LOGINSTAND ALONE BUT SPIN OFF TO ‘THE OMEGA FOR SALE.’ “You will listen to me when I speak to you, Jessy.” The Alpha growled in my ears and I snorted, barely able to move from the fingers that he had wrapped around my throat and my pressed back to the wall. “Why would I? It’s not like you listened to me when I tried to reach you in the last five years now, did you now Alpha Arthur?” I whispered back, making sure to maintain eye contact. I could see how his eyes changed with my words, he was affected. But I didn’t care, not in the least. *** Completely frustrated with life at her pack and her status as the Alpha King’s daughter, Jessy sets out of her pack, hoping to find new beginnings and experience a different life. But is Jessy ready for life outside of her father’s protection? Will she be able to face the life changing events that came with it especially when a past that she had hoped to forget resurfaces?
View More"Aku mau operasi, Din. Aku nggak tahan lagi!" Suara Mas Sandi menggema di telingaku, sarat dengan keputusasaan.
Aku menggenggam ponsel erat, napasku tercekat. "Mas, aku—" "Jangan bilang sabar lagi!" bentaknya. "Kalau kamu memang peduli, carikan aku uang buat operasi! Aku capek jadi cacat!" Dadaku sesak. Aku ingin menolongnya, tapi bagaimana? Dompetku kosong, pekerjaanku sebagai pengasuh anak tak cukup untuk biaya operasi yang puluhan juta. Aku bahkan baru mulai bekerja, lalu bagaimana aku bisa mendapatkan uang untuk operasi? Mas Sandi menghela napas berat, lalu suaranya merendah. "Atau kamu udah nggak peduli lagi? Udah punya laki-laki lain di kota?" Dada ini semakin perih. "Jangan bilang gitu, Mas! Aku cuma butuh waktu." "Berapa lama lagi? Sampai aku mati?" sambungnya tajam. Sambungan terputus. Aku menatap layar ponsel yang menggelap, lalu menutup wajah dengan kedua tangan. Aku harus bagaimana? Detik itu juga, getaran ponsel di tangan Dini membuatnya terlonjak. Layar menyala, menampilkan nama yang sudah terlalu familiar: "Ibu Mertua". Dengan jantung berdegup kencang, Dini membuka pesan yang baru saja masuk. "Dini, kamu bisa nggak sih jadi istri. Sandi butuh uang untuk operasi tapi kamu malah santai hidup enak di kota. Cepat kirim uangnya sekarang! Kamu jangan jadi istri yang durhaka!" Setiap kata seakan menghujam ke dalam hatinya, membawa rasa sakit yang tak tertahankan. Air matanya mulai menggenang, mencoba menahan rasa sakit yang begitu dalam. Saat itu juga, tangisan Dean, anak asuhnya yang masih balita, memecah keheningan. Anak kecil itu terbangun dengan wajah merah dan air mata yang mengalir deras. Dengan cepat, Dini menghampiri, mengangkat tubuh kecil Dean dan mengayunkan pelan di pangkuannya sambil menepuk-nepuk punggungnya. Pelan-pelan, tangisan itu mereda dan Dean kembali terlelap dalam dekapan hangatnya. Dini kembali menatap layar ponselnya, rasa bingung dan keputusasaan menerpanya. Ia tidak tahu harus mulai dari mana untuk mengumpulkan uang yang dibutuhkan untuk operasi Sandi. Pikirannya melayang ke pekerjaan harian yang sudah menguras banyak tenaga dan waktu, namun penghasilannya tidak seberapa. Dini menghela napas panjang, mencari kekuatan untuk menghadapi cobaan yang tampaknya tak kunjung usai. Tiba-tiba pintu kamar Dean terbuka lebar. Dini buru-buru menghapus air mata sebelum menoleh ke arah orang yang tengah berdiri di sana. Pak Juan berdiri di ambang pintu, tatapannya tajam. "Kamu butuh uang, Dini?" Aku membeku. Bagaimana dia tahu? "Berapa?" tanyanya tegas. Aku menelan ludah, lalu menjawab dengan suara gemetar, "D-dua puluh juta, Pak." Dia menyilangkan tangan di dada. "Aku bisa memberimu uang itu. Tapi ada syaratnya." Jantungku berdegup kencang. "Syarat apa, Pak?" Pak Juan melangkah lebih dekat. "Tinggalkan suamimu itu setelah dia operasi dan kamu jadi milikku." Darahku seakan berhenti mengalir. "Apa?" "Kamu butuh uang. Dan aku akan memberikannya." Matanya menatap lurus padaku, tanpa ragu. Aku menggeleng panik. "Pak, kenapa saya harus meninggalkannya!" "Sampai kapan? Suamimu lumpuh, tidak bisa bekerja, dan kamu yang menanggung