Jantung Jenny rasanya berdetak sangat kencang, lidahnya kelu selama beberapa saat sebelum akhirnya dia berhasil mengendalikan diri.
“Makanya jangan sok jadi pahlawan lagi.” Jenny kembali menunduk, merapikan sisa plester dengan gerakan yang jauh lebih lembut. Jemarinya masih betah menggenggam tangan Xander. “Kalau kamu kenapa-kenapa... aku enggak tahu harus gimana. Aku sama Mama masih butuh kamu.”
Suasana kamar mendadak hening. Xander terdiam sejenak, tatapannya menerawang jauh. Pikirannya berputar kembali ke malam mencekam saat kebakaran itu terjadi.
“Waktu aku lihat anak-anak itu terjebak...” Suara Xander memberat. “...aku kayak lagi ngaca, Jen. Kayak lihat diriku sendiri waktu kecil.”
Jenny mengerutkan dahinya, berusaha mencerna ucapan suaminya.
Xander tersenyum tipis—sebuah senyuman yang menyiratkan rasa pilu yang mendalam. “Mereka ketakutan, sama seperti aku dulu yang ketakutan.”
Jenny tidak menjawab dengan kata-kata. Dia hanya menggenggam tangan Xander dengan lebih erat, menyalurkan kekuatan yang dia punya.
“Lain kali, kalau mau nolong orang... ajak aku. Jangan sendirian lagi.”
Xander pun langsung sigap duduk di samping Jenny dengan wajah cemas. “Aku minta maaf, aku sudah salah kali ini…”Jenny hanya merespon dengan lirikan mata yang begitu tajam.“Aku salah tidak berdiskusi sama kamu, tapi aku benaran enggak bisa diam saja melihat kamu terus disakiti Sandra, sayang.” Xander masih tetap berusaha mempertahankan argumennya. “Oke gini aja, sekarang kamu maunya aku bagaimana?”Jenny menggigit bibir bawahnya. Dia masih tetap mempertahankan emosinya, menolak untuk luluh begitu saja dengan alasan suaminya.Lalu, wanita itu manrik nafas dalam. “Kamu boleh memecat dia, tapi jangan menutup semua aksesnya di dunia hiburan. Biarkan kontrak yang masih berjalan tetap diselesaikan, dan biarkan dia bernaung di bawah agensi lain.”Sebelah alis Xander langsung terangkat, saat mendengar permintaan istrinya. Entah apa yang ada di otak istrinya saat itu, mengapa masih berbaik hati kepada orang yang jelas-jelas selalu menyakitinya.“Kenapa diam saja? Setuju kan sama permintaanku?
Xander menatap lekat ekspresi istrinya. Sudut bibirnya terangkat sinis, tanpa ada rasa takut ataupun rasa bersalah sediktipun. “Aku tidak perlu izin dari siapapun untuk memecat dia.”Jenny langsung melempar tatapan sengit pada pria yang wajahnya tanpa dosa itu. “Kamu enggak anggap aku sebagai istrimu?! Keputusan sebesar ini kamu lakukan tanpa sepengetahuanku.”Xander bergerak pelan, duduk di tepi brankar di samping istrinya. Dia memang sadar kali ini dia ada salahnya, tapi tidak serratus persen. “Aku tahu karaktermu, Jen. Kalau aku bicara sama kamu terlebih dulu, pasti kamu akan menentang pemecatan Sandra.”Jenny menahan napasnya sebentar sambil mengatupkan mata. Tangannya mengepal menahan kesal. Dia sadar bahwa pernyataan suaminya memang benar, dia pasti akan menentang keputusan itu. Hanya saja, keputusan Xander kali ini membuatnya sangat marah.“Kamu tahu kan Sandra itu siapa?!” suara Jenny tiba-tiba meninggi, hinga membuat Xander sedikit tersentak. “Dia sahabatku! Seseorang yang be
