LOGINLutut Zivanya terasa lemas, seolah sendi-sendinya baru saja dilolosi secara paksa. Di dalam unit apartemen yang sejuk itu, atmosfer mendadak berubah menjadi panas.
Matanya tertuju pada Ariyan. Suaminya berdiri dengan napas yang masih sedikit memburu. Jejak peluh yang belum kering di dada lelaki itu menceritakan segalanya tanpa perlu sepatah kata pun.
Lalu Zivanya menggeser matanya pada Aira. Zivanya mengedipkan mata, namun pemandangan yang ia lihat tidak berubah. Wanita itu berdiri di depannya, mengenakan lingerie berwarna kulit yang begitu tipis hingga nyaris menyerupai kulit kedua. Kain berpotongan sexy itu membungkus tubuh yang tadi mungkin baru saja didekap mesra oleh suaminya.
Pikiran Zivanya semakin liar. Ia menarik kesimpulan yang paling menyakitkan namun paling logis. Apa lagi yang bisa dilakukan seorang pria bertelanjang dada dan seorang wanita berbalut pakaian tidur transparan di sore hari yang mendung seperti ini jika bukan sedang merayakan gairah?
Zivanya membayangkan bagaimana Ariyan, pria yang selalu terburu-buru saat menyentuhnya di ranjang mereka, justru meledak dalam kelembutan dan hasrat yang meluap saat bersama Aira. Ia membayangkan bibir yang tadi malam mencumbu lehernya, kini membelai kulit Aira dengan penuh cinta. Bagi Zivanya, pemandangan ini adalah konfirmasi bahwa dirinya hanyalah tempat persinggahan biologis, sementara Aira adalah rumah tempat Ariyan pulang dengan seluruh jiwanya.
Bau parfum Aira yang manis bercampur dengan aroma maskulin Ariyan yang khas, menciptakan bau pengkhianatan yang menyesakkan. Prasangka Zivanya mengunci satu kenyataan pahit. Di saat ia sibuk menyusun kata-kata untuk membohongi mertuanya, suaminya justru sibuk menelanjangi wanita lain.
Ariyan terlihat kaget atas kedatangan Zivanya, tapi begitu lihai mengganti ekspresinya.
“Kenapa ke sini?” tanyanya datar. Ia tidak perlu repot-repot meminta maaf karena sejak lama Zivanya mengetahui perselingkuhannya. Tapi bagi Ariyan, hubungannya dengan Aira bukanlah perselingkuhan. Baginya Zivanya adalah orang ketiga yang datang merusak hubungannya dengan Aira.
“Tadi pagi Mama meneleponku. Mama mengajak kita dinner jam 7 nanti.”
“Aku nggak bisa. Aira sakit,” tolak lelaki Itu langsung.
Zivanya ingin tertawa mendengarnya. Ia sedikit memiringkan kepalanya untuk melihat tubuh mungil Aira yang kini berdiri di belakang Ariyan.
“Sakit? Sakit apa? Aku lihat dia baik-baik aja. Aku baru tahu ada orang sakit pakai lingerie.”
Ucapan Zivanya tak pelak membuat Ariyan marah. Ya. Tentu saja ia akan melindungi wanita tercintanya itu. Zivanya sangat paham.
“Jangan asal bicara kamu! Aira memang sakit. Dia bisa bangun dan beraktivitas karena dia bukan manja dan pemalas.”
Perih sekali hati Zivanya mendengarnya. Seolah-olah lelaki itu sedang menyindirnya. Hanya karena Zivanya pernah nyeri haid yang begitu hebat hingga tidak bisa bangun dari tempat tidur, Ariyan menganggapnya wanita manja dan pemalas. Ariyan tidak tahu, atau mungkin tidak mau tahu, bahwa saat itu Zivanya hampir pingsan menahan sakit demi menunggunya pulang membawa obat yang tak kunjung datang.
Zivanya menarik napas dalam, mencoba menenangkan debaran jantungnya yang terasa ngilu. Ia menatap lekat mata dingin suaminya, mencari sisa-sisa kemanusiaan di sana, namun yang ia temukan hanyalah perasaan benci untuknya.
“Aku nggak peduli sesakti apa dia atau seberapa tangguh dia di matamu,” ucap Zivanya berusaha tegar. “Hari ini ulang tahun kamu, Ari. Mama sudah memesan restoran jam tujuh malam untuk kita. Papa juga akan ada di sana. Kamu tahu apa konsekuensinya kalau kamu nggak datang?”
