Compartilhar

Part 4

last update Data de publicação: 2026-04-17 15:16:28

Ariyan memacu kendaraannya menembus rintik hujan dengan rahang yang terkatup rapat. Tangannya mencengkeram kemudi dengan kuat saking kesalnya pria itu pada istrinya.

Sementara Zivanya memandang dengan sorot kosong ke luar jendela di sisi kirinya, membiarkan lampu-lampu kota yang buram menjadi latar belakang kehancuran hatinya.

​“Kalau kamu cemberut terus, kamulah yang membuat Mama Papa curiga,” desis Ariyan saat mobil memasuki area parkir restoran fine dining tempat makan malam mereka.

​Zivanya tidak menjawab. Ia memoles ulang lipstik merahnya, menutupi pucat di bibirnya.

​Ariyan turun lebih dulu. Ia memutari mobil lalu membukakan pintu dan mengulurkan tangannya. Zivanya menyambut uluran tangan Ariyan. Ia menyunggingkan senyum tercantik yang pernah ia miliki, dan membiarkan Ariyan merangkulnya dengan mesra memasuki restoran.

​Di meja bundar besar yang terletak di area privat, empat sosok penting sudah menunggu. Jeandra dan Zelena  yang adalah orang tua Ariyan. Serta Abi dan Seruni, orang tua Zivanya. Kehadiran dua keluarga konglomerat tersebut membuat atmosfer ruangan terasa sangat prestisius.

​“Selamat ulang tahun, jagoan Papa!” Jeandra bangkit dan menepuk bahu putranya dengan bangga.

​“Selamat ulang tahun untuk kalian berdua, Sayang,” Zelena mengecup kedua pipi Ariyan lalu pindah pada Zivanya.

“Makasih, Ma, Pa,” Ariyan membalas dengan memeluk keduanya dan memberi senyum pada mereka.

Mertua Ariyan ikut memberi selamat dan mendekapnya.

Zivanya membiarkan tubuhnya dipeluk bergantian oleh orang tuanya dan menjawab ucapan selamat dan harapan yang mereka ucapkan dengan senyum tipis.

“Kalian ini pasangan unik yang lahir di tanggal dan bulan yang sama. Benar-benar jodoh yang digariskan Tuhan,” komentar Seruni.

Zivanya hanya bisa tersenyum kaku. Hari ini i seharusnya menjadi momen paling romantis dalam hidup mereka. Dua jiwa yang merayakan kelahiran di hari yang sama. Namun, alih-alih romantis, mereka bahkan tidak saling memberi selamat. Andai mereka tidak lahir di hari yang sama, Zivanya yakin Ariyan tidak tahu kapan dirinya lahir.

​“Papa harap kamu selalu sabar mendampingi Ariyan. Memiliki pasangan yang lahir di hari yang sama itu artinya kalian harus bisa saling melengkapi, seperti dua sisi koin yang tak terpisahkan,” kata Jeandra menimpali.

“Iya, Pa,” jawab Ariyan sekenanya. Sedangkan Zivanya hanya mengangguk tanpa suara.

Satu per satu kado diberikan. Makan malam berlangsung dengan penuh canda dan tawa. Mereka berbincang seputar kehidupan sehari-hari sampai pekerjaan. Juga membicarakan kesehatan Abi yang beberapa bulan belakangan terserang penyakit jantung.

​Hingga percakapan bergulir pada topik paling sensitif.

Seruni meletakkan sendoknya dan menatap putrinya dengan binar penuh harap. ​“Jadi, Ari, Ziva, pernikahan kalian sudah jalan satu tahun lebih sedikit. Jadi kapan kami semua jadi nenek dan kakek?”

​Pertanyaan ibunya seketika membuat kerongkongan Zivanya terasa seperti tersumbat duri. Ia merasakan sebelah tangan Ariyan yang menggenggamnya di bawah meja mengerat. Bukan karena sayang, tapi karena tegang.

​“Iya lho,” timpal Zelena antusias. “Kemarin Mama iseng melihat-lihat perlengkapan bayi. Mama kangen pengen dengar tangis bayi.”

Ariyan berdeham lalu buru-buru menyesap minumannya. Ia paham kerinduan ibunya. Sebab dirinya adalah anak tunggal dan kesayangan.

​Zivanya menunduk, menatap piringnya yang masih menyisakan potongan wagyu. Bagaimana bisa hamil?

​Ia teringat malam-malam di mana Ariyan menyentuhnya dengan dingin. Dan setiap kali selesai, pria itu hampir selalu menanyakan hari ini pilnya sudah kamu minum? Aku belum siap punya anak. Itu adalah kalimat rutin Ariyan.

