LOGINKiarah is a spoiled brat. She loves going to a party where she can do what she wants. She is known for being a party girl. She can get what she wants even boys. She loves playing with their feelings. She doesn't want the idea of settling down to just one boy, so she loves flirting with them: No attached feelings. She is indeed a player, know how to seduce boys in just a minute. In the other hand, Kyle Elis is a snob person. He's annoyed with girls following him around. He hates girls with their flirtatious attitude. He is the type of man who wants to settle down and don't want to play with their feelings. What will happen if the two bump to each other? Can Kyle push Kiarah away? Can Kiarah handle his attitude or she is going to ignore him? Does the word "love" work to them?
View MoreHappy reading
***"Ternyata penampilanmu tidak sama dengan akhlakmu!" Suara perempuan itu menggelegar memenuhi ruangan berukuran 3x3 meter yang ditempati oleh seorang perempuan berjilbab maroon."Maksud Anda apa? Apakah saya punya salah?" jawab perempuan berjilbab dengan ketakutan. Tidak pernah seorang pun yang membentaknya selama ini, bahkan si bos yang terkenal galak sekalipun belum pernah melakukannya."Jelas salah. Apa kamu tahu kalau Pak Andrian itu suamiku?" tambah perempuan yang berpakaian seksi.Perempuan yang sejak tadi diajak bicara itu, hanya diam membisu. Dia berusaha mengingat, siapa sebenarnya wanita yang ada di hadapannya kini. Mengapa sampai menuduhnya bersalah? Tak tahukah wanita itu bahwa dirinya bekerja sebagai sekretaris dari lelaki yang diklaim sebagai suaminya.Beberapa saat, setelah ingatan sang sekretaris kembali tentang siapa wanita itu. barulah kesadarannya kembali. Perempuan yang bersuara keras itu, dulu, adalah kekasih bosnya.Beberapa bulan lalu, dia digadang-gadang akan menjadi istri ke dua Andrian, bos di kantornya sekarang. Namun, mereka sudah menikah atau belum si sekretaris tidak mengetahui dengan pasti.Pertanyaan yang ada di benak sang sekretaris sekarang adalah apa kesalahan yang telah diperbuatnya hingga perempuan itu marah? Selama ini Denada Parmadita Gantari bekerja secara profesional sebagai seorang sekretaris dari Andrian Daylon Valentino.Beberapa waktu sebelum kejadian saat ini. Tari begitu sang sekretaris biasa dipanggil, mengikuti si bos keluar kota karena pekerjaan.Gadis berparas ayu itu terlihat kebingungan mencari seseorang. Matanya menatap awas lalu-lalang orang yang berada di tempat ini. Bulu kuduknya berdiri mengingat perkataan sang ibu. Jika, saja dia tidak mengikuti bosnya ke luar kota, mungkin dia tidak akan menginap di tempat yang terkenal negatif bagi sebagian orang.Jangan masuk ke hotel! Kalau sampai kamu masuk, maka nama baikmu menjadi taruhannya. Itulah nasihat yang pernah disampaikan oleh ibunya Tari.Kepalanya menggeleng, berusaha mengusir ketakutan. 'Aku, hanya kerja di sini. Memenuhi tugasku sebagai seorang sekretaris. Tidak lebih, jadi nama baikku jelas tidak akan tercemar.' Tari bermonolog dengan hatinya.Dari kejauhan seorang lelaki berjalan mendekatinya dan mencolek bahu gadis ayu tadi. "Lho, Tar! Kenapa tidak langsung ke kamar yang nomornya sudah saya kirim?""A-nu, Pak," jawab Tari gagap."Anu, apa? Kebiasaanmu bicara tidak jelas. Ayo ikuti saya! Jangan anu-anu!"Gadis ayu yang bernama Denada Parmadita Gantari itu semakin gemetaran. Terngiang-ngiang nasihat ibunya. Jika, dia menolak ajakan atasannya saat ini, tentu profesionalitasnya sebagai sekretaris dipertaruhkan. Namun, jika dia mengiyakan permintaan si bos, bisa jadi hal-hal tak terduga akan dialami.Ya Allah. Aku berlindung kepada-Mu. Ucap Tari dalam hati.Andrian Daylon Valentino, seorang pengusaha yang terkenal dengan segudang pencapaiannya. Termasuk pencapaian dalam menaklukkan hati perempuan. Semua informasi tentang lelaki yang menjadi bosnya kini sudah banyak diketahui oleh Tari. Namun, dia tidak mempercayai semua itu.Desas-desus tentang skandal dengan banyak wanita pun telah didengar oleh Tari. Seakan tuli dengan semua kebenaran tentang Andrian, Tari masih saja percaya bahwa bosnya itu orang yang baik. Hal ini dipicu oleh perilaku Andrian yang sama sekali tidak menunjukkan kenakalannya sebagai penakluk kaum hawa."Pak, kita ngobrolnya di