แชร์

Alur Baru Sang Selir Ketiga
Alur Baru Sang Selir Ketiga
ผู้แต่ง: KIKHAN

Chapter 1: Kerajaan Morwenia

ผู้เขียน: KIKHAN
last update วันที่เผยแพร่: 2025-09-30 20:22:33

Sebuah negeri di ujung peta dunia berdiri dengan megah: Morwenia. Rakyatnya hidup tenteram di bawah naungan istana, tunduk sepenuhnya pada aturan kerajaan. Negeri itu dipimpin oleh Raja Aethelred IV dan Ratu Isolde VI, pasangan penguasa yang dikenal bijaksana sekaligus berwibawa. Di tangan mereka, Morwenia tumbuh menjadi negeri makmur, aman, dan damai.

Sebuah mahakarya arsitektur yang tak tertandingi menjulang di jantung ibu kota. Menara-menara tinggi berujung kerucut dan kubah runcing berdiri gagah, sementara sebuah menara jam besar menjadi pusat perhatian. Fasadnya dipenuhi jendela-jendela lengkung dengan cahaya lampu yang berpendar hangat dari dalam. Balkon-balkon berukir menghiasi dinding berwarna krem, dipadukan dengan atap biru keabu-abuan yang berkilau diterpa cahaya senja.

Tangga marmer yang lebar mengarah ke pintu utama, diterangi cahaya emas yang mengundang setiap mata menoleh kagum. Di halaman depan, taman istana terhampar rapi: topiary berbagai bentuk, bunga-bunga merah menyala, dan jalur setapak simetris yang diapit lampu-lampu taman bercahaya lembut. Sebuah kolam tenang di tepi jalur memantulkan siluet kastil.

Namun, di balik keindahan itu tersimpan kekuatan yang menjaga kedamaian negeri. Pedang istana bermata biru berkilau adalah simbol keadilan sekaligus hukuman. Pemegangnya bukanlah sembarang orang, melainkan sosok yang menjadi tangan kanan sang raja. Duke of Morwenia, Rhys Vance, bangsawan dari keluarga Vance yang masih berkerabat dengan Raja Aethelred IV.

Nama Rhys Vance menggema di seantero negeri. Wajahnya dikenal semua orang; wibawanya membuat rakyat segan dan musuh gentar. Dengan pedang itu, ia mampu menebas pengkhianat di mana pun, kapan pun. Setiap eksekusinya diselesaikan tanpa cela, sering kali diiringi ajudan setia dan pasukan khusus istana yang memastikan tak ada sisa pemberontakan.

Bagi rakyat, ia adalah pedang istana—tajam, pasti, dan tak mengenal ampun.

Di atas sebuah bukit, berdiri sebuah mansion megah yang tak kalah luas dan anggun dibandingkan istana Morwenia. Segala tata letaknya—dari bangunan utama, halaman depan, hingga kolam bias—disusun dengan simetri sempurna, memancarkan kesan agung dan terstruktur.

Halaman depannya terbentang luas, dihiasi air mancur bertingkat di pusatnya, dikelilingi kolam-kolam hias yang memantulkan cahaya bintang. Deretan topiary yang dipangkas rapi menjaga sudut-sudut halaman tetap indah, sementara lampu sorot berwarna keemasan. Dari ketinggian, pemandangan kota dengan cahaya berkelap-kelip terlihat di kejauhan.

Mansion itu adalah kediaman Rhys Vance, bangsawan terkemuka sekaligus Duke of Morwenia. Namun, ia tidak tinggal seorang diri. Di kediaman sebesar itu, tiga selir menempati sayap-sayap mansion, masing-masing membawa warna tersendiri bagi kehidupan Rhys.

● Raven Sinclair, selir pertama—dikenal galak dan berwibawa, namun di balik ketegasannya tersimpan hati yang lembut. Dialah yang dipercaya Ratu Isolde VI untuk mengasuh putri kecil Rhys.

● Leona Hart, selir kedua—seorang wanita cantik yang tengah mengandung. Pesonanya tak diragukan, meski sifatnya yang mudah terbakar emosi sering memicu keributan di dalam mansion.

