登入Cerianya suara musik di dalam mobil yang membawanya pulang sama sekali tidak mampu meredam keributan di dalam kepala Ariyan. Sepanjang jalan, percakapan dengan Zivanya dan sebuah nama yang asing itu—Aira—terus terngiang tanpa bisa dihentikan.‘Nggak mungkin!’ batinnya kembali menggelegar, mengulang kalimat sengit yang ia lontarkan beberapa saat lalu. Kalimat penyangkalan yang tadi ia cerca pada Zivanya masih menyisakan rasa panas yang membakar dadanya. Ariyan punya kriteria. Ia tahu seleranya sendiri. Mana mungkin ia pernah menaruh hati pada perempuan yang usianya delapan tahun lebih tua? Semakin keras ia berusaha menepisnya, semakin besar ganjalan di dadanya. Ariyan tidak sabar agar ia bisa sampai di rumah dan bisa menanyakannya langsung pada Zelena mengenai siapa sebenarnya si Aira-Aira itu.Mobil akhirnya berhenti di depan rumah. Ariyan melangkah turun dengan tergesa.“Ma! Mama! Mama di mana?” Ariyan memanggil sembari mencari Zelena ke setiap bagian rumah tersebut.Sepi. Ariyan
"Aku nggak bawa galon air, Ziva. Tapi aku bisa beliin susu untuk Kaisar sekarang kalau kamu izinkan,” ucap Ariyan di sela-sela keterkejutan Zivanya.“Kenapa kamu nekat ke sini?" tanya Zivanya datar setelah berhasil menguasai diri. "Harusnya kamu paham batasan waktu aku bilang 'tidak' di depan rumah tadi.""Maaf kalau kamu terganggu,” jawab Ariyan seraya memperpendek jarak. “Boleh aku duduk?”“Kalau aku bilang nggak boleh, emangnya kamu bakal pergi?”Ariyan terkekeh mendengarnya. Mengabaikan ketidaksukaan mantan istrinya, ia menarik kursi dan menempatkan diri di sana.“Aku ke sini karena ingin tahu kantor kamu. Aku juga ingin tahu sebesar apa kesalahanku dulu sampai kita bercerai.” Ariyan langsung menyampaikan maksud kedatangannya tanpa basa-basi.Ia mengambil jeda sejenak untuk mengetahui tanggapan Zivanya.Perempuan itu hanya diam, menatapnya dengan dingin."Aku lelah merasa seperti orang bodoh di tengah orang-orang yang tahu segalanya tentang aku. Kalau memang dulu aku penyebabnya,
Ariyan memandang ke luar melalui jendela mobil. Setiap ruas jalan yang dilaluinya terasa begitu asing, padahal sang sopir baru saja mengatakan bahwa ini adalah rute yang selalu ia lalui setiap hari. Deretan gedung pencakar langit, papan reklame yang berkedip-kedip, dan hilir mudik kendaraan di sekitarnya terasa bagai potongan gambar dari dunia orang lain. Yang paling menyiksa hatinya bukanlah deretan jalanan yang tak ia kenal ini, melainkan kalimat Zivanya yang terus bergema berulang-ulang di dalam kepalanya. ‘Kamu yang lupa, Ariyan. Tapi aku? Aku mengingat setiap detail rasa sakit yang kamu kasih.’ Ariyan mengepalkan tangannya di atas pangkuan. Nyeri di hatinya kian merambat kencang. Kesalahan sebesar apa yang pernah ia lakukan di masa lalu hingga membuat Zivanya terluka sedemikian dalam? Kenapa ingatan tersebut harus terhapus bersih, sementara rasa cintanya pada wanita itu tetap tinggal dengan utuh di dalam hatinya? "Pak,” panggil Ariyan pada sopirnya sembari menatap pria
Zivanya berharap setelah nanti Abi memberi Seruni nasihat, maminya itu tidak lagi berulah. Memikirkan sikap Seruni membuatnya semakin sakit kepala. Mobil Abi baru saja meluncur keluar dari halaman ketika Zivanya tiba di beranda. Ia lalu masuk ke mobilnya sendiri. Mesin mobil baru saja menyala halus ketika ketukan pelan di kaca jendela mengejutkan Zivanya. Ia menoleh, dan seketika darahnya berdesir. Ariyan berdiri di sana. Lelaki itu membungkukkan badannya agar terlihat oleh Zivanya. Dengan ragu, Zivanya menekan tombol untuk menurunkan kaca mobilnya separuh. "Kok di sini?” Zivanya tidak terpikir pertanyaan lain kecuali yang ia sebut barusan. “Pagi, Ziva.” Ariyan menyapanya dengan senyum tipis menghiasi bibir. Ariyan versi ini benar-benar berbeda dengan Ariyan yang pernah Zivanya kenal. “Pagi,” balas Zivanya kelu. “Mau ke kantor?” Zivanya membalas dengan anggukan. "Biar aku yang antar kamu ke kantor pagi ini.” Zivanya sontak tertawa, merasa tawaran itu sangat kony
