Chapter: Hanya Ingin Kedamaian“Aku yang akan urus sisanya. Kalian pergilah dari sana.” Cakra hanya menjawab singkat, “Hm, aku paham.” Usai percakapan usai, dia kembali menatap Angga. “Raka bilang dia akan mengurus sisanya. Kita harus pergi dari sini,” ucap Cakra, suaranya terdengar parau. Angga hanya mengangguk, matanya kosong. Mereka kembali ke mobil masing-masing, melaju meninggalkan tempat kejadian, meninggalkan semua masalah di belakang. Pintu bangsal terbuka perlahan, memperlihatkan sosok Sagara yang sedang bersama Putri. Mereka selesai melakukan perawatan ringan akibat menghirup banyak asap. Sagara tersenyum lemah saat melihat Cakra dan Angga. “Terima kasih kalian sudah datang,” ujarnya lirih. Angga tersenyum singkat. Cakra berdiri di sampingnya, diam-diam mengamati interaksi antara Sagara dan Angga. Dia menyadari, ada ikatan yang kuat di antara mereka. Putri melangkah mendekati Angga, tangannya mengepal erat. Dengan cepat, dia melayangkan tamparan keras ke pipi Angga hingga meninggalkan bek
Terakhir Diperbarui: 2024-12-04
Chapter: Diakhiri dengan Sempurna Anwalira duduk di tepi kasur, matanya menatap keluar jendela. Cahaya matahari menembus celah tirai, menerangi wajahnya yang pucat. “Aku sudah memutuskan. Malam ini, aku akan pergi.” Dia menarik napas dalam-dalam, berusaha menguatkan hati. “Aku lelah menderita. Aku ingin bebas. Mungkin ini jalan keluar terbaik.” Jari-jarinya meremas sprei kasur dengan erat, seakan-akan ingin mencengkeram harapan terakhir. Anwalira tersenyum tipis. Rasanya baru pertama kali dia bangun tanpa harus buru-buru menyiapkan diri untuk bekerja. Biasanya, dia akan merasa terbebani dengan semua tugas yang menumpuk. Tapi hari ini, hatinya terasa ringan. Namun, di balik rasa senangnya itu, ada juga sedikit keanehan. Kenapa orang tuanya tidak membangunkannya seperti biasa? Apakah ada sesuatu yang terjadi? Anwalira menarik napas dalam-dalam, lalu dengan sekuat tenaga menarik gagang pintu. “Tidak mungkin!” gumamnya, kecewa. Dia menggedor-gedor pintu, suaranya bergema di dalam rumah. “Buka pintunya! Kenapa kalian
Terakhir Diperbarui: 2024-12-04
Chapter: Perjanjian Anwalira dengan Cenayang Minada dan Vilas HirawanPerjanjian awal, tahun 2000... “Di mana saya dapat menemukan seorang gadis yang bersedia dijadikan tumbal? Seharusnya tugas itu menjadi tanggung jawabmu! Kamu sudah saya bayar untuk itu!” Vilas menuntut dengan nada tinggi, enggan mengeluarkan sedikit pun usaha untuk mencari calon korban. Tersembunyi di balik rimbunnya pepohonan, seorang gadis remaja menyimak percakapan antara seorang pria berpakaian rapi dengan kemeja gelap dan celana panjang hitam, serta seorang wanita paruh baya berjubah hitam yang menutupi sebagian besar tubuhnya. Wanita tua itu adalah Minada, seorang cenayang terkenal yang tak lain adalah ibu kandung dari Sagara Paramayoga. Mereka tengah mendiskusikan ritual kebangkitan Gataka yang akan dilaksanakan dua hari mendatang, tepat pada malam purnama. Vilas, dengan penuh semangat membara, tidak sabar untuk mewujudkan dendam lamanya. Namun, syarat-syarat yang harus dipenuhi dalam ritual tersebut ternyata jauh lebih rumit dari yang dia bayangkan. “Mengapa tidak me
Terakhir Diperbarui: 2024-12-01
