Home / Romansa / Alur Baru Sang Selir Ketiga / Chapter 6: Rhys Menghunuskan Pedang

Share

Chapter 6: Rhys Menghunuskan Pedang

Author: KIKHAN
last update Last Updated: 2025-11-18 14:17:13

“Panggil tabib sekarang,” perintahnya rendah, tapi cukup untuk membuat udara di sekitar seolah menegang.

Garrick segera berlari, sementara Rhys tetap menahan Velian di pelukannya—menatap wajah pucat yang berkeringat itu dengan rahang mengeras, seolah menahan sesuatu yang lebih dari sekadar kekhawatiran.

Velian tak sanggup lagi menahan sakitnya. Pandangannya berputar, napasnya tercekat—hingga semuanya perlahan memudar menjadi gelap. Tubuhnya terkulai, kehilangan kesadaran sepenuhnya di pelukan Rhys.

“Eira!” panggil Rhys, namun tak ada jawaban.

Tanpa ragu, ia langsung mengangkat tubuh gadis itu ke dalam gendongannya, melewati cahaya siang yang memantul di marmer dan kaca istana. Langkahnya cepat, penuh desakan, nyaris tak memberi ruang bagi siapa pun untuk menghalangi.

“Siapkan tabib! Sekarang juga!” suaranya bergema keras di koridor mansion, membuat para pelayan spontan menunduk dan berlari memenuhi perintahnya.

Namun di balik ketegasan itu, matanya memancarkan sesuatu yang lebih dalam—campuran panik dan takut kehilangan—yang hanya muncul ketika nama Eira terucap.

~

Velian membuka mata. Cahaya di sekelilingnya begitu aneh—bukan cahaya matahari, melainkan kilau kebiruan yang berdenyut seperti napas. Ia berdiri di tengah ruang kosong, permukaannya seperti cermin air yang memantulkan sosoknya sendiri.

Namun pantulan itu … bukan dirinya.

Wajah yang menatap balik adalah Eira Shawn.

Velian terdiam, dadanya terasa berat. Suara Eira terdengar tanpa bibirnya bergerak—dalam, bergema, seolah datang langsung ke dalam pikirannya.

“Gantikan semua rasa sakit yang selama ini aku rasakan … karena kamu yang mengendalikan segalanya.”

Tatapan Eira berubah muram, lalu suaranya menajam menjadi amarah yang menusuk hingga ke tulang.

“Cari siapa yang membuat aku mati mengenaskan … cari siapa pun dia, dan bunuh tanpa ampun.”

Kata-kata itu bergema keras, menggema berulang kali hingga seluruh ruangan bergetar.

Velian menutup telinga, namun gema itu tak berhenti—terus memantul di dalam kepalanya, semakin keras, semakin dekat—sampai ia tersentak dan membuka mata.

Napasnya terengah. Ia kembali di kamarnya. Peluh dingin membasahi pelipis, dan di telinganya ... kata “bunuh tanpa ampun” masih terngiang, seperti kutukan yang menolak pergi.

Yang paling mengejutkan bagi Velian bukanlah kenyataan bahwa ia telah terbangun, melainkan sentuhan hangat di dahinya.

Telapak tangan Rhys menyentuh kulitnya perlahan. Ia menoleh. Pria itu duduk di tepi ranjang, jaraknya hanya sejengkal, dengan wajah datar tanpa ekspresi khawatir yang menonjol.

Di sisi mereka, sang tabib berdiri menunduk hormat, takut mengeluarkan suara yang tidak pada tempatnya.

“Dia—“ Rhys sempat berdeham, memperbaiki ucapannya. “Tabib,” panggilnya datar, sekilas melirik. “Eira tidak demam. Lalu mengapa bisa pingsan?”

Tabib menjawab pelan, suaranya serak. “Maaf, Tuan ... Saya tidak menemukan penyebab pasti."

“Garrick?” Rhys menoleh tajam.

Sang ajudan yang berdiri di sisi pintu tampak menahan napas, berusaha mencari kalimat yang tepat. Sebelum Garrick sempat berbicara, Velian menyentuh lengan Rhys dengan spontan.

“Alvie sudah tidur?” tanyanya lirih.

Rhys menatap tangan di lengannya sebelum menjawab pelan, “Sudah.”

Velian menghela napas lega, matanya melembut. “Syukurlah.”

Rhys mengerjap kecil. “Kalian bermain bersama?” tanyanya.

