Share

Part 2

last update publish date: 2026-04-17 15:15:03

Zivanya tidak tahu kapan tepatnya ia tertidur. Yang ia ingat hanya bagaimana ia meringkuk di tempat tidur yang dingin sambil memeluk bantal.

​Saat cahaya matahari mulai merayap masuk melalui celah tirai yang tidak tertutup rapat, Zivanya mengerjapkan mata. Hal pertama yang ia rasakan adalah tempat kosong di sebelahnya. Ia meraba sisi ranjang tempat Ariyan biasanya berbaring. Ariyan benar-benar tidak pulang.

​Zivanya bangkit. Ia melangkah menuju meja rias dan menatap pantulan dirinya di cermin. Di sana, ia melihat seorang wanita yang memiliki segalanya. Kecantikan, status sosial yang tinggi, serta kekayaan yang tidak habis tujuh turunan. Namun, semua itu tidak ada gunanya karena ia tidak pernah bisa memiliki cinta dari suaminya.

​Ia menyentuh lehernya, di mana tanda kemerahan yang ditinggalkan Ariyan semalam kini tampak lebih gelap. Tanda itu adalah satu-satunya bukti bahwa suaminya pernah berada di sini, mengambil apa yang ia butuhkan, lalu pergi mengejar belahan jiwanya yang lain.

​“Selamat pagi, Nyonya Ariyan,” bisiknya sedih pada bayangannya sendiri.

Tepat di saat ia akan melangkah ke kamar mandi, ponselnya berbunyi. Zivanya sempat berharap itu adalah panggilan dari Ariyan. Mungkin sebuah permintaan maaf singkat atau sekadar kabar bahwa Aira sudah baik-baik saja. Namun, harapannya pupus saat melihat nama yang tertera di layar.

Telepon tersebut adalah dari ibu mertuanya, Zelena.

Zivanya berdeham, membersihkan tenggorokannya yang keruh sebelum menjawab panggilan tersebut. Ia memaksakan seulas senyum di wajahnya, seolah-olah Zelena bisa melihatnya dari balik telepon.

​“Halo, Ma. Selamat pagi,” sapa Zivanya. Ia berusaha menjaga suaranya agar terdengar normal.

​“Pagi, Ziva. Ari mana? Mama telepon dari tadi ponselnya nggak aktif terus. Dia masih tidur? Mama mau ngucapin selamat ulang tahun buat suamimu itu. Kamu nggak lupa, kan, hari ini hari ulang tahun kalian? Selamat ulang tahun buat kalian berdua. Bahagia selalu ya,”​ suara Zelena terdengar renyah, begitu kontras dengan suasana hati Zivanya yang berantakan.

“Terima kasih, Ma,” jawab Zivanya kelu. Entah bagaimana, tapi hari lahirnya dan Ariyan memang sama. ​Zivanya lalu melirik tempat tidur yang kosong dan dingin. Kebohongan sudah menjadi makanan sehari-harinya.

​“Ari sudah berangkat ke kantor, Ma. Ada urusan proyek yang sangat mendesak. Kayaknya dia lupa nge-charge handphonenya semalam karena terlalu lelah, jadi sampai sekarang mungkin masih mati,” dusta Zivanya lancar.

​Zelena terdengar terkejut. “Ke kantor? Jam segini? Ini bahkan belum jam tujuh pagi, Ziva. Sesibuk itukah dia sampai di hari ulang tahunnya sendiri pun harus pergi sepagi itu?”

​Zivanya memejamkan mata, merasakan perih yang menyengat. Ariyan memang sudah pergi jauh sebelum matahari terbit, tapi bukan ke kantor, melainkan ke dekapan wanita yang lebih membutuhkannya.

​“Iya, Ma. Ada tender besar yang harus dia urus pagi ini. Katanya dia ingin menyelesaikan semuanya lebih awal supaya nanti malam bisa santai,” Zivanya terus menumpuk kebohongan demi kebohongan.

​“Duh, Ariyan itu benar-benar persis papanya. Gila kerja. Kalau sudah kerja pasti jadi lupa dunia. Tapi ya sudah, nanti kalau handphonenya sudah aktif atau sudah pulang, suruh dia telepon Mama ya.”

