แชร์

Bab 30 : Boleh Berharap?

ผู้เขียน: Amoora bee
last update วันที่เผยแพร่: 2026-07-13 21:20:34

“Xander, bangun...” bisik Jenny lirih. Jemarinya mencengkeram telapak tangan Xander dengan teramat erat, seolah tak ingin melepaskannya sedetik pun.

 

Mereka kini sudah berada di dalam sebuah ruang perawatan khusus di rumah sakit besar pusat kota. Xander masih belum memperlihatkan tanda-tanda akan sadar. Beberapa menit lalu, tim dokter sempat menjelaskan bahwa pria itu mengalami kondisi hipoksia jaringan akibat terlalu banyak menghirup asap karbon monoksida saat kebakaran gudang terjadi.

 

“Bu Rosa... Ci Jenny...”

 

Sebuah suara rendah yang terdengar teramat serak dan parau memecah keheningan dari arah ambang pintu. Ryan berdiri di sana, menundukkan kepalanya dalam-dalam di depan dua wanita tersebut.

 

Penampilannya masih tampak berantakan. Kemeja putih yang dikenakannya siang tadi kini berubah menjadi hitam pekat akibat noda asap, dan sepasang lengannya tampak dibalut oleh beberapa lembar perban elastis untuk menutupi luka bakar ringan.

 

“Ryan...” sahut Rosa, suaranya terdengar bergetar akibat menahan tangis yang tiada henti. “Kamu... kamu enggak apa-apa, Nak?”

 

Ryan menyunggingkan senyuman getir, lalu melangkah pelan memasuki area dalam kamar perawatan. Ia menatap lurus ke arah atasannya yang kini terbaring lemah dengan sebagian wajah yang tertutup oleh masker oksigen. “Pak Xander... tadi beliau yang memaksa saya untuk keluar terlebih dahulu, Bu,” ujarnya dengan tenggorokan yang terasa tersekat.

 

Pandangan mata Ryan melirik ke arah selembar kain dasi kotor yang kini tergeletak di atas meja nakas, sebelum akhirnya ia mulai menjabarkan rentetan kejadian beberapa jam yang lalu di lokasi pabrik.

 

“Kejadiannya berlangsung dengan sangat cepat, Bu. Saat kobaran api pertama mulai membesar, saya sudah berusaha keras menarik Pak Xander untuk segera keluar menyelamatkan diri. Tapi beliau menolak.” Ryan menarik napas pendek, menahan emosi. “Pak Xander mendadak melepas dasinya sendiri, lalu membungkus telapak tangan saya dengan kain itu agar saya bisa mendorong tuas pintu besi yang sudah mulai memanas karena api. Beliau memerintahkan saya untuk fokus membantu para pekerja wanita keluar terlebih dahulu.”

 

Ryan mengembuskan napas panjang yang sarat akan penyesalan. “Tapi, bukannya ikut melangkah di belakang saya untuk menyelamatkan diri sendiri, bos keras kepala itu malah berbalik arah, berlari kencang menerobos ke koridor belakang cuma untuk menyelamatkan anak-anak kecil yang terjebak di sana.”

 

Ryan menatap lekat wajah pucat Xander. “Padahal siang tadi, beliau sempat marah besar saat melihat ada banyak anak-anak warga bermain bola di area belakang proyek pabrik kita. Tapi pada akhirnya... beliau justru nekat mempertaruhkan nyawanya sendiri demi mengeluarkan mereka.”

 

Rosa bangkit berdiri dari kursi tunggu, melangkah mendekati Ryan dengan langkah kaki yang kaku. “Kenapa kalian berdua harus nekat mengecek proyek pabrik yang belum siap itu? Pabrik itu kan masih dalam tahap uji coba operasional, bahkan sistem kelistrikannya saja belum terpasang dengan sempurna,” tuntut Rosa, suaranya meninggi menahan luapan emosi.

