MasukZivanya tidak tahu kapan tepatnya ia tertidur. Yang ia ingat hanya bagaimana ia meringkuk di tempat tidur yang dingin sambil memeluk bantal.
Saat cahaya matahari mulai merayap masuk melalui celah tirai yang tidak tertutup rapat, Zivanya mengerjapkan mata. Hal pertama yang ia rasakan adalah tempat kosong di sebelahnya. Ia meraba sisi ranjang tempat Ariyan biasanya berbaring. Ariyan benar-benar tidak pulang. Zivanya bangkit. Ia melangkah menuju meja rias dan menatap pantulan dirinya di cermin. Di sana, ia melihat seorang wanita yang memiliki segalanya. Kecantikan, status sosial yang tinggi, serta kekayaan yang tidak habis tujuh turunan. Namun, semua itu tidak ada gunanya karena ia tidak pernah bisa memiliki cinta dari suaminya. Ia menyentuh lehernya, di mana tanda kemerahan yang ditinggalkan Ariyan semalam kini tampak lebih gelap. Tanda itu adalah satu-satunya bukti bahwa suaminya pernah berada di sini, mengambil apa yang ia butuhkan, lalu pergi mengejar belahan jiwanya yang lain. “Selamat pagi, Nyonya Ariyan,” bisiknya sedih pada bayangannya sendiri. Tepat di saat ia akan melangkah ke kamar mandi, ponselnya berbunyi. Zivanya sempat berharap itu adalah panggilan dari Ariyan. Mungkin sebuah permintaan maaf singkat atau sekadar kabar bahwa Aira sudah baik-baik saja. Namun, harapannya pupus saat melihat nama yang tertera di layar. Telepon tersebut adalah dari ibu mertuanya, Zelena. Zivanya berdeham, membersihkan tenggorokannya yang keruh sebelum menjawab panggilan tersebut. Ia memaksakan seulas senyum di wajahnya, seolah-olah Zelena bisa melihatnya dari balik telepon. “Halo, Ma. Selamat pagi,” sapa Zivanya. Ia berusaha menjaga suaranya agar terdengar normal. “Pagi, Ziva. Ari mana? Mama telepon dari tadi ponselnya nggak aktif terus. Dia masih tidur? Mama mau ngucapin selamat ulang tahun buat suamimu itu. Kamu nggak lupa, kan, hari ini hari ulang tahun kalian? Selamat ulang tahun buat kalian berdua. Bahagia selalu ya,” suara Zelena terdengar renyah, begitu kontras dengan suasana hati Zivanya yang berantakan. “Terima kasih, Ma,” jawab Zivanya kelu. Entah bagaimana, tapi hari lahirnya dan Ariyan memang sama. Zivanya lalu melirik tempat tidur yang kosong dan dingin. Kebohongan sudah menjadi makanan sehari-harinya. “Ari sudah berangkat ke kantor, Ma. Ada urusan proyek yang sangat mendesak. Kayaknya dia lupa nge-charge handphonenya semalam karena terlalu lelah, jadi sampai sekarang mungkin masih mati,” dusta Zivanya lancar. Zelena terdengar terkejut. “Ke kantor? Jam segini? Ini bahkan belum jam tujuh pagi, Ziva. Sesibuk itukah dia sampai di hari ulang tahunnya sendiri pun harus pergi sepagi itu?” Zivanya memejamkan mata, merasakan perih yang menyengat. Ariyan memang sudah pergi jauh sebelum matahari terbit, tapi bukan ke kantor, melainkan ke dekapan wanita yang lebih membutuhkannya. “Iya, Ma. Ada tender besar yang harus dia urus pagi ini. Katanya dia ingin menyelesaikan semuanya lebih awal supaya nanti malam bisa santai,” Zivanya terus menumpuk kebohongan demi kebohongan. “Duh, Ariyan itu benar-benar persis papanya. Gila kerja. Kalau sudah kerja pasti jadi lupa dunia. Tapi ya sudah, nanti kalau handphonenya sudah aktif atau sudah pulang, suruh dia telepon Mama ya.” “Iya, Ma. Nanti aku sampaikan kalau handphonenya sudah aktif,” jawab Zivanya pelan. “Oh ya, satu lagi, Ziva,” Zelena terdengar antusias di seberang sana. “Mama sudah buat reservasi di restoran untuk nanti malam. Jam tujuh ya? Kita dinner bareng-bareng untuk merayakan ulang tahun kalian. Papa juga sudah kosongkan jadwalnya. Kamu pastikan Ariyan bisa datang ya?” Jantung Zivanya berdegup kencang. Makan malam keluarga. Artinya ia harus bersandiwara lagi di depan mertuanya bahwa hubungannya dan suaminya baik-baik