​Bukan tidak siap karena sibuk. Zivanya tahu alasan sebenarnya. Ariyan tidak ingin memiliki ikatan darah dengan wanita yang tidak ia cintai. Pria itu tidak ingin ada jejak Zivanya dalam garis keturunannya. Baginya, rahim Zivanya hanyalah tempat yang harus tetap steril agar suatu saat nanti, jika ia berhasil lepas, ia tidak perlu membawa beban masa lalu.

​“Aku masih fokus sama proyek jembatan di Sumatera, Ma, Mi. Aku bakalan sering ke luar kota. Kasihan Ziva kalau harus hamil sekarang.” Ariyan menjawab dengan tenang dan meyakinkan.

​Zivanya merasakah perih yang luar biasa di ulu hatinya. Begitu hebat suaminya bersandiwara.

​“Ziva juga setuju, kan?” Abi menatap putrinya.

​Zivanya mendongak, memaksakan senyum tipis yang terasa merobek wajahnya. “Iya, Pi. Aku setuju kok. Ari benar. Kami masih ingin menikmati waktu berdua.”

​Waktu berdua yang diisi dengan nama Aira di antara kami, batin Zivanya menjerit.

​“Tapi nundanya jangan terlalu lama ya,” ujar Seruni lagi.

“Iya, Mi.”

​Ariyan kembali tersenyum kaku. Di bawah meja, ia melepaskan kaitan jemarinya dari tangan Zivanya, seolah-olah bersentuhan dengan istrinya setelah topik tentang anak muncul adalah hal yang menjijikkan baginya.

​Zivanya mengambil gelas, meminum isinya hingga tandas. Ia butuh sesuatu untuk menelan kenyataan bahwa di hari ulang tahun mereka, ia diingatkan bahwa ia hanyalah istri sah yang rahimnya dilarang untuk berbuah.

Acara makan yang terasa sangat lama bagi Ariyan akhirnya selesai. Mereka pun pulang ke kediaman masing-masing.

Mobil melaju membelah sisa hujan di jalanan yang mulai lengang. Kemesraan palsu di restoran tadi menguap seketika begitu pintu mobil tertutup. Ariyan melonggarkan dasinya dengan kasar, seolah benda itu baru saja mencekik lehernya selama dua jam penuh. Sama mencekiknya dengan sandiwara kemesraan yang harus ia perankan di depan orang tua mereka.

​Hening kembali meraja, sampai akhirnya Ariyan memecah kesunyian dengan suara yang begitu datar.

​“Kamu sudah haid bulan ini?” tanyanya tanpa menoleh.

​Zivanya tersentak. Pertanyaan itu selalu terasa seperti sembilu. Karena ia tahu, Ariyan sangat takut dirinya hamil. “Belum. Mungkin minggu depan.”

​Ariyan mengetuk-ngetuk kemudi dengan jarinya. “Aku perhatiin kamu sering mual atau pusing kalau habis minum pil itu. Dan jujur, aku juga nggak mau setiap bulan kita harus tegang hanya karena menunggu jadwal haidmu yang kadang terlambat.”

​Zivanya menatap suaminya dari samping. Ada secercah harapan bodoh di hatinya. Ia mengira Ariyan mulai peduli pada efek samping hormon dari pil yang ia konsumsi. “Lalu?”

​“Aku sudah riset sedikit. Sepertinya akan lebih praktis kalau kamu tubektomi. Steril,” ucap Ariyan santai, seolah menyarankan Zivanya mengganti model rambut. “Dengan begitu, kamu nggak perlu repot-repot minum pil setiap hari, dan aku nggak perlu cemas akan ada kesalahan yang terjadi. Itu jauh lebih menenangkan untuk kita berdua.”

***

Continue a ler este livro gratuitamente
Escaneie o código para baixar o App
Comentários (5)
goodnovel comment avatar
Rosa
laki 2 brengsek tinggalin aja.
goodnovel comment avatar
Riesma Effianty
lho..ini kelanjutan zelena dan jeandra ya..kisah ortunya aja belum selesai aku baca..nah ini anaknya juga pada ribet ...
goodnovel comment avatar
Tina Doni
Ko Zivanya gak punya harga diri ya,kyk gak ada laki2 lain aja,sebel
VER TODOS OS COMENTÁRIOS

Último capítulo

  • Aku yang Tidak Pernah Ada di Hatimu   Part 308

    Mobil yang dikendarai Kaivan berhenti dengan mulus di drop off area di depan gedung kantor Zivanya. Pria itu melirik jam tangannya, lalu melepas sabuk pengaman tepat saat sosok Zivanya melangkah keluar dari pintu lobi. Zivanya merapikan blazer yang melekat di tubuhnya sembari berjalan mendekati mobil lelaki yang sebentar lagi akan menjadi suaminya. Hari ini mereka memang sudah berjanji untuk pergi ke bridal butik guna melakukan final fitting baju pengantin sebagai pengecekan terakhir sebelum hari pernikahan mereka yang tinggal menghitung hari. Belum sempat Zivanya menyentuh gagang pintu mobil, sebuah Rubicon merah berhenti tepat di belakang mobil Kaivan. Pintu pengemudi mobil itu terbuka. Seorang laki-laki keluar dari sana lalu dengan cepat menghampirinya. “Ziva!” Zivanya sontak menoleh. Ia terkejut melihat Ariyan datang mendekatinya. ‘Ya Tuhan, mau apa lagi dia?’ batinnya gemas. “Sore, Ziva. Mau pulang?” sapa Ariyan padanya. Zivanya menjawab dengan anggukan. “Boleh aku antar

