Share

Batas kesabaran

last update publish date: 2026-04-25 09:46:01
Ruang bersalin itu terasa semakin panas karena ketegangan yang menggantung begitu pekat di udara, seperti kabut yang menyesakkan dada dan perlahan merayap ke dalam pikiran setiap orang yang berada di sana ,suara erangan kembali pecah.

“Aduh… sakit sekali…”

Wanita di atas tempat tidur itu menggeliat, dan tangannya mencengkeram seprai dengan begitu kuat seolah kain itu adalah satu-satunya pegangan yang bisa menahannya dari rasa sakit yang bergulung tanpa ampun ,keringat mulai membasahi pelipis
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Aku ,Target balas dendam CEO   Manusia dari Masa Lalu

    Malam itu, setelah insiden panggilan mendadak di area lounge yang di mana Oxavio hanya meminta Aruna datang tanpa alasan jelas, membiarkannya menunggu selama dua puluh menit, lalu sekadar menanyakan konfirmasi data sepele sebelum mengusirnya kembali membuat suasana hati Aruna hancur berantakan ,rasa kesal bercampur malu karena dilihat oleh rekan-rekan lain yang mengira itu adalah momen romantis, membuat dada Aruna sesak , dan ia tidak bisa kembali ke kamar dengan perasaan seperti itu ,dinding kamar hotel yang sunyi justru akan membuatnya semakin memikirkan betapa terkendalinya hidupnya oleh pria itu ,jadi ketika jadwal pelatihan akhirnya benar-benar selesai tepat waktu pukul sembilan malam, membuat suasana para peserta lebih santai ,Aruna memilih untuk tidak langsung naik ke kamarnya .Beberapa orang memilih kembali ke kamar hotel untuk beristirahat, memanjakan diri dengan kasur empuk dan air panas ,sebagian lagi memanfaatkan waktu luang untuk berjalan-jalan di area hotel yang c

  • Aku ,Target balas dendam CEO   Lagi- lagi

    Hari keenam pelatihan berlangsung cukup lancar ,setidaknya sampai pukul lima sore ,materi hari itu berakhir lebih cepat dari jadwal ,moderator mengumumkan istirahat ,memberikan ruang bagi peserta untuk bersantai sebelum sesi malam yang opsional ,Aruna merasa bisa bernapas lega ,otot-otot bahunya yang tegang mulai melonggar ,ia bahkan sudah merencanakan makan malam tepat waktu hanya itu ,tidak ada ambisi untuk menjadi peserta terbaik demi pujian semu ,tidak ada tugas tambahan yang disembunyikan di balik amplop putih ,ia hanya ingin makan sebelum perutnya kembali protes, menikmati hangatnya sup krim jagung atau steak sederhana tanpa rasa was-was bahwa ponselnya akan berdering memanggilnya kembali ke "penjara" pribadi. "Mbak Aruna!" Sintya muncul sambil membawa tas selempangnya, wajahnya cerah penuh harap. "Mau ikut makan?" Aruna menoleh, melihat senyum tulus rekan barunya itu ,ia tersenyum kecil "Boleh." "Serius?" Sintya tampak tidak percaya, matanya memb

  • Aku ,Target balas dendam CEO   Pelatihan

    Hari pertama pelatihan dimulai ,lokasi pelatihan tahun ini dipilih di sebuah hotel bintang lima di pusat kota, jauh dari hiruk-pikuk koridor rumah sakit tempat Aruna bekerja sehari-hari ,gedung yang megah dengan arsitektur kaca modern itu berdiri kokoh, memancarkan aura eksklusivitas yang jarang dirasakan oleh tenaga kesehatan lini depan ,peserta yang lolos seleksi berasal dari berbagai unit dan bahkan berbagai rumah sakit dalam satu grup kesehatan besar ,ada perawat dari IGD rumah sakit swasta ternama, bidan senior dari puskesmas daerah, hingga tenaga kesehatan dari cabang-cabang lain di kota tetangga. Suasana aula utama cukup ramai, dipenuhi dengung obrolan profesional dan pertukaran kartu nama ,sementara Aruna memilih duduk di barisan tengah, posisi strategis yang tidak terlalu mencolok namun juga tidak tersembunyi ,ia membuka modul pelatihan yang dicetak di atas kertas tebal berlogo emas ,matanya menelusuri kata-kata di atas kertas tanpa benar-benar membacanya ,ia tidak ter

