Share

Bab 8 : Operasi Tolak Sial

Penulis: Amoora bee
last update Tanggal publikasi: 2026-07-08 18:51:55

Hari pernikahan mereka tinggal empat hari lagi, dan bagi Jenny, ini adalah sebuah malapetaka.

Tubuh langsingnya masih meringkuk di bawah selimut. Matanya menatap langit-langit kamar dengan pandangan kosong. Bagaimana bisa hidupnya berubah secepat ini?

Pernikahan karena perjanjian leluhur. Foto misterius di kafe. Dan sekarang, Meta mulai mencurigainya. Dalam waktu kurang dari seminggu, hidup Jenny berubah berantakan.

"Rasanya kutukan itu bukan dari leluhur," gumam Jenny sambil menyipitkan mata. "Tapi dari Xander William."

Semakin dipikirkan, semakin masuk akal. Sejak pria itu muncul, nasib sial terus menempel padanya. "Iya. Dia sumber sialnya. Kalau begitu, aku tinggal membersihkan sumbernya."


Siang itu, Jenny sudah berada di studio foto untuk jadwal pemotretan agensinya. Matanya menatap lampu sorot dan kru yang berlalu-lalang, tetapi pikirannya sibuk menyusun rencana ekstrem untuk menolak bala.

"Yuk, mulai masuk frame!" Teriakan fotografer membuyarkan lamunan Jenny.

Kaki jenjangnya melangkah profesional mendekati kamera, membiarkan tubuhnya tenggelam dalam sorot lensa.

"Alright, darling, buat kamera ini jatuh cinta sama kamu," seru fotografer ternama itu. "Good! Tahan posisi."

Klik! Klik! Klik!

"Oke, finish."

 

Jenny menghela napas panjang dan segera keluar dari area pemotretan. Hari ini suasana hatinya benar-benar buruk. Ia ingin segera pergi dari sana sebelum Meta menginterogasinya. Namun, langkahnya terhenti oleh seorang gadis muda berwajah polos yang mendadak mengadang jalannya.

"Cici Jenny..." sapa gadis itu dengan suara agak cempreng yang dibuat-buat agar terdengar imut.

Jenny mengernyitkan dahi. Di belakang gadis itu, Meta juga ikut mengernyitkan dahi sambil menatap Jenny dengan pandangan menuntut penjelasan.

Jenny kembali menatap gadis asing di depannya. "Siapa ya? Kok bisa masuk ke studio privat ini?"

"Perkenalkan, saya Vero..." Gadis itu mengulurkan tangan kanan. "Ini iced americano dengan stevia satu tetes," lanjut Vero saat tangannya disambut bingung oleh Jenny.

 

"Saya tanya, kamu kenapa bisa masuk ke sini? Kamu fans saya?"

 

Vero berkedip cepat, tampak bingung karena Jenny tidak mengenalnya. "Aahhh, ternyata Ci Jenny belum tahu ya? Aku asisten pribadi Cici yang baru," seru Vero penuh semangat dengan senyum lebar.

"What?! Asisten?!" Jenny langsung menoleh ke arah Meta.

Meta melipat tangan di dada, matanya menyipit tajam. "Jangan lihat aku. Aku bahkan baru mau nanya kenapa kamu bisa punya asisten pribadi baru tanpa persetujuan agensi."

Jenny kembali menatap Vero, mulai panik. "Aku enggak pernah cari asisten. Kamu jangan-jangan stalker, ya?!"

"Enggak, aku bukan stalker! Aku memang fans Cici, tapi ini legal," bantah Vero cepat dengan wajah tanpa dosa. "Ci, aku bahkan sudah tanda tangan kontrak dan dapat gaji pertama loh."

"Gaji?! Aku enggak pernah menggaji kamu. Kamu salah orang!" potong Jenny ketus.

Vero terdiam, wajahnya mendadak cemas. "Tapi kontraknya jelas untuk jadi asisten Jenny Wong." Ia buru-buru mengeluarkan ponsel dan menunjukkan bukti transfer. "Ini dua belas juta untuk kontrak awal. Kalau cocok, nanti naik jadi lima belas juta."

 

"Hah?! Siapa yang menggaji kamu sebesar ini?!"

"Pak Xander, yang—"

Tangan Jenny refleks bergerak cepat membekap mulut Vero. Matanya melotot memperingatkan. Detik itu juga, suasana studio langsung senyap.

Meta melangkah maju, auranya mendadak terasa sangat menakutkan. "Xander? Xander William? Jenny, kita perlu bicara sekarang juga!"

"Ah, Kak Meta... aku harus pergi sekarang! Itu... aku harus menjemput hamsterku di petshop, dia bisa kena hipotermia kalau kelamaan habis mandi! Kita bicara besok, ya!"

