LOGIN“Kak Meta...”Jenny refleks melompat turun dari atas meja kerja dengan gerakan sangat cepat. Dia menelan ludah dengan susah payah, lalu berjalan mendekati Meta yang berdiri mematung di ambang pintu.Xander memutar tubuhnya, menatap lurus dengan sorot mata dingin namun tetap tenang. Pria itu memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana, sempat melirik Jenny yang tampak begitu panik.Dengan langkah lebar dan tenang, Xander maju mendekati pintu, menutupnya rapat-rapat tanpa menyiratkan gurat kepanikan sedikit pun di wajahnya.“Meta, silakan duduk,” ucap Xander menginstruksikan. Pria itu menggenggam jemari istrinya yang terasa sangat dingin, menuntunnya menuju sofa.Jenny sempat menahan lengan suaminya, menggeleng pelan dengan mata penuh permohonan. “Xander, kita harus gimana?” bisiknya lirih di telinga sang suami.“Biar aku yang beresin. Percaya sama aku, semuanya akan baik-baik aja,” bisik Xander lembut sembari mengusap punggung tangan Jenny.Jenny hanya tertunduk pasrah. Dia benar-be
“Tapi... aku beneran familier banget sama mukanya,” gumam Jenny sambil mengerutkan dahi, berusaha memeras otaknya untuk mengingat di mana pernah melihat Viona. “Aku pernah ketemu dia enggak sih sebelumnya?”“Enggak pernah ketemu langsung sih...” jawab Xander bernada datar. Pandangannya tetap fokus menatap lurus ke depan. “Udah, enggak usah terlalu dipikirkan, Sayang.”Jenny merasa tidak puas dengan jawaban ambigu suaminya. Dahinya makin berlipat, matanya menyipit penuh curiga. “Kasih tahu dulu! Aku jadi enggak tenang kalau belum dapat jawabannya,” cicit Jenny dengan raut wajah kesal.Xander terdiam beberapa saat. Dia memutar kemudi mobil mewahnya memasuki garasi rumah mereka. Jari telunjuknya mengetuk-ngetuk setir beberapa kali sebelum akhirnya memutuskan untuk bersuara.“Sayang...” Xander memutar posisi tubuhnya hingga berhadapan langsung dengan Jenny. Dia menghela napas pendek. “Kamu ingat foto yang dikirim ke kamu pas malam sebelum kita menikah?”Dahi Jenny berkerut sejenak. Lalu, m
Dada Jenny berdesir hebat. Tatapannya terkunci pada wanita berambut sebahu yang tengah tertawa hangat bersama ibu mertuanya di halaman rumah. Rasa canggung dan tidak nyaman seketika menjalar ke seluruh tubuhnya. Tanpa sadar, insting kepemilikannya berontak.Jenny bergerak cepat melangkah di samping Xander, lalu menyelipkan jemarinya ke selipan lengan suaminya—sebuah gestur sederhana untuk menegaskan pada siapa pun yang melihat bahwa pria di sisinya adalah miliknya.Xander melirik gerakan refleks istrinya itu. Sudut bibirnya terangkat tipis, menyunggingkan senyum geli. Tangan kekarnya mengusap lembut punggung tangan Jenny yang melingkar di lengannya. Dengan langkah tenang dan percaya diri, Xander membawa Jenny mendekati Rosa dan Viona.“Xander,” sapa Viona begitu menyadari kedatangan mereka. Pandangan wanita itu bergulir ke arah Jenny, lalu melempar senyuman sopan.Xander hanya mengangguk singkat. “Sayang... kenalin, ini Vio,” ucap Xander santai, memperkenalkan dengan intonasi yang beg
Jenny terus terdiam di dalam kabin mobil sepanjang perjalanan menuju pusat perbelanjaan. Pikirannya terus terngiang-ngiang pada jawaban Xander tadi pagi. Pria itu memang sudah memastikan tidak akan bertemu Viona hari ini. Namun, tetap saja ada rasa mengganjal di hatinya sejak menyadari sosok dari masa lalu suaminya telah kembali.“Lau...” Jenny menoleh ke arah wanita di sampingnya. “Kamu kenal dekat ya sama Viona?”Laura tidak langsung menoleh. Dia menutup layar ponselnya sembari tersenyum. “Kenapa? Penasaran sama masa lalu Xander?” godanya sambil menatap Jenny dengan sorot mata jenaka.Jenny memutar bola matanya malas sebelum akhirnya terkekeh pelan. “Bukan penasaran sama masa lalu Xander, aku cuma pengen tahu aja Viona itu seperti apa.”Laura mengangguk-angguk kecil, senyum jahilnya makin merekah. Dia mulai paham kalau kehadiran Viona sukses membuat Jenny kepikiran.“Aku lumayan dekat sama Viona dulu. Mereka pacaran waktu masih kuliah di London,” sahut Laura jujur. “Vio itu orangnya
Jenny melirik sebentar ke arah Xander yang tengah sibuk menatap layar laptopnya. Dia ingin memastikan suaminya itu benar-benar fokus bekerja malam ini. Pikirannya terus terngiang-ngiang akan percakapan mereka tadi sore.Mantan? Kenapa Mama sama Laura sampai tegang begitu cuma gara-gara dengar nama mantan? Kenapa reaksi mereka seolah ada hal yang salah? batinnya heran sembari menggelengkan kepala pelan.“Kenapa?” Xander menyadari sejak tadi Jenny sibuk melamun dengan raut wajah aneh. “Ada apa, Sayang? Sini cerita.”Xander menutup laptopnya, lalu meletakkannya asal di atas nakas samping tempat tidur. Tangannya terulur menyambar pinggang ramping Jenny, menariknya ke dalam dekapan posesif.“Xander...”“Apa, Sayang?”“Mama dulu dekat ya sama Viona?”Xander mengernyitkan dahi. “Kenapa tiba-tiba tanya gitu?”“Enggak apa-apa,” balas Jenny sambil mendongak menatap wajah suaminya. “Dulu kalian sedekat apa sih?”“Biasa aja. Enggak yang dekat gimana-gimana.”“Dia cantik enggak?”“Biasa juga.”Jen
Siang harinya, Xander dan Jenny tengah bersantai di ruang keluarga kediaman megah Rosa. Xander tak henti-hentinya mengusap dan memainkan helai rambut panjang Jenny yang tergerai acak di atas pahanya. Pandangan mata mereka berdua tertuju fokus pada tayangan di layar televisi.“Xander...” panggil Jenny manja.“Hmm?”Jenny mendongak, menatap lekat garis rahang suaminya dari bawah. “Aku kan lagi diskors dari agensi selama satu bulan penuh.”“Iya, aku tahu. Terus?”“Kamu harus tanggung jawab!”“Tanggung jawab apa lagi?” Xander menundukkan kepala, menaikkan sebelah alisnya heran. “Aku harus ngapain lagi sekarang?”Jenny seketika mengubah posisi duduknya. Wanita itu dengan lincah bergelayut manja menduduki pangkuan suaminya, menyunggingkan senyuman yang sangat manis.“Kamu juga enggak boleh kerja selama aku lagi diskors,” rengek Jenny dengan nada suara yang dibuat seakan tak menerima penolakan.Xander terkekeh gemas melihat tingkah kekanan-kanakan istrinya. “Oke, libur tiga hari aja ya? Mau







