Beranda / Fantasi / Aku bukan Alea / teman di tengah gosip

Share

teman di tengah gosip

Penulis: Rvn
last update Terakhir Diperbarui: 2025-10-20 21:05:51

***

Bel tanda masuk baru saja berbunyi ketika Alea, Clarissa, dan Nayla melangkah menuju kelas, Matahari sudah cukup tinggi, menyinari halaman sekolah yang mulai dipenuhi murid murid dengan berbagai ekspresi dan obrolan pagi. Namun kali ini, Alea bisa merasakan sesuatu yang berbeda tatapan.

Setiap langkah yang ia ambil terasa diperhatikan. Beberapa siswa yang duduk di taman depan menoleh ke arahnya, lalu berbisik bisik dengan ekspresi heran, bahkan tak sedikit yang tersenyum penuh arti.

Alea menegakkan tubuhnya, mencoba bersikap seolah tak terjadi apa apa. Tapi dalam hati, ia bisa merasakan gelombang rasa canggung yang makin lama makin kuat.

"Kayaknya gosipnya udah nyebar ke seluruh sekolah" bisik Nayla pelan, menatap sekelompok siswa yang menatap mereka dari jauh.

Clarissa mengangkat alis. "Ya jelas. Semalam aja satu kota tahu, apalagi anak sekolah"

Alea hanya mengangguk pelan. Ia memang sudah memperkirakan ini akan terjadi. Tapi tetap saja, berada di tengah sorotan sepert
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Aku bukan Alea   bagian dari keluarga

    *** Sesampainya di rumah, baru saja mereka melangkah masuk ketika Luna langsung menyambut mereka. Senyum itu membuat hati Alea terasa mengeras, terlebih saat ia menangkap respon Keenan yang begitu lembut pada Luna sesuatu yang jarang ia tunjukkan. Getir merambat pelan di dada Alea. Tanpa mengucap sepatah kata pun, Alea bergegas meninggalkan mereka dan melangkah cepat menuju kamarnya, seolah tak ingin memperlihatkan apa pun yang sedang bergejolak di dalam hatinya. "Alea kenapa?" tanya Luna. "biarin aja dia lagi sedih" ucap Keenan. "Keenan, untuk pesta sekolah nanti, kamu datang bersama Alea, kan?" tanya Luna, nada suaranya terdengar santai. Keenan meliriknya sekilas. "Kenapa memangnya?" "Enggak apa apa" jawab Luna sambil tersenyum. "Aku cuma pikir kalian pasti akan sangat serasi" Keenan tidak langsung menanggapi. Setelah jeda singkat, ia berkata, "Besok desainer keluarga kami akan datang, Kamu bisa memilih baju yang ingin kamu pakai untuk pesta itu" Mata Luna

  • Aku bukan Alea   tanggung jawab atau keinginanmu?

    "Alea, soal permintaanmu untuk mendapatkan perlindungan dari keluarga kami… apakah itu masih berlaku?" tanya Keenan pelan. "Tentu saja," jawab Alea tanpa ragu. Keenan terdiam sejenak. "Kalau begitu, apa itu berarti suatu hari nanti kamu akan pergi?" Alea tersenyum tipis, pahit. "Bukankah sejak awal aku memang harus pergi?" Keenan buru buru menggeleng. "Bukan, maksudku… kalau kamu ingin tinggal, itu juga tidak masalah" Alea menatap Keenan. Sorot matanya lembut, namun ada kelelahan yang tak bisa ia sembunyikan. "Kamu bilang begitu karena rasa tanggung jawab, atau karena kamu benar benar menginginkannya?" tanyanya pelan. Keenan terdiam. Rahangnya mengeras, pandangannya menjauh sejenak sebelum kembali pada Alea. "Aku tidak akan mengatakan sesuatu yang tidak aku inginkan" Hening menyelimuti mereka. Angin sore berembus pelan, menggerakkan dedaunan di halaman belakang rumah sakit. "Aku tidak ingin menjadi beban" ucap Alea akhirnya. "Kamu bukan beban" sahut Keenan ce

  • Aku bukan Alea   Aku akan berusaha, tapi kamu meremehkanku!!!