luar saja, ya," pinta Tari. Andrian menatap tajam padanya."Kenapa? Kamu takut dengan saya?""Bu-kan begitu, Pak, tapi ....""Apa?" Andrian membelalakkan mata disertai suara yang naik satu oktaf. "Kita ini sedang bekerja, bukan bersenang-senang. Saya tahu kamu sudah banyak mendengar hal buruk tentang saya. Cobalah bersikap profesional. Jangan mencampur adukkan masalah pribadi dengan pekerjaan. Saya bukan lelaki bodoh yang tidak tahu tempat.""Bu-kan begitu, Pak. Saya tidak ...." Tari makin gemetaran, tetapi tetap memberanikan diri mengungkapkan bahwa bukan itu yang menjadi alasan utamanya, meskipun terbata-bata."Sudah! Tidak perlu dilanjut! Semakin lama kamu membahas hal lain, maka semakin lama pula kamu berada di dekat saya. Kamu mau seperti itu?" Andrian mendelik. Dia mencoba meyakinkan sekretarisnya. Suara Andrian membuat Tari ketakutan."Ba-ik, Pak," jawab Tari."Ayo masuk! Jangan bengong saja!" Di kantor, Andrian memang terkenal galak dengan suara yang selalu bernada tinggi. Nyali Tari menciut mendengar perintahnya. "Duduklah di sofa itu!" tunjuknya.Tari membuka berkas-berkas yang dibawanya tadi, dia mulai memeriksa satu per satu. Di depannya, Andrian menatap Tari tanpa kedip. Baru sekali ini ada seorang perempuan yang takut saat diajak masuk hotel olehnya.Andrian tersenyum, sekretaris satu ini memang beda dari karyawan lainnya. Secara fisik dia tidak terlalu cantik, tetapi saat memandangnya ada ketenangan menelusup di hati si bos. Keteduhan serta cara Tari menyikapi pergaulan dengan lawan jenis makin membuat lelaki itu betah menatap wajahnya."Pak, ini berkasnya sudah selesai. Silakan ditandatangani!" kata Tari. "Pak!" panggilnya lebih keras karena Andrian masih terlihat melamun."Iya. Bagaimana, Tar?" Tatapannya masih tertuju pada wajah Tari."Berkasnya sudah saya cek. Bapak tinggal tanda tangan saja." Tari menunduk, risih dengan tatapan mata Andrian."Oh. Mana?" Sebentar saja Andrian sudah menyelesaikannya. "Tar, kamarmu ada di sebelah kamar saya. Ini card lock untuk membuka pintunya. Semua barang bawaanmu juga sudah ada di sana." Tari mengambil kartu yang dipegang Andrian dengan gemetar."Terima kasih, Pak. Saya permisi," ucapnya gemetaran."Tunggu!" panggil Andrian, "masih ada yang kurang di berkas ini." Andrian tersenyum licik.Tari yang sudah akan melangkah keluar mengurungkan niatnya mendengar panggilan sang atasan. Dia melirik jam di pergelangan tangan kanannya yang menunjukkan pukul delapan malam. Biasanya Tari sudah tertidur pada jam itu."Bagian mana yang kurang, Pak?" tanya Tari.Jarak sang sekretaris yang terlalu dekat dengan Andrian, membuat si bos menghirup aroma parfum pada tubuhnya. Sesuatu bergejolak dalam diri lelaki tersebut. Dia memang tipe pria yang mudah terpancing, jika sudah berhubungan dengan perempuan."Ini, Tar!" tunjuk Andrian pada sebuah laporan yang angkanya memang sedikit meragukan jika dilihat dari jurnal penyesuaian sebelumnya."Pak, ini akan memakan waktu lama untuk saya perbaiki. Bisa tidak kalau besok pagi dikerjakan? Saya janji akan menyelesaikan semuanya.""Tari ... Tari. Satu atau dua jam lagi 'kan selesai?" Suara Andrian melembut, seperti ada kesan candaan di dalamnya."Ya, Pak. Saya akan kerjakan sekarang." Tari melayangkan senyuman tanpa bermaksud apa pun, tetapi reaksi lain terjadi pada Andrian.Andrian mengumpat dalam hati, bisa-bisanya dia berpikiran jorok pada gadis dengan balutan pakaian tertutup dari ujung rambut sampai ujung kaki bahkan tak ada kesan seksi sama sekali. Semakin lama dia mengamati gerak-gerak Tari, semakin gejolak dalam dirinya mengembara. Bayangan Tari yang memakai pakaian tidur minim menari-nari di pelupuk mata. Andrian duduk dengan gelisah di hadapan Tari."Tunggu di sini, Tar! Jangan kembali ke kamarmu sampai saya selesai! Ngerti!""Iya, Pak." Tari tak menghiraukan perkataan Andrian. Dia, hanya melirik ke mana langkah lelaki itu dan ternyata si bos berjalan ke kamar mandi. Tari bernapas lega, setidaknya Andrian tidak meninggalkannya sendirian di kamar hotel ini.Lama gadis berkulit kuning langsat itu menunggu bosnya keluar, tetapi sampai puluhan menit Andrian tak kunjung menyelesaikan hajatnya di kamar mandi. Berkali-kali Tari menguap, berusaha menahan rasa kantuk. Tugas yang diberikan