Velian tersenyum cerah. “Alvie pintar sekali bermain gelembung! Dia datang ke kamarku siang bolong dengan wajah sedih, jadi aku ingin menemaninya—“ Ia mendadak terhenti, menyadari lidahnya telah meluncur terlalu jauh.

Ruangan seketika hening. Tabib dan Garrick menunduk lebih dalam, seolah ada gembok tak kasat mata yang mengunci mulut mereka.

Rhys menatap Eira lama. “Kamu ... bermain dengan Alvie?” tanyanya perlahan, memastikan. Lalu ia menoleh ke arah Garrick. “Benarkah begitu?”

Garrick menelan ludah. Ia tahu berbohong bukan pilihan. “Benar, Tuan.”

Rhys kembali menatap Velian antara heran dan kewaspadaan. “Bukankah kamu tidak menyukai Alvie? Kamu...”

Velian terdiam, matanya membulat. Eira tidak menyukai Alverine? Mengapa? Pikirnya bingung.

Namun belum sempat menatap pikirannya, Rhys tiba-tiba berdiri. Dalam satu gerakan cepat, pedangnya terhunus. Ujungnya yang berkilap kini berada tepat di depan leher Velian.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Alur Baru Sang Selir Ketiga   Chapter 69: Sup yang Menghangatkan Hati

    Urusan di istana selesai. Rhys dan Velian berpamitan dengan raja dan ratu, lalu melangkah menuju agenda masing-masing. Velian akan beristirahat, sementara Rhys hendak berburu bersama Garrick."Langsung?" Velian spontan bertanya, langkah mereka berhenti kompak di depan pintu rumah.Rhys menatapnya tenang, tapi matanya menaruh rasa ingin tahu. "Ya. Ada apa?""Kamu tidak lelah seharian di istana?"Rhys mengangkat alis, setengah tersenyum. "Kamu … peduli dengan saya?"Velian menunduk sebentar. "Kesehatanmu."Di bawah anak tangga, Garrick sudah menunggu, matanya mengamati interaksi mereka. Rhys sekadar melirik, menandakan dia tak keberatan, lalu menoleh kembali pada Velian.Velian melipat kedua tangan di depan dada, nada suaranya bercampur canda dan skeptis. "Lagipula, apa yang kamu buru di malam hari? Gelap, sunyi, sepi…"Rhys tersenyum tipis, nada santai tapi tajam. "Saya tidak punya waktu untuk menjawab pertanyaanmu. Malam ini saya tidur sendiri, jadi t

  • Alur Baru Sang Selir Ketiga   Chapter 68: Cinta di Ujung Pedang

    Velian dan Ratu berdiri di depan jendela besar yang terbuka, memandangi hamparan kebun bunga: camellia putih berpadu poppy merah yang bergoyang diterpa angin.Velian menoleh ke arah Rhys, yang terlihat di kejauhan bersama seorang pria yang dari pakaian resminya jelas anggota keluarga kerajaan. Matanya membelalak. "Pangeran?!" gumamnya lirih, penuh penasaran untuk melihat rupa aslinya di dunia nyata.Ratu tersenyum hangat, matanya mengikuti punggung putranya. "Putra Mahkota sudah begitu besar … padahal rasanya baru kemarin ia belajar berjalan. Ah, jantung ini selalu berdebar setiap kali menatap putra saya sendiri," ucapnya lembut.Dalam dunia yang Velian tulis, Putra Mahkota Morwenia adalah sosok Asia tampan—tegas, kekar, dan menguasai segala hal. Sementara Rhys, Duke of Morwenia: Pedang Istana, hadir sebagai sosok pedang yang bengis, tak kenal ampun. Pangeran, bagai rubah: licik, berhati lembut, dan penuh perhitungan, berbeda namun sama-sama memikat."Sejujurnya … sa

  • Alur Baru Sang Selir Ketiga   Chapter 67: Perbandingan Camellia dan Poppy

    Tidak terlintas sedikit pun di benak Velian bahwa hari ini ia harus berpisah dengan Rhys di Istana Morwenia. Saat berdampingan di hadapan Raja Aethelred dan Ratu Isolde, membungkuk dengan penuh hormat, Velian tetap menggenggam tangan Rhys. Rhys sendiri tak mempermasalahkan hal itu.“Selamat datang, Tuan Rhys Vance dan Putri Eira Shawn, di Istana kami,” sapa Ratu Isolde, senyum hangatnya menenangkan namun tetap menegaskan wibawa.Raja Aethelred tertawa pelan, suaranya terdengar gagah dan maskulin. “Dua bangsawan yang klan-nya menjadi sejarah turun-temurun Morwenia. Sudah lama kami tidak melihat kalian datang bersama. Bagaimana kabar kalian berdua?”Velian sibuk menatap interior Istana, matanya berbinar kagum, sementara Rhys tetap tenang dan formal. “Kami selalu baik, Baginda. Terima kasih atas sambutan yang hangat dan penuh perhatian,” jawab Rhys, suaranya tenang tapi penuh hormat.Ratu Isolde mengangguk perlahan, menoleh ke Raja. “Tuan Rhys ke Istana pasti bukan urusan kecil. Apakah k