​“Iya, Ma. Nanti aku sampaikan kalau handphonenya sudah aktif,” jawab Zivanya pelan.

​“Oh ya, satu lagi, Ziva,” Zelena terdengar antusias di seberang sana. “Mama sudah buat reservasi di restoran untuk nanti malam. Jam tujuh ya? Kita dinner bareng-bareng untuk merayakan ulang tahun kalian. Papa juga sudah kosongkan jadwalnya. Kamu pastikan Ariyan bisa datang ya?”

​Jantung Zivanya berdegup kencang. Makan malam keluarga. Artinya ia harus bersandiwara lagi di depan mertuanya bahwa hubungannya dan suaminya baik-baik saja. Namun, ia tahu ia tidak punya pilihan untuk menolak. Menolak berarti mengundang pertanyaan, dan pertanyaan adalah hal terakhir yang ia butuhkan saat ini.

​“Tentu, Ma. Nanti malam jam tujuh ya? Aku dan Ariyan akan datang tepat waktu,” dustanya lagi, kali ini dengan nada yang dipaksakan ceria.

​“Mama tunggu ya, Sayang. Sampai ketemu nanti malam.”

​Setelah panggilan berakhir, Zivanya melemparkan ponselnya ke atas ranjang. Ia tertawa getir. Zelena tidak salah. Ariyan memang suka lupa dunia kalau sudah kerja. Hanya saja mertuanya tidak tahu bahwa pekerjaan yang sedang dikerjakan Ariyan saat ini memiliki nama, Aira.

Zivanya berdiri mematung di tengah kamar. Undangan ibu mertuanya tentang makan malam ulang tahun terus berdengung, terasa seperti beban tambahan di pundaknya yang teramat lelah.

​Zivanya melangkah mendekati lemari pakaian di sudut kamar. Dengan tangan yang sedikit gemetar, ia menarik pintu lemari tersebut. Di sana, di balik deretan gaun-gaun mahalnya yang tergantung rapi, tersembunyi sebuah kotak kecil berwarna biru tua dengan pita perak yang elegan.

​Ia mengambil kotak itu, merasakannya di telapak tangan. Isinya adalah sebuah jam tangan mewah edisi terbatas yang sudah ia pesan sejak tiga bulan lalu. Hadiah yang ia siapkan dengan penuh harapan bahwa saat memberikannya, ia bisa melihat binar apresiasi di mata Ariyan.

​Zivanya mengusap permukaan kotak itu dengan ibu jarinya. Ia telah menyiapkan segalanya untuk hari ini, namun Ariyan bahkan tidak pulang untuk sekadar mengganti pakaian.

​“Selamat ulang tahun, Ari,” bisiknya pelan pada dirinya sendiri.

​Ia teringat betapa antusiasnya ia saat memilih desain jam tangan ini, membayangkan bagaimana benda itu akan melingkar di pergelangan tangan suaminya. Namun sekarang, kado itu terasa asing. Zivanya memasukkan kembali kotak tersebut ke dalam lemari, menyembunyikannya di balik tumpukan pakaian.

***

Sepanjang hari, Zivanya terus menghubungi ponsel Ariyan. Satu kali, dua kali, hingga puluhan kali. Namun, suara operator yang terus menjawab memberitahu bahwa nomor tersebut sedang tidak aktif.

​“Aktifkan ponselmu, Ari. Kumohon,” Zivanya menggumam frustrasi. Ia harus menyampaikan amanat Zelena. Makan malam jam tujuh bukan sekadar undangan, itu adalah titah yang jika dilanggar akan meruntuhkan tembok kebohongan yang ia bangun pagi tadi.

​Waktu merayap dengan cepat. Hingga pukul empat sore, tanda centang di aplikasi pesannya masih tetap satu. Rasa cemas bercampur amarah mulai mendidih di dada Zivanya. Akhirnya, ia menyambar kunci mobil dan memacu kendaraan menuju kantor pusat Arkhara Construction.