● Eira Shawn, selir ketiga—gadis muda berusia dua puluh satu tahun dengan paras manis dan tutur kata lembut. Kehadirannya membawa nuansa segar dan keanggunan di tengah hiruk-pikuk rumah tangga bangsawan.

Selain mereka, ada sosok yang paling mencuri perhatian: Alverine Vance, putri semata wayang Rhys dari istri sah yang telah tiada karena penyakit langka. Gadis kecil itu tumbuh lincah, kerap meramaikan suasana mansion dengan tingkah jahilnya—terutama pada Leona Hart. Meski masih lima tahun, Alverine telah menjadi cahaya menyejukkan di rumah besar itu, dirawat sepenuh hati oleh Raven Sinclair sesuai amanat langsung dari sang ratu.

>•<

Dari balik meja kerja, seorang perempuan muda duduk dengan santai—satu kakinya naik ke kursi. Matanya terpaku pada monitor komputer, membaca ulang narasi pembuka novel kesayangannya yang kini telah menjelma menjadi best-seller di kalangan anak muda. Sengaja lampu kamar dipadamkan; hanya cahaya layar yang menerangi, menciptakan ruang hening tempat imajinasi berkuasa.

“Udah berkali-kali gue baca novel ini ... anehnya nggak pernah bosan,” gumam Velian Ardyn, sang penulis fenomenal “Duke of Morwenia”.

Dialah dalang di balik segala pergerakan para tokoh: tangan yang menulis, jemari yang menetapkan takdir, dan imajinasi yang menghidupkan mereka. Setiap ketukan tombol keyboard seakan menjadi garis nasib yang mengikat kehidupan karakter-karakter ciptaannya.

Velian meraih sebuah toples camilan di samping monitor—wafer cokelat dan keju favoritnya. Senyum tipis terbit di wajahnya ketika matanya kembali jatuh pada nama tokoh kesayangannya: Rhys Vance.

Bagi Velian, Rhys bukan sekadar karakter dalam cerita. Ia adalah sosok yang Velian agungkan, tokoh yang membuatnya rela begadang semalaman hanya demi merampungkan satu bab. Setiap kata yang tertulis, seakan menjadi napas kehidupan bagi sang Duke of Morwenia.

Keputusan paling berat yang pernah ia ambil, namun tak pernah sekali pun ia sesali adalah meninggalkan pekerjaan lamanya di sebuah kantor penuh racun. Dari titik itulah ia memilih jalan berbeda, jalan yang membawahnya duduk di hadapan layar ini, hidup bersama kata-kata dan tokoh-tokoh ciptaannya.

Mulut Velian sibuk mengunyah wafer, sementara tangannya terus menggulir layar ke bawah. Matanya terpaku, menelan tiap kalimat yang sudah membuat banyak orang jatuh dalam pesona Rhys yang tak terbantahkan.

“Fix, kalau Rhys beneran ada di dunia nyata, gue rela jadi selir keempat, kelima, keenam, bahkan kesepuluh pun gue jabanin deh,” celetuknya sambil terkekeh sendiri.

Di dinding kamarnya, sebuah poster resmi berukuran besar terpampang gagah: sosok Rhys Vance dalam balutan pakaian resmi kerajaan, sang Pedang Istana yang tampak perkasa dan berwibawa. Setiap hari poster itu selalu berhasil memikatnya, seolah Rhys benar-benar hidup menatap balik dari kertas tebal itu.

Velian cepat-cepat menggeleng, mencoba mengusir imajinasi yang sudah kelewat jauh. “Tapi ... kenapa masih ada aja yang ngehujat Rhys?” gumamnya pelan. “Apa karena dia punya tiga selir? Karena terlalu ganteng? Atau karena dia udah ngebunuh banyak orang?”

“Jujur aja deh, Rhys itu eksekusi orang karena memang pantas. Bukan asal tebas. Rata-rata yang mati juga koruptor sama pengkhianat...” Velian menjentikkan jarinya, seolah baru menemukan kunci jawaban.

Perempuan berambut yang dikuncir asal, dengan kacamata bulat yang bertengger di hidungnya, tersenyum miring. “Mereka ngehujat karena Rhys nggak punya kekurangan sama sekali.”

