Home / Sci-Fi / Algoritma Bonanza / Bab X: Hipotesis Lintasan Belajar (Hypothetical Learning Trajectory)

Share

Bab X: Hipotesis Lintasan Belajar (Hypothetical Learning Trajectory)

Author: Fikhachu
last update publish date: 2026-08-29 21:00:51
Ruangan itu dipenuhi segerombolan manusia. Ada yang membuka proposal, ada juga yang diam penuh tanya. Mungkin karena penuhnya isi kepala mereka. Satu per satu dari mereka, keluar sambil membawa tumpukan kertas. Ada yang ingin konsultasi bimbingan, ada juga yang sudah mulai bersiap untuk terjun ke lapangan.

Lema, Luhung, Mirah, Gendhis, dan Ceko berkumpul di meja sudut ruangan Puspemas. Di lantai 3, tersedia beberapa meja dan kursi untuk para peneliti yang akan menghadap ke atasan untuk konsulta
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Algoritma Bonanza   Bab XI: Pak Eksin dan Bayang-Bayang Kalpasastra

    Siang itu, udara di lantai 3 Puspemas terasa pekat. Lema, Luhung, Mirah, Gendhis, dan Ceko duduk melingkar, melanjutkan diskusi Petitur yang tadi sempat tersendat. Di atas meja, terserak lembar demi lembar proposal penelitian untuk diserahkan ke Pak Eksin. Mirah dan Gendhis, sudah bersiap sedari tadi, untuk menjilidnya agar rapi terjalin.Lema mengusap wajahnya yang lelah. Matanya masih menangkap beberapa paragraf yang sempat ia revisi berdasarkan diskusi terakhir mereka. Namun, di tengah keheningan kecil itu, pikirannya justru melayang pada sebuah penemuan tak sengaja. Tentu saja, apa lagi kalau bukan postingan blog yang ia temukan mengenai SMP Kalpasastra?"Oh iya, aku baru ingat sesuatu," Lema menyenggol lengan Luhung yang sedang merapikan rambut."Apa, tuh?" Luhung mendekatkan badannya ke Lema. Ceko pun refleks menatap ke arah Lema."Aku tuh pernah baca, ada blog yang ditulis sama salah satu siswa di SMP Kalpasastra. Katanya ada adik kelasnya yang sering datang bergantian," cerita

  • Algoritma Bonanza   Bab X: Hipotesis Lintasan Belajar (Hypothetical Learning Trajectory)

    Ruangan itu dipenuhi segerombolan manusia. Ada yang membuka proposal, ada juga yang diam penuh tanya. Mungkin karena penuhnya isi kepala mereka. Satu per satu dari mereka, keluar sambil membawa tumpukan kertas. Ada yang ingin konsultasi bimbingan, ada juga yang sudah mulai bersiap untuk terjun ke lapangan. Lema, Luhung, Mirah, Gendhis, dan Ceko berkumpul di meja sudut ruangan Puspemas. Di lantai 3, tersedia beberapa meja dan kursi untuk para peneliti yang akan menghadap ke atasan untuk konsultasi bimbingan. Mereka berkumpul dengan laptop yang menyala dan otak yang panas, membara hingga ke batas. Mereka berusaha sekuat tenaga mengumpulkan serpihan data untuk merampungkan proposal penelitian. Gendhis menghela napas panjang, merapikan tumpukan jurnal referensi mengenai Teori Instruksional Lokal dan Pendekatan Matematika Realistik Indonesia, juga tentang Hipotesis Lintasan Belajar yang berserakan di dekat laptopnya. Sedangkan Lema sibuk mengetik baris demi baris kerangka metodologi. "Se

  • Algoritma Bonanza   Bab IX: Metodologi Penelitian

    Mirah mulai mengocok kumpulan kertas yang sudah digulung-gulung. Sejenak, Lema, Luhung, Gendhis, dan Ceko terdiam, fokus mengamati Mirah. Lema mulai memasang raut wajah datar, antara gugup dan terbawa suasana timnya yang mulai hening. Mereka tak lagi penuh canda tawa, hanya bisa berpasrah."Yuk, kita mulai. Bang Luhung, silakan ambil pertama," Mirah menyodorkan kumpulan gulungan kertas lalu Luhung mengambilnya."Lanjut. Kamu duluan deh, Lema.""Astaga, Mir, lu udah ngincer Lema ya? Curiga nih, gue," ledek Luhung. Mirah hanya tersenyum jahil."Thank you, Mir." Lema mengambil gulungan kertas dengan agak sungkan."Lanjut, Kak Gendhis, lalu sisanya buat aku."Mereka mulai membuka lembaran kertas yang sudah ada di tangan masing-masing."Wah, gue dapat nomor 1, nih. Bab Pendahuluan, dong, berarti," Luhung terkekeh."Cocok. Lu kan suka melantur. Lu akalin aja deh, gimana caranya biar masih make sense dan logis nanti," komentar Gendhis."Dih, sial. Tapi iya juga, sih," timpal Luhung sambil ter