  • Aku yang Tidak Pernah Ada di Hatimu   Part 307

    Sepuluh hari lagi. Ariyan tidak henti memandangi sembari mengusap-usap nama Zivanya di undangan tersebut. Sepuluh hari lagi Zivanya akan menikah. Seolah belum cukup menyakitkan, ia mengulang kalimat itu berulang kali dalam hatinya. Apa yang bisa ia lakukan dalam sepuluh hari ini? Apakah ada keajaiban, mukjizat atau apa pun namanya agar pernikahan itu batal? Dulu, saat Zivanya masih menjadi istrinya, sepuluh hari hanyalah rentang waktu biasa yang ia lewati begitu saja dalam kebebalannya. Namun kini, sepuluh hari akan memisahkan mereka selamanya. Sepuluh hari merupakan sebuah tenggat waktu di mana Zivanya akan resmi menjadi milik lelaki lain, membawa serta seluruh cinta dan kasih sayang yang dulu pernah Ariyan sia-siakan. Ia baru menyadari betapa berharganya wanita itu. Ia baru saja terbangun dari mimpi buruk amnesianya, hanya untuk mendapati kenyataan bahwa wanita yang ingin ia peluk erat-erat telah menggandeng tangan pria lain menuju pelaminan. “Ari…” Ariyan cepat-cepa

  • Aku yang Tidak Pernah Ada di Hatimu   Part 306

    Kembali ke rumahnya yang megah, Ariyan berusaha keras menata ulang kepingan pikirannya. Ia mulai mencoba beraktivitas normal, membuka laptop, memeriksa dokumen, dan menyusun kembali rutinitas hariannya. Di antara tumpukan dokumen, sebuah map tebal dengan tulisan ‘Kaisar Fitness - Grand Opening & Initial Setup’ menarik perhatiannya. Dahi Ariyan berkerut dalam. Di dalamnya tertera dokumen perizinan, sertifikat kepemilikan, serta berkas evaluasi grand opening bisnis pusat kebugaran yang ternyata baru resmi beroperasi beberapa waktu yang lalu. "Kaisar Fitness?" gumam Ariyan bingung. Ia ingat betul nama anak tunggalnya. Namun, memori tentang kapan ide bisnis ini muncul, bagaimana proses pembangunannya, hingga momen soft launching benar-benar gelap gulita. Otaknya seperti menghapus total jejak proyek baru ini. Beruntung kedua orang tuanya dengan sabar memberi pengertian. Mereka mengajak Ariyan ke Kaisar Fitness, mengenalkan pada para pekerjanya, termasuk Jody. Ariyan sama sekali tidak

  • Aku yang Tidak Pernah Ada di Hatimu   Part 305

    Pertanyaan polos yang meluncur dari mulut Kaisar seketika membuat Kaivan terkejut. Pria itu sempat menghentikan ayunan kakinya di pedal gas lalu memandang anak lucu di sampingnya dengan perasaan heran.Kaivan benar-benar tidak menyangka pikiran seperti itu bisa terlintas di pikiran Kaisar.Setelah berhasil menguasai keterkejutannya, Kaivan mengulas senyum tipis. "Kok Kai nanyanya gitu?" “Soalnya kata Omi, kalau Ibu nikah lagi, ayah barunya suka galak, Ayah. Suka marah-marah, terus nyubit sama mukul Kai kalau Ibu lagi nggak ada.”Sekali lagi Kaivan dibuat terkejut. Seruni yang mengatakannya? Bagaimana bisa calon mertuanya itu meracuni pikiran anak kecil seperti Kaisar dengan hal-hal yang tidak akan mungkin Kaivan lakukan? Apa di mata wanita itu Kaivan sebegitu jahatnya?Alih-alih sakit hati di depan anak kecil, Kaivan memilih untuk tertawa. Ia kemudian mengulurkan tangan kirinya untuk mengusap puncak kepala Kaisar.“Omi cuma bercanda. Nggak beneran begitu,” ucap Kaivan dengan suara y