 

Ryan kembali menundukkan kepalanya, memaku pandangan pada lantai kamar rumah sakit yang dingin. “Pak Xander bilang, minggu depan beliau enggak bakal punya waktu sisa untuk mengecek langsung perkembangan proyek pabrik ini, Bu,” jelas Ryan dengan nada suara yang teramat sopan. “Katanya... minggu depan beliau harus segera berangkat ke Hong Kong.”

 

Mendengar nama kota itu disebut, mata Jenny seketika membelalak sempurna. “Bodoh...” desis Jenny lirih, memaku tatapannya pada wajah Xander yang terpejam.

 

Minggu depan—itu adalah minggu di mana Jenny sudah dijadwalkan oleh agensi untuk terbang ke Hong Kong demi menghadiri sebuah event kolaborasi mode internasional. Dan pria kaku di hadapannya ini, hampir saja merenggut nyawanya sendiri hanya karena urusan itu.

 

“Kalau kamu bangun nanti, aku bakal langsung memarahi kamu habis-habisan,” ancam Jenny pada tubuh yang masih terbujur lemas di atas kasur tersebut.

 


Empat jam berlalu dalam keheningan, dan Jenny tetap bergeming di posisinya. Ia duduk setenang mungkin di samping ranjang perawatan, terus menggenggam erat telapak tangan Xander yang terasa hangat. Kelopak matanya tampak membengkak sempurna karena terlalu banyak menumpahkan air mata sepanjang hari ini.

 

“Bangun, Xander... aku janji, aku bakal langsung membalas seluruh perasaan kamu mulai sekarang. Please, bangun...” gumam Jenny sangat lirih, menumpukan keningnya di atas lengan Xander.

 

“Janji?”

 

Sebuah suara serak yang teramat tipis dan hampir tidak terdengar seketika membuat detak jantung Jenny seolah berhenti. Kelopak mata Jenny spontan terbuka lebar. Ia menegakkan punggungnya dengan cepat, mengunci pandangan matanya begitu lekat pada wajah Xander.

 

“Xander? Xander...!” panggil Jenny panik, langsung mencondongkan tubuhnya ke depan untuk memotong jarak dengan wajah sang suami.

 

Xander mendadak terbatuk-batuk pendek beberapa kali di balik masker oksigennya, membuat Jenny dan Rosa yang berada di dalam ruangan seketika dilingkupi rasa panik. Tidak butuh waktu lama bagi tim dokter dan perawat untuk segera menerobos masuk setelah mendengar alarm kamar, bergerak cepat memeriksa kondisi fisik sang pasien.

Satu jam proses pemeriksaan darurat berlalu, sampai akhirnya tim dokter memberikan pengumuman resmi bahwa Xander William telah berhasil melewati masa kritisnya dengan sempurna. Sel saraf dan metabolisme tubuhnya bereaksi positif dengan sangat cepat, meskipun kondisi fisiknya saat ini masih memerlukan waktu untuk pulih total.

 

“Kenapa kok... malah nangis lagi?” tanya Xander, menatap lurus ke arah Jenny yang masih berdiri kaku di samping tempat tidurnya setelah tim medis keluar. Pria itu bergerak perlahan, mengubah posisinya menjadi duduk bersandar pada tumpukan bantal rumah sakit. “Sini.”

 

“Kamu kenapa sih suka banget buat aku nangis?!” cecar Jenny, air matanya kembali luruh tanpa bisa ditahan. Ia melangkah maju mengikis jarak mendekati posisi Xander. “Aku kesal banget sama kamu... jantungku rasanya beneran mau copot gara-gara kelakuan nekat kamu tadi!”

 

Rosa menyeka sisa air mata di sudut matanya sendiri. Melihat kedua orang yang teramat ia sayangi di dunia ini akhirnya bisa kembali saling menatap, ia menyunggingkan senyuman tulus. “Mama tunggu di luar dulu ya, Sayang,” ucap Rosa lembut sembari mengusap pelan pundak putranya sebelum melangkah keluar bersama Ryan.