saja. Namun, ia tahu ia tidak punya pilihan untuk menolak. Menolak berarti mengundang pertanyaan, dan pertanyaan adalah hal terakhir yang ia butuhkan saat ini. “Tentu, Ma. Nanti malam jam tujuh ya? Aku dan Ariyan akan datang tepat waktu,” dustanya lagi, kali ini dengan nada yang dipaksakan ceria. “Mama tunggu ya, Sayang. Sampai ketemu nanti malam.” Setelah panggilan berakhir, Zivanya melemparkan ponselnya ke atas ranjang. Ia tertawa getir. Zelena tidak salah. Ariyan memang suka lupa dunia kalau sudah kerja. Hanya saja mertuanya tidak tahu bahwa pekerjaan yang sedang dikerjakan Ariyan saat ini memiliki nama, Aira. Zivanya berdiri mematung di tengah kamar. Undangan ibu mertuanya tentang makan malam ulang tahun terus berdengung, terasa seperti beban tambahan di pundaknya yang teramat lelah. Zivanya melangkah mendekati lemari pakaian di sudut kamar. Dengan tangan yang sedikit gemetar, ia menarik pintu lemari tersebut. Di sana, di balik deretan gaun-gaun mahalnya yang tergantung rapi, tersembunyi sebuah kotak kecil berwarna biru tua dengan pita perak yang elegan. Ia mengambil kotak itu, merasakannya di telapak tangan. Isinya adalah sebuah jam tangan mewah edisi terbatas yang sudah ia pesan sejak tiga bulan lalu. Hadiah yang ia siapkan dengan penuh harapan bahwa saat memberikannya, ia bisa melihat binar apresiasi di mata Ariyan. Zivanya mengusap permukaan kotak itu dengan ibu jarinya. Ia telah menyiapkan segalanya untuk hari ini, namun Ariyan bahkan tidak pulang untuk sekadar mengganti pakaian. “Selamat ulang tahun, Ari,” bisiknya pelan pada dirinya sendiri. Ia teringat betapa antusiasnya ia saat memilih desain jam tangan ini, membayangkan bagaimana benda itu akan melingkar di pergelangan tangan suaminya. Namun sekarang, kado itu terasa asing. Zivanya memasukkan kembali kotak tersebut ke dalam lemari, menyembunyikannya di balik tumpukan pakaian. *** Sepanjang hari, Zivanya terus menghubungi ponsel Ariyan. Satu kali, dua kali, hingga puluhan kali. Namun, suara operator yang terus menjawab memberitahu bahwa nomor tersebut sedang tidak aktif. “Aktifkan ponselmu, Ari. Kumohon,” Zivanya menggumam frustrasi. Ia harus menyampaikan amanat Zelena. Makan malam jam tujuh bukan sekadar undangan, itu adalah titah yang jika dilanggar akan meruntuhkan tembok kebohongan yang ia bangun pagi tadi. Waktu merayap dengan cepat. Hingga pukul empat sore, tanda centang di aplikasi pesannya masih tetap satu. Rasa cemas bercampur amarah mulai mendidih di dada Zivanya. Akhirnya, ia menyambar kunci mobil dan memacu kendaraan menuju kantor pusat Arkhara Construction. Lobi perusahaan itu tampak sibuk, namun Zivanya langsung menuju lantai paling atas. Di depan ruang CEO, ia mendapati Rike, sekretaris setia Ariyan, sedang merapikan berkas. “Sore, Bu,” sapa Rike sopan begitu melihat istri bosnya. “Sore. Bapak ada di dalam?” tanya Zivanya tanpa basa-basi. Wajah Rike menunjukkan keterkejutan yang tidak bisa disembunyikan. “Lho, Ibu? Bapak hari ini tidak masuk kantor, Bu. Beliau membatalkan semua jadwal pagi tadi melalui pesan singkat.” “Tidak masuk?” “Iya, Bu. Semua jadwal hari ini dikosongkan atas permintaan Bapak.” Tanpa menunggu penjelasan lebih lanjut Zivanya segera pergi. Tangannya gemetar saat memegang kemudi. Pikirannya hanya tertuju pada satu tempat. Tempat yang selama ini ia hindari seolah itu adalah lubang neraka. Apartemen Aira. Hujan mulai turun membasahi bumi saat Zivanya berdiri di depan pintu unit 12B. Ia mengambil napas dalam-dalam, mencoba mengumpulkan sisa-sisa harga dirinya sebelum menekan bel. Hanya menunggu beberapa detik, pintu pun terbuka. Dan sosok di hadapannya membuat napas Zivanya tercekat. Aira berdiri di sana. Saudara angkat sekaligus kekasih suaminya itu hanya mengenakan lingerie tipis