Ariyan mendengkus. Ia masih berdiri tegak melindungi Aira di belakangnya. “Bilang sama mereka aku sibuk. Ada proyek yang bermasalah. Bukankah kamu sudah biasa berbohong untuk menjaga nama baik keluarga kita?”
“Kali ini nggak bisa,” sahut Zivanya cepat. “Mama sudah tahu handphonemu mati. Aku sudah bilang sama Mama kalau kamu di kantor sejak subuh. Kalau kamu nggak datang, Papa dan Mama akan curiga. Aku nggak bisa melindungimu lagi.”
“Nanti aku menyusul. Kamu pergi duluan ke restoran.”
Zivanya menatap suaminya dengan tatapan tak percaya. “Menyusul? Lalu aku harus jawab apa kalau mereka nanya dan curiga kenapa kita datang pisah-pisah di malam ulang tahun kita berdua? Kita tinggal di bawah atap yang sama, Ari. Setidaknya itu yang orang tuamu tahu.”
“Kita ketemu di parkiran restoran. Kamu tunggu aku di sana, lalu kita masuk bersama. Gampang, kan?” Ariyan memberikan solusi yang menurutnya praktis.
Zivanya menggelengkan kepala. “Tetap nggak bisa. Aku takut kalau Mama atau Papa tiba-tiba muncul.”
Ariyan terlihat benar-benar muak pada Zivanya yang masih saja bersikeras dan memaksanya. Ariyan hendak membalas dengan kalimat yang lebih tajam, namun tiba-tiba sebuah tangan halus menyentuh lengannya dengan lembut.
Aira, yang sejak tadi hanya diam mengamati, kini melangkah maju. Wajahnya kini pucat. Entah sungguhan atau hanya polesan. Dan sorot matanya juga redup, menciptakan kesan wanita rapuh yang sangat butuh perlindungan.
“Ari, nggak apa-apa,” ucap wanita berparas manis itu pelan, begitu penuh pengertian. “Kamu pergi sama Ziva. Aku udah baikan kok. Perutku udah nggak sesakit tadi.”
Ariyan memandang Aira dengan sorot yang begitu lembut. Begitu berbeda dengan kemarahan yang ia tunjukkan pada Zivanya. “Tapi kamu masih lemas, Ra. Kamu baru bisa bangun.”
Aira tersenyum tipis. Senyum penuh pengorbanan yang membuat hati Ariyan mencelos. “Aku bisa istirahat sendiri. Hari ini hari ulang tahun kamu. Mama dan Papa pasti berharap kalian merayakannya bersama. Jangan sampai karena aku kamu nggak datang ke sana. Pergilah...”
Aira kemudian menatap Zivanya dan berujar dengan begitu lembut. “Ziva, maaf ya udah ngerepotin sampai jauh-jauh ke sini. Ari Cuma khawatir karena tadi aku tiba-tiba pingsan. Tapi sekarang udah nggak apa-apa kok. Kalian pergi aja.”
Melihat Aira yang begitu mengalah dan pengertian, hati Ariyan semakin membuncah oleh rasa cinta yang meluap. Di matanya, Aira adalah malaikat yang rela menderita demi kebaikannya. Sangat kontras dengan Zivanya yang ia anggap sebagai penuntut dan pengatur hidupnya. Bagi Ariyan, sikap Aira malam ini adalah bukti nyata kenapa wanita ini layak dicintai selamanya. Sementara Zivanya hanyalah gangguan dalam hidupnya.
“Kamu dengar itu? Dia lebih mengerti keadaan daripada kamu yang berstatus sebagai istri,” sindir Ariyan tajam pada Zivanya. Ia kemudian mengecup kening Aira dengan penuh perasaan di depan mata Zivanya. “Aku pergi sebentar. Nanti aku ke sini lagi setelah makan malam formalitas itu selesai. Kamu istirahat ya, Sayang.”
Zivanya menyaksikan pemandangan menyakitkan itu dengan hati yang tidak berbentuk lagi. Dulu teman-teman di kampusnya mengatakan rata-rata anak teknik adalah bajingan. Dan sekarang Zivanya membuktikannya sendiri. Sayangnya Zivanya sangat mencintai bajingan ini.
Aira mengangguk patuh. Ariyan kemudian menyambar kemejanya dan memakainya dengan kasar, mengancingkannya satu per satu hingga menutupi tato nama Aira di dadanya. Namun, meski tato itu tertutup kain, Zivanya tahu bahwa nama itu tetap berdenyut kuat di sana.