​Lobi perusahaan itu tampak sibuk, namun Zivanya langsung menuju lantai paling atas. Di depan ruang CEO, ia mendapati Rike, sekretaris setia Ariyan, sedang merapikan berkas.

“Sore, Bu,” sapa Rike sopan begitu melihat istri bosnya.

​“Sore. Bapak ada di dalam?” tanya Zivanya tanpa basa-basi.

​Wajah Rike menunjukkan keterkejutan yang tidak bisa disembunyikan. “Lho, Ibu? Bapak hari ini tidak masuk kantor, Bu. Beliau membatalkan semua jadwal pagi tadi melalui pesan singkat.”

​“Tidak masuk?”

“Iya, Bu. Semua jadwal hari ini dikosongkan atas permintaan Bapak.”

Tanpa menunggu penjelasan lebih lanjut Zivanya segera pergi. Tangannya gemetar saat memegang kemudi. Pikirannya hanya tertuju pada satu tempat. Tempat yang selama ini ia hindari seolah itu adalah lubang neraka. Apartemen Aira.

​Hujan mulai turun membasahi bumi saat Zivanya berdiri di depan pintu unit 12B. Ia mengambil napas dalam-dalam, mencoba mengumpulkan sisa-sisa harga dirinya sebelum menekan bel.

​Hanya menunggu beberapa detik, pintu pun terbuka. Dan sosok di hadapannya membuat napas Zivanya tercekat.

​Aira berdiri di sana. Saudara angkat sekaligus kekasih suaminya itu hanya mengenakan lingerie tipis berwarna senada kulit yang nyaris transparan, hingga memperlihatkan lekuk tubuhnya.

​Zivanya baru saja hendak membuka mulut saat sebuah suara berat yang sangat ia kenal terdengar dari arah dalam apartemen.

​“Siapa, Sayang? Kurirnya sudah datang?”

​Ariyan muncul dari dalam. Ia hanya mengenakan celana pendek tanpa atasan. Kulit dadanya yang bidang terpampang nyata. Dan di sana, tepat di atas jantungnya, tato nama Aira terlihat seolah tertawa penuh kemenangan.

***

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (4)
goodnovel comment avatar
Trilasiah
sanggup gak yaa nerusin bacaan nya thor ,,, nyesek banget jadi istrinya
goodnovel comment avatar
Nina Tantina
Suami kaya gini sih buang aj ke laut
goodnovel comment avatar
Duryati Duryati
kelakuan si Ariyan lebih parah dari Jeandra.. harusnya Zivanya jangan diam saja dong,lawan laki dzolim kyk Ariyan
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Aku yang Tidak Pernah Ada di Hatimu   Part 423

    Zivanya terbangun ketika merasakan usapan di perutnya yang kini sudah membola di usia kehamilan enam bulan lebih. Bentuk tubuhnya telah berubah, lekuk keibuannya kian nyata, dan sensitivitas kulitnya meningkat drastis.Ariyan tidur miring sambil memeluknya dari belakang. Dadanya yang bidang menempel ketat di punggung mulus Zivanya, sementara satu tangannya yang besar melingkar posesif, jemarinya terus membelai lembut permukaan perut Zivanya tanpa henti.“Morning, ibunya Kai,” sapa Ariyan dengan suara khas bangun tidur, tepat di tengkuk Zivanya. Ia mendaratkan ciuman-ciuman kecil nan hangat di sepanjang garis leher dan bahu istrinya yang terbuka.Sensasi bibir hangat Ariyan yang menyapu kulit sensitifnya membuat Zivanya meremang. Ia memejamkan mata, memiringkan kepalanya sedikit untuk memberikan akses lebih luas bagi suaminya. “Kamu udah lihat hp? Udah ingat kita di mana?” tanya Zivanya deg-degan. Kondisi memori Ariyan selalu membuatnya khawatir setiap pagi.“Udah,” jawab Ariyan sedik