Chapter: Kobaran Api Melahap Rumah KiranKiran menggenggam tangan Ria erat, matanya berkaca-kaca. “Apa Vilas mati di tangannya malam ini?” Ria menutup kedua telinganya, jantungnya berdebar kencang. Setiap detik terasa seperti jam, menunggu letusan senjata. “Hanya dengan membunuh kamu, kutukan yang Kiran derita berakhir.” Suara Angga dingin menusuk. Vilas bergerak cepat, tangannya meraih pisau di balik jas. Dengan satu gerakan lincah, pisau itu meluncur ke arah perut Kiran yang berusaha menghalangi Angga. “Kiran!” jeritan Ria memecah keheningan malam. Darah segar merembes dari luka Kiran, membasahi pakaiannya. Darah segar membanjiri bibir Kiran. Angga menggertakkan gigi, peluru ketiga meleset saat Vilas lincah menghindar. “Angga!” jerit Ria, matanya berkaca-kaca menatap Kiran yang semakin pucat. Tanpa ragu, Angga menyingkirkan dendamnya dan segera menghubungi ambulans. Vilas memanfaatkan kesempatan itu, menghancurkan kaca jendela dan melarikan diri. Angga bergegas menghampiri Kiran yang terkulai lemah, darah segar memb
Terakhir Diperbarui: 2024-04-02
Chapter: Alasan Angga Berada di Sisi Mereka Dengan jantung berdebar, Kiran tahu dia harus bertindak. Nyawa Ria jauh lebih berharga dari nyawanya sendiri. Ia melangkah keluar, tekadnya bulat. Sebelum menghadapi Vilas, Kiran menghubungi sekutunya, sebuah langkah yang akan mengubah segalanya. “Akhirnya kamu muncul di hadapanku!” seru Vilas, senyum licik menghiasi wajahnya. Ria berlutut di depannya, tubuhnya terikat erat, wajahnya lebam dan berlumuran darah. “Kenapa kamu keluar?” lirih Ria, suaranya parau. “Seharusnya kamu tetap di dalam.” Wajahnya pucat pasi, matanya berkaca-kaca. “Masuk!” Vilas mendorong Ria dengan kasar hingga tersungkur. Amarah Kiran membuncah melihat perlakuan kasar itu. Vilas dengan santai berjalan masuk, seakan rumah ini miliknya. “Ternyata masih sama,” gumamnya, sudut bibirnya terangkat. “Kamu tak mengubah apa pun? Persis seperti terakhir kali aku datang.” Nada meremehkan terdengar jelas. “Tanpa membawa Ria, aku pasti akan datang menemui kamu.” Kiran mengepalkan tangan, berusaha menahan amarah yang mem
Terakhir Diperbarui: 2024-03-20
Chapter: Vilas Mengancam Kiran dengan Menggunakan Ria Kiran meremas amplop usang itu, matanya mengikuti goresan tinta yang seakan menyimpan ribuan teka-teki. Pesan singkat dari Putri Paramayoga selain nama lengkapnya terdapat tulisan lain di sudut kanan bawah kertas: “Satu bulan dari sekarang, pergilah ke perpustakaan kota. Tunggu seseorang di sana, duduk di tempat biasa kamu membaca buku.” Degup jantungnya tak beraturan. Siapa yang akan menunggunya? Akhirnya, dengan jantung berdebar, Kiran melangkahkan kaki ke perpustakaan kota. Satu jam terasa seperti satu abad saat ia menunggu sosok misterius itu. Buku di tangannya tak terbaca, pikirannya terus menerawang pada kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi. Dan kemudian, ia melihatnya. Pria itu. Sosok yang pernah ia temui, kini berdiri di hadapannya dengan penampilan yang sangat berbeda. Kemeja kasual dan celana jeans menggantikan setelan jas formal yang pernah dia kenakan. Sebuah senyuman tipis tersungging di bibirnya, namun di balik itu, Kiran merasakan ada sesuatu yang disembunyikan.