si bos sudah selesai lebih cepat dari perkiraannya tadi. Perlahan dia mengubah posisi duduk, mulai merebahkan kepala pada sandaran sofa. Tanpa dia sadari matanya terpejam.Setelah hampir satu jam Andrian berada di kamar mandi, dia keluar dengan senyum semringah. Wajah Tari yang tertidur dengan polos tertangkap netranya.Andrian mendekati sekretaris ayu itu, ingin rasanya dia sedikit bermain-main dengan bibir merah alami yang terkatup rapat. Sepertinya, seluruh bagian tubuh Tari tak pernah terjamah oleh lelaki. Hasrat si bos untuk mencumbui gadis itu kembali datang.Andrian menggelengkan kepala saat menyadari pikirannya sungguh bejat pada Tari. Namun, tangan kanannya seperti ada yang menggerakkan, mulai menyusuri wajah sang sekretaris kemudian perlahan menyentuh lembut penuh perasaan. Tidak bermaksud apa pun, hanya merasakan kelembutan kulit saja.Tari menggeliat, tetapi matanya masih terpejam. Andrian segera menghentikan sentuhannya, tak ingin gadis itu bangun gara-gara perlakuannya. Andrian mengambil kain tebal di ranjang, lalu menyelimuti pada si gadis. Dia masih menatap lekat sekretarisnya dari tempat duduk di pinggir ranjang.Terbersit rasa kasian jika sampai pagi posisi tidur Tari seperti itu. Ketika dia bangun, badan sekretarisnya akan sakit semua. Tanpa berpikir panjang, Andrian membopong Tari dengan pelan. Tidurnya terlalu nyenyak hingga saat lelaki itu mengangkat, gadis itu masih tetap memejamkan mata.Membetulkan selimut yang dipakaikan pada Tari tadi. Andrian masih betah memandangi wajah teduh sang sekretaris sampai tanpa sadar matanya ikut terpejam.Sinar mentari pagi menelusup dari celah gorden, mengenai wajah Tari. Dia mulai menggeliat, menghindari hangat dan silaunya sinar yang menerpa. Netranya masih terlalu berat untuk dibuka, tetapi sentuhan tangan seseorang pada lengannya memaksa gadis itu untuk segera membuka."Astagfirullah," ucap Tari. Dia memejamkan mata kembali saat melihat Andrian, hanya melilitkan handuk untuk menutupi tubuhnya. Si bos berdiri tepat di hadapannya dengan senyum bahagia."Gak usah kaget. Memangnya kamu belum pernah lihat lelaki bertelanjang dada?" Andrian berkata dengan santai, lalu berjalan ke kamar mandi.Tari meraba tubuhnya sendiri, seperti memastikan sesuatu. "Jangan sampai aku melakukannya dengan Pak Andri," gumamnya.Tatlong linggo na ang nakalipas mula noong maconfirmed namin na buntis nga ako. Noong una ay hindi pa ako makapaniwala na may baby sa sinapupunan ko. We even decided na magsama na ni Kyle sa iisang bubong.Matapos niyang malaman na buntis ako ay nagproposed din siya sa akin.Bukas na ang kasal namin. Pinadali na ang kasal para hindi pa visible ang tiyan ko pagnagsuot ako ng gown. I am also excited to my wedding. Sa tatlong linggong nakalipas, mabuti na lamang at naayos din ang kasal. Kahit konti lang yung time ng preparation, nakaya din na maayos dahil marami naman ang tumulong sa amin. Lahat ng family ko na nasa ibang bansa ay umuwi din ng Pilipinas para sa kasal ko.I am happy now dahil makakabuo na ako ng sarili kong family. Si Kyle ay inaasikaso na din yung bahay naming dalawa. Hindi niya sinabi sa akin na may pinatayo na pala siyang bahay matagal na at plano niyang gamitin daw iyon kapag kasal na siya. At ganun na nga ang mangyayari. Everything is perfect f
Nagising ako ng madaling araw dahil parang kinakalkal ang sikmura ko. Kaya naman napatakbo ako sa banyo para sumuka doon. Nagtaka naman ako ng tubig lang ang sinuka ko. Naghilamos ako at lalabas na sana nang masuka na naman ako kaya naman napaluhod ako sa harap ng inidoro at doon ako sumuka. Ayaw ko naman na gisingin sila mommy dahil tulog na ang mga ito at panigurado tulog na din ang mga kasambahay namin.Nang hindi na ako nagsuka, tumayo na ako at naghilamos na ulit. Nang makalabas ako ng banyo ay kinuha ko yung cellphone ko at tinawagan si Kyle. Alam kong tulog pa ito pero parang gusto ko siyang makita ngayon. Ilang beses na nagring yung cellphone niya kaya inis ako nang hindi niya ito masagot. Tinawagan ko siya ulit at sa panlimang ring ay tumugon na ito sa akin.“Mmm,” rinig ko sa kabilang linya.“Bakit antagal mong sagutin ang tawag ko?” galit kong tanong sa kanya. Ilang segundo naman siyang natahimik bago nakatugon sa akin.