  • Aku yang Tidak Pernah Ada di Hatimu   Part 422

    "Ziva, quickie yuk!" celetuk Ariyan tiba-tiba mengagetkan Zivanya. Ada senyum terkulum di bibirnya bersamaan dengan tatapannya yang seduktif. "Quickie di mana, Ari?" Zivanya sih oke-oke saja. Jangan katakan kalau Ariyan mengajak melakukannya di mobil. Saat itu mereka dalam perjalanan pulang ke rumah usai belanja di mall. "Kita check in di hotel, gimana? Mumpung masih sore." "Astaga, kan bisa di rumah. Kenapa harus di hotel?" Zivanya tertawa merespon ajakan suaminya. "Sensasinya beda, Yang.” “Yang?” Mata Zivanya sontak melebar. “Ayang maksudnya bukan sayang.” Ariyan cepat-cepat meralat sebelum istri cantiknya meledak. “Sama aja sih nggak ada bedanya.” Zivanya menyedapkan tangan di dada dengan ekspresi cemberut. Ariyan tertawa lepas, suara tawanya memenuh kabin mobil yang melaju tenang di jalanan sore. Pria itu sekilas menoleh, memandangi Zivanya. Eksoresi cemberutnya di mata Ariyan terlihat seribu kali lipat lebih menggemaskan. Dengan tangan kirinya yang bebas dari kemudi, A

  • Aku yang Tidak Pernah Ada di Hatimu   Part 421

    Minggu-minggu memasuki trimester kedua ternyata tidak semudah yang dibayangkan Zivanya. Jika di bulan-bulan awal ia sempat merasa baik-baik saja, walau ada sedikit mual, kini rasa mual datang lebih sering, terutama di pagi hari, membuat nafsu makannya menurun drastis.Pagi itu Zivanya terbangun dengan perut yang terasa diaduk-aduk. Ia buru-buru berlari kecil ke kamar mandi begitu bangun tidur. Ariyan ikut menyusul dengan sedikit khawatir."Kamu kenapa?" Ariyan berdiri di ambang pintu kamar mandi, mendapati Zivanya berjongkok di depan wastafel, wajahnya pucat sambil sesekali terbatuk kecil."Nggak apa-apa," jawab Zivanya lemah, mengusap sudut bibirnya dengan tisu. "Cuma mual biasa."Ariyan segera berjongkok di samping istrinya, mengusap punggungnya lembut, menyisihkan helai rambut yang menutupi wajah Zivanya. "Biasa gimana? Kamu udah tiga hari ini kayak gini terus. Aku telepon dokter ya?""Nggak usah, Ari. Ini normal kok buat ibu hamil di trimester kedua. Cuma morning sickness yang aga

  • Aku yang Tidak Pernah Ada di Hatimu   Part 420

    Matahari pagi menyusup halus melalui celah tirai kamar, membiaskan cahaya keemasan yang hangat. Zivanya mengerjap pelan, menyesuaikan penglihatannya yang masih remang. Hal pertama yang ia rasakan bukanlah udara dingin dari pendingin ruangan, melainkan usapan lembut di atas perutnya."Morning, ibunya Kai," bisik sebuah suara berat dan hangat di samping telinganya. Pasca protes Seruni kala itu, Ariyan belum juga menemukan panggilan yang tepat untuk sang istri.Zivanya menoleh pelan, mendapati Ariyan bertumpu di sampingnya. Tanpa menunggu Zivanya membalas, Ariyan melabuhkan kecupan lembut secara beruntun di dahi, kedua pipi, hidung alis, hingga bibir Zivanya. Hingga membuatnya tertawa geli.“Kok masih di rumah?” protes Zivanya.“Jadi maunya kamu aku ada di mana?”“Di gym. Kehamilan aku bukan halangan buat kamu beraktivitas kayak biasa.”Setelah Zivanya hamil, keluarga menyambut dengan gembira. Ariyan juga lebih sering berada di rumah dan melarang Zivanya ke sekolah musiknya.“Gym bisa na