“Ayo,” ajak Ariyan dingin tanpa menatap istrinya. Ia melangkah keluar apartemen tanpa menoleh lagi pada Aira, namun Zivanya tahu pikiran suaminya tetap tertinggal di unit 12B itu.
***
Penerbangan dari Santorini menuju Munchen memakan waktu lebih lama dari yang mereka bayangkan, dengan transit singkat di Athena sebelum akhirnya mendarat di Bandara Munchen beberapa jam kemudian. Sepanjang perjalanan, Zivanya memperhatikan Ariyan yang tampak agak gelisah. Matanya sesekali menerawang keluar "Dari tadi aku lihat kamu nggak tenang. Kamu nggak apa-apa?" tanya Zivanya, menggenggam tangan Ariyan. Ariyan menoleh dan memberi senyum tipis. “Harusnya aku yang tanya gitu. Kamu nggak apa-apa? Capek nggak? Mau aku pijitin punggung atau pinggangnya?” “Boleh deh.” Zivanya mengatur posisi agar Ariyan bisa memijitnya. Lelaki itu melakukannya dengan telaten seolah-seolah sudah sangat berpengalaman. Setelah lima jam penerbangan, pendarat yang mereka naiki akhirnya mendarat dengan selamat. Setelah beristirahat di hotel keduanya langsung ke rumah sakit karena sudah membuat janji temu sebelumnya, "Kamu lahir di rumah sakit ini?” tanya Zivanya yang teringat cerita Ariyan s
Angin malam berembus lembut. Sinar bulan terpantul di atas permukaan air laut yang tenang, membiaskan cahaya yang menimpa dinding-dinding bangunan putih khas Yunani. Di tepi balkon, Ariyan berdiri membisu. Ia menyandarkan kedua tangannya di pagar pembatas, menatap lurus ke hamparan samudera yang gelap. Ariyan melamun sangat dalam. Pikiran dan jiwanya seolah terlempar jauh dari keindahan Santorini yang ada di depannya.Zivanya muncul dari dalam. Sejak tadi ia perhatikan Ariyan terus melamun. Ia menatap punggung suaminya dengan perasaan bersalah yang teramat sangat. Hatinya berdenyut nyeri setiap kali melihat heningnya Ariyan. Ia tahu persis apa yang sedang mengganggu pikiran pria itu. Ucapan yang tidak sengaja tadi pasti membuat Ariyan sedih dan insecure. Padahal Ariyan selalu berusaha menjadi suami dan ayah terbaik dengan segala keterbatasannya.Zivanya menelan ludah, mengatur napasnya yang agak berat karena beban perutnya yang membuncit. Dengan langkah perlahan, ia berjalan mendekat
Zivanya terbangun ketika merasakan usapan di perutnya yang kini sudah membola di usia kehamilan enam bulan lebih. Bentuk tubuhnya telah berubah, lekuk keibuannya kian nyata, dan sensitivitas kulitnya meningkat drastis.Ariyan tidur miring sambil memeluknya dari belakang. Dadanya yang bidang menempel ketat di punggung mulus Zivanya, sementara satu tangannya yang besar melingkar posesif, jemarinya terus membelai lembut permukaan perut Zivanya tanpa henti.“Morning, ibunya Kai,” sapa Ariyan dengan suara khas bangun tidur, tepat di tengkuk Zivanya. Ia mendaratkan ciuman-ciuman kecil nan hangat di sepanjang garis leher dan bahu istrinya yang terbuka.Sensasi bibir hangat Ariyan yang menyapu kulit sensitifnya membuat Zivanya meremang. Ia memejamkan mata, memiringkan kepalanya sedikit untuk memberikan akses lebih luas bagi suaminya. “Kamu udah lihat hp? Udah ingat kita di mana?” tanya Zivanya deg-degan. Kondisi memori Ariyan selalu membuatnya khawatir setiap pagi.“Udah,” jawab Ariyan sedik
"Ziva, quickie yuk!" celetuk Ariyan tiba-tiba mengagetkan Zivanya. Ada senyum terkulum di bibirnya bersamaan dengan tatapannya yang seduktif. "Quickie di mana, Ari?" Zivanya sih oke-oke saja. Jangan katakan kalau Ariyan mengajak melakukannya di mobil. Saat itu mereka dalam perjalanan pulang ke rumah usai belanja di mall. "Kita check in di hotel, gimana? Mumpung masih sore." "Astaga, kan bisa di rumah. Kenapa harus di hotel?" Zivanya tertawa merespon ajakan suaminya. "Sensasinya beda, Yang.” “Yang?” Mata Zivanya sontak melebar. “Ayang maksudnya bukan sayang.” Ariyan cepat-cepat meralat sebelum istri cantiknya meledak. “Sama aja sih nggak ada bedanya.” Zivanya menyedapkan tangan di dada dengan ekspresi cemberut. Ariyan tertawa lepas, suara tawanya memenuh kabin mobil yang melaju tenang di jalanan sore. Pria itu sekilas menoleh, memandangi Zivanya. Eksoresi cemberutnya di mata Ariyan terlihat seribu kali lipat lebih menggemaskan. Dengan tangan kirinya yang bebas dari kemudi, A
