LOGINMalam sudah sangat larut ketika Aruna akhirnya keluar dari ruang bersalin ,langkahnya terasa sedikit berat ,persalinan panjang tadi benar-benar menguras tenaga lorong rumah sakit sudah jauh lebih sepi dibandingkan beberapa jam lalu lampu putih yang terang membuat suasana terasa sunyi ,Aruna melepas sarung tangannya dan membuangnya ke tempat sampah medis ,Nina berjalan di sampingnya.“Gila ya tadi,” gumam Nina sambil menghela napas panjang.Aruna tersenyum kecil.“Lumayan.”“Lumayan katanya,” Nina mendengus pelan. “Suaminya itu hampir bikin aku meledak.”Aruna tidak menjawab ,ia hanya berjalan menuju ruang staf untuk mengambil tasnya ,setelah mengganti sebagian perlengkapan kerjanya, ia kembali keluar menuju lobi rumah sakit namun langkahnya tiba-tiba terhenti ,di dekat pintu keluar seseorang berdiri di sana ,seorang pria tinggi dengan jas hitam yang terlihat mahal pak Oxavio, Aruna sedikit terkejut ia tidak menyangka pria itu masih berada di rumah sakit ,Oxavio m
Monitor di samping tempat tidur terus berbunyi pelan, ritmis, seolah menjadi satu-satunya pengingat bahwa waktu tetap berjalan di tengah ketegangan yang menggantung di udara ,detak jantung bayi terdengar stabil, teratur, namun kondisi sang ibu justru berada di ujung batas kekuatan ,napasnya terengah-engah, tersendat, seakan setiap tarikan udara adalah perjuangan yang tidak lagi mudah.“Aku… tidak kuat…”Suaranya pecah, lemah, hampir tenggelam di antara suara alat medis dan desah napasnya sendiri ,tangannya menggenggam seprai dengan begitu erat hingga buku-buku jarinya memutih ,keringat membasahi dahinya, mengalir ke pelipis, dan membuat rambutnya menempel tak beraturan ,Aruna tetap berdiri di sampingnya, pikirannya bekerja cepat, menyusun langkah demi langkah dengan presisi yang nyaris tanpa cela ,di tengah kekacauan yang mungkin terlihat oleh orang lain, Aruna justru melihat pola, melihat arah ,melihat jalan keluar.“Bu, dengarkan saya.”Suaranya lembut, tidak menin
Ruang bersalin itu terasa semakin panas karena ketegangan yang menggantung begitu pekat di udara, seperti kabut yang menyesakkan dada dan perlahan merayap ke dalam pikiran setiap orang yang berada di sana ,suara erangan kembali pecah. “Aduh… sakit sekali…” Wanita di atas tempat tidur itu menggeliat, dan tangannya mencengkeram seprai dengan begitu kuat seolah kain itu adalah satu-satunya pegangan yang bisa menahannya dari rasa sakit yang bergulung tanpa ampun ,keringat mulai membasahi pelipisnya, mengalir perlahan menyusuri sisi wajahnya yang semakin pucat ,napasnya tersengal, tidak teratur, dan penuh kepanikan ,di sisinya Aruna tetap berdiri tenang atau setidaknya terlihat tenang. Tatapannya terfokus, penuh perhatian, dan tidak sedikit pun goyah meskipun suara-suara di sekelilingnya semakin riuh dan menekan. “Bu, kita hampir sampai tarik napas …” Suaranya lembut, tetapi tegas mengalir seperti alunan yang berusaha menenangkan badai. Namun wanita itu menggeleng cepat, dan mat
Seorang perawat berlari kecil sambil membawa berkas yang hampir terjatuh dari tangannya, napasnya tersengal namun ia tetap berusaha menyampaikan kabar itu dengan jelas.“Pasien VVIP sudah masuk!”Kalimat itu seperti percikan api yang langsung menyulut kegelisahan di antara para tenaga medis dan dalam hitungan detik beberapa orang saling bertukar pandang sementara bisik-bisik kecil mulai terdengar di sudut ruangan.“Serius?”“Iya, katanya istri pengusaha besar…”Nama besar, status tinggi, dan ekspektasi yang biasanya ikut datang bersamanya seolah langsung menekan udara di ruangan itu menjadi lebih berat ,namun di tengah semua itu, Aruna tetap berdiri di tempatnya, tangannya masih sibuk memeriksa alat-alat dengan ketelitian yang sama seperti biasanya, dan matanya tetap fokus tanpa terganggu oleh percakapan di sekitarnya.Baginya, tidak ada perbedaan antara pasien biasa dan pasien penting, karena yang ia lihat hanyalah seorang ibu yang akan melahirkan, dan seora
Di ruang bersalin Aruna Larasati berdiri di dekat meja peralatan dengan gerakan yang terukur dan hati-hati ,tangannya yang ramping bergerak cekatan, menyusun satu per satu alat pemeriksaan dengan ketelitian yang nyaris tanpa cela seolah setiap benda memiliki tempatnya sendiri yang tidak boleh digeser sedikit pun, masker putih masih menutupi setengah wajahnya menyisakan hanya sepasang mata yang tampak tenang di permukaan namun menyimpan sesuatu yang jauh lebih dalam, sesuatu yang tidak mudah dibaca oleh siapa pun ,ia sudah terbiasa mengenakan masker itu sekarang ,bukan hanya karena aturan rumah sakit yang menuntutnya untuk selalu menjaga kebersihan dan sterilisasi, tetapi juga karena alasan lain yang jauh lebih pribadi. Masker itu sebuah perlindungan tipis namun cukup untuk menyembunyikan sebagian dari dirinya dari tatapan orang lain, dari penilaian, dan mungkin dari masa lalu yang tidak pernah benar-benar pergi. Aruna sedang menuliskan jadwal pemeriksaan di papan besar yang tergantun
Malam itu rumah sakit tidak lagi dipenuhi hiruk-pikuk seperti siang hari, dan lorong-lorong panjang yang biasanya sibuk kini hanya menyisakan gema langkah kaki yang sesekali terdengar samar. Lampu-lampu putih tetap menyala terang, tetapi suasananya terasa dingin dan kosong, seolah-olah setiap sudut bangunan itu menyimpan rahasia yang tidak ingin diungkapkan. Di ruang bersalin, Aruna Larasati masih duduk di kursinya ,tubuhnya sedikit condong ke depan, dan tangannya bergerak pelan menyelesaikan laporan terakhir yang harus ia serahkan malam itu ,cahaya dari lampu meja kecil jatuh tepat di atas kertas-kertas yang ia pegang, serta menyorot sebagian wajahnya yang tertutup masker ,napasnya terdengar lebih berat dan bahunya terasa kaku karena kelelahan yang ia tahan sejak pagi ,namun ia tetap memaksakan diri untuk menyelesaikan semuanya dengan rapi, karena baginya pekerjaan adalah satu-satunya hal yang masih bisa ia kendalikan. Setelah menuliskan baris terakhir, Aruna berhenti sejenak ia m