semuanya. Kamu pikir ini akan berakhir baik?" Aku terdiam. Aku ingin menolak, tapi kata-kata itu menusuk terlalu dalam. "Ambil waktu sebentar, tapi jangan terlalu lama. Suamimu butuh operasi, kan?" katanya dingin. Aku terhuyung mundur. Tidak! Aku tidak bisa! Tapi kalau aku tidak melakukannya… Mas Sandi… Tanganku mengepal. Air mataku jatuh, dan aku tahu, aku tak punya pilihan. "Pikirkan baik-baik, semua keputusan ada padamu," ucap Juan datar sebelum ia benar-benar meninggalkan kamar anaknya. Dini mengusap air mata yang membasahi pipinya dengan punggung tangannya, sambil matanya masih tertuju pada pintu yang baru saja ditutup oleh Pak Juan. Hatinya terasa tercabik-cabik antara dua pilihan yang sulit. Sandi, suaminya yang terbaring lemah di rumah sakit, membutuhkan operasi segera untuk kesembuhannya. Namun, untuk mendapatkan uang yang cukup, ia harus menerima tawaran majikannya, Pak Juan, yang mengharuskan ia meninggalkan suaminya, Sandi, untuk selamanya. Dini terisak dalam diam, rasa keputusasaan menyergapnya. Dilema yang menghantui pikirannya membuatnya semakin tidak berdaya. "Bagaimana mungkin aku harus memilih antara suami dan majikanku?" gumamnya lirih, seraya jari-jarinya mencengkeram erat selimut yang tergeletak di pangkuannya. Setiap detik yang berlalu terasa begitu berat, menggantung di bahunya seperti beban yang tak terangkat. Di luar sana, malam semakin larut, namun dalam kegelapan kamar itu, pikirannya terasa semakin terjebak dalam labirin kecemasan dan ketakutan. Ia tahu keputusan yang diambil akan mengubah hidupnya dan keluarganya selamanya. Dengan napas yang berat, Dini berdoa dalam hati, memohon kekuatan untuk membuat pilihan yang terbaik bagi mereka semua. Dini merasa kaki dan pikirannya tak bisa berhenti bergerak. Langkah kaki ringan namun cepat mengelilingi kamarnya yang remang-remang, mencerminkan pergolakan batin yang sedang dialaminya. Tangannya sesekali menarik helaan napas yang dalam, berusaha mencari jawaban atas tawaran Juan. "Aku harus bagaimana?" gumamnya seraya menggaruk kepala yang tak gatal. Lantas, ponsel yang baru saja ia letakkan di atas meja tiba-tiba berbunyi mengejutkan, memecahkan keheningan malam. Layar ponsel menunjukkan nama 'Ibu Mertua'. Jantungnya berdegup kencang sebelum jari-jarinya yang gemetar menekan tombol jawab. "Halo," sahutnya dengan suara yang berusaha tenang. "Dini, kamu harus tanggung jawab!" suara Bu Marlinah seketika terdengar keras di seberang sana, membuat Dini mengerutkan kening. "Sandi mau mengakhiri hidupnya karena kamu nggak bisa ngasih uang buat dia operasi. Kalau sampai terjadi apa-apa sama dia kamu yang patut di salahkan!" nada suara meninggi, terdengar keputusasaan dan amarah. Dini membeku, tangannya memegang telepon terasa dingin. Kata-kata itu seperti guntur yang menghantam keras, meninggalkan keheningan yang menggema di hatinya. Pagi itu, sinar matahari yang cerah menerobos jendela dapur tempat Dini tengah menyiapkan sarapan. Suasana hening hanya diselingi suara gemericik air dan desis panci di atas kompor. Sambil menuangkan jus, ia berpapasan dengan Juan yang sudah duduk di ruang makan. Juan memandangnya dengan senyum yang tak sepenuhnya tulus. "Bagaimana, Dini? Sudahkah kamu mempertimbangkan tawaranku semalam? Sebaiknya kamu cepat-cepat mengambil keputusan, lepaskan saja beban yang memenuhi pikiranmu," katanya, nada suaranya terdengar mengejek dan penuh penekanan pada setiap kata. Dini terpaku sejenak, tangannya yang memegang gelas berhenti di tengah udara. Matahari pagi yang cerah tadi seakan berubah suram dalam pandangannya, dia menelan ludah, berusaha meredam gejolak di dalam dadanya. Pikirannya yang sempat tenang kini kembali kacau, semua kembali menguap saat mendengar kata-kata Juan yang menusuk hatinya itu. Pak Juan tersenyum tipis, senyuman yang sulit ku tafsirkan. "Kita bicarakan nanti. Untuk sekarang, fokuslah pada suamimu. Pastikan dia tidak mencoba hal bodoh lagi." Aku mengangguk, tetapi rasa penasaran dan kekhawatiran mulai menyelimuti hatiku. Apa sebenarnya yang diinginkan Pak Juan