Minggu-minggu memasuki trimester kedua ternyata tidak semudah yang dibayangkan Zivanya. Jika di bulan-bulan awal ia sempat merasa baik-baik saja, walau ada sedikit mual, kini rasa mual datang lebih sering, terutama di pagi hari, membuat nafsu makannya menurun drastis.Pagi itu Zivanya terbangun dengan perut yang terasa diaduk-aduk. Ia buru-buru berlari kecil ke kamar mandi begitu bangun tidur. Ariyan ikut menyusul dengan sedikit khawatir."Kamu kenapa?" Ariyan berdiri di ambang pintu kamar mandi, mendapati Zivanya berjongkok di depan wastafel, wajahnya pucat sambil sesekali terbatuk kecil."Nggak apa-apa," jawab Zivanya lemah, mengusap sudut bibirnya dengan tisu. "Cuma mual biasa."Ariyan segera berjongkok di samping istrinya, mengusap punggungnya lembut, menyisihkan helai rambut yang menutupi wajah Zivanya. "Biasa gimana? Kamu udah tiga hari ini kayak gini terus. Aku telepon dokter ya?""Nggak usah, Ari. Ini normal kok buat ibu hamil di trimester kedua. Cuma morning sickness yang aga
Matahari pagi menyusup halus melalui celah tirai kamar, membiaskan cahaya keemasan yang hangat. Zivanya mengerjap pelan, menyesuaikan penglihatannya yang masih remang. Hal pertama yang ia rasakan bukanlah udara dingin dari pendingin ruangan, melainkan usapan lembut di atas perutnya."Morning, ibunya Kai," bisik sebuah suara berat dan hangat di samping telinganya. Pasca protes Seruni kala itu, Ariyan belum juga menemukan panggilan yang tepat untuk sang istri.Zivanya menoleh pelan, mendapati Ariyan bertumpu di sampingnya. Tanpa menunggu Zivanya membalas, Ariyan melabuhkan kecupan lembut secara beruntun di dahi, kedua pipi, hidung alis, hingga bibir Zivanya. Hingga membuatnya tertawa geli.“Kok masih di rumah?” protes Zivanya.“Jadi maunya kamu aku ada di mana?”“Di gym. Kehamilan aku bukan halangan buat kamu beraktivitas kayak biasa.”Setelah Zivanya hamil, keluarga menyambut dengan gembira. Ariyan juga lebih sering berada di rumah dan melarang Zivanya ke sekolah musiknya.“Gym bisa na
Ariyan memacu kendaraannya menembus rintik hujan dengan rahang yang terkatup rapat. Tangannya mencengkeram kemudi dengan kuat saking kesalnya pria itu pada istrinya.Sementara Zivanya memandang dengan sorot kosong ke luar jendela di sisi kirinya, membiarkan lampu-lampu kota yang buram menjadi latar
Entah berapa lamanya Zivanya berdiri di depan pintu. Hingga ia tersadar ia tidak mungkin terus mematung di sana. Dengan embusan napas panjang ia terpaksa masuk yang langsung disambut oleh kegelapan. Zivanya sengaja tidak menyalakan lampu. Cahaya terang hanya akan memperlihatkan semua benda-benda
Zivanya tidak tahu kapan tepatnya ia tertidur. Yang ia ingat hanya bagaimana ia meringkuk di tempat tidur yang dingin sambil memeluk bantal. Saat cahaya matahari mulai merayap masuk melalui celah tirai yang tidak tertutup rapat, Zivanya mengerjapkan mata. Hal pertama yang ia rasakan adalah tempat
Cahaya dari lampu taman di luar menembus tirai tipis kamar Zivanya, menyinari punggung Ariyan yang sedang bergerak liar di atasnya. Suara napas mereka beradu, berat dan memburu. Zivanya mencengkeram punggung Ariyan. Kukunya sedikit menekan kulit pria itu, mencoba menahan dirinya agar tidak melayang







