LOGINKeesokan paginya, rumah keluarga Alvarez terasa lebih sibuk dari biasanya. Beberapa pelayan mondar mandir sejak pagi, memastikan ruang tamu utama tertata sempurna. Tirai dibuka lebar, cahaya matahari masuk lembut, memantul di lantai marmer yang mengilap. Alea berdiri di depan cermin kamarnya, mengenakan gaun sederhana berwarna krem pucat. Rambutnya di biarkan tergerai rapi, wajahnya tampak tenang. Ketukan pelan terdengar di pintu. "Alea" suara Nenek terdengar lembut. "Desainernya sudah datang" Alea menarik napas pelan sebelum membuka pintu. "Iya, Nek" Saat mereka tiba di ruang tamu, suasana langsung terasa berbeda. Seorang wanita paruh baya dengan penampilan elegan berdiri di tengah ruangan. Rambutnya di sanggul rapi, mengenakan setelan hitam sederhana namun berkelas. Di sampingnya, beberapa asisten membawa tas tas besar berisi kain dan sketsa. "Ini Madame Rielle" ujar Nyonya Alvarez memperkenalkan singkat. "Desainer keluarga kami" Madame Rielle tersenyum rama
*** Sesampainya di rumah, baru saja mereka melangkah masuk ketika Luna langsung menyambut mereka. Senyum itu membuat hati Alea terasa mengeras, terlebih saat ia menangkap respon Keenan yang begitu lembut pada Luna sesuatu yang jarang ia tunjukkan. Getir merambat pelan di dada Alea. Tanpa mengucap sepatah kata pun, Alea bergegas meninggalkan mereka dan melangkah cepat menuju kamarnya, seolah tak ingin memperlihatkan apa pun yang sedang bergejolak di dalam hatinya. "Alea kenapa?" tanya Luna. "biarin aja dia lagi sedih" ucap Keenan. "Keenan, untuk pesta sekolah nanti, kamu datang bersama Alea, kan?" tanya Luna, nada suaranya terdengar santai. Keenan meliriknya sekilas. "Kenapa memangnya?" "Enggak apa apa" jawab Luna sambil tersenyum. "Aku cuma pikir kalian pasti akan sangat serasi" Keenan tidak langsung menanggapi. Setelah jeda singkat, ia berkata, "Besok desainer keluarga kami akan datang, Kamu bisa memilih baju yang ingin kamu pakai untuk pesta itu" Mata Luna
"Alea, soal permintaanmu untuk mendapatkan perlindungan dari keluarga kami… apakah itu masih berlaku?" tanya Keenan pelan. "Tentu saja," jawab Alea tanpa ragu. Keenan terdiam sejenak. "Kalau begitu, apa itu berarti suatu hari nanti kamu akan pergi?" Alea tersenyum tipis, pahit. "Bukankah sejak awal aku memang harus pergi?" Keenan buru buru menggeleng. "Bukan, maksudku… kalau kamu ingin tinggal, itu juga tidak masalah" Alea menatap Keenan. Sorot matanya lembut, namun ada kelelahan yang tak bisa ia sembunyikan. "Kamu bilang begitu karena rasa tanggung jawab, atau karena kamu benar benar menginginkannya?" tanyanya pelan. Keenan terdiam. Rahangnya mengeras, pandangannya menjauh sejenak sebelum kembali pada Alea. "Aku tidak akan mengatakan sesuatu yang tidak aku inginkan" Hening menyelimuti mereka. Angin sore berembus pelan, menggerakkan dedaunan di halaman belakang rumah sakit. "Aku tidak ingin menjadi beban" ucap Alea akhirnya. "Kamu bukan beban" sahut Keenan ce
Alea terdiam sendirian di ruang tunggu pasien. Tatapannya kosong, jemarinya saling menggenggam erat hingga memutih. Hingga akhirnya, langkah kaki berhenti di hadapannya. "Aku tidak menyangka kamu bisa sampai sejauh ini, Alea," ucap Dava tenang. Alea mengangkat wajahnya perlahan. Sorot matanya bergetar, namun suaranya terdengar jelas. "Kenapa kakak melakukan itu pada Kak Raihan?" Dava terdiam sejenak. Senyum tipis terukir di sudut bibirnya. "Melakukan apa?" tanyanya santai. "Kamu menuduh kakak?" "Obat yang dikonsumsi Kak Raihan…" suara Alea tercekat, "itu dari kakak, kan?" Dava menyandarkan punggungnya ke dinding, seolah tak merasa bersalah sedikit pun. "Kakak memang memberinya obat, Dia sendiri yang bilang sering sakit kepala," jawabnya ringan. "Tapi kakak tidak pernah menyuruhnya minum terus menerus" Alea kehilangan kata kata. Dadanya terasa sesak. "Jadi," lanjut Dava dingin, "kalau dia sampai seperti itu, itu kesalahannya sendiri" Ia menatap Alea tanpa empa
Alea memegang pipinya yang masih terasa perih akibat tamparan itu. Matanya menatap Nyonya Marvelle lurus, tanpa gentar. "Berani sekali kamu menatap mama seperti itu" hardik Nyonya Marvelle tajam. "Mentang mentang di belakangmu ada keluarga Alvarez, kamu jadi berani sama mama?" Alea tersenyum pahit. "Bukankah mama sendiri yang sudah menjualku pada mereka?" suaranya bergetar, namun tegas. "Lalu untuk apa lagi aku menghormati mama?" "Kurang ajar!" bentak Nyonya Marvelle. Alea menghela napas, menahan sesak di dadanya. "Dari pada mama capek capek menghabiskan tenaga pada aku," ucapnya pelan namun menusuk, "lebih baik mama berdoa untuk kesembuhan Kak Raihan" Nyonya Marvelle terdiam. Pandangannya perlahan beralih ke arah ruang ICU, tempat Raihan sedang ditangani. "Seharusnya mama lebih memperhatikan Kak Raihan," lanjut Alea. "Jangan hanya memikirkan perusahaan saja" nyonya marvelle terdiam dia menatap ruang ICU tempat Raihan sedang di tangani. Nyonya Marvelle mengepa
Alea berdiri di depan rumah keluarga Marvelle. Keraguan jelas terpancar di wajahnya, langkahnya tertahan cukup lama di depan gerbang megah itu. Setelah menimbang nimbang beberapa saat, ia akhirnya menguatkan diri dan melangkah masuk. Satpam yang sudah mengenali Alea tidak menghalanginya. Ia justru membuka gerbang dan mempersilahkannya dengan sopan. Begitu masuk, Alea menghampiri salah satu pembantu rumah tangga yang sedang melintas. "Maaf, Kak Raihan ada?” tanya Alea pelan. Pembantu itu menggeleng. "Den Raihan sudah lama nggak pulang, Non Alea. Katanya beliau sekarang tinggal di apartemennya" Alea tercekat mendengar jawaban itu. Jantungnya berdegup sedikit lebih cepat. Tanpa banyak bertanya lagi, Alea berpamitan dan segera meninggalkan rumah keluarga Marvelle. Di dalam perjalanan menuju apartemen Raihan, pikirannya dipenuhi berbagai kemungkinan buruk. Sejak beberapa hari terakhir, Raihan memang sulit dihubungi. Pesan pesannya jarang dibalas, teleponnya sering ta