Tawanya pecah, lepas, hingga tangannya tanpa sadar ikut bertepuk gembira. Ada rasa lega yang aneh, seolah ia baru memenangkan kuis dengan pikirannya sendiri.

“Terima kasih, Tuan Rhys,” bisiknya sambil menatap layar penuh rasa puas. “Berkat Anda, saya dapat cuan banyak.”

Perhatian Velian teralihkan ketika ponselnya berbunyi sebuah notifikasi, mengabarkan fenomena bintang jatuh yang akan menghiasi langit malam ini. Tanpa pikir panjang, ia bergegas menuju balkon apartemen, meninggalkan layar komputer yang masih menyala.

Di monitor, terbuka adegan percakapan antara Rhys dan Eira.

“Mulai sekarang, kamu dilarang ke luar mansion. Kondisimu terlalu sering memburuk,” ucap Rhys tegas, tanpa ragu sedikit pun.

“Aku hanya pergi ke luar untuk belajar di akademi pengetahuan—“

Belum sempat Eira menyelesaikan kalimatnya, Rhys sudah memotong cepat, “Jika itu maumu, silakan pergi dan jangan pernah kembali.” Di belakangnya ajudan setia Rhys, Garrick Veynar, memberi kode halus. Sebuah gelengan tipis, peringatan agar Eira tak lagi membantah bila tak ingin semakin dikekang.

Tiba-tiba, layar komputer Velian berkedip. Garis-garis acak muncul seakan sistem eror, lalu teks di halaman bergerak sendiri ke bawah dengan kecepatan tak wajar.

Sementara itu, di balkon, Velian sudah menyiapkan kamera ponselnya. Langit malam berkilau, lalu tiga bintang jatuh melesat bersamaan, membelah kegelapan. Ia mendecak kagum, mulutnya terbuka tanpa sadar. Dalam diam, ia berdoa lirih, “Gue nggak minta lebih ... cukup biar hidup ini terus berwarna, sampai gue lupa caranya bersedih.”

Beberapa menit kemudian, Velian kembali ke kamar. Ia menjatuhkan diri ke kasur, ponsel dengan foto jepretan bintang jatuh masih terpampang. Kantuk segera menyeretnya, matanya perlahan terpejam.

Tanpa ia sadari, layar komputer di meja kerja berganti sendiri, melompat hingga ke halaman ratusan. Di sana, terbaca baris monolog Rhys:

“Di mana pun kamu berada, saya tetap mencintaimu.”

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Alur Baru Sang Selir Ketiga   Chapter 142: Leona dan Raven Sedang Mempertimbangkan Sesuatu

    Rhys mengangkat dagu Eira dengan lembut. Tatapan mereka bertemu, penuh cinta yang selama ini sempat tertutup oleh kesalahpahaman—seperti bunga peony yang kembali bermekaran setelah lama menunggu musimnya. “Malam ini saya tidur bersamamu, ya?” Eira terdiam sesaat. Tatapannya masih terpaku pada mata Rhys. Satu tangan Rhys terangkat, menyelipkan rambut Eira yang jatuh di sisi wajahnya ke belakang telinga. Wajahnya bergerak perlahan mendekat, sementara tatapannya sempat jatuh pada bibir Eira sebelum kembali menatap kedua mata wanita itu. Eira tanpa sadar memejamkan mata. Jarak di antara mereka menghilang. Bibir Rhys menyentuh bibirnya dalam kecupan lembut yang perlahan menjadi lebih dalam. Kedua tangan Eira ikut bergerak, melingkar di leher Rhys seolah tubuhnya tahu apa yang harus dilakukan bahkan sebelum pikirannya sempat menyadarinya. Rhys kemudian mengecup pipi kanannya, lalu pipi kirinya, keningnya, sebelum kembali menemukan bibir Eira. Setiap kecupan terasa seperti cara merek

  • Alur Baru Sang Selir Ketiga   Chapter 141: Eira dan Rhys Membicarakan Lucien dan Garrick