 

Begitu pintu kamar perawatan tertutup rapat, menyisakan mereka berdua di dalam ruangan, tangisan Jenny justru pecah semakin deras. “Kenapa harus ke pabrik cepat-cepat cuma demi bisa pergi ke Hong Kong, hah?! Kenapa enggak mikirin cara menyelamatkan diri sendiri dulu tadi?! Kamu pikir kamu itu superhero? Memangnya nyawa kamu ada sembilan?” Jenny terus memberondong Xander dengan rentetan pertanyaan bertubi-tubi tanpa memberikan jeda sedikit pun bagi suaminya untuk bernapas.

 

“Aku... harus jawab semuanya?” tanya Xander, suaranya terdengar teramat tipis.

 

“Iya! Jawab!” tuntut Jenny kesal.

 

Xander melepaskan tawa lemas yang tertahan di tenggorokan. Bagaimana pun juga, kondisi fisiknya saat ini belum pulih seratus persen, namun sang istri sudah langsung menuntut sebuah penjelasan logis.

 

“Aku... cuma mau jaga kamu selama di Hong Kong nanti,” sahut Xander jujur, sorot mata cokelat kehijauannya menatap lekat ke dalam mata Jenny.

 

“Aku sudah besar, enggak perlu dijaga-jaga lagi! Lihat sekarang, jadinya malah aku kan yang harus jaga kamu di rumah sakit!” protes Jenny di sela-sela isak tangisnya yang mulai mereda. “Terus kenapa tadi saat api membesar kamu enggak langsung lari keluar dulu? Kamu tahu enggak sih, aku beneran ketakutan setengah mati sore tadi.”

 

“Kamu... setakut itu?” tanya Xander rendah. Tangan kanannya bergerak perlahan, menggunakan ujung ibu jarinya untuk mengusap sisa air mata yang membasahi pipi Jenny dengan sentuhan yang teramat lembut.

 

Jenny terdiam membisu selama beberapa saat. Sepasang matanya menatap lurus pada masker oksigen yang menggantung di leher Xander, lalu beralih pada lilitan perban di lengan suaminya. Pikirannya mendadak memutar kembali kejadian mengerikan saat tubuh tegap Xander ambruk kehilangan kesadaran.

 

“Tadi... waktu kamu mendadak jatuh tepat di depanku... rasanya duniaku ikut berhenti berputar saat itu juga,” Jenny menatap lurus ke dalam mata Xander dengan pandangan yang teramat dalam. “Aku... aku beneran takut kehilangan kamu, Xander.”

 

Xander terpaku selama beberapa detik di atas ranjangnya. Sorot matanya tidak beralih sedikit pun dari wajah sembap Jenny, mendengar pengakuan tulus yang meluncur dari bibir istrinya.

 

“Jadi... sekarang aku sudah boleh berharap lebih?” tanya Xander, sebuah senyuman tipis penuh harapan mulai terukir di bibirnya.

 

Jenny buru-buru menyeka sisa air matanya dengan gerakan menyentak yang kesal. “Jangan senyum-senyum dulu ya!”

 

Xander spontan merapatkan kembali belahan bibirnya, memasang ekspresi patuh.

 

“Aku belum bilang kalau aku cinta sama kamu!” kilah Jenny cepat, mencoba menyelamatkan sisa gengsinya.

 

Xander segera memberikan anggukan pelan berkali-kali. “Iya.”

 

“Aku cuma bilang... aku takut kehilangan kamu. Dua kalimat itu maknanya beda jauh!” ketus Jenny lagi, memalingkan wajahnya ke arah lain untuk menyembunyikan semburat merah di pipinya.

 

Sudut bibir Xander kembali tidak bisa ditahan untuk tidak terangkat sedikit, memancarkan binar kebahagiaan yang teramat tulus dari dalam matanya. “Buatku... pengakuan kamu tadi sudah jauh lebih dari cukup, Jen.”