  • Aku ,Target balas dendam CEO   Dalam Jangkauan

    Sejak kejadian dipanggil ke lantai atas beberapa hari lalu, anak-anak praktik seperti menemukan bahan candaan baru yang tak pernah habis ,gosip tentang "panggilan romantis" dari CEO menjadi bumbu harian di ruang VK, mengubah setiap interaksi kecil menjadi peluang untuk menggoda Aruna. "Mbak Aruna." Panggilan itu datang dengan nada bernyanyi, khas Rani yang sedang iseng. "Hm?" Aruna bahkan tidak perlu mengangkat kepala dari laporan kebidanan yang sedang dikerjakannya ,jemarinya terus menari di atas keyboard, fokus pada data pasien. "Cie." Aruna menghela napas pendek, mencoba mengabaikannya. "Cie apa sih?" tanyanya datar, meski sudut bibirnya berkedut sedikit menahan geli. "Cie dipanggil." "Itu kerjaan." Jawab Aruna singkat, matanya tetap tertuju pada layar monitor. "Cie." Rani tidak menyerah ,ia menarik kursi dan duduk bersila di samping meja Aruna, dagunya ditopang tangan, menatap wajah bi

  • Aku ,Target balas dendam CEO   Yang Terlihat dan Yang Sebenarnya (2)

    Aruna sedang memeriksa berkas pasien, matanya menelusuri grafik dengan fokus penuh, ketika seorang staf administrasi menghampiri mejanya ,wajah wanita itu datar, khas pembawa pesan yang tidak ingin terlibat emosi. "Bidan Aruna." Aruna mendongak, pulpen di tangannya berhenti bergerak. "Iya?" "Diminta ke lantai atas " Jantung Aruna langsung mencelos ,sensasi dingin menjalar dari ulu hatinya hingga ke ujung jari-jarinya ,ia bahkan tidak perlu bertanya lantai atas yang mana karena hanya ada satu tempat yang langsung terlintas di pikirannya, sebuah tempat yang selalu diasosiasikannya dengan ketegangan dan kontrol. "Oh, iya." Jawabannya singkat hampir tanpa suara ,Nina yang kebetulan mendengar percakapan itu dari meja sebelahnya langsung mengangkat kepala ,tatapan mereka bertemu ,ada bahasa tubuh yang tersirat di sana seperti sebuah peringatan diam-diam ,Nina mengenal ekspresi itu ,ekspresi yang sudah bisa menebak bahwa sesuatu yang tidak menyenangkan akan terjadi ,bahu Aruna s

  • Aku ,Target balas dendam CEO   Yang Terlihat dan Yang Sebenarnya

    Kegaduhan di ruang VK akhirnya mereda seiring berjalannya waktu, namun gema pertanyaan Rani tentang kebahagiaan seolah masih menggantung tipis di udara, meski tak seorang pun berani mengungkitnya lagi. Aruna memilih untuk membenamkan diri dalam tumpukan berkas, menjadikan kesibukan sebagai tameng terbaik dari rasa hampa yang mulai merayap kembali.Hari-hari pun berlalu seperti biasa ,pergantian shif, suara langkah petugas medis , serta tangisan bayi yang datang silih berganti kembali memenuhi ruang VK ,dan hari ini sejak pagi, ruang VK tidak benar-benar sepi ,udara di ruangan itu bergetar oleh aktivitas . "Mbak Aruna." Panggilan itu datang dari sisi meja, memecah konsentrasi Aruna sesaat. "Hm?" Aruna tidak langsung menoleh ,jemarinya masih menari di atas keyboard, menyelesaikan kalimat terakhir dalam laporan sebelum ia mengalihkan perhatian sepenuhnya. "Kalau saya jadi Mbak, saya kayaknya nggak kuat deh." Aruna yang sedang menulis laporan akhi

  • Aku ,Target balas dendam CEO   Anak-anak Magang

    Hari-hari setelah perayaan kecil di ruang VK itu berlalu dengan cepat ,mungkin karena Aruna terlalu sibuk menjalaninya atau mungkin karena ia tidak lagi menghitung hari hanya untuk bertahan ,beberapa hari terakhir terasa menyenangkan seolah semesta sedang memberinya jeda setelah terlalu lama dipa

  • Aku ,Target balas dendam CEO   Kebiasaan Baru

    Setelah liburnya bersama Nina ,hari hari Aruna berjalan tenang ,entah kebetulan entah memang waktu berpihak padanya ,masa perubahan jadwal yang sempat membuat hidupnya jungkir balik akhirnya benar-benar berakhir.Sejak awal, kebijakan itu memang hanya diberlakukan sebagai masa percobaan selam

  • Aku ,Target balas dendam CEO   perbedaan rasa

    Kali ini setelah beberapa minggu terakhir, Aruna terbangun tanpa suara alarm yang memaksanya beranjak dari tempat tidur ,tidak ada jadwal shift pagi yang harus dikejar ,tidak ada laporan pasien yang menunggu untuk diselesaikan dan yang paling penting tidak ada tubuh yang menggigil karena demam ,p

  • Aku ,Target balas dendam CEO   Istirahat yang Dipaksakan

    Ruang VK masih dipenuhi suara napas berat seorang ibu yang sedang berjuang melewati kontraksi terakhirnya ,Aruna berdiri di sisi ranjang, tangannya menggenggam tangan pasien dengan lembut ,sesekali ia mengusap punggung tangan wanita itu untuk menenangkannya. "Tarik napas pelan, Bu..."

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status