    Alea terdiam sendirian di ruang tunggu pasien. Tatapannya kosong, jemarinya saling menggenggam erat hingga memutih. Hingga akhirnya, langkah kaki berhenti di hadapannya. "Aku tidak menyangka kamu bisa sampai sejauh ini, Alea," ucap Dava tenang. Alea mengangkat wajahnya perlahan. Sorot matanya bergetar, namun suaranya terdengar jelas. "Kenapa kakak melakukan itu pada Kak Raihan?" Dava terdiam sejenak. Senyum tipis terukir di sudut bibirnya. "Melakukan apa?" tanyanya santai. "Kamu menuduh kakak?" "Obat yang dikonsumsi Kak Raihan…" suara Alea tercekat, "itu dari kakak, kan?" Dava menyandarkan punggungnya ke dinding, seolah tak merasa bersalah sedikit pun. "Kakak memang memberinya obat, Dia sendiri yang bilang sering sakit kepala," jawabnya ringan. "Tapi kakak tidak pernah menyuruhnya minum terus menerus" Alea kehilangan kata kata. Dadanya terasa sesak. "Jadi," lanjut Dava dingin, "kalau dia sampai seperti itu, itu kesalahannya sendiri" Ia menatap Alea tanpa empa

  • Aku bukan Alea   Retak di keluarga marvelle

    Alea memegang pipinya yang masih terasa perih akibat tamparan itu. Matanya menatap Nyonya Marvelle lurus, tanpa gentar. "Berani sekali kamu menatap mama seperti itu" hardik Nyonya Marvelle tajam. "Mentang mentang di belakangmu ada keluarga Alvarez, kamu jadi berani sama mama?" Alea tersenyum pahit. "Bukankah mama sendiri yang sudah menjualku pada mereka?" suaranya bergetar, namun tegas. "Lalu untuk apa lagi aku menghormati mama?" "Kurang ajar!" bentak Nyonya Marvelle. Alea menghela napas, menahan sesak di dadanya. "Dari pada mama capek capek menghabiskan tenaga pada aku," ucapnya pelan namun menusuk, "lebih baik mama berdoa untuk kesembuhan Kak Raihan" Nyonya Marvelle terdiam. Pandangannya perlahan beralih ke arah ruang ICU, tempat Raihan sedang ditangani. "Seharusnya mama lebih memperhatikan Kak Raihan," lanjut Alea. "Jangan hanya memikirkan perusahaan saja" nyonya marvelle terdiam dia menatap ruang ICU tempat Raihan sedang di tangani. Nyonya Marvelle mengepa

  • Aku bukan Alea   Apartement raihan

    Alea berdiri di depan rumah keluarga Marvelle. Keraguan jelas terpancar di wajahnya, langkahnya tertahan cukup lama di depan gerbang megah itu. Setelah menimbang nimbang beberapa saat, ia akhirnya menguatkan diri dan melangkah masuk. Satpam yang sudah mengenali Alea tidak menghalanginya. Ia justru membuka gerbang dan mempersilahkannya dengan sopan. Begitu masuk, Alea menghampiri salah satu pembantu rumah tangga yang sedang melintas. "Maaf, Kak Raihan ada?” tanya Alea pelan. Pembantu itu menggeleng. "Den Raihan sudah lama nggak pulang, Non Alea. Katanya beliau sekarang tinggal di apartemennya" Alea tercekat mendengar jawaban itu. Jantungnya berdegup sedikit lebih cepat. Tanpa banyak bertanya lagi, Alea berpamitan dan segera meninggalkan rumah keluarga Marvelle. Di dalam perjalanan menuju apartemen Raihan, pikirannya dipenuhi berbagai kemungkinan buruk. Sejak beberapa hari terakhir, Raihan memang sulit dihubungi. Pesan pesannya jarang dibalas, teleponnya sering ta

  • Aku bukan Alea   Tak pantas, Katanya!

    Luna melambaikan tangan begitu matanya menangkap sosok Nolan. Senyum lebar langsung terbit di wajahnya. Nolan pun membalas lambaian itu, tampak sama antusiasnya. "Udah lama nunggu?" tanya Luna sambil menghampirinya. "Baru sampai juga," jawab Nolan ringan. Luna menoleh ke sekeliling. "Kita mau ke mana?" "Cari makan aja, yuk," ajak Luna ceria. Nolan mengangguk. "Ayo. Mau makan apa?" "Yang paling enak, pokoknya," ucap Luna sambil tertawa kecil. Nolan tersenyum tipis, lalu mengajak Luna berjalan berdampingan menuju area parkir. Langkah mereka pelan, seolah tak terburu oleh waktu. "Kalau yang paling enak itu relatif," ujar Nolan sambil melirik Luna. "Tergantung makannya sama siapa" Luna menoleh, sedikit terkejut, lalu terkekeh. "Berarti hari ini harusnya enak, dong" Nolan tak langsung menjawab. Ia membuka pintu mobil untuk Luna, gestur sederhana yang membuat Luna tersenyum lebih lama dari seharusnya. Di dalam mobil, suasana hening sesaat, namun bukan hening yang cangg

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status