“Akkhh!”Jenny memejamkan matanya. Tangannya seketika memegang perutnya dengan panik. Namun sebelum tubuhnya menghantam anak tangga, tubuhnya justru tertahan oleh sepasang tangan.Beberapa detik itu terasa begitu mencekam. Jenny perlahan membuka matanya. Wajah yang berada tepat di hadapannya langsung membuat napasnya tercekat. “Leo,” gumamnya lirih.Tapi belum sempat Jenny mencerna kejadian yang barusan menimpanya, matanya berasa berkunang-kunang. Jenny kehilangan seluruh kekuatannya.“Jenny!” Leo berusaha menepuk pelan wajah Jenny, demi mengembalikan kesadarannya. Namun justru wajah Jenny semakin terlihat pucat. Dahinya mulai di penuhi keringat dingin.Meta dan Vero yang baru saja tiba langsung terkejut. “Ke rumah sakit!” teriak Meta. Sang manager langsung berlari menghampiri.Tanpa pikir panjang Leo langung mengangkat tubuh Jenny dan berlari menuju mobil pribadi Jenny. Meta langsung masuk dan menopang tubuh Jenny. sedangkan Vero duduk di kursi penumpang bagian depan, dan langsung me
Sandra berdiri di depan ruangan tim legal. Ia menatap pintu ruangan itu dengan dahi mengernyit. Sepanjang karir nya sebagai model, dia tidak pernah diminta langsung bertemu dengan bagian legal perusahaan.Tok. Tok. TokPintu ruangan terbuka. Kepala tim legal dan HRD agensi sudah menantinya.“Pagi,” sapa Sandra tepat ketika pintu terbuka. Ia melangkah masuk, dan duduk dengan gerakan tenang dan anggun. “Saya mendapat pesan panggilan pertemuan dengan tim legal. Ada urusan apa, ya?”Sang HRD menggangguk membenarkan pesan pertemuan pagi itu. Ia menyodorkan sebuah map ke meja Sandra. “Ada beberapa hal yang harus kami selesaikan dengan Mbak Sandra, silahkan dibaca lebih dahulu.”Sandra tidak langsung membuka map itu. Ia hanya menyentuh permukaa map, lalu kembali menatap HRD selama beberapa detik. Perasaannya mulai tidak karuan, menyadari ada sesuatu yang salah.“Silahkan dibaca terlebih dahulu, Mbak,” tegur HRD sekali lagi.Tanpa pikir lama, Sandra langsung membuka map itu. “Hah?!” matanya t
Menjelang malam akhirnya mereka telah kembali ke Indonesia. Jenny turun dari pesawat dengan wajahnya yang masih mengantuk berat, padahal sepanjang perjalanan dia sudah tidur sangat nyenyak. Berbeda dengan Xander yang tetap terlihat kesal dan dingin.Meta dan Vero sudah menunggunya di bandara. Begitu melihat sosok Jenny, Meta langsung melangkah maju dengan wajah serius. “Jen, setelah sampai di rumah kita perlu bicara.”Jenny mengerutkan dahinya. “Ada apa, Kak?” tanyanya santai, dan langsung masuk ke dalam kabin mobil.Meta menyamai langkah Jenny, dan berdiri di samping pintu mobil. “Produser reality show-mu menghubungiku.”“Soal?”Meta menghela napas pendek. “Mereka mulai mempertanyakan status pernikahanmu. Sekarang pulang dulu, kita lanjut di rumahmu.” Meta langsung menutup pintu mobil Jenny, dan beralih ke mobil perusahaan.Sepanjang perjalanan pulang, Jenny beberapa kali menguap, lalu sibuk memakan camilan ringan yang khusus disiapkan Vero untuknya. Sementara Xander mulai sibuk meme
Setelah seluruh pekerjaan Xander selesai, akhirnya mereka memutuskan untuk kembali ke Indonesia. Pagi menjelang siang Jenny, Xander dan Ryan sudah berada di dalam private jet William Group.Pesawat sudah lepas landas. Xander dan Ryan kembali bekerja di dalam pesawat, memeriksa beberapa berkas dan membahas hasil kontrak dengan investor.Sementara Jenny menatap kedua pria itu dengan tatapan sinis. Ia melipat kedua tangannya di depan dada, dan mengerucutkan bibirnya. “Kalian enggak bosan bekerja terus? Aku di sini berasa cuma jadi pajangan.” Tangan Jenny seketika menutup laptop milik Xander.“Lah aku kan memang kesini buat bekerja, bukan buat santai-santai, Sayang,” balas Xander, tangannya kembali membuka layar laptopnya tanpa memperhatikan wajah Jenny.“Xander!” Jenny langsung menarik laptop dari meja Xander, memindahkannya ke meja Ryan. “Emang enggak kerja beberapa jam saja bisa bikin kamu bangkrut kah?! Aku jauh-jauh nyusulin kamu, cuma dianggurin, disuruh lihat kamu kerja terus.”Xan







