LOGINMelihat celah sempit, Jenny memberanikan dirinya dan berusaha berlari kencang untuk meraih ponsel di atas ranjang. Namun, gerakan Leo lagi-lagi jauh lebih cepat. Pria itu menyergap maju, menangkap pergelangan tangan Jenny, lalu menahannya dengan cengkeraman kencang hingga membuat Jenny memekik kesakitan.Mata Jenny mulai berkaca-kaca, genangan air mata ketakutan mulai mengaburkan pandangannya. Ia panik setengah mati.“Kenapa kamu terus mengangguku?! Sampai kamu jauh-jauh ke sini…dari mana sebenarnya kamu tahu keberadaanku?!” teriak Jenny histeris sembari meronta, berusaha sekuat tenaga melepaskan cengkeraman tangan Leo.Leo justru tertawa puas, sebuah suara tawa yang terdengat mengerikan di dalam kamar yang sunyi itu. Ia mengangkat dagu Jenny dengan kasar menggunakan tangan satunya.“Mengganggumu?” Leo menggelengkan kepalanya pelan, masih dengan wajah menyeringai sinis. “Aku tidak berniat mengganggumu, Jenny.”Jenny seketika menghentikan sikap berontaknya. Detak jantungnya seolah berh
Empat hari menghabiskan waktu di Venesia rasanya berlalu begitu cepat. Hingga tak terasa hari ini adalah hari terakhir mereka di kota kecil yang romantis ini, sebelum nanti siang mereka harus berpindah kota berikutnya- Milan.Di pagi hari terakhir ini, ranjang mereka kembali menjadi saksi kehangatan pasangan suami istri itu. Jenny duduk bersandar di dada Xander dan mengatur napasnya, sementara Xander sibuk merapikan rambut istrinya dan mencium puncak kepala Jenny berkali-kali.Jarum jam terus berputar. Mereka menghabiskan waktu dengan godaan-godaan kecil yang membuat Jenny berkali-kali mencubit lengan Xander.“Sayang, aku habis ini mau lari pagi sebentar di sekitar hotel, ya,” pamit Xander sambil meregangkan otot-otot badannya. “Sudah lima hari aku absen olahraga. Kamu mau ikut enggak?”Jenny menggeleng cepat dan menarik selimut hingga ke ujung lehernya, menolak mentah-mentah. “Enggak mau ikut. Aku mau tidur lagi aja.”Xander tertawa kecil, dan segera beranjak dari ranjang. Ia dengan
“Hmm” desis Jenny lirih sambil mengedipkan matanya pelan.Matahari sudah menyelinap masuk melalui celah gorden. Meski hari sudah terang, tidak ada satu pun dari mereka yang berniat untuk beranjak dari ranjang. Mereka masih bergelung di balik selimut, menikmati sisa-sisa kehangatan semalam.Jenny mendadak bergerak, menempelkan wajahnya ke dada bidang Xander sambil mengerluarkan suara manja.“Sayang…badanku sakit semua, capek banget karena semalam,” rengek Jenny, suara masih serak dan parau. “Tapi aku lapar banget sekarang.”Mendengar keluhan istrinya, Xander justru tertawa. Matanya tetap terpejam erat, seolah enggan diganggu, dan sama sekali tidak menunjukkan rasa bersalah atas apa yang terjadi semalam. Ia justru semakin mempererat pelukannya pada pinggang Jenny, menahan wanita itu agar tidak bergerak kemana-mana.Kesal karena respons santai suaminya, Jenny mulai bergerak heboh. Ia melepaskan diri dari dekapan Xander, lalu mengguncang-guncah bahu pria itu.“Bangun, Xander! Beliin aku s
Bab 97 : Dunia Milik BerduaDua hari kemudian, Jenny akhirnya benar-benar bisa menghela napas lega. Tidak ada wartawan, tidak ada urusan kontrak. Setelah berbulan-bulan, ia hanya memliki satu tugas: menikmati liburan bersama suaminya di Venesia Italia.“Akhirnya aku bisa menepati janjiku,” seru Jenny tepat saat mereka turun dari water taxi. Rambutnya sedikit berantakan diterpa angin laut, tetapi senyumnya merekah indah menatap dermaga kayu hotel tempat mereka menginap.Xander mengerutkan dahinya bingung. “Janji apa?”Jenny tersenyum lembut, melangkah mendekat hingga mengikis jarak di antara mereka. Tangannya terangkat merapikan kerah jaket suaminya yang sedikit berantakan karena angin laguna.“Janji setelah reality show selesai, waktuku cuma buat kamu.”Mendengar itu, gurat bingung di wajah Xander perlahan menghilang, digantikan senyum tipis yang sarat akan godaan. Pria itu menunduk, menatap lekat mata istrinya. Kota diatas air ini selalu bising oleh seruan para pendayung gondola, nam
Pagi hari Jenny dan Xander datang ke kantor agensi bersama. Jenny harus menyelesaikan beberapa foto untuk sebuah majalah, sementara Xander harus menandatangani berkas-berkas sebelum mereka akan berlibur selama dua minggu.“Nanti jangan capek-capek, besok kita flight pagi.” Xander menggandeng tangan istrinya begitu turun dari mobil.Jenny tersenyum kecil dan menggeleng melihat suaminya yang sejak pagi sudah sangat bawel, beda dengan karakternya selama ini yang dingin dan kaku. “Ini sudah ketiga kalinya kamu ngingetin aku loh…sekali lagi aku kasih piring cantik ya.”“Aku enggak butuh piring cantik, soalnya istriku sudah cantik.”“Gombal banget.” Jenny mencubit pelan pinggang Xander, sambil melipat bibirnya menahan tawa.Setelah pengumuman pernikahan mereka secara resmi, mereka sudah tidak segan untuk pamer kemesraan di depan umum. Walaupun Xander masih merasa sangat risih saat ada wartawan atau orang yang memotret kebersamaannya.Vero berlari kecil menyambut Jenny dan Xander, tangannya
Ruangan mendadak menjadi sangat hening. Jenny hanya menatap perwakilan brand yang duduk di seberangnya. Bibirnya sedikit terbuka, tetapi tidak ada suara yang keluar selama beberapa saat.“Mengakhiri…kontrak?”Perwakilan brand itu mengangguk pelan. “Kami sangat menghargai tiga tahun kerja sama dengan Anda. Keputusan ini sama sekali tidak berkaitan dengan dengan performa Anda sebagai model.”Jenny menggenggam jemarinya sendiri hingga buku-buku jarinya memutih. “Tapi saya masih bisa menjalankan kampanye seperti sebelumnya, saya juga yakin bisa mengembalikan kepercayaan public kepada saya.” Suaranya mulai terdengar memohon.Xander menoleh. Dia tahu istrinya sangat mencintai brand itu, bahkan foto-foto iklan pertamanya dengan brand ini masih terpajang sempurna di ruangan foto rumah mereka.“Jenny…”“Aku masih bisa, Xander. Aku akan berusaha terus professional, tolong beri saya kesempatan lagi…”Pihak brand menatap Jenny cukup lama. Namun, keputusannya tetap tidak berubah. “Maaf, tapi ini s