Terakhir Diperbarui: 2024-03-20
Chapter: TAMATThank youuuu buat teman-teman yang sempat mampir ataupun tetap bertahan masukin novel ini ke rak bacaan kaliaann. Congrats buat aku sendiri yang udah tamatin kisah mereka dengan jangka waktu sangat panjang, bab absurd, dan ending membagongkan dan ngambang.Kalian bisa anggap akan ada sekuel dari Diaz dan Mila entah itu kehidupan anak mereka atau lainnya. Tapi so far, belum ada rancangan gimana gambaran cerita selanjutnya karena masih terjebak genre Teen.Semoga kalian tetap dalam lindungan Tuhan yang Maha Esa dan selalu sehat baik mental maupun fisik karena hidup tidak seringan pilus gais.Sekali lagi thank you so much!And bye bye~
Terakhir Diperbarui: 2022-05-15
Chapter: Adil"Ha? Hahaha ... Gue bayangin muka mereka bingungnya gimana."Vio tertawa puas di meja makan saat Diaz menceritakan apa yang terjadi di rumah Monica semalam.Meida menyuruh anaknya berhenti tergelak dan dengarkan saja kakaknya bicara. "Kamu tuh ya, orang lagi ngomong malah ketawa terus.""Yailah, Ma. Bayangin dong muka mereka. Apalagi Mas Agam sama istrinya yang naudzubillah, Haha." "Kapan Monica ketemu Pak Louis?" Diaz bertanya-tanya sebab sebelumnya Monica sibuk bolak-balik ke rumahnya dengan rencana balas dendam.Walaupun balas dendamnya berubah menjadi kasih sayang tak terduga. Kekeluargaan mereka sangat erat."Monica mungkin udah menduga ini bakal terjadi. Dia kan ngomong sendiri sering berdoa ketemu orang tuanya.""Vio!" Meida geram sekali dengan anaknya sampai ingin melempar sendok garpu."Mama kenapa sih sensi banget?" balas Vio."Omongan kamu itu!" "Orang Monica-nya yang bilang ke aku.""Diaz mau minta tolong, Mah."Meida menatap Vio sebab Diaz meliriknya. "Mama?" "Monica m
Terakhir Diperbarui: 2022-05-15
Chapter: Pengacara MonicaSebagai CEO yang memiliki waktu senggang banyak, Diaz memberanikan diri menemui pengacara Monica. Tepat hari sebelumnya mereka bicara serius melalui telepon untuk menentukan pukul berapa akan diskusi sebab pengacara pun punya acara lain.Diaz sangat terkejut rupanya ada kakak serta adik dari orang tua Monica turut datang ke rumah anak malang itu dengan raut tidak sabaran."Semuanya kenapa di sini?" Perasaan Diaz menghubungi pengacaranya saja, tidak mereka juga. Total ada 5 orang, termasuk dirinya.Akhirnya ia bergabung dengan mereka dan itu diperdebatkan."Kenapa ada dia di sini?" sahut Winda, adik terakhir dari Ibu Monica sembari menunjuk Diaz duduk.Diaz lantas menoleh tanpa ekspresi. Bukankah seharusnya ia yang memberi pertanyaan pada mereka?"Monica secara khusus meminta tolong saya untuk panggil Pak Diaz," jawab Louis tak kalah datar dari padang pasir."Hah! Kayaknya sih dia ngerayu Monica biar dikasih beberapa persen asetnya," timpal suami Winda, Agam.Kelihatan dari tampang mer
Terakhir Diperbarui: 2022-05-15
Chapter: Harus Ikhlas"Mama tetap gak nyangka, Mila.""Apalagi Mila, Bun."Mereka duduk besandar di ruang tamu setelah menghadiri pemakaman. Mila menatap langit-langit rumahnya seraya berkata, "Monica udah maafin Diaz belum ya, Bun? Kasihan mereka."Fila lantas menjawab, "Sebenarnya Monica pasti udah maafin Diaz dari dulu. Cuma karena mereka kurang akrab dan Monica sempat salah paham juga, dia agak canggung.""Aku padahal mau ke rumahnya lagi.""Nanti kalau Diaz ke sana aja. Dia pasti harus urus semuanya karena walinya Monica."Mila mengusap wajahnya, belum menyesuaikan kenyataan. "Mila mau mandi, Bun. Abis itu ke rumah Diaz lagi, dia harus ditemenin.""Iya sana. Bunda gapapa sendiri di sini."***Vio melihat Diaz berdiri di tengah pintu menghadap halaman belakang sembari memasukkan tangan ke saku celana. Kakaknya diam dengan deru napas teratur yang terdengar berat."Lo lagi ngapain?" Vio memberanikan diri mendekat dan berhenti di belakang Diaz."Bukan apa
