공유

Aku Tak Menginginkan Cinta yang Datang Terlambat
Aku Tak Menginginkan Cinta yang Datang Terlambat
작가: Arif

Bab 1

작가: Arif
Saat tertatih-tatih kembali ke pusat kota, aku telah menjadi bahan tertawaan di kalangan mereka.

Mereka semua berkata bahwa tuan muda Keluarga Junarwa yang sejak kecil hidup terlantar di luar itu tidak punya kemampuan berarti, tetapi emosinya besar. Berani-beraninya aku berselisih dengan anak angkat yang sudah masuk perusahaan, bahkan mengancam orang tuaku.

Pada akhirnya, aku kabur dari rumah tanpa sepeser pun uang dan sampai harus meminjam uang dari orang.

Para berandal kaya yang pernah menghinaku juga entah dari mana mengetahui keberadaanku. Mereka datang dengan pongah ke pusat kota bersama sekelompok orang, lalu tanpa malu-malu mengarahkan ponsel ke arahku untuk mengambil foto.

Aku bahkan tidak mengangkat tangan untuk menutupi wajah demi menjaga harga diriku. Bagaimanapun, seluruh harga diriku sudah sedikit demi sedikit terkikis oleh orang-orang yang menagih utang itu.

Sejak dipaksa berlutut di tanah dan menampar wajahku sendiri, hatiku tidak lagi terusik oleh apa yang disebut gengsi a.

Scott yang dulunya selalu membuat masalah dan selalu bersikap waswas untuk menyembunyikan rasa rendah dirinya, kini telah tiada. Keluarga Junarwa dan Salsa-lah yang membunuhnya dengan tangan mereka sendiri.

Tiba-tiba, beberapa mobil bisnis berwarna hitam melaju mendekat seolah tidak memedulikan siapa pun di sekitar. Begitu melihat pelat nomornya, para berandal kaya itu langsung berpencar ke segala arah.

Mobil terdepan tampak sederhana dan tidak mencolok, tetapi aku tahu siapa yang duduk di dalamnya.

Salsa, penguasa Keluarga Indraguna, sekaligus tunanganku.

Melihat mobil itu, aku tanpa sadar menghentikan langkah, lalu berbalik hendak mengambil jalan memutar.

Pintu mobil terbuka, dan seorang wanita berjas turun dari dalam. Dia berjalan ke hadapanku. Saat melihat jelas wajah dan penampilanku, dia sempat tertegun karena terkejut.

Aku tahu betapa menyedihkan penampilanku sekarang.

Pakaian yang kukenakan masih kemeja putih yang kupakai saat mengurus pemakaman kakek. Kemeja itu kusut, bahkan ada beberapa bekas telapak sepatu yang terlihat jelas di atasnya.

Wajahku bengkak kemerahan. Sehari sebelumnya, aku ditampar hingga wajahku membengkak dan bekasnya masih belum hilang. Sela-sela kukuku dipenuhi lumpur hitam, jari-jariku masih sedikit gemetar. Satu kaki memakai sepatu yang kupungut dari tempat sampah, sementara kaki yang lain telanjang dan memerah karena kedinginan.

Sekretaris Salsa menundukkan pandangan untuk menyembunyikan keterkejutannya, lalu memberi isyarat mempersilakan dengan sopan.

"Pak Scott, Bu Salsa minta Anda datang."

Aku menunduk dan mundur selangkah. Suaraku serak parah, tenggorokanku terasa perih setiap kali berbicara. "Nggak usah. Aku mau pulang ke Keluarga Junarwa."

Setelah berkata demikian, aku melewatinya dan bersiap pergi.

Sang sekretaris tampak terkejut.

Bagiku, Salsa dulu adalah penyelamat. Selama lima tahun aku selalu mengikutinya. Meski setiap kali bertemu dia tidak pernah menunjukkan wajah yang ramah, aku tetap memutar otak mencari alasan untuk mendekatinya.

Namun sekarang, aku malah menganggapnya seperti bencana yang harus kuhindari.

Tidak heran jika sekretaris yang sudah terbiasa melihatku bersikap keras kepala dan terus mengejar Salsa merasa begitu terkejut.

"Scott!"

Suara dingin itu membuatku berhenti melangkah tanpa sadar.

Melihat bibirku yang terkatup rapat, sekretaris itu ragu sejenak, tetapi tetap memberi isyarat mempersilakanku masuk.