    Eira duduk bersama Rhys di tepi kasur.Suasana yang sejak awal terasa berjarak dan dingin kini tidak lagi begitu kentara. Meski begitu, keduanya masih duduk berdampingan dalam diam, sama-sama kebingungan harus memulai percakapan dari mana.Wajah mereka masih sembab. Setidaknya, masalah yang selama ini membebani hati akhirnya terselesaikan lebih cepat dari yang mereka bayangkan.“Setelah malam ini berakhir, apakah tidak masalah jika Velian yang kembali?” tanya Eira.“Ada apa memangnya?” Rhys menoleh.“Velian harus mengambil salah satu pusaka Morwenia di istana agar bisa kembali ke dunianya.” Eira sendiri masih belum memahami bagaimana mekanismenya. “Namun, begitulah yang Lucien katakan.”Rhys menyimak penjelasannya sebelum akhirnya bertanya, “Lucien? Putra Mahkota?”“Ya.”Baru sekarang Rhys mengetahui bahwa Pangeran Lucien ternyata telah mengetahui rahasia mereka selama ini.Tatapannya beralih kepada Eira dengan ekspresi tak percaya. Rupanya, orang yang seharusnya paling dekat denganny

  • Alur Baru Sang Selir Ketiga   Chapter 140: Semua Telah Terucap

    “Aku takut kehilanganmu bahkan setelah aku mati.”Rhys membawa Eira ke rumah ini bukan semata-mata untuk memenuhi janjinya kepada Maren Shawn.Ia membawanya kemari karena berharap Eira tidak lagi merasa sendirian. Ia ingin memberinya tempat untuk memulai kembali, membangun kebahagiaan dari hal-hal kecil yang bisa mereka bagi bersama.Namun, seiring waktu berjalan, Rhys justru tidak pernah benar-benar tahu apa yang ada di dalam hati Eira.Wanita itu begitu tertutup. Ia jarang berbicara lebih lama dengannya, seolah selalu ada jarak yang tidak boleh ia lewati.Rhys mengira Eira hanya membutuhkan waktu untuk beradaptasi. 'Mungkin ia masih berduka'. Mungkin suatu hari nanti, ketika luka di hatinya perlahan melebur bersama waktu, Eira akan kembali menjadi dirinya yang ceria.Namun, bukan duka yang melebur. Melainkan hubungan mereka yang perlahan kehilangan kehangatan.Tanpa disadari, keduanya membangun benteng masing-masing.Rhys takut jika terlalu memaksakan diri untuk mendekati Eira, wani

  • Alur Baru Sang Selir Ketiga   Chapter 139: Eira Menjelaskan Takdirnya

    Setelah kembali ke tubuhnya, Eira segera mencari Rhys.Namun, kamar pria itu kosong.Ia mengetuk pintu kamar Alverine, lalu membukanya tanpa menunggu jawaban. Kosong juga.Eira menutup pintu dan kembali melangkah. Langkahnya terburu-buru, pikirannya terlalu penuh untuk menentukan ke mana harus pergi. Ia bahkan tidak tahu harus mencari Rhys di mana.Di tengah lorong, ia berpapasan dengan Leona. Namun, Eira sama sekali tidak sempat menoleh ataupun menyapanya.Leona langsung memahami siapa yang sedang dicari Eira. Meski Eira telah melewatinya beberapa langkah, ia tetap memanggil dengan suara yang cukup keras.“Kau mencari Rhys?”Eira berhenti seketika dan berbalik. “Kau melihatnya?”“Dia baru saja pergi ke halaman belakang.” Leona menunjuk ke arah lorong di sebelahnya. “Mungkin ke kubah kaca paviliun.”“Terima kasih.”Eira langsung berbalik dan hendak melangkah pergi. Namun, baru beberapa langkah, ia kembali berhenti.Seharusnya ia tetap berjalan lurus.Eira menoleh ke belakang, kemudian