Terakhir Diperbarui: 2022-04-02
Chapter: Pemakaman Monica dan EricSuara langkah Diaz memenuhi lorong yang dihampiri suara petir dan cahaya kilat lewat celah jendela. Sesaat dia memperlebar jarak kaki supaya cepat sampai ruang jenazah yang terletak di bagian belakang rumah sakit.Di belakang Diaz, ada Mila yang juga berusaha mempercepat langkah agar bisa mengiringi suaminya. Kesekian kalinya sudut mata mereka meneteskan bulir bening atas perasaan berkecamuk.Ada-ada saja, diwaktu kurang tepat Diaz dihubungi Bayu, sekretarisnya. "Maaf, saya lagi ada urusan. Nanti saya telepon lagi, Pak." Masalah klien tidak jadi datang besok bukan hal besar. Bayu masih bisa menangani dikarenakan situasi mendesak.Begitu masuk ke kamar jenazah, Diaz sempat menjeda nafas beberapa detik untuk meyakinkan hatinya bahwa yang terjadi sekarang ini bukan bunga tidur. Di atas dua brankar terdapat dua tubuh terbujur kaku diselimuti kain putih. Petugas yang menjaga kamar jenazah malam ini hanya satu berjenis kelamin laki-laki. Dia terlihat sedang memeriksa
Terakhir Diperbarui: 2021-11-13
Chapter: Sulit DiterimaGuyuran hujan secara tiba-tiba membasahi tanah dan jalan sejak tengah hari. Rencana Mila pergi ke Taman depan kantor jadi urung. Apalagi niatnya mau hujan-hujanan selagi deras.Diaz menyibukkan diri di depan laptop. Liburnya tetap bekerja. Bahkan lebih pusing dia daripada Mila yang suka mengarang cerita. Omong-omong, sudah 2 hari Mila tidak update bab novel. Apa kabar komentar pembacanya?"Kamu daripada berdiri terus di jendela, mendingan bantu saya beresin ini nih." Diaz menunjuk map-map miliknya yang kurang rapi di dekat meja satunya. Saking banyaknya yang belum tuntas, dia bingung mau membereskan yang mana."Ogah. Kamu kan udah kerjain bareng sekretaris kamu," cebik Mila.Diaz melirik layar laptopnya. Benar, dia sedang melakukan panggilan video dengan sekretarisnya demi mengurus berkas baru maupun yang diarsip bulan lalu."Barangkali mau," balas Diaz.Suara petir menggelegar langsung mengejutkan Mila karena berdiri di dekat jendela.
Terakhir Diperbarui: 2021-11-05
Chapter: Chapter 142: Leona dan Raven Sedang Mempertimbangkan SesuatuRhys mengangkat dagu Eira dengan lembut. Tatapan mereka bertemu, penuh cinta yang selama ini sempat tertutup oleh kesalahpahaman—seperti bunga peony yang kembali bermekaran setelah lama menunggu musimnya. “Malam ini saya tidur bersamamu, ya?” Eira terdiam sesaat. Tatapannya masih terpaku pada mata Rhys. Satu tangan Rhys terangkat, menyelipkan rambut Eira yang jatuh di sisi wajahnya ke belakang telinga. Wajahnya bergerak perlahan mendekat, sementara tatapannya sempat jatuh pada bibir Eira sebelum kembali menatap kedua mata wanita itu. Eira tanpa sadar memejamkan mata. Jarak di antara mereka menghilang. Bibir Rhys menyentuh bibirnya dalam kecupan lembut yang perlahan menjadi lebih dalam. Kedua tangan Eira ikut bergerak, melingkar di leher Rhys seolah tubuhnya tahu apa yang harus dilakukan bahkan sebelum pikirannya sempat menyadarinya. Rhys kemudian mengecup pipi kanannya, lalu pipi kirinya, keningnya, sebelum kembali menemukan bibir Eira. Setiap kecupan terasa seperti cara merek
Terakhir Diperbarui: 2026-10-15
