หน้าหลัก / Romansa / Alur Baru Sang Selir Ketiga / Chapter 10: Alverine Memaafkan Rhys

แชร์

Chapter 10: Alverine Memaafkan Rhys

ผู้เขียน: KIKHAN
last update วันที่เผยแพร่: 2025-11-20 18:07:24

Rhys tidak terlalu memedulikan ucapan Leona. Ia tahu betul, wanita itu memang gemar menyalakan api di tengah bara yang belum padam.

Velian akhirnya meraih lengan Rhys dan berdiri. “Ayo,” ujarnya pelan, mencoba menarik pria itu dari kebekuan. Namun Rhys tetap bergeming, membuat Velian hampir terhuyung.

“Kejar mereka berdua,” desak Velian dengan mata membulat panik, mengguncang lengan Rhys sekali lagi.

Tanpa banyak kata, Rhys akhirnya berbalik dan mengikuti langkah Eira yang lebih dulu berlari
อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป
บทที่ถูกล็อก

บทล่าสุด

  • Alur Baru Sang Selir Ketiga   Chapter 149: Harapan Sederhana Leona

    “Apa yang mau kau katakan?” balas Velian, terdengar tidak suka dengan arah pembicaraan itu.“Tadi aku juga mengajukan perceraian kepada Rhys. Tapi dia tidak setuju karena anak ini belum lahir.”Velian terdiam sejenak.Ia tidak tahu bahwa Leona juga ingin berpisah dari Rhys. Meski begitu, kabar tersebut tidak terlalu mengejutkannya. Bahkan sebelum alur cerita berubah, ia sudah mengetahui bahwa Rhys bertahan dalam hubungan itu terutama karena anak yang dikandung Leona, bukan karena perasaan terhadap wanita itu.Hanya saja, sikap Rhys memang membingungkan.Perhatian yang ia berikan, cara ia memperlakukan Leona, serta keputusan-keputusannya yang seolah selalu mempertimbangkan keadaan wanita itu membuat Leona perlahan terbuai. Mungkin, tanpa disadari, Leona mulai menganggap perhatian tersebut sebagai sesuatu yang lebih dari sekadar tanggung jawab.Padahal, sejak awal, hati Rhys tidak pernah benar-benar berada di sana.“Semua orang di sini tahu bahwa cinta Rhys hanya untukmu dan Alverine, E

  • Alur Baru Sang Selir Ketiga   Chapter 148: Terlihat Tenang, Tapi Sebenarnya Tidak

    Garrick berhenti di depan ruang makan, sementara Velian dan Alverine terus melangkah masuk.“Selamat pagi semuanya!”Sapaan Alverine yang penuh semangat segera memenuhi ruangan.Velian ikut tersenyum kepada seluruh anggota keluarga yang sudah duduk menunggu. Rhys, Raven, dan Leona membalas senyumnya.Namun, Velian bisa langsung merasakan ada yang berbeda.Senyum mereka bukan senyum seperti biasanya. Lebih menyerupai senyum berat yang dipaksakan tetap hadir demi menjaga suasana di depan Alverine.Mereka kemudian menyantap sarapan dalam suasana yang relatif tenang. Tidak banyak percakapan yang terdengar. Alverine pun makan dengan tenang seperti biasanya.Begitu selesai, ia segera menatap Rhys.“Papa, aku mau ke taman belakang. Berlatih pernapasan lagi.”“Baik. Kalau lelah, jangan dipaksakan.”“Iya, Papa.”Alverine kemudian melirik Velian yang sedang meneguk segelas jus jeruk Morwenia—minuman berwarna jingga dengan rasa asam-manis yang menyegarkan.“Aku ke sana bersama Mami Eira, boleh t

  • Alur Baru Sang Selir Ketiga   Chapter 147: Tidak Perlu Menghindariku

    “Bagaimana pendapat Alverine? Saya yakin kau sudah memberitahunya,” ucap Rhys, kembali menatap Raven. “Alvie mengerti.” Tangan Rhys perlahan mengepal di atas pahanya. Lagi-lagi, Alverine harus menyesuaikan diri dengan keadaan orang tuanya. Selama hampir enam tahun, Raven telah menjadi sosok yang selalu ada di sisinya. Wajar jika Rhys khawatir kepergian Raven akan membuat Alverine sulit menerima perubahan itu. Terlebih, gadis kecil itu sudah begitu terbiasa memiliki Raven di rumah, menemaninya setiap hari. Rhys tidak ingin Alverine kembali kehilangan sosok yang selama ini ia anggap sebagai ibunya. “Sekarang, kembalilah ke meja makan dan bersiap untuk sarapan,” titah Rhys sembari beranjak dari kursinya. Selama Rhys berbicara dengan Raven dan Leona, Garrick berada di lantai atas, tepatnya di kamar Alverine. Begitu tiba di depan kamar, ia mendapati gadis kecil itu sedang menggunakan kekuatannya untuk merapikan mainan dokter-dokteran. Kotak perlengkapan medis mainan yang bers

