LOGINAriyan memacu kendaraannya menembus rintik hujan dengan rahang yang terkatup rapat. Tangannya mencengkeram kemudi dengan kuat saking kesalnya pria itu pada istrinya.
Sementara Zivanya memandang dengan sorot kosong ke luar jendela di sisi kirinya, membiarkan lampu-lampu kota yang buram menjadi latar belakang kehancuran hatinya.
“Kalau kamu cemberut terus, kamulah yang membuat Mama Papa curiga,” desis Ariyan saat mobil memasuki area parkir restoran fine dining tempat makan malam mereka.
Zivanya tidak menjawab. Ia memoles ulang lipstik merahnya, menutupi pucat di bibirnya.
Ariyan turun lebih dulu. Ia memutari mobil lalu membukakan pintu dan mengulurkan tangannya. Zivanya menyambut uluran tangan Ariyan. Ia menyunggingkan senyum tercantik yang pernah ia miliki, dan membiarkan Ariyan merangkulnya dengan mesra memasuki restoran.
Di meja bundar besar yang terletak di area privat, empat sosok penting sudah menunggu. Jeandra dan Zelena yang adalah orang tua Ariyan. Serta Abi dan Seruni, orang tua Zivanya. Kehadiran dua keluarga konglomerat tersebut membuat atmosfer ruangan terasa sangat prestisius.
“Selamat ulang tahun, jagoan Papa!” Jeandra bangkit dan menepuk bahu putranya dengan bangga.
“Selamat ulang tahun untuk kalian berdua, Sayang,” Zelena mengecup kedua pipi Ariyan lalu pindah pada Zivanya.
“Makasih, Ma, Pa,” Ariyan membalas dengan memeluk keduanya dan memberi senyum pada mereka.
Mertua Ariyan ikut memberi selamat dan mendekapnya.
Zivanya membiarkan tubuhnya dipeluk bergantian oleh orang tuanya dan menjawab ucapan selamat dan harapan yang mereka ucapkan dengan senyum tipis.
“Kalian ini pasangan unik yang lahir di tanggal dan bulan yang sama. Benar-benar jodoh yang digariskan Tuhan,” komentar Seruni.
Zivanya hanya bisa tersenyum kaku. Hari ini i seharusnya menjadi momen paling romantis dalam hidup mereka. Dua jiwa yang merayakan kelahiran di hari yang sama. Namun, alih-alih romantis, mereka bahkan tidak saling memberi selamat. Andai mereka tidak lahir di hari yang sama, Zivanya yakin Ariyan tidak tahu kapan dirinya lahir.
“Papa harap kamu selalu sabar mendampingi Ariyan. Memiliki pasangan yang lahir di hari yang sama itu artinya kalian harus bisa saling melengkapi, seperti dua sisi koin yang tak terpisahkan,” kata Jeandra menimpali.
“Iya, Pa,” jawab Ariyan sekenanya. Sedangkan Zivanya hanya mengangguk tanpa suara.
Satu per satu kado diberikan. Makan malam berlangsung dengan penuh canda dan tawa. Mereka berbincang seputar kehidupan sehari-hari sampai pekerjaan. Juga membicarakan kesehatan Abi yang beberapa bulan belakangan terserang penyakit jantung.
Hingga percakapan bergulir pada topik paling sensitif.
Seruni meletakkan sendoknya dan menatap putrinya dengan binar penuh harap. “Jadi, Ari, Ziva, pernikahan kalian sudah jalan satu tahun lebih sedikit. Jadi kapan kami semua jadi nenek dan kakek?”
Pertanyaan ibunya seketika membuat kerongkongan Zivanya terasa seperti tersumbat duri. Ia merasakan sebelah tangan Ariyan yang menggenggamnya di bawah meja mengerat. Bukan karena sayang, tapi karena tegang.
“Iya lho,” timpal Zelena antusias. “Kemarin Mama iseng melihat-lihat perlengkapan bayi. Mama kangen pengen dengar tangis bayi.”
Ariyan berdeham lalu buru-buru menyesap minumannya. Ia paham kerinduan ibunya. Sebab dirinya adalah anak tunggal dan kesayangan.
Zivanya menunduk, menatap piringnya yang masih menyisakan potongan wagyu. Bagaimana bisa hamil?