Chapter: Chapter 141: Eira dan Rhys Membicarakan Lucien dan GarrickEira duduk bersama Rhys di tepi kasur.Suasana yang sejak awal terasa berjarak dan dingin kini tidak lagi begitu kentara. Meski begitu, keduanya masih duduk berdampingan dalam diam, sama-sama kebingungan harus memulai percakapan dari mana.Wajah mereka masih sembab. Setidaknya, masalah yang selama ini membebani hati akhirnya terselesaikan lebih cepat dari yang mereka bayangkan.“Setelah malam ini berakhir, apakah tidak masalah jika Velian yang kembali?” tanya Eira.“Ada apa memangnya?” Rhys menoleh.“Velian harus mengambil salah satu pusaka Morwenia di istana agar bisa kembali ke dunianya.” Eira sendiri masih belum memahami bagaimana mekanismenya. “Namun, begitulah yang Lucien katakan.”Rhys menyimak penjelasannya sebelum akhirnya bertanya, “Lucien? Putra Mahkota?”“Ya.”Baru sekarang Rhys mengetahui bahwa Pangeran Lucien ternyata telah mengetahui rahasia mereka selama ini.Tatapannya beralih kepada Eira dengan ekspresi tak percaya. Rupanya, orang yang seharusnya paling dekat denganny
Terakhir Diperbarui: 2026-10-15
Chapter: Chapter 140: Semua Telah Terucap“Aku takut kehilanganmu bahkan setelah aku mati.”Rhys membawa Eira ke rumah ini bukan semata-mata untuk memenuhi janjinya kepada Maren Shawn.Ia membawanya kemari karena berharap Eira tidak lagi merasa sendirian. Ia ingin memberinya tempat untuk memulai kembali, membangun kebahagiaan dari hal-hal kecil yang bisa mereka bagi bersama.Namun, seiring waktu berjalan, Rhys justru tidak pernah benar-benar tahu apa yang ada di dalam hati Eira.Wanita itu begitu tertutup. Ia jarang berbicara lebih lama dengannya, seolah selalu ada jarak yang tidak boleh ia lewati.Rhys mengira Eira hanya membutuhkan waktu untuk beradaptasi. 'Mungkin ia masih berduka'. Mungkin suatu hari nanti, ketika luka di hatinya perlahan melebur bersama waktu, Eira akan kembali menjadi dirinya yang ceria.Namun, bukan duka yang melebur. Melainkan hubungan mereka yang perlahan kehilangan kehangatan.Tanpa disadari, keduanya membangun benteng masing-masing.Rhys takut jika terlalu memaksakan diri untuk mendekati Eira, wani
Terakhir Diperbarui: 2026-10-13
Chapter: Chapter 139: Eira Menjelaskan TakdirnyaSetelah kembali ke tubuhnya, Eira segera mencari Rhys.Namun, kamar pria itu kosong.Ia mengetuk pintu kamar Alverine, lalu membukanya tanpa menunggu jawaban. Kosong juga.Eira menutup pintu dan kembali melangkah. Langkahnya terburu-buru, pikirannya terlalu penuh untuk menentukan ke mana harus pergi. Ia bahkan tidak tahu harus mencari Rhys di mana.Di tengah lorong, ia berpapasan dengan Leona. Namun, Eira sama sekali tidak sempat menoleh ataupun menyapanya.Leona langsung memahami siapa yang sedang dicari Eira. Meski Eira telah melewatinya beberapa langkah, ia tetap memanggil dengan suara yang cukup keras.“Kau mencari Rhys?”Eira berhenti seketika dan berbalik. “Kau melihatnya?”“Dia baru saja pergi ke halaman belakang.” Leona menunjuk ke arah lorong di sebelahnya. “Mungkin ke kubah kaca paviliun.”“Terima kasih.”Eira langsung berbalik dan hendak melangkah pergi. Namun, baru beberapa langkah, ia kembali berhenti.Seharusnya ia tetap berjalan lurus.Eira menoleh ke belakang, kemudian
Terakhir Diperbarui: 2026-10-13