  • Alur Baru Sang Selir Ketiga   Chapter 146: Permintaan Berpisah

    “Kau tidak kesal, jengkel, atau marah kepadaku karena sudah membohongimu?”“Semua sudah terjadi.” Rhys menatapnya tenang. “Apa lagi yang membuat saya harus kesal, selain karena saya tidak bisa mengembalikanmu ke duniamu?”Velian terdiam semakin dalam.Rhys melanjutkan dengan suara rendah, “Saya ingin Eira yang terus berada di sisi saya.”Velian menarik selimut hingga membalut tubuhnya, lalu membawanya sampai ke kamar mandi. Tubuhnya terasa lengket setelah berkeringat sepanjang malam, sehingga ia ingin segera membersihkan diri.Sementara itu, Rhys juga bersiap kembali ke kamarnya. Ia mengenakan kembali pakaian yang dipakainya semalam sebelum menggantinya dengan setelan yang lebih santai.Sehari sebelumnya, Rhys telah mengosongkan jadwalnya agar dapat memberikan waktu sepenuhnya untuk keluarganya. Namun, pagi ini beberapa urusan sudah menantinya.Begitu memasuki bangunan utama, pandangan Rhys langsung tertuju pada ruang pertemuan keluarga—ruangan yang biasa

  • Alur Baru Sang Selir Ketiga   Chapter 145: Pertama Kali Velian Merasa Konyol

    “Jadi, pikirkan baik-baik. Apa pun pilihanmu, aku akan tetap berada di sisimu.”Rhys menundukkan kepala, lalu mengecup kening Eira dengan lembut. “Akan saya pikirkan malam ini."Eira mengangguk kecil. Kelopak matanya mulai terasa berat. Ia bersiap memejamkan mata ketika leher Rhys sedikit terangkat untuk melihat wajahnya. "Sudah mau tidur?” “Aku mengantuk.” “Jangan tidur dulu,” cegah Rhys. Eira mendongak dengan wajah bingung. “Kenapa?” “Nanti ketika kau bangun, yang hadir Velian. Suasananya pasti lebih canggung.” Rhys menghela napas pelan. “Tidurnya nanti saja.” “Kalian juga pernah bercin—” Eira belum sempat menyelesaikan kalimatnya ketika Rhys buru-buru membekap mulutnya. “Jangan dilanjutkan.” Eira terkikik di balik telapak tangannya. Rhys akhirnya melepaskannya. “Saya tidak tahu saat itu,” katanya membela diri. “Oh, ya?” Eira mengangkat alis, jelas sedang menggoda. Rhys menatapnya beberapa saat sebelum tersenyum nakal. “Bagaimanapun, saat itu saya tidur denganmu karena

  • Alur Baru Sang Selir Ketiga   Chapter 144: Raven Berhenti Berharap

    Cara Rhys memandang Eira.Cara pria itu selalu mencarinya di tengah keramaian. Cara suaranya berubah ketika berbicara kepada Eira. Cara ia melindungi, mengkhawatirkan, bahkan kehilangan ketenangannya ketika Eira terluka.Raven tidak perlu bertanya kepada Rhys untuk mengetahui jawabannya.Hati pria itu memang tidak pernah berada di tempat lain.Hatinya hanya untuk Eira.Dan untuk pertama kalinya, Raven tidak merasa marah karena menyadarinya.Ia justru merasa lega.Sebab selama ini, tanpa sadar, ia masih hidup dengan kemungkinan bahwa mungkin suatu hari Rhys akan melihatnya sebagai seorang perempuan, bukan sekadar ibu bagi Alverine atau istri yang dibutuhkan untuk menjaga kestabilan keluarga.Kini Raven tahu bahwa kemungkinan itu tidak pernah ada.Ia tidak ingin merebut tempat Eira.Tidak ingin menunggu seseorang yang hatinya sudah memilih perempuan lain.Dan yang paling penting, ia tidak ingin Alverine kelak tumbuh dengan pemahaman bahwa cinta berarti bertahan di tempat yang tidak lagi

  • Alur Baru Sang Selir Ketiga   Chapter 4 : Eira yang Lain

    Ketika Rhys sudah berdiri di hadapannya, Velian justru bergeser menutupi sebagian tubuh Garrick dengan tubuhnya sendiri. Garrick mengerutkan dahi, tak mengerti dengan sikap aneh itu.Jika ada yang paling mengenal Rhys, maka itu adalah Velian—karena dialah pencipta tokoh pria ini dalam dunia asliny

  • Alur Baru Sang Selir Ketiga   Chapter 3: Lepas Kendali

    Pundak Rhys tak setegang biasanya, seolah bersiap mendengar permintaan Eira. “Jika ingin bepergian, bawa saya atau Garrick untuk menemani.” Velian hampir mendengus. Bukankah sama saja? Rhys dan Garrick bagai pinang dibelah dua. “Kalau sendiri, tidak boleh?” tanyanya hati-hati. “Jika kamu ping

  • Alur Baru Sang Selir Ketiga   Chapter 6: Rhys Menghunuskan Pedang

    “Panggil tabib sekarang,” perintahnya rendah, tapi cukup untuk membuat udara di sekitar seolah menegang.Garrick segera berlari, sementara Rhys tetap menahan Velian di pelukannya—menatap wajah pucat yang berkeringat itu dengan rahang mengeras, seolah menahan sesuatu yang lebih dari sekadar kekhawa

  • Alur Baru Sang Selir Ketiga   Chapter 5: Velian Mengubah Cerita

    Suara ketukan tiga kali di pintu kamar membuat Velian mengerang pelan. Ia masih ingin melanjutkan mimpi indahnya, tapi bunyi itu terus terdengar.Dengan mata setengah terbuka, Velian duduk, meregangkan tangan malas-malasan ke atas, lalu melangkah gontai menuju pintu. Begitu dibuka, koridor di depa

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status