 


อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Aku Supermodel, bukan Istri Pewaris   Bab 134 : Kesempatan

    Xander pun langsung sigap duduk di samping Jenny dengan wajah cemas. “Aku minta maaf, aku sudah salah kali ini…”Jenny hanya merespon dengan lirikan mata yang begitu tajam.“Aku salah tidak berdiskusi sama kamu, tapi aku benaran enggak bisa diam saja melihat kamu terus disakiti Sandra, sayang.” Xander masih tetap berusaha mempertahankan argumennya. “Oke gini aja, sekarang kamu maunya aku bagaimana?”Jenny menggigit bibir bawahnya. Dia masih tetap mempertahankan emosinya, menolak untuk luluh begitu saja dengan alasan suaminya.Lalu, wanita itu manrik nafas dalam. “Kamu boleh memecat dia, tapi jangan menutup semua aksesnya di dunia hiburan. Biarkan kontrak yang masih berjalan tetap diselesaikan, dan biarkan dia bernaung di bawah agensi lain.”Sebelah alis Xander langsung terangkat, saat mendengar permintaan istrinya. Entah apa yang ada di otak istrinya saat itu, mengapa masih berbaik hati kepada orang yang jelas-jelas selalu menyakitinya.“Kenapa diam saja? Setuju kan sama permintaanku?

  • Aku Supermodel, bukan Istri Pewaris   Bab 133 : Bukan Barang

    Xander menatap lekat ekspresi istrinya. Sudut bibirnya terangkat sinis, tanpa ada rasa takut ataupun rasa bersalah sediktipun. “Aku tidak perlu izin dari siapapun untuk memecat dia.”Jenny langsung melempar tatapan sengit pada pria yang wajahnya tanpa dosa itu. “Kamu enggak anggap aku sebagai istrimu?! Keputusan sebesar ini kamu lakukan tanpa sepengetahuanku.”Xander bergerak pelan, duduk di tepi brankar di samping istrinya. Dia memang sadar kali ini dia ada salahnya, tapi tidak serratus persen. “Aku tahu karaktermu, Jen. Kalau aku bicara sama kamu terlebih dulu, pasti kamu akan menentang pemecatan Sandra.”Jenny menahan napasnya sebentar sambil mengatupkan mata. Tangannya mengepal menahan kesal. Dia sadar bahwa pernyataan suaminya memang benar, dia pasti akan menentang keputusan itu. Hanya saja, keputusan Xander kali ini membuatnya sangat marah.“Kamu tahu kan Sandra itu siapa?!” suara Jenny tiba-tiba meninggi, hinga membuat Xander sedikit tersentak. “Dia sahabatku! Seseorang yang be

  • Aku Supermodel, bukan Istri Pewaris   Bab 132 : Ada apa lagi?

    “Akkhh!”Jenny memejamkan matanya. Tangannya seketika memegang perutnya dengan panik. Namun sebelum tubuhnya menghantam anak tangga, tubuhnya justru tertahan oleh sepasang tangan.Beberapa detik itu terasa begitu mencekam. Jenny perlahan membuka matanya. Wajah yang berada tepat di hadapannya langsung membuat napasnya tercekat. “Leo,” gumamnya lirih.Tapi belum sempat Jenny mencerna kejadian yang barusan menimpanya, matanya berasa berkunang-kunang. Jenny kehilangan seluruh kekuatannya.“Jenny!” Leo berusaha menepuk pelan wajah Jenny, demi mengembalikan kesadarannya. Namun justru wajah Jenny semakin terlihat pucat. Dahinya mulai di penuhi keringat dingin.Meta dan Vero yang baru saja tiba langsung terkejut. “Ke rumah sakit!” teriak Meta. Sang manager langsung berlari menghampiri.Tanpa pikir panjang Leo langung mengangkat tubuh Jenny dan berlari menuju mobil pribadi Jenny. Meta langsung masuk dan menopang tubuh Jenny. sedangkan Vero duduk di kursi penumpang bagian depan, dan langsung me