 

Tanpa menunggu jawaban Meta yang siap meledak, Jenny langsung menyambar tasnya dan berlari kencang keluar studio. Vero yang panik pun ikut berlari mengekor di belakang bos barunya.

 


"Kamu umur berapa?" tanya Jenny saat mereka sudah berada di dalam kabin mobil pribadi Jenny.

"Dua puluh empat, Ci."

"Masih muda."

"Makasih, Ci."

"Bukan pujian. Aku lagi menghitung apakah mentalmu cukup dewasa untuk dijadikan saksi ritual tolak bala."

Vero hanya terdiam, otaknya mendadak macet memproses kata 'ritual'.

 


Setengah jam kemudian, Jenny sudah sampai di depan ruangan pribadi Xander. Tanpa mengetuk pintu, ia langsung menerobos masuk sambil menenteng satu kantong plastik besar belanjaan dari pasar tradisional.

"Xander!" panggil Jenny tidak sopan. "Kita harus melakukan ritual sekarang juga sebelum jam empat sore!"

Xander yang sedang membaca dokumen di mejanya langsung mendongak. Ia hanya bisa terdiam heran melihat Jenny mulai mengeluarkan bunga melati, air tujuh rupa, segenggam garam, dupa, dan selembar kertas berisi coretan mantra dari dalam kantong.

 

"Duduk!" perintah Jenny cepat.

Xander mengangkat satu alisnya. "Apa?"

"Duduk di kursi itu."

"Mau ngapain?"

"Aku mau menghilangkan kutukan kesialan yang kamu bawa!"

 

"Jenny, jangan mulai—"

"Jangan bantah! Hidupku berantakan sejak kamu muncul. Kamu bahkan menyusupkan asisten baru ke studio ku!" Jenny menunjuk Vero, lalu beralih menatap seorang pria berjas yang berdiri di sudut ruangan. "Kamu siapa namanya?"

"Saya... Ryan, Bu. Asisten Pak Xander," jawab Ryan sangsi.

Jenny berkacak pinggang. "Jangan panggil saya Bu, saya belum se-tua itu! Kamu, cepat pegang bosmu. Tahan badannya di sofa."

Ryan langsung mematung, menatap Xander dengan pandangan meminta tolong.

"Jen!" bentak Xander, merasa situasi ini sudah di luar nalar.

Jenny tidak peduli lagi. Ia menarik paksa lengan Ryan untuk mendekati Xander. "Ayo cepat bantu! Ini demi kebaikan bosmu juga agar investasinya tidak sial!"

"Maaf, Pak... ini demi keselamatan kita semua," bisik Ryan pasrah, berpura-pura menahan pundak Xander karena ia sendiri sebenarnya penasaran melihat bosnya yang kaku itu dikerjai.

Dengan cepat, Jenny menyalakan dupa dan mulai menyipratkan air bunga ke arah Xander menggunakan jemarinya sambil merapalkan mantra komat-kamit. "Kutukan pergi, hoki datang! Sial pergi, kemakmuran datang!"

"Jen, ini gila! Berhenti!" Xander mencoba menghindar, tetapi cipratan air bunga telanjur membasahi wajahnya.

"Cepat ikuti mantraku, Xander! Biar kita berdua selamat!"

"Konyol!"

 

"Vero, jangan diam saja! Cepat tabur garam di sekelilingnya!" perintah Jenny.

Vero yang polos dan masih dalam mode patuh langsung mengambil segenggam garam. Dengan gemetar, ia menaburkannya tepat di atas jas mewah seharga ratusan juta milik Xander.

"Saya pecat kalian berdua setelah ini!" ancam Xander frustrasi dengan kegilaan massal di ruangannya.

 

"Pecat saja! Yang penting sialnya hilang!" balas Jenny sengit, kembali menyipratkan sisa air bunga dengan brutal.

 

"Aku serius, Jenny."

 

"Aku jauh lebih serius!"

 

Ryan buru-buru memalingkan wajah ke dinding demi menahan tawa yang hampir meledak. Sementara Vero menunduk dalam-dalam, bahunya bergetar hebat karena menahan geli. Untuk pertama kalinya dalam lima tahun bekerja, Ryan melihat seorang Xander William yang berkuasa diperlakukan seperti anak kecil yang sedang mogok mandi.

 

Karena terlalu fokus menahan tawa sambil bergerak mundur, lengan Vero tanpa sengaja menyenggol laci kecil di meja kerja Xander yang tidak terkunci rapat.

 

Brak!

 

Laci itu sedikit terbuka akibat benturan.