Chapter: Chapter 138: Penjelasan LucienVelian baru saja memasuki ruang kesadaran ketika sosok Eira muncul di hadapannya. Namun, sebelum mereka sempat bertukar kata, pusaran energi keemasan yang dikirimkan Alverine telah mencapai tujuannya.Energi itu menembus celah kesadaran, lalu mengalir menuju jantung Eira—tepat ke inti magis yang terhubung dengan Kristal Marindor. Cahaya keemasan menyebar sesaat, berdenyut lembut sebelum menyatu dengan inti magisnya.Celah yang sebelumnya sempat retak dan kembali tertutup itu mulai bergetar. Retakan tipis muncul di permukaannya, merambat perlahan hingga membentuk celah yang cukup lebar untuk memperlihatkan ruang di baliknya.Lalu, seperti pada pertemuan pertama mereka, sosok Pangeran Lucien muncul dari balik celah tersebut.Kehadirannya terasa seolah-olah ia baru saja melangkah masuk ke ruang kesadaran mereka, bukan sekadar bayangan yang terbentuk dari ingatan. Tak ada yang berubah dari caranya muncul saat itu—seakan-akan waktu berputar kembali ke awal, meski kali ini mereka telah meng
Terakhir Diperbarui: 2026-10-11
Chapter: Chapter 137: Harapan Semua OrangDylen memandang Velian yang masih diliputi kecemasan.“Kontrol suasana hatimu.” Tangannya menepuk pelan bahu Velian. “Kau dan Alverine terhubung. Kalau kau tidak tenang, Alverine juga akan merasakan hal yang sama.”Velian terdiam. Napasnya perlahan ia atur, berusaha menekan kegelisahan yang sejak tadi memenuhi dadanya.Dylen menatapnya dengan tenang. “Kita sudah menduga hal ini akan datang.” Ia menghela napas pelan. “Rhys meminta Eira kembali untuk menjelaskan semuanya kepadanya. Jadi, kita penuhi permintaannya.”Velian menundukkan kepala. Untuk sesaat, ia memejamkan mata, mencoba mengendalikan pikirannya sendiri.Benar. Mereka memang sudah tahu hari ini akan tiba. Hanya saja, tidak ada yang benar-benar siap ketika hari itu akhirnya datang.Dylen masih memegang buku tanpa judul itu. Ia membolak-balik beberapa halaman sebelum akhirnya berhenti.“Aku tidak bisa terus berada di sini. Aku harus menemui Pangeran Lucien. Dia mungkin lebih tahu apa yang harus kita lakukan selanjutnya.”Dylen
Terakhir Diperbarui: 2026-10-09
Chapter: Prioritas UtamaBak melihat meteor berjatuhan. Pekerja di rumah David Liam menganga tatkala mobil menerobos pemeriksaan dan berhenti menimbulkan decit rem mobil. Terlebih lagi setelah tahu siapa yang keluar dari mobil pors*he. Dialah putra tunggal majikan mereka yang cukup lama hilang. Tukang kebun yang sedang menyiram tanaman gagal fokus menyirami teman sendiri. Sapu yang digunakan menyapu daun kering jatuh saking terkejutnya mereka. "Tuan Muda telah kembali!" Mereka terharu sama-sama berbahagia. Haris bukanlah pria yang peduli atas reaksi orang lain. Dia krisis kepedulian. Dibukanya pintu rumah lebar-lebar hingga cahaya matahari masuk dengan bebas. Nampan berisi semangkuk bubur dan air putih di tangan Yuna jatuh usai menoleh tempat adanya bayangan pria yang semakin jelas kemudian membelalakkan mata. "Ha-Haris?" "Tuan Muda!" Pembantu di hadapan Nyonya Yuna membungkuk sembilan puluh derajat menyaksikan kedatangan tuannya. Pria itu sebetulnya tak ingin munafik menyapa penuh kerinduan apalagi
Terakhir Diperbarui: 2023-03-14
Chapter: Dua Sisi Seorang HarisBradly mengerjap beberapa kali menyesuaikan cahaya yang masuk matanya. Melihat tubuhnya berada di lantai, dia segera bangun dan merapikan bantal serta selimut milik Haris. Ditambah ingatan semalam menghantui pikirannya. Bradly menampar wajahnya sendiri sampai sakitnya tak terasa. "Kau gila, Bradly." Bradly mengucapkan omong kosong, tetapi beruntung tidak mencaci Haris. "Kau sudah sadar?" Haris keluar dari kamar mandi dengan rambut basah memakai kimono menghampiri Bradly. "Ya. Sepenuhnya." Bradly lantas minta maaf. "Maaf semalam aku mengatakan yang tidak-tidak padamu." Haris tidak masalah. "Jangan pikirkan hal itu. Aku baik-baik saja. Setelah melewati banyak hal aku menerima semua perkataan dan perbuatan orang, yang buruk sekali pun." Bradly tetap merasa bersalah. "Aku minta maaf, Haris." "Tidak, tidak. Namun, kau mudah mabuk sekarang. Semalam cuma minum segelas meracaumu sudah ke mana-mana." Gelas bekas mereka minum semalam bahkan masih di atas meja, belum dibersihkan. "Aku