  • Aku yang Tidak Pernah Ada di Hatimu   Part 419

    Poli kandungan pagi itu tumben tidak terlalu ramai. Hanya ada beberapa pasangan lain yang duduk berjarak di ruang tunggu dengan ekspresi beragam. Ada yang gugup, ada yang sumringah, mengingatkan Ariyan pada dirinya sendiri yang sejak tadi tidak bisa duduk tenang.“Ari, kamu dari tadi mainin kunci mobil terus. Gelisah amat,” tegur Zivanya pelan, menahan tawa melihat kegelisahan suaminya.Ariyan buru-buru memasukkan kunci mobil ke saku celananya. “Maaf, kebiasaan kalau lagi deg-degan.”“Deg-degan kenapa? Kita, kan, cuma mau USG.”“Justru itu. Ini pertama kalinya kita ngeliat langsung buktinya sejak kamu kasih tahu aku. Testpack kemarin cuma garis merah dan biru, tapi ini bakal keliatan beneran dia ada di dalam sana.”Zivanya menggenggam tangan suaminya, meremasnya lembut sebagai bentuk penenangan tanpa kata. Ia mencoba memaklumi ini adalah momen pertama Ariyan setelah Kaisar yang dulu disia-siakannya. Zivanya sendiri tidak kalah berdebar, meski berusaha tampil lebih tenang demi menenang

  • Aku yang Tidak Pernah Ada di Hatimu   Part 418

    Pagi itu, sebelum alarm ponsel Zivanya sempat berbunyi, Ariyan sudah lebih dulu terjaga. Ia berbaring miring, menatap wajah istrinya yang masih terlelap dengan napas teratur. Tangannya sesekali bergerak pelan mengusap perut Zivanya yang masih rata. Ia masih takjub oleh kehidupan kecil yang kini tumbuh di sana. Dikecupnya kening Zivanya dengan lembut bergantian dengan perut putih mulusnya. Perlahan-lahan Ariyan bangkit dari ranjang tanpa menimbulkan suara, berusaha keras agar tidak membangunkan Zivanya lebih cepat dari rencananya. Ia melangkah menuju dapur, mengenakan kaus polos dan celana rumah seadanya, namun semangatnya pagi itu jauh lebih menyala dari biasanya. "Bi Inah," panggilnya setelah sampai di dapur, mendapati asisten rumah tangganya sedang sibuk menyiapkan sarapan seperti biasa. "Pagi ini biar saya yang siapin sarapan buat Bu Ziva. Bi Inah bantuin kerjain yang lain aja.” Bi Inah mengangguk sedikit heran, namun tidak bertanya lebih jauh, hanya tersenyum melihat semangat

  • Aku yang Tidak Pernah Ada di Hatimu   Part 5

    Hati Zivanya yang telah hancur semakin tidak ada bentuknya lagi. Ia tahu Ariyan adalah laki-laki brengsek. Tapi tidak sedikit pun terlintas di pikirannya ide gila itu akan terlontar dari bibir Ariyan.Pria ini memintanya mematikan fungsi rahimnya secara permanen hanya demi kenyamanan perselingkuhan

  • Aku yang Tidak Pernah Ada di Hatimu   Part 4

    Ariyan memacu kendaraannya menembus rintik hujan dengan rahang yang terkatup rapat. Tangannya mencengkeram kemudi dengan kuat saking kesalnya pria itu pada istrinya.Sementara Zivanya memandang dengan sorot kosong ke luar jendela di sisi kirinya, membiarkan lampu-lampu kota yang buram menjadi latar

  • Aku yang Tidak Pernah Ada di Hatimu   Part 3

    Lutut Zivanya terasa lemas, seolah sendi-sendinya baru saja dilolosi secara paksa. Di dalam unit apartemen yang sejuk itu, atmosfer mendadak berubah menjadi panas.​Matanya tertuju pada Ariyan. Suaminya berdiri dengan napas yang masih sedikit memburu. Jejak peluh yang belum kering di dada lelaki it

  • Aku yang Tidak Pernah Ada di Hatimu   Part 1

    Cahaya dari lampu taman di luar menembus tirai tipis kamar Zivanya, menyinari punggung Ariyan yang sedang bergerak liar di atasnya. Suara napas mereka beradu, berat dan memburu. Zivanya mencengkeram punggung Ariyan. Kukunya sedikit menekan kulit pria itu, mencoba menahan dirinya agar tidak melayang

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status