Ia teringat malam-malam di mana Ariyan menyentuhnya dengan dingin. Dan setiap kali selesai, pria itu hampir selalu menanyakan hari ini pilnya sudah kamu minum? Aku belum siap punya anak. Itu adalah kalimat rutin Ariyan.
Bukan tidak siap karena sibuk. Zivanya tahu alasan sebenarnya. Ariyan tidak ingin memiliki ikatan darah dengan wanita yang tidak ia cintai. Pria itu tidak ingin ada jejak Zivanya dalam garis keturunannya. Baginya, rahim Zivanya hanyalah tempat yang harus tetap steril agar suatu saat nanti, jika ia berhasil lepas, ia tidak perlu membawa beban masa lalu.
“Aku masih fokus sama proyek jembatan di Sumatera, Ma, Mi. Aku bakalan sering ke luar kota. Kasihan Ziva kalau harus hamil sekarang.” Ariyan menjawab dengan tenang dan meyakinkan.
Zivanya merasakah perih yang luar biasa di ulu hatinya. Begitu hebat suaminya bersandiwara.
“Ziva juga setuju, kan?” Abi menatap putrinya.
Zivanya mendongak, memaksakan senyum tipis yang terasa merobek wajahnya. “Iya, Pi. Aku setuju kok. Ari benar. Kami masih ingin menikmati waktu berdua.”
Waktu berdua yang diisi dengan nama Aira di antara kami, batin Zivanya menjerit.
“Tapi nundanya jangan terlalu lama ya,” ujar Seruni lagi.
“Iya, Mi.”
Ariyan kembali tersenyum kaku. Di bawah meja, ia melepaskan kaitan jemarinya dari tangan Zivanya, seolah-olah bersentuhan dengan istrinya setelah topik tentang anak muncul adalah hal yang menjijikkan baginya.
Zivanya mengambil gelas, meminum isinya hingga tandas. Ia butuh sesuatu untuk menelan kenyataan bahwa di hari ulang tahun mereka, ia diingatkan bahwa ia hanyalah istri sah yang rahimnya dilarang untuk berbuah.
Acara makan yang terasa sangat lama bagi Ariyan akhirnya selesai. Mereka pun pulang ke kediaman masing-masing.
Mobil melaju membelah sisa hujan di jalanan yang mulai lengang. Kemesraan palsu di restoran tadi menguap seketika begitu pintu mobil tertutup. Ariyan melonggarkan dasinya dengan kasar, seolah benda itu baru saja mencekik lehernya selama dua jam penuh. Sama mencekiknya dengan sandiwara kemesraan yang harus ia perankan di depan orang tua mereka.
Hening kembali meraja, sampai akhirnya Ariyan memecah kesunyian dengan suara yang begitu datar.
“Kamu sudah haid bulan ini?” tanyanya tanpa menoleh.
Zivanya tersentak. Pertanyaan itu selalu terasa seperti sembilu. Karena ia tahu, Ariyan sangat takut dirinya hamil. “Belum. Mungkin minggu depan.”
Ariyan mengetuk-ngetuk kemudi dengan jarinya. “Aku perhatiin kamu sering mual atau pusing kalau habis minum pil itu. Dan jujur, aku juga nggak mau setiap bulan kita harus tegang hanya karena menunggu jadwal haidmu yang kadang terlambat.”
Zivanya menatap suaminya dari samping. Ada secercah harapan bodoh di hatinya. Ia mengira Ariyan mulai peduli pada efek samping hormon dari pil yang ia konsumsi. “Lalu?”
“Aku sudah riset sedikit. Sepertinya akan lebih praktis kalau kamu tubektomi. Steril,” ucap Ariyan santai, seolah menyarankan Zivanya mengganti model rambut. “Dengan begitu, kamu nggak perlu repot-repot minum pil setiap hari, dan aku nggak perlu cemas akan ada kesalahan yang terjadi. Itu jauh lebih menenangkan untuk kita berdua.”