Aku berusaha menegakkan punggung. Sambil menahan rasa tidak nyaman di kaki kiri dan mengabaikan tatapan sekretaris yang seolah ingin mengatakan sesuatu, aku pun naik ke dalam mobil dengan perlahan.

Salsa duduk di sana.

Dia mengangkat kepala dari dokumen yang sedang dibacanya. Saat melihat penampilanku yang sangat berantakan, dia tidak menunjukkan sedikit pun kepedulian. Sebaliknya, alisnya langsung berkerut erat dan suaranya terdengar sangat tidak senang.

"Kamu sedang cosplay jadi pengemis? Penampilanmu berantakan begini. Nggak takut mempermalukan diri sendiri?"

Hatiku tidak lagi terasa perih karena kata-kata tajamnya seperti dulu.

Aku juga tidak merasa kecewa karena dia sama sekali tidak melihat luka-luka di tubuhku. Aku hanya menundukkan kepala dan menjawab pelan.

이 작품을 무료로 읽으실 수 있습니다
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요

최신 챕터

  • Aku Tak Menginginkan Cinta yang Datang Terlambat   Bab 12

    Aku memejamkan mata, lalu melompat.Saat terbangun, hal pertama yang kulihat adalah wajah Hyora yang sembap karena menangis. Dia menggenggam tanganku erat-erat. Begitu melihatku sadar, dia buru-buru memanggil dokter.Dengan susah payah, aku mengangkat tangan. "Jangan nangis lagi."Hyora langsung memelukku erat-erat. Baru setelah aku menepuk-nepuk punggungnya untuk menenangkannya, dia melepaskan pelukannya.Ayah dan Ibu berdiri di sisi lain, menatapku dengan penuh kekhawatiran dan rasa bersalah.Hyora berbisik di telingaku, "Salsa sudah menemukan bukti bahwa Barney bersekongkol dengan rentenir untuk mencelakaimu. Sekarang mereka semua sudah masuk penjara."Ibu mengusap air matanya, lalu memanggilku, "Scott."Namun setelah memanggilku, dia tidak melanjutkan perkataannya untuk waktu yang lama.Aku tertawa mengejek diri sendiri dan berkata, "Ibu mau aku maafin Barney ya? Kalau kalian mau memakai jasa telah melahirkanku untuk menekanku, aku bisa menyetujuinya."Hyora melotot ke arahku.Namu

  • Aku Tak Menginginkan Cinta yang Datang Terlambat   Bab 11

    Saat aku duduk di ranjang rumah sakit, Salsa akhirnya berbicara, "Scott, gimana keadaanmu?"Aku duduk di sana tanpa berkata apa-apa. Ternyata ... aku memang tidak pantas mendapatkan kehidupan yang bahagia. Semua yang terjadi bersama Hyora terasa seperti sebuah mimpi.Sekarang, mimpi itu telah berakhir. Aku juga harus kembali ke dalam kegelapan. Aku duduk di ranjang rumah sakit seolah tidak mendengar apa pun yang dia katakan. Salsa menunggu cukup lama, tetapi tetap tidak mendapatkan jawaban dariku.Perlahan dia berjalan mendekat dan duduk di tepi ranjang. Dengan ragu-ragu, dia mengulurkan tangan, seolah ingin memeriksa suhu dahiku."Jangan sentuh aku," kataku dengan suara serak. "Setiap kali kamu menyentuhku, aku ingin muntah."Salsa benar-benar menghentikan gerakannya. Lingkar matanya mulai memerah.Sejak kapan Salsa yang selalu tinggi hati dan tak tersentuh itu pernah menunjukkan ekspresi seperti ini di hadapanku?"Aku ... aku nggak tahu kalau kamu benar-benar ...."Aku menoleh dan me

  • Aku Tak Menginginkan Cinta yang Datang Terlambat   Bab 10

    Bagaimana mungkin dia pantas?Bagaimana mungkin dia berani?....Ketika rasa sakit menjalar di wajahku, barulah aku tersadar. Salsa berdiri di hadapanku. Rasa muak dan jengkel di matanya hampir meluap.Sementara Barney sedang kutarik kerah bajunya dan kutekan ke dinding. Rambutnya berantakan, pipinya bengkak kemerahan. Untuk sesaat, aku bahkan tidak bisa membedakan siapa sebenarnya yang terlihat seperti orang gila.Salsa menarik kembali tangannya dan berkata dengan dingin, "Scott, apa kamu sudah gila? Lihat dirimu sekarang. Apa masih ada sedikit saja sikap yang pantas sebagai anggota Keluarga Junarwa? Kamu benar-benar seperti orang dengan gangguan jiwa.""Salsa, nggak apa-apa." Barney tersenyum tipis, lalu meringis kesakitan. "Wajar kalau Scott benci sama aku.""Lepaskan Barney sekarang juga," ucap Salsa.Aku hanya terpaku dan tidak bergerak. Melihat reaksiku, Salsa semakin tidak sabar dan langsung maju untuk menarikku. Namun saat itu, sebuah sentuhan hangat mendarat di lenganku.Aku m