dariku?Jessy’s POVI lay on the bed, eyes pressed shut, but sleep refused to come. The last twenty-four hours had been a whirlwind of emotions crashing over me one after another, barely giving me time to catch my breath.I kept replaying everything in my mind. What if I hadn’t wandered into the woods? Maybe then I wouldn’t have ended up in that cave with Arthur. Maybe then we wouldn’t have…I sat upright, tucking loose strands of hair behind my ears. I couldn’t just lie here. I needed to see Lila, to make sure she was okay, to explain what really happened as best as I could so I didn’t ruin our friendship forever. Arthur had told me to stay, but how could I? Lila was out there, hurt and angry, thinking I’d betrayed her. Our friendship meant everything to me. I couldn’t lose her, not like this.With one final glance around the room, I made my decision. I crept down the stairs quietly. The house was eerily silent except for the soft padding of my slippers against the hardwood floor.“Arthur?”
Arthur I laid there, curled up beside her, unable to take my eyes off her sleeping frame. Jess looked so fragile and beautiful in this state, with her chest heaving gently with every breath. She shifted beside me, but didn't wake up. I could feel her warm, soft skin against my own, and the heat of her body seeping through the thin shirt she wore. Her lips were parted slightly, pink from sleep, and her lashes cast shadows over her cheeks. A memory of the kiss we had shared in the cave made my entire body tingle. I couldn't stop thinking about it. About the way she felt against me, how our bodies connected so effortlessly. It all made my stomach tighten painfully. And even though I knew that I shouldn't be feeling anything like this towards her I couldn't help myself. My mind drifted momentarily to Lila. I had yet to hear from her. I sighed, gently placing a light kiss on Jess’ forehead before pulling away, and then slipping out from under the covers. She let out a soft w
I shifted closer as if hypnotized, my eyes never leaving his as I watched him move closer to me, his hands finding their way to the bottom of my chin, tilting my face back upwards so he was forced to look directly at me. He leaned in, his eyes fluttering close as his lips hovered inches above mine.His breath ghosted across my mouth, brushing lightly against my own as we held each other's gaze.A shudder ran down my spine as his hand slipped around the curve of my waist, holding me tight against him. He pressed his lips firmly against mine, moving softly against mine and without thinking, I let out a soft moan, opening my lips just enough for him to slip his tongue into my mouth and deepen the kiss. It was intense, demanding, and made my stomach flip over. A gasp escaped my parted lips as a burning desire pooled in my chest, consuming my body, my mind. Everything around me began to fade away as the urge to lose myself overtook me.A familiar emotion swept through me, the same I had f
JessyThe faint patter of the rain made me stir awake, my eyes fluttering open to take in my surrounding.Arthur had his hands wrapped around me, restricting my movement, with his breathing steady against my chest. I drew in a deep breath, his cologne filling my senses with a comfort and familiarity I hadn’t felt in a long time. As if sensing I was awake, he leaned back, withdrawing his weight from atop me, “Hey,” he called softly, his voice still deep with sleep. “Are you okay?” He asked, his worry evident in his dark gaze. I shuddered slightly from the intensity in those eyes, looking away before finally speaking, “I’m alright now.” He pressed the back of his free hand to my cheek, forcing me to meet his eyes. His hands felt very warm against my cold face and against my better judgement, I leaned into it.“Why did you wander into the woods, Jess?”I swallowed, “I just…I just wanted to take a walk..” I lied, my answer coming in slow pauses. He frowned, shaking his head slightly,






Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.
reviewsMore