berwarna senada kulit yang nyaris transparan, hingga memperlihatkan lekuk tubuhnya. Zivanya baru saja hendak membuka mulut saat sebuah suara berat yang sangat ia kenal terdengar dari arah dalam apartemen. “Siapa, Sayang? Kurirnya sudah datang?” Ariyan muncul dari dalam. Ia hanya mengenakan celana pendek tanpa atasan. Kulit dadanya yang bidang terpampang nyata. Dan di sana, tepat di atas jantungnya, tato nama Aira terlihat seolah tertawa penuh kemenangan. ***Malam kian larut. Jarum jam baru saja melewati angka dua dini hari. Zivanya merapatkan selimut yang dibawakan Syabila ke bahunya. Tadi setelah bertengkar dengan Seruni akhirnya ia kembali ke rumah sakit. Semua demi sang ayah. Kalau saja tidak ingat kesehatan Abi, Zivanya tidak akan sudi kembali lagi ke sana.Seruni tampak sudah jauh lebih tenang usai meluapkan tangis dan desakannya pada Zelena di telepon. Seruni percaya penuh bahwa Zelena yang teramat menyayangi Zivanya pasti sanggup membujuk Ariyan dan membuat Zivanya tidak berkutik. Bagi Seruni, masalah ini dianggap selesai. Ia tinggal menunggu besok pagi."Kak Ziva, tidur sebentar yuk. Kakak dari sore belum makan, belum istirahat sama sekali," bujuk Syabila lembut seraya mengusap jemari Zivanya yang sedingin es."Aku nggak bisa tidur. Baru satu detik nutup mata rasanya kayak mau tenggelam.”"Jangan dipikirin omongan Mami tadi ya, Kak,” bujuk Syabila prihatin. Ia tahu betul betapa dalamnya luka yang digoreskan
“Siapa yang nelepon, Ma?”“Seruni.” Zelena menjawab sambil mengunci layar handphone.“Tumben? Bukannya dia lagi sibuk nyiapin pernikahan Ziva?”Embusan napas panjang meluncur dari bibir Zelena sebelum menceritakan detail kejadiannya pada Jeandra.“Harusnya sih begitu. Tapi Ziva nggak jadi nikah.”“Kenapa?”Kaivan selingkuh,” jawab Zelena lirih dengan perasaan sedih dan kasihan. Ia bisa membayangkan betapa hancurnya hati Zivanya saat ini. “Kata siapa?”“Bukan kata siapa, Pa. Tapi Ziva yang melihat sendiri. Tapi yang lebih parah bukan cuma itu. Pak Abi kumat jantungnya setelah tahu.”“Terus gimana keadaannya sekarang?”“Masih di rumah sakit,” jawab Zelena. Ia menatap suaminya dengan pandangan ragu, menimbang-nimbang apakah harus menyampaikan permintaan gila dari Seruni atau tidak.Jeandra yang sudah hafal segala macam gestur dan ekspresi istrinya pun bertanya, “Pasti ada hal lain kan? Nggak mungkin Seruni cuma telepon buat ngabarin Ziva bat
Seruni benar-benar menghubungi Zelena saat itu juga. Panggilan langsung tersambung. Tetapi ia harus menunggu cukup lama sampai Zelena menjawabnya.“Zel, tolongin aku, Zel.” Seruni langsung menangis bahkan sebelum Zelena mengucapkan halo. Tentu saja Zelena terkejut mendengarnya. Seharusnya saat ini Seruni sedang sibuk dan berbahagia menyambut pernikahan putrinya.“Kenapa, Runi? Ada masalah apa?”"Papinya Ziva, Zel. Papinya Ziva,” jawab Seruni terisak. “Kenapa papinya Ziva?” Zelena ikut panik mendengarnya.“Papinya Ziva jantungnya kumat. Aku takut terjadi sesuatu yang buruk!" ratap Seruni histeris, membuat Syabila yang berada di dekatnya hanya bisa menghela napas, tidak sanggup lagi menyaksikan tingkah sang ibu."Astaga, Pak Abi. Terus sekarang gimana keadaannya, Run? Dirawat di rumah sakit mana? Terus Ziva gimana? Ya Tuhan, Ziva...""Ini gara-gara Kaivan bajingan itu. Dia selingkuh! Pernikahan Ziva tiga hari lagi batal t