***
Zivanya melihat ada dua panggilan tidak terjawab dari mantan mertuanya tengah malam kemarin. Ia tidak tahu karena saat itu sudah tidur.Pagi ini Zivanya terus bertanya-tanya di dalam hati. Untuk apa Mama Zelena menelepon? Apa ada sesuatu yang penting? Mungkin kalau Zelena menghubunginya pada jam biasa Zivanya tidak akan sepenasaran itu. “Ziva, kamu yang antar Kai ke sekolah ya, Mami lagi nggak enak badan,” kata Seruni yang muncul di ruang makan dengan menggunakan jaket tebal.“Omi sakit apa?” tanya Kaisar yang lahap mengunyah nugget-nya.“Omi meriang. Kepala Omi juga pusing dari semalam,” jawab wanita berambut pendek itu seraya berjalan mendekati meja makan dan mengusap kepala sang cucu dengan penuh kasih sayang. “Itu pasti karena Omi banyak makan es,” celetuk Kaisar yang membuat Seruni tertawa.Sepeninggal Seruni, Kaisar melanjutkan sarapan. Begitu juga dengan Zivanya. Hanya saja, fokusnya sama sekali tidak ada di atas meja makan. Atensinya terus-menerus tercurah pada ponsel yang t
Zelena dan Jeandra sontak berpandangan mendengar permintaan putra mereka. Mudah untuk mewujudkannya andai kondisi Zivanya masih seperti dulu. Masalahnya, Zivanya akan menikah dengan Kaivan. Mereka tidak mungkin seenaknya saja meminta perempuan itu datang hanya untuk menyenangkan Ariyan.‘Papa Je, gimana nih?’ tanya Zelena melalui mata.Terdengar embusan napas meluncur dari mulut Jeandra yang menandakan bahwa ia juga merasa dilema oleh situasi ini.“Ari, sekarang sudah malam. Ziva dan Kaisar pasti sudah tidur,” kata Jeandra memberi alasan.“Sebentar aja, Pa. Siapa tahu Ziva belum tidur. Dulu biasanya tengah malam begini dia suka main piano,” balas Ariyan bersikeras.‘Ternyata dia ingat semuanya,’ bisik hati Zelena lega.“Tapi Papa rasa dia pasti sudah tidur. Ziva udah nggak sempat lagi main piano. Seharian dia sibuk kerja dan pasti udah capek pas nyampe di rumah.”Karena Jeandra tidak mengabulkannya, Ariyan beralih pada Zelena. Ditatapnya wanita yang sangat disayanginya itu dengan tata
Bau antiseptik yang kini merasuk ke dalam hidung Ariyan tidak lagi berasal dari studio tato, melainkan dari sterilnya ruangan tempat Ariyan dirawat. Di dekat tempat tidurnya alat monitor jantung berbunyi dengan teratur. Perlahan-lahan, kelopak mata Ariyan pun terbuka. Hal pertama yang tertangkap oleh lensanya adalah wajah khawatir Zelena yang berdiri di sebelah Jeandra. “Mama,” panggil Ariyan lirih. “Iya, ini Mama,” sahut Zelena cepat sembari menggenggam tangan sang putra. Zelena merasa lega karena Ariyan ingat padanya. Tadi saat mendapat kabar dari Jodi, Zelena merasa sangat cemas. Ia takut penyakit Ariyan semakin parah dan tidak mampu mengingat apa pun. Pandangan Ariyan bergeser pada Jeandra yang tidak kalah cemas dari istrinya. “Papa…” Jeandra mengangguk. “Masih sakit kepalanya?” Ariyan menjawab dengan gelengan lemah. “Ma, Pa, aku minta maaf. Doain operasinya lancar ya, Ma, Pa.” Zelena dan Jeandra saling berpandangan. Keduanya keheranan. “Operasi apa, Nak?” “Ke
Ariyan membuka kaus hitamnya yang basah oleh keringat. Saat ini ia sedang berada di ruang khusus trainer. Ia memandang refleksi dirinya di kaca besar di hadapannya. "Bang, tato lo itu asli keren banget," puji Jodi, salah satu trainer muda yang baru saja selesai mandi dan sedang mengeringkan rambutnya dengan handuk. Ia menatap lekat detail ukiran di tubuh bosnya. "Cakep, Bang. Lo bikin di mana dulu? Terus makna di balik simbol burung sama rantai putus itu apa sih? Kayak dalam banget filosofinya."Di punggung Ariyan, tepatnya di sebelah kanan, terlihat sekumpulan tato. Seekor burung yang mengepakkan sayap terbang lepas melintasi tautan rantai besi yang putus. Di bagian tengahnya ada garis-garis kompas, memayungi deretan fase bulan dan ukiran matahari yang melengkung rapi.Ariyan mengangkat tangan meraba permukaan punggung kanannya. Kulitnya terasa dingin. Tetapi ia sama sekali tidak mampu mengingat kisah, tempat pembuatan, maupun arti di balik simbol-simbol tersebut.Memutar tubuh meng