  • Algoritma Bonanza   Bab VIII: Design Research

    Sebuah meja berbentuk persegi yang di sekelilingnya terdapat lima buah kursi telah diisi dan digunakan oleh Lema, Luhung, Gendhis, dan Mirah di Kantin Puspadana. Kantin Puspadana merupakan kantin khusus berkumpulnya para peneliti Puspemas. Kantin Puspadana bisa dikatakan sebagai urban food court-nya Puspemas yang dikhususkan untuk para peneliti. Di dalamnya terdapat banyak stand sehingga para peneliti bisa memilih ingin memesan makanan dari stand kesukaannya. Selain itu, karena sifatnya yang urban, di dalam Kantin Puspadana terdapat beberapa spot foto yang instagramable. Lema sempat tak percaya, sebegitu sejahteranya peneliti yang bekerja di Puspemas ini. "Bang, gue merasa bersyukur bisa kerja di sini. Takjub banget, fasilitas untuk para penelitinya betul-betul diperhatikan," kata Lema sambil menatap sekitar Kantin Puspadana. Mirah hanya menatap Lema sambil tersenyum. "Lu kenapa cengar-cengir ngeliatin Lema, Mir?" ledek Luhung dengan menatap jahil Mirah. "Ish, apa sih, Kak. Aku jad

  • Algoritma Bonanza   Bab VII: Giriwarsa

    Sepasang bola mata berwarna kecokelatan itu menatap halaman buku satu per satu yang sedang dipegangnya. Sambil membaca buku, jemarinya mengetuk tombol kibor laptop. Di layar laptopnya, tertera sebuah nama kota di belahan Antapura yang lain dan masih asing baginya.Giriwarsa. Lema belum pernah sekalipun berkunjung ke kota ini. Pikirnya, yang namanya kota, pasti kehidupan di sana sudah maju. Sedangkan Luhung bilang kota ini termasuk daerah yang agak terpencil. Tentu saja hal itu memancing Lema untuk ingin tahu lebih lanjut mengenai Giriwarsa. Lema pun menelusuri informasi mengenai Giriwarsa di laptopnya melalui mesin pencari.Mesin pencari yang ada di layar laptop menampilkan beberapa situs yang berkaitan dengan kata kunci Giriwarsa. Beberapa situs yang muncul itu seperti, Sepuluh Tempat Wisata yang Wajib Dikunjungi di Giriwarsa, Begini Indahnya Penampakan di Atas Gunung Jatarupa Giriwarsa, serta Hutan Pinus yang Masih Lestari di Giriwarsa.Kenapa kebanyakan situs yang muncul berkaitan

  • Algoritma Bonanza   Bab VI: Diskusi Petitur

    Luhung memutar-mutar bolpoinnya. Kakinya digerakkan ke depan dan belakang. Meskipun posisinya saat ini sedang duduk di kursi, hampir seluruh badannya sibuk bergerak, menunjukkan bahwa Luhung seorang yang kinestetik.“Jadi ....” Luhung menoleh ke arah Lema dengan tangannya masih memutar-mutar bolpoin.“Gue enggak sangka.”Lema menggenggam kedua tangannya di atas meja.“Kita sekelompok!”Buru-buru Luhung bangun dari kursi dan menunjuk ke arah Lema. Lema menutup mulutnya dengan kedua tangannya, lalu disusul dengan tertawa terbahak-bahak.“Terkadang gue masih enggak habis pikir ya. Orang kayak Kakak bisa jadi koordinator peneliti Pendmat.”Perempuan yang saat rapat tadi duduk di samping kiri Lema ikut angkat bicara melihat tingkah laku Luhung.“Jangan begitu dong, Mirah. Kalian seharusnya bersyukur, di Pendmat koordinatornya asyik diajak bercanda, enggak selalu serius.” Luhung membela diri.“Ya lihat-lihat juga dong, Kak, kalau mau bercanda. Kan sekarang kita sedang di perpustakaan.” Mirah

  • Algoritma Bonanza   Bab I: Lema Alfa Sayyid

    Setra dikenal sebagai kota dengan suasana yang unik. Kota yang berumur tiga puluh tahun ini mengalami banyak kemajuan. Tiang-tiang utilitas yang digunakan untuk mendistribusikan listrik-listrik dengan daya tinggi telah banyak dipasang di kota ini. Gedung-gedung yang dibangun setinggi langit juga tel

  • Algoritma Bonanza   Bab V: Ceko Pembaun

    Lema memarkir motornya di tempat parkir bawah tanah sebelum lantas berlari kocar-kacir memasuki gedung Puspemas. Kemarin, sebelum resmi bekerja sebagai peneliti di sini, Lema memarkir motornya di tempat khusus pengunjung sehingga kelabakan mencari motornya saat pulang. Berbeda dengan tempat parkir

  • Algoritma Bonanza   Bab IV: Tentang Puspemas

    Semburat lembayung senja telah menampakkan dirinya di cakrawala yang mulai terlihat redup. Jarum kecil yang ada pada jam dinding di dalam ruangan Lema telah menunjuk pada angka 3 sedangkan jarum panjangnya menghadap angka 12. Setelah membaca beberapa buku mengenai jenis-jenis penelitian yang dipero

  • Algoritma Bonanza   Pendahuluan

    Sedari tadi, Effie masih berkutik dengan ponsel pintarnya. Jemarinya lincah menekan layar sentuh kapasitif pada ponsel itu. Sesekali, mata cokelatnya menatap ke atas langit-langit sembari mulutnya komat-kamit. Effie harus mengingat kembali apa saja materi yang diberikan gurunya, mencatat, lalu mengi

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status