Zivanya refleks berdiri dari duduknya mendengar ide gila sang mami. Tentu saja perempuan berwajah manis melankolis itu syok mendengarnya. “Mami udah gila atau gimana?” cecarnya marah. Ia sama sekali tidak menyangka maminya akan memberi solusi konyol seperti ini. Ditatapnya Seruni dengan tatapan tidak percaya. “Aku baru aja diselingkuhin Kaivan, Mi. Aku lagi terluka. Dan Papi lagi bertaruh nyawa di dalam sana. Kenapa Mami malah kepikiran hal sekonyol ini?” Seruni ikut berdiri dengan terburu-buru dan membeberkan alasannya. "Mami nggak gila, Ziva. Mami justru mikirin keselamatan Papi kamu. Jantung Papi kumat sampai nggak sadar gara-gara syok mendengar kelakuan laki-laki brengsek itu. Kamu pikir kalau Papi bangun nanti dan tahu acaranya tiga beneran batal total, keluarga kita jadi bahan cemoohan, dan kamu jadi olok-olokan, jantungnya bakal kuat menahan syok untuk kedua kali? Papi kamu bisa lewat, Ziva!" "Tapi bukan berarti harus numbalin aku ke Ariyan, Mi!" balas Ziv
Kaivan membiarkan dirinya dihina, ditampar dan dimaki-maki. Ia memang berhak menerima ini dan diperlakukan seperti sampah oleh wanita yang hampir menjadi ibu mertuanya itu. Rasa panas menyengat di kedua pipinya, perih di rahangnya, sama sekali tidak ia hiraukan. Rasa sakit fisik itu tidak ada seujung kuku dibanding perasaan malu dan sakit hati yang ditanggung Zivanya dan keluarganya. "Tante, pukul saja saya lagi. Silakan tampar saya kalau itu bisa mengurangi sedikit saja rasa sakit hati Tante.” "Kamu pikir tamparan saya bisa membayar nyawa suami saya, hah?!" jerit Seruni keras. Wanita itu hendak kembali mengayunkan tangannya, tetapi dua orang petugas keamanan rumah sakit yang berlari cepat dari ujung lorong langsung menahan tubuh Seruni secara sigap. "Ibu, mohon tenang, Bu. Jangan buat keributan di sini," kata salah satu satpam. Syabila dengan cepat ikut merangkul tubuh ibunya dari samping. "Mami, udah, Mi. Aku mohon jangan bikin kehebohan di sini. Kasihan Papi di dalam.” Seruni
“Masih berani kamu menghubungi saya? Suami saya hampir mati gara-gara kamu, bajingan!" Seruni langsung mencaci maki Kaivan sebelum lelaki itu sempat memberi sapaan. “Kamu pikir kamu siapa berani-beraninya mempermainkan anak saya? Kalau sampai terjadi sesuatu yang lebih buruk pada suami saya, kamu harus tanggung jawab! Saya nggak akan pernah membiarkan kamu lepas!”Di seberang telepon Kaivan tercengang. Ia tahu setelah pembatalan rencana pernikahan pasti akan mendapat serangan. Yang tidak Kaivan duga Seruni mengaitkannya dengan Abi.“Om kenapa, Tante?” suara Kaivan terdengar terperanjat dari balik ponsel.“Masih berani kamu nanya kenapa, hah?!” bentak Seruni dengan intonasi suara semakin tinggi. "Gara-gara kamu penyakit jantung suami saya kumat! Dia pingsan dan sekarang terbaring kritis di rumah sakit!"Lidah Kaivan mendadak kelu. Pria itu menyandarkan tubuhnya di dinding. Ia tidak pernah membayangkan bahwa dampaknya akan menyeret nyawa pria paruh baya yang teramat dihormatinya."Tan
Cahaya dari lampu taman di luar menembus tirai tipis kamar Zivanya, menyinari punggung Ariyan yang sedang bergerak liar di atasnya. Suara napas mereka beradu, berat dan memburu. Zivanya mencengkeram punggung Ariyan. Kukunya sedikit menekan kulit pria itu, mencoba menahan dirinya agar tidak melayang
Entah berapa lamanya Zivanya berdiri di depan pintu. Hingga ia tersadar ia tidak mungkin terus mematung di sana. Dengan embusan napas panjang ia terpaksa masuk yang langsung disambut oleh kegelapan. Zivanya sengaja tidak menyalakan lampu. Cahaya terang hanya akan memperlihatkan semua benda-benda
Hati Zivanya yang telah hancur semakin tidak ada bentuknya lagi. Ia tahu Ariyan adalah laki-laki brengsek. Tapi tidak sedikit pun terlintas di pikirannya ide gila itu akan terlontar dari bibir Ariyan.Pria ini memintanya mematikan fungsi rahimnya secara permanen hanya demi kenyamanan perselingkuhan
Ariyan memacu kendaraannya menembus rintik hujan dengan rahang yang terkatup rapat. Tangannya mencengkeram kemudi dengan kuat saking kesalnya pria itu pada istrinya.Sementara Zivanya memandang dengan sorot kosong ke luar jendela di sisi kirinya, membiarkan lampu-lampu kota yang buram menjadi latar