Terakhir Diperbarui: 2023-03-13
Chapter: Akibat Minum#PresdirTopMirrorHidupKembali40,5k Likes10k comments @karyawanmagangTM : Tuhan memberkati @harisliam_tm. Dia hidup! @gagahy68 : Kalau tidak salah adik tirinya menggembor-gemborkan doa bersama atas kematiannya. Apa ini? Dia senang kakaknya mati padahal masih hidup? Wanita jalang. Enyah kau! @khrkn_lee : @gagahy68 Benar. Aku karyawan Top Mirror menjadi saksi ketidaksopanannya. Dia membuat keributan lalu menjambak presdir baru kami @elinaa.liam kemudian pihak @elinaa.liam meminta maaf. @elisha.liam234 harusnya kau berlutut pada adikmu! @jeremythim : Skandal keluarga apa lagi ini... belum tamat kah? Tidak satu pun dari mereka mendukung perdamaian dunia. @hpbee : @elisha.liam234 yang mengumumkan foto Tuan Haris. Kalian tidak tahu, kan? Jangan seenaknya menghina bos kami! @khrkn_lee : hahaha dasar konyol @hpbee. Perangai buruk bosmu diketahui satu negeri. @tianmori : Siapa wanita di sampingnya? Hoho, apa kekasih baru @harisliam_tm? Semoga dijawab. @fansharis : Mungkin, iya. Mereka
Terakhir Diperbarui: 2023-03-13
Chapter: Sisi Baik Sang Presdir dan KeputusannyaElisha langsung gemetar diancam langsung oleh Haris, tetapi menutupinya. "Selagi aku bersedia, silakan." **Haris menaruh kasar ponsel di meja lantas menyambar kunci mobil. "Kau mau ke mana?" sahut Aira mencegahnya pergi. "Aku akan membunuhnya kali ini." Bukan omong kosong belaka. Dia bisa membunuh Elisha sekarang supaya memuaskan keinginannya sejak dulu. Mata Haris sangat berapi-api dikuasai amarah. "Temani aku makan dulu!" Entah kenapa Aira bilang begitu selagi berniat mencegah Haris pergi. Aira menahan malu menambahkan, "A-aku jujur be-belum punya uang. Kau punya banyak." Haris menghembuskan napas mengartikan tidak bisa menjawab lagi. "Kau sendiri yang bilang mau mengganti total biaya yang aku keluarkan selama merawatmu." Aira terus usaha membujuk pria itu. "Ayo, aku temani." Aira mengusap pipinya yang sedikit basah dan bisa langsung ceria berhasil meredam kemarahan Haris. Aira memesan burger, pizza, dan soda. Sementara Haris tidak, dia masih kenyang. "Dia tidak akan p
Terakhir Diperbarui: 2023-03-08
Chapter: Elisha Menghubungi Haris"Sudah temukan Haris?" "Belum. Maaf, Nona." Digenggam pena dengan erat mendengar jawaban asisten tak berguna. Kenzy mengimbuhkan hasil pencarian sehari penuh, "Hanya kartu kreditnya yang terlacak di pusat perbelanjaan kemarin. Sepertinya Tuan Haris disembunyikan oleh seseorang." Tangan perempuan itu bergerak cepat meraih gelas dan melempar ke lantai mengakibatkan pecahan kaca memantul menggores tulang pipinya. Kenzy tidak bergerak sedikit pun. Luka segaris tidak berarti baginya. "Cari lagi!" bentak Elisha. "Baik." Kenzy keluar dari ruangan presdirnya. Sementara Elisha mengobrak-abrik meja yang dipenuhi berkas penting. "Arrrgh!" Dia teriak frustasi. Dalam kecemasan ini Elisha masih butuh jawaban kembarannya. "Elina." Intonasi suaranya melunak. "Apa ini? Berani sekali kau menghubungiku," jawab Elina di seberang sana. "Aku sibuk. Jangan ganggu- " "