  • Alur Baru Sang Selir Ketiga   Chapter 138: Penjelasan Lucien

    Velian baru saja memasuki ruang kesadaran ketika sosok Eira muncul di hadapannya. Namun, sebelum mereka sempat bertukar kata, pusaran energi keemasan yang dikirimkan Alverine telah mencapai tujuannya.Energi itu menembus celah kesadaran, lalu mengalir menuju jantung Eira—tepat ke inti magis yang terhubung dengan Kristal Marindor. Cahaya keemasan menyebar sesaat, berdenyut lembut sebelum menyatu dengan inti magisnya.Celah yang sebelumnya sempat retak dan kembali tertutup itu mulai bergetar. Retakan tipis muncul di permukaannya, merambat perlahan hingga membentuk celah yang cukup lebar untuk memperlihatkan ruang di baliknya.Lalu, seperti pada pertemuan pertama mereka, sosok Pangeran Lucien muncul dari balik celah tersebut.Kehadirannya terasa seolah-olah ia baru saja melangkah masuk ke ruang kesadaran mereka, bukan sekadar bayangan yang terbentuk dari ingatan. Tak ada yang berubah dari caranya muncul saat itu—seakan-akan waktu berputar kembali ke awal, meski kali ini mereka telah meng

  • Alur Baru Sang Selir Ketiga   Chapter 137: Harapan Semua Orang

    Dylen memandang Velian yang masih diliputi kecemasan.“Kontrol suasana hatimu.” Tangannya menepuk pelan bahu Velian. “Kau dan Alverine terhubung. Kalau kau tidak tenang, Alverine juga akan merasakan hal yang sama.”Velian terdiam. Napasnya perlahan ia atur, berusaha menekan kegelisahan yang sejak tadi memenuhi dadanya.Dylen menatapnya dengan tenang. “Kita sudah menduga hal ini akan datang.” Ia menghela napas pelan. “Rhys meminta Eira kembali untuk menjelaskan semuanya kepadanya. Jadi, kita penuhi permintaannya.”Velian menundukkan kepala. Untuk sesaat, ia memejamkan mata, mencoba mengendalikan pikirannya sendiri.Benar. Mereka memang sudah tahu hari ini akan tiba. Hanya saja, tidak ada yang benar-benar siap ketika hari itu akhirnya datang.Dylen masih memegang buku tanpa judul itu. Ia membolak-balik beberapa halaman sebelum akhirnya berhenti.“Aku tidak bisa terus berada di sini. Aku harus menemui Pangeran Lucien. Dia mungkin lebih tahu apa yang harus kita lakukan selanjutnya.”Dylen

  • Alur Baru Sang Selir Ketiga   Chapter 6: Rhys Menghunuskan Pedang

    “Panggil tabib sekarang,” perintahnya rendah, tapi cukup untuk membuat udara di sekitar seolah menegang.Garrick segera berlari, sementara Rhys tetap menahan Velian di pelukannya—menatap wajah pucat yang berkeringat itu dengan rahang mengeras, seolah menahan sesuatu yang lebih dari sekadar kekhawa

  • Alur Baru Sang Selir Ketiga   Chapter 5: Velian Mengubah Cerita

    Suara ketukan tiga kali di pintu kamar membuat Velian mengerang pelan. Ia masih ingin melanjutkan mimpi indahnya, tapi bunyi itu terus terdengar.Dengan mata setengah terbuka, Velian duduk, meregangkan tangan malas-malasan ke atas, lalu melangkah gontai menuju pintu. Begitu dibuka, koridor di depa

  • Alur Baru Sang Selir Ketiga   Chapter 4 : Eira yang Lain

    Ketika Rhys sudah berdiri di hadapannya, Velian justru bergeser menutupi sebagian tubuh Garrick dengan tubuhnya sendiri. Garrick mengerutkan dahi, tak mengerti dengan sikap aneh itu.Jika ada yang paling mengenal Rhys, maka itu adalah Velian—karena dialah pencipta tokoh pria ini dalam dunia asliny

  • Alur Baru Sang Selir Ketiga   Chapter 2: Masuk ke Tubuh Selir Ketiga

    “Nona Eira.” Mata masih terpejam, Velian merasa seperti ada yang memanggil. “Nona Eira.” Suara itu terdengar lagi. Velian sudah terbiasa mimpi tokoh-tokoh dari novelnya. Biasanya pertanda sudah siang, seakan-akan mereka membangunkannya. Dengan malas, ia membuka mata. Seketika terkejut, buru

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status