 

Gerakan Jenny langsung terhenti. Matanya menangkap sesuatu di dalam laci yang terbuka itu—sebuah tumpukan foto. Dan kilasan wajah pada foto paling atas terlihat sangat familiar di matanya.

Sangat familiar.

Jenny mengernyit, menurunkan wadah air bunganya. "Eh?"

 

Refleks, ia melangkah mendekat untuk memastikan.

Namun sebelum mata Jenny sempat fokus membaca visual di foto tersebut, sebuah tangan bergerak dengan kecepatan kilat mendahuluinya. Xander mendorong laci itu dengan keras.

 

Brak!

 

Laci tertutup rapat seketika. Ruangan besar itu mendadak sunyi senyap, menyisakan aroma dupa dan melati yang menggantung di udara.

Jenny membeku di tempatnya.

Untuk pertama kalinya sejak mengenal Xander William, ia melihat sebuah ekspresi yang belum pernah ada di wajah pria itu sebelumnya. Itu bukan ekspresi kesal. Bukan amarah. Bukan pula tatapan dingin merendahkan yang biasa ia tunjukkan pada dunia.

Melainkan panik. Dan bagi Jenny, kepanikan di wajah pria sekelas Xander terasa jauh lebih mengerikan daripada ancaman apa pun.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Komen (1)
goodnovel comment avatar
Lituhayu92
ceritana menarik jadi penasaran dengan bab selanjutnya. jadi ingin tau perkembangan cerita Jenny.
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • Aku Supermodel, bukan Istri Pewaris   Bab 134 : Kesempatan

    Xander pun langsung sigap duduk di samping Jenny dengan wajah cemas. “Aku minta maaf, aku sudah salah kali ini…”Jenny hanya merespon dengan lirikan mata yang begitu tajam.“Aku salah tidak berdiskusi sama kamu, tapi aku benaran enggak bisa diam saja melihat kamu terus disakiti Sandra, sayang.” Xander masih tetap berusaha mempertahankan argumennya. “Oke gini aja, sekarang kamu maunya aku bagaimana?”Jenny menggigit bibir bawahnya. Dia masih tetap mempertahankan emosinya, menolak untuk luluh begitu saja dengan alasan suaminya.Lalu, wanita itu manrik nafas dalam. “Kamu boleh memecat dia, tapi jangan menutup semua aksesnya di dunia hiburan. Biarkan kontrak yang masih berjalan tetap diselesaikan, dan biarkan dia bernaung di bawah agensi lain.”Sebelah alis Xander langsung terangkat, saat mendengar permintaan istrinya. Entah apa yang ada di otak istrinya saat itu, mengapa masih berbaik hati kepada orang yang jelas-jelas selalu menyakitinya.“Kenapa diam saja? Setuju kan sama permintaanku?

  • Aku Supermodel, bukan Istri Pewaris   Bab 133 : Bukan Barang

    Xander menatap lekat ekspresi istrinya. Sudut bibirnya terangkat sinis, tanpa ada rasa takut ataupun rasa bersalah sediktipun. “Aku tidak perlu izin dari siapapun untuk memecat dia.”Jenny langsung melempar tatapan sengit pada pria yang wajahnya tanpa dosa itu. “Kamu enggak anggap aku sebagai istrimu?! Keputusan sebesar ini kamu lakukan tanpa sepengetahuanku.”Xander bergerak pelan, duduk di tepi brankar di samping istrinya. Dia memang sadar kali ini dia ada salahnya, tapi tidak serratus persen. “Aku tahu karaktermu, Jen. Kalau aku bicara sama kamu terlebih dulu, pasti kamu akan menentang pemecatan Sandra.”Jenny menahan napasnya sebentar sambil mengatupkan mata. Tangannya mengepal menahan kesal. Dia sadar bahwa pernyataan suaminya memang benar, dia pasti akan menentang keputusan itu. Hanya saja, keputusan Xander kali ini membuatnya sangat marah.“Kamu tahu kan Sandra itu siapa?!” suara Jenny tiba-tiba meninggi, hinga membuat Xander sedikit tersentak. “Dia sahabatku! Seseorang yang be

  • Aku Supermodel, bukan Istri Pewaris   Bab 132 : Ada apa lagi?