Semua yang ada di meja makan refleks memandang pada Kaisar setelah mendengar celetukan anak itu. Zivanya dan Abi terlihat terkejut, tetapi Seruni bersikap biasa saja seolah tidak terjadi apa-apa. Wanita itu dengan santai melanjutkan aktivitasnya mengisi perut, seakan-akan kalimat yang baru saja keluar dari mulut cucunya hanyalah angin lalu. “Kenapa Kai ngomong begitu? Kenapa Ibu nggak boleh nikah sama Ayah?” Zivanya bertanya dengan lembut setelah memiringkan duduk ke arah Kaisar. Kaisar tak seketika menjawab. Ia sempat melirik ominya sebelum akhirnya bicara pada ibunya. "Soalnya, kalau Ibu nikah sama Ayah, nanti Papa sendirian. Nggak ada yang nemenin Papa. Nanti Papa sedih, Papa nangis, terus pergi jauh. Kai nggak bisa ketemu Papa lagi. Kai sayang sama Ayah, tapi Kai juga sayang Papa. Kai takut Papa hilang," jelasnya sambil menahan tangis. "Siapa yang bilang Papa bakal nangis dan pergi jauh, Sayang?" tanya Zivanya selembut mungkin. Kaisar menggelengkan kepalanya cepat-cepat, langs
Sinar matahari pagi yang hangat menerobos masuk melalui celah gorden kamar Kaisar. Bersamaan dengan itu, aroma sabun anak-anak yang wangi tercium samar dari tubuh Kaisar yang baru selesai mandi. Meskipun itu adalah kamarnya, tetapi setiap hari Kaisar tidur dengan ibunya.Seruni duduk di tepi tempat tidur, dengan telaten mengancingkan baju seragam sekolah cucunya satu demi satu. Diusapnya dengan lembut kepala Kaisar seraya menata rambutnya dengan sisir kecil. Kendati sudah berulang kali Zivanya mengatakan bahwa Kaisar bisa berpakaian sendiri, dan jangan dimanja, tetapi Seruni ngotot memasangkannya."Cucu Omi ganteng banget pagi ini," puji Seruni seraya tersenyum manis.Kaisar menyengir memperlihatkan deretan giginya yang putih dan rapi. "Ganteng kayak Papa ya, Omi?”Seruni tentu senang mendengarnya. “Pintarnya cucu Omi. Kai, kan, anak Papa, jadi Kai juga ganteng kayak Papa. Tapi Omi belum tahu nih, Kai itu sebenarnya sayang nggak sih sama Papa?”Kaisar mengangguk tanpa ragu. "Iya, Omi.
Ariyan memacu kendaraannya menembus rintik hujan dengan rahang yang terkatup rapat. Tangannya mencengkeram kemudi dengan kuat saking kesalnya pria itu pada istrinya.Sementara Zivanya memandang dengan sorot kosong ke luar jendela di sisi kirinya, membiarkan lampu-lampu kota yang buram menjadi latar
Lutut Zivanya terasa lemas, seolah sendi-sendinya baru saja dilolosi secara paksa. Di dalam unit apartemen yang sejuk itu, atmosfer mendadak berubah menjadi panas.Matanya tertuju pada Ariyan. Suaminya berdiri dengan napas yang masih sedikit memburu. Jejak peluh yang belum kering di dada lelaki it
Zivanya tidak tahu kapan tepatnya ia tertidur. Yang ia ingat hanya bagaimana ia meringkuk di tempat tidur yang dingin sambil memeluk bantal. Saat cahaya matahari mulai merayap masuk melalui celah tirai yang tidak tertutup rapat, Zivanya mengerjapkan mata. Hal pertama yang ia rasakan adalah tempat
Cahaya dari lampu taman di luar menembus tirai tipis kamar Zivanya, menyinari punggung Ariyan yang sedang bergerak liar di atasnya. Suara napas mereka beradu, berat dan memburu. Zivanya mencengkeram punggung Ariyan. Kukunya sedikit menekan kulit pria itu, mencoba menahan dirinya agar tidak melayang