  • Aku Supermodel, bukan Istri Pewaris   Bab 131 : Perintah Itu

    Sandra berdiri di depan ruangan tim legal. Ia menatap pintu ruangan itu dengan dahi mengernyit. Sepanjang karir nya sebagai model, dia tidak pernah diminta langsung bertemu dengan bagian legal perusahaan.Tok. Tok. TokPintu ruangan terbuka. Kepala tim legal dan HRD agensi sudah menantinya.“Pagi,” sapa Sandra tepat ketika pintu terbuka. Ia melangkah masuk, dan duduk dengan gerakan tenang dan anggun. “Saya mendapat pesan panggilan pertemuan dengan tim legal. Ada urusan apa, ya?”Sang HRD menggangguk membenarkan pesan pertemuan pagi itu. Ia menyodorkan sebuah map ke meja Sandra. “Ada beberapa hal yang harus kami selesaikan dengan Mbak Sandra, silahkan dibaca lebih dahulu.”Sandra tidak langsung membuka map itu. Ia hanya menyentuh permukaa map, lalu kembali menatap HRD selama beberapa detik. Perasaannya mulai tidak karuan, menyadari ada sesuatu yang salah.“Silahkan dibaca terlebih dahulu, Mbak,” tegur HRD sekali lagi.Tanpa pikir lama, Sandra langsung membuka map itu. “Hah?!” matanya t

  • Aku Supermodel, bukan Istri Pewaris   Bab 130 : Pintar

    Menjelang malam akhirnya mereka telah kembali ke Indonesia. Jenny turun dari pesawat dengan wajahnya yang masih mengantuk berat, padahal sepanjang perjalanan dia sudah tidur sangat nyenyak. Berbeda dengan Xander yang tetap terlihat kesal dan dingin.Meta dan Vero sudah menunggunya di bandara. Begitu melihat sosok Jenny, Meta langsung melangkah maju dengan wajah serius. “Jen, setelah sampai di rumah kita perlu bicara.”Jenny mengerutkan dahinya. “Ada apa, Kak?” tanyanya santai, dan langsung masuk ke dalam kabin mobil.Meta menyamai langkah Jenny, dan berdiri di samping pintu mobil. “Produser reality show-mu menghubungiku.”“Soal?”Meta menghela napas pendek. “Mereka mulai mempertanyakan status pernikahanmu. Sekarang pulang dulu, kita lanjut di rumahmu.” Meta langsung menutup pintu mobil Jenny, dan beralih ke mobil perusahaan.Sepanjang perjalanan pulang, Jenny beberapa kali menguap, lalu sibuk memakan camilan ringan yang khusus disiapkan Vero untuknya. Sementara Xander mulai sibuk meme

  • Aku Supermodel, bukan Istri Pewaris   Bab 129 : Tetap Santai

    Setelah seluruh pekerjaan Xander selesai, akhirnya mereka memutuskan untuk kembali ke Indonesia. Pagi menjelang siang Jenny, Xander dan Ryan sudah berada di dalam private jet William Group.Pesawat sudah lepas landas. Xander dan Ryan kembali bekerja di dalam pesawat, memeriksa beberapa berkas dan membahas hasil kontrak dengan investor.Sementara Jenny menatap kedua pria itu dengan tatapan sinis. Ia melipat kedua tangannya di depan dada, dan mengerucutkan bibirnya. “Kalian enggak bosan bekerja terus? Aku di sini berasa cuma jadi pajangan.” Tangan Jenny seketika menutup laptop milik Xander.“Lah aku kan memang kesini buat bekerja, bukan buat santai-santai, Sayang,” balas Xander, tangannya kembali membuka layar laptopnya tanpa memperhatikan wajah Jenny.“Xander!” Jenny langsung menarik laptop dari meja Xander, memindahkannya ke meja Ryan. “Emang enggak kerja beberapa jam saja bisa bikin kamu bangkrut kah?! Aku jauh-jauh nyusulin kamu, cuma dianggurin, disuruh lihat kamu kerja terus.”Xan

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status