  • Alur Baru Sang Selir Ketiga   Chapter 66: Pertemuan di Istana

    Velian kembali berdiri di ruang yang tak pernah benar-benar ia pahami. Sunyi, pucat, seperti batas tipis antara mimpi dan kesadaran. Udara di sana tidak bergerak, waktu seakan membeku. Namun satu hal selalu pasti: ia tidak pernah sendirian.Di hadapannya berdiri Eira Shawn.Pemilik tubuh yang kini ia tinggali.Hampir setiap malam ruang itu membuka diri bagi mereka, seolah takdir sengaja memberi celah agar dua jiwa dalam satu raga dapat saling menatap tanpa topeng. Tidak selalu dengan amarah. Tidak selalu dengan penolakan. Kadang hanya tatapan panjang yang sarat tanya—tentang hari yang telah berlalu, tentang Rhys, tentang Istana, tentang bisik-bisik yang belum padam.Tentang perasaan yang mulai berubah bentuk.Ada malam-malam ketika Velian merasa Eira hanyalah pantulan ketakutannya sendiri.Namun ada malam lain ketika Eira menatapnya terlalu hidup, terlalu sadar untuk sekadar disebut bayangan.“Kau seharusnya bersikap seperti aku,” ujar Eira akhirnya, suaranya lembut namun tegas. “Sepe

  • Alur Baru Sang Selir Ketiga   Chapter 65: Hak dan Batas

    Malam sudah lebih sunyi ketika Rhys berdiri di depan kamar Velian. Ia tidak langsung masuk. Tangannya sempat terangkat untuk mengetuk … lalu turun lagi.Akhirnya, ia mengetuk pelan.Tidak ada jawaban.Beberapa detik kemudian, Rhys membuka pintu perlahan dan masuk tanpa suara. Ia menutupnya kembali. Velian duduk di sisi ranjang, memeluk lututnya. Lampu kamar redup, membuat suasana terasa lebih sunyi dari biasanya.“Saya tidak datang untuk berdebat atau memarahi kamu,” ucap Rhys pelan.Velian tidak menoleh. “Kalau begitu tidak perlu datang.”Kalimat itu terasa lebih tajam daripada bentakan sebelumnya. Rhys menarik napas perlahan. “Saya ingin menjelaskan. Bukan membenarkan.”Velian terdiam.“Saya membunuhnya,” lanjut Rhys, suaranya rendah namun stabil. “Bukan karena dia melukai kamu. Tapi karena dia berani menyentuh wilayah yang menjadi tanggung jawab saya.”“Kami bukan wilayahmu,” balas Velian pelan.“Saya tahu.” Rhys mengangguk. “Kalian bukan barang. Bukan kepemilikan. Tapi keselamatan

  • Alur Baru Sang Selir Ketiga   Chapter 64: Rhys Menjawab

    Velian tetap duduk di kursinya di meja makan, sementara para pelayan mulai sibuk mencuci piring dan peralatan dapur yang digunakan sebelumnya. Di seberangnya, Rhys menatap Vox Device dengan serius, fokus penuh sampai dahinya berkerut.Velian ingin membuka percakapan, tapi suasana sepi dan kursi lain kosong membuatnya merasa canggung. Semua orang sudah kembali ke kamar masing-masing setelah makan malam.“Kamu bilang.”Velian sedikit terkejut, menyadari Rhys memperhatikannya.Rhys menutup Vox Device di atas meja dan menatap Velian. Ia bersedia mendengarkan.Setelah menelan ludahnya, Velian akhirnya memutuskan untuk urung bertanya. Rasa penasarannya terhadap perkataan Alverine memang ada, tapi ia sadar, pertanyaan itu bisa saja mengusik Rhys.“Aku kembali ke kamar.” Velian memaksakan senyum tipis sebelum bangkit dari duduknya.Namun rupanya Rhys belum puas. Desahan beratnya terdengar jelas hingga ke telinga Velian.“Untuk bertanya atau sekadar mengucap satu kalimat saja, apa sesulit itu?

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status