Kaisar Fitness berjarak tidak jauh dari rumah Ariyan. Kaivan tiba di sana dalam lima belas menit. Itu pun ia menyetir pelan-pelan karena terjebak kemacetan.Kaivan menatap tulisan Kaisar Fitness yang terukir di gedung dari balik kemudi. Ia merasa haru sekaligus kasihan.Setelah menata kembali emosinya, Kaivan keluar dari mobil dan mendorong pintu kaca pusat kebugaran tersebut.Embusan pendingin udara yang bercampur dentuman musik bertempo sedang dan menyambut kedatangannya. Suasana di dalam tampak hidup dan sangat profesional. Beberapa trainer berseragam khusus terlihat sedang mendampingi para member, sementara deretan peralatan fitness kelas atas tertata rapi di tempatnya.Kaivan mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan hingga akhirnya matanya tertuju pada satu titik di area free weights.Di sana, Ariyan sedang berdiri di depan cermin besar. Lelaki itu tampak sedang memberikan instruksi teknik gerakan deadlift kepada salah seorang trainer muda. Kaivan tertegun di tempatnya berdiri.
[Kai, orang percetakan nelepon aku. Katanya sampel undangan pernikahan kita udah selesai dicetak. Mereka minta kita ke sana sebentar buat approval desainnya sebelum diproduksi massal.]Kaivan mengembuskan napas setelah membaca chat dari Zivanya. Setelah berpikir beberapa detik, ia memutuskan untuk membalas.[Kamu aja ya. Aku ada sidang sebentar lagi. Terus sorenya juga masih ada meeting sama klien. Kalau menurut kamu desainnya udah oke, aku juga oke. Aku percaya sama pilihan kamu.]Beberapa detik kemudian, Kaivan kembali mengetik.[Maaf ya nggak bisa nemenin.]Setelah menekan tanda kirim, Kaivan menyandarkan punggungnya di kursi. Satu helaan napas kembali lolos dari bibirnya.Hatinya sebenarnya ingin selalu berada di samping Zivanya, terlebih setelah kejadian menguras emosi kala itu. Namun, tuntutan pekerjaannya sebagai pengacara tidak bisa ia tinggalkan begitu saja. Jadwal sidang hari ini sudah tertata ketat dan melibatkan nasib kliennya.Tak sampai satu menit, layar ponselnya kembal
Entah berapa lamanya Zivanya berdiri di depan pintu. Hingga ia tersadar ia tidak mungkin terus mematung di sana. Dengan embusan napas panjang ia terpaksa masuk yang langsung disambut oleh kegelapan. Zivanya sengaja tidak menyalakan lampu. Cahaya terang hanya akan memperlihatkan semua benda-benda
Hati Zivanya yang telah hancur semakin tidak ada bentuknya lagi. Ia tahu Ariyan adalah laki-laki brengsek. Tapi tidak sedikit pun terlintas di pikirannya ide gila itu akan terlontar dari bibir Ariyan.Pria ini memintanya mematikan fungsi rahimnya secara permanen hanya demi kenyamanan perselingkuhan
Lutut Zivanya terasa lemas, seolah sendi-sendinya baru saja dilolosi secara paksa. Di dalam unit apartemen yang sejuk itu, atmosfer mendadak berubah menjadi panas.Matanya tertuju pada Ariyan. Suaminya berdiri dengan napas yang masih sedikit memburu. Jejak peluh yang belum kering di dada lelaki it
Zivanya tidak tahu kapan tepatnya ia tertidur. Yang ia ingat hanya bagaimana ia meringkuk di tempat tidur yang dingin sambil memeluk bantal. Saat cahaya matahari mulai merayap masuk melalui celah tirai yang tidak tertutup rapat, Zivanya mengerjapkan mata. Hal pertama yang ia rasakan adalah tempat