  • Aku yang Tidak Pernah Ada di Hatimu   Part 304

    Kai, ayo pulang,” kata Zivanya sembari menggamit tangan Kaisar.“Ibu sudah selesai bicara sama Papa?”“Sudah.”“Kok sebentar?” celetuk anak itu dengan polosnya.“Papa butuh banyak istirahat,” jawab Zivanya dengan intonasi lembut, memberikan alasan yang paling aman bagi anak seusia putranya. “Kasihan Papa kalau diajak ngobrol kelamaan. Nanti Papa sakit kepala lagi.”Kaisar manggut-manggut, menelan alasan itu bulat-bulat tanpa rasa curiga. “Ooh... ya udah deh. Tapi nanti Kai boleh ketemu Papa lagi, kan, Bu?”Zivanya tidak langsung menjawab. Ia melirik Zelena dan Jeandra.“Boleh dong. Kai boleh ketemu Papa kapan pun Kai mau,” jawab Zelena sambil mengusap kepala cucunya.“Kalau Kai mau nginap nemenin Papa, boleh nggak, Oma?” “Boleh banget,” jawab Zelena cepat. “Papa pasti senang.”“Tapi nggak sekarang ya, Nak. Kai harus sekolah. Nginapnya kapan-kapan aja. Ayo sekarang pamit dulu sama Oma sama Opa,” sela Zivanya sebelum Kaisar meminta yang macam-macam.Patuh, Kaisar langsung menyalami dan

  • Aku yang Tidak Pernah Ada di Hatimu   Part 303

    Tinggal berdua, tidak ada sepotong kata pun keluar dari mulut mereka. Baik Zivanya maupun Ariyan.Ariyan tidak mengerti. Perempuan yang berdiri di hadapannya ini hanya diam tanpa melakukan apa pun tapi mampu membuatnya tidak berkedip. Kenapa dia begitu indah? Dan kenapa baru sekarang Ariyan menyadarinya?“Mau bicara apa?” Zivanya yang jengah dipandangi sedemikian rupa akhirnya bertanya."Makasih udah datang ke sini. Maaf kalau aku membuang-buang waktumu. Aku mau minta maaf atas semua kesalahan dan dosa-dosaku ke kamu, Ziva. Juga sama Kaisar. Aku tahu ini nggak akan mudah buat kamu. Tapi izinkan aku untuk menebusnya. Aku benar-benar menyesal,” ucap Ariyan sungguh-sungguh dengan penyesalan yang begitu dalam.“Dengan cara apa?” respons Zivanya singkat.Ariyan menatap Zivanya lebih lekat sebelum menjawab, “Izinkan aku jadi ayah yang seutuhnya buat Kaisar. Kasih aku kesempatan buat hadir di hidup kalian lagi. Aku akan turuti apa pun yang kamu minta. Aku akan lakukan apa pun yang kamu ingi

  • Aku yang Tidak Pernah Ada di Hatimu   Part 6

    Entah berapa lamanya Zivanya berdiri di depan pintu. Hingga ia tersadar ia tidak mungkin terus mematung di sana. Dengan embusan napas panjang ia terpaksa masuk yang langsung disambut oleh kegelapan. Zivanya sengaja tidak menyalakan lampu. Cahaya terang hanya akan memperlihatkan semua benda-benda

  • Aku yang Tidak Pernah Ada di Hatimu   Part 5

    Hati Zivanya yang telah hancur semakin tidak ada bentuknya lagi. Ia tahu Ariyan adalah laki-laki brengsek. Tapi tidak sedikit pun terlintas di pikirannya ide gila itu akan terlontar dari bibir Ariyan.Pria ini memintanya mematikan fungsi rahimnya secara permanen hanya demi kenyamanan perselingkuhan

  • Aku yang Tidak Pernah Ada di Hatimu   Part 3

    Lutut Zivanya terasa lemas, seolah sendi-sendinya baru saja dilolosi secara paksa. Di dalam unit apartemen yang sejuk itu, atmosfer mendadak berubah menjadi panas.​Matanya tertuju pada Ariyan. Suaminya berdiri dengan napas yang masih sedikit memburu. Jejak peluh yang belum kering di dada lelaki it

  • Aku yang Tidak Pernah Ada di Hatimu   Part 2

    Zivanya tidak tahu kapan tepatnya ia tertidur. Yang ia ingat hanya bagaimana ia meringkuk di tempat tidur yang dingin sambil memeluk bantal. ​Saat cahaya matahari mulai merayap masuk melalui celah tirai yang tidak tertutup rapat, Zivanya mengerjapkan mata. Hal pertama yang ia rasakan adalah tempat

Mais capítulos
Explore e leia bons romances gratuitamente
Acesso gratuito a um vasto número de bons romances no app GoodNovel. Baixe os livros que você gosta e leia em qualquer lugar e a qualquer hora.
Leia livros gratuitamente no app
ESCANEIE O CÓDIGO PARA LER NO APP
DMCA.com Protection Status