    “Akkhh!”Jenny memejamkan matanya. Tangannya seketika memegang perutnya dengan panik. Namun sebelum tubuhnya menghantam anak tangga, tubuhnya justru tertahan oleh sepasang tangan.Beberapa detik itu terasa begitu mencekam. Jenny perlahan membuka matanya. Wajah yang berada tepat di hadapannya langsung membuat napasnya tercekat. “Leo,” gumamnya lirih.Tapi belum sempat Jenny mencerna kejadian yang barusan menimpanya, matanya berasa berkunang-kunang. Jenny kehilangan seluruh kekuatannya.“Jenny!” Leo berusaha menepuk pelan wajah Jenny, demi mengembalikan kesadarannya. Namun justru wajah Jenny semakin terlihat pucat. Dahinya mulai di penuhi keringat dingin.Meta dan Vero yang baru saja tiba langsung terkejut. “Ke rumah sakit!” teriak Meta. Sang manager langsung berlari menghampiri.Tanpa pikir panjang Leo langung mengangkat tubuh Jenny dan berlari menuju mobil pribadi Jenny. Meta langsung masuk dan menopang tubuh Jenny. sedangkan Vero duduk di kursi penumpang bagian depan, dan langsung me

  • Aku Supermodel, bukan Istri Pewaris   Bab 131 : Perintah Itu

    Sandra berdiri di depan ruangan tim legal. Ia menatap pintu ruangan itu dengan dahi mengernyit. Sepanjang karir nya sebagai model, dia tidak pernah diminta langsung bertemu dengan bagian legal perusahaan.Tok. Tok. TokPintu ruangan terbuka. Kepala tim legal dan HRD agensi sudah menantinya.“Pagi,” sapa Sandra tepat ketika pintu terbuka. Ia melangkah masuk, dan duduk dengan gerakan tenang dan anggun. “Saya mendapat pesan panggilan pertemuan dengan tim legal. Ada urusan apa, ya?”Sang HRD menggangguk membenarkan pesan pertemuan pagi itu. Ia menyodorkan sebuah map ke meja Sandra. “Ada beberapa hal yang harus kami selesaikan dengan Mbak Sandra, silahkan dibaca lebih dahulu.”Sandra tidak langsung membuka map itu. Ia hanya menyentuh permukaa map, lalu kembali menatap HRD selama beberapa detik. Perasaannya mulai tidak karuan, menyadari ada sesuatu yang salah.“Silahkan dibaca terlebih dahulu, Mbak,” tegur HRD sekali lagi.Tanpa pikir lama, Sandra langsung membuka map itu. “Hah?!” matanya t

  • Aku Supermodel, bukan Istri Pewaris   Bab 130 : Pintar

    Menjelang malam akhirnya mereka telah kembali ke Indonesia. Jenny turun dari pesawat dengan wajahnya yang masih mengantuk berat, padahal sepanjang perjalanan dia sudah tidur sangat nyenyak. Berbeda dengan Xander yang tetap terlihat kesal dan dingin.Meta dan Vero sudah menunggunya di bandara. Begitu melihat sosok Jenny, Meta langsung melangkah maju dengan wajah serius. “Jen, setelah sampai di rumah kita perlu bicara.”Jenny mengerutkan dahinya. “Ada apa, Kak?” tanyanya santai, dan langsung masuk ke dalam kabin mobil.Meta menyamai langkah Jenny, dan berdiri di samping pintu mobil. “Produser reality show-mu menghubungiku.”“Soal?”Meta menghela napas pendek. “Mereka mulai mempertanyakan status pernikahanmu. Sekarang pulang dulu, kita lanjut di rumahmu.” Meta langsung menutup pintu mobil Jenny, dan beralih ke mobil perusahaan.Sepanjang perjalanan pulang, Jenny beberapa kali menguap, lalu sibuk memakan camilan ringan yang khusus disiapkan Vero untuknya. Sementara Xander mulai sibuk meme

  • Aku Supermodel, bukan Istri Pewaris   Bab 129 : Tetap Santai

    Setelah seluruh pekerjaan Xander selesai, akhirnya mereka memutuskan untuk kembali ke Indonesia. Pagi menjelang siang Jenny, Xander dan Ryan sudah berada di dalam private jet William Group.Pesawat sudah lepas landas. Xander dan Ryan kembali bekerja di dalam pesawat, memeriksa beberapa berkas dan membahas hasil kontrak dengan investor.Sementara Jenny menatap kedua pria itu dengan tatapan sinis. Ia melipat kedua tangannya di depan dada, dan mengerucutkan bibirnya. “Kalian enggak bosan bekerja terus? Aku di sini berasa cuma jadi pajangan.” Tangan Jenny seketika menutup laptop milik Xander.“Lah aku kan memang kesini buat bekerja, bukan buat santai-santai, Sayang,” balas Xander, tangannya kembali membuka layar laptopnya tanpa memperhatikan wajah Jenny.“Xander!” Jenny langsung menarik laptop dari meja Xander, memindahkannya ke meja Ryan. “Emang enggak kerja beberapa jam saja bisa bikin kamu bangkrut kah?! Aku jauh-jauh nyusulin kamu, cuma dianggurin, disuruh lihat kamu kerja terus.”Xan

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status