  • Aku Tak Menginginkan Cinta yang Datang Terlambat   Bab 9

    Hyora menertawakanku dengan penuh kemenangan untuk beberapa saat. Namun pada akhirnya dia tetap buru-buru mengenakan jaket dan turun ke bawah untuk membelikan obat sakit maag untukku.....Ketika bel pintu berbunyi nyaring dan tergesa-gesa, aku mengira Hyora lupa membawa ponselnya. Dia memang selalu ceroboh."Kamu keluar terlalu terburu-buru sampai lupa bawa ponsel, ya ...."Suaraku terhenti bersamaan dengan pintu yang kubuka. Orang yang berdiri di luar bukan Hyora. Melainkan Barney, yang berpakaian rapi bak seorang tuan muda bangsawan.Dia mengamatiku sambil membawa beberapa bungkus roti di tangannya. Aku bisa merasakan bahwa kedatangannya tidak membawa niat baik. Aku mengerutkan kening dan bertanya dengan dingin, "Kenapa kamu tahu aku tinggal di sini?"Barney menatapku seperti sedang melihat orang bodoh."Kamu nggak tahu? Gedung tempat kamu tinggal ini adalah properti milik Keluarga Indraguna. Alamatmu tentu saja diberitahukan oleh Salsa."Tanganku langsung mencengkeram gagang pintu

  • Aku Tak Menginginkan Cinta yang Datang Terlambat   Bab 8

    Hyora memperlihatkan ekspresi mengerti. "Mau ikut aku jalan-jalan? Aku sudah tinggal di sini setengah tahun. Aku hafal daerah ini."Aku sedikit bingung. "Ke mana?"Seperti dulu, Hyora berjinjit, lalu mengetuk dahiku dengan jarinya. "Tentu saja pergi membeli perabot rumah. Lagian, kalau kamu terus di dalam rumah, gimana penyakitmu bisa membaik?""Tapi tenang saja. Aku yang akan bicara sama orang-orang. Kamu cukup berdiri di sampingku. Nggak usah terburu-buru."Aneh sekali. Aku sama sekali tidak merasa terganggu oleh sentuhannya. Rasanya seperti kembali ke masa SMA. Saat aku dipaksa mendaftar lomba lari seribu meter, hanya dia satu-satunya yang berteriak keras menyemangatiku.Ketika aku melewati garis finis, hanya dia yang datang membantuku berdiri. Tidak ada rasa jijik. Tidak ada rasa muak. Yang ada hanya kehangatan.Aku mengangkat kepala dan bertemu dengan matanya yang penuh ketulusan dan kelembutan. Entah mengapa, aku mengangguk.....Sebenarnya, aku pernah diam-diam menyukai Hyora. P

  • Aku Tak Menginginkan Cinta yang Datang Terlambat   Bab 7

    Aku menyewa sebuah rumah di pinggiran kota.Jauh dari keramaian, tempat itu membuatku bisa menenangkan diri dan tidak terus memikirkan hal-hal yang tidak perlu. Aku memesan makanan secara daring dan meminta kurir meletakkannya di depan pintu.Mendengar langkah kaki kurir yang semakin menjauh, aku menghela napas panjang lalu keluar untuk mengambil pesananku. Namun saat membungkuk, tiba-tiba rasa sakit yang tajam menjalar dari kakiku.Rasa sakit itu begitu hebat hingga keringat dingin langsung membasahi tubuhku dan aku jatuh terduduk di lantai. Ketika aku sedang berusaha menopang tubuh dan berdiri dengan berpegangan pada pintu, sebuah tangan muncul di hadapanku.Jari-jarinya ramping. Sekilas saja sudah terlihat bahwa itu tangan seorang gadis. Aku ragu sejenak, lalu tidak menerima bantuannya.Setelah rasa sakit sedikit mereda, aku berdiri sendiri. Tangan itu pun ditarik kembali. Aku tidak berani mengangkat kepala untuk melihatnya. Dengan suara pelan, aku mengucapkan terima kasih, lalu men

더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status