Nagising ako dahil sa ingay na dinudulot ng cellphone ko. Kunot noo akong napatingin dito at nakitang tumatawag si Kyle.“Yes?” tanong ko sa kanya.“Nagising ba kita?” tanong naman nito sa akin.“What is it? Ang aga-aga Kyle,” sabi ko sa kanya.“Bakit mo pinatay yung tawag kagabi? Sabi ko huwag mo papatayin,” nagtatampong parang batang saad nito.“Yun lang ba? Pinatay ko yung tawag dahil kailangan ko magcharge at tulog ka na nun,” pagdadahilan ko naman sa kanya.“Naiinis ako,” sabi pa nito. Nagiging childish na naman siya.“Bahala ka, babalik na lang ako sa pagtulog, bye.” sabi ko naman sa kanya at pinatay ang tawag. Wala pang dalawang segundo nang tumawag ulit ito pero hindi ko sinagot. Inaantok pa ako.Hindi kalaunan ay napabalikwas ako ng higa nang maalala ko yung meeting namin ngayon. Agad akong napatingin sa orasan ko at may isa’t kal
Kakapasok lang namin sa bahay nila Kyle at bumungad naman sa amin ang nakangiting Mommy nito. Agad din akong napangiti sa kanya. Niyakap niya ako at humalik sa pisngi ko. She’s so lovely.“I miss you, dear.” bati niya sa akin sabay humiwalay sa yakap.“I miss you po tita. How are you po?” tanong ko sa kanya.“I’m doing good, I’ve been waiting for you to come here again,” sabi niya sa akin.“Talaga po?” hindi makapaniwalang tanong ko sa kanya. I’m so amused.“Yeah, pero laging sinasabi ni Kyle sa akin na busy ka.” tugon niya kaya napatingin naman ako kay Kyle.“Wala naman po siyang nababanggit sa akin,” sabi ko habang nakangiti.“Tignan mong lalaki ka, ayaw mo lang ipakita sa akin si Kiarah,” reklamo ng Mommy niya.“Hey, she’s just busy kaya hindi ko siya maaya.” depensa naman niya.“Hindi po
Nang makarating ako sa bahay ay agad bumukas yung pintuan. Nakita kong lumabas si Kyle at hindi maipinta ang mukha nito. Medyo nahihilo naman akong nagpark ng kotse ko at lumabas. Sinalubong naman ako ni Kyle. Siya na din ang nagsara ng pintuan ng kotse ko. Humarap siya sa akin nang maisara na ni
Chapter 54Kinaumagahan ay nagising ako dahil sa halik na nararamdaman ko sa leeg ko. Agad akong nagmulat at napatingin kay Kyle sa pinaggagawa niya.“Good morning,” malapad ang ngiting bati nito sa akin. Napangiti naman ako sa kanya. Ngayon nakahinga na a
Nagising ako nang may kumakalabit sa akin. Nang magmulat naman ako ay madilim na ang paligid. Napatingin ako sa kumakalabit sa akin at nagulat ako nang makita ko si Kyle. Anong ginagawa niya dito? Akala ko ba umalis na siya kanina?“Kain ka na, malilipasan ka ng gutom. Gabi na,”
“Payagan muna kasi ako,” pamimilit ko sa kanya.Nandito kami ngayon sa room namin, nagtatalo dahil ayaw niya akong pagsuotin ng swimsuit. Kanina pa nakababa ang mga kasamahan namin. Kami na lang ang wala doon dahil sa kaartehan ng lalaking ito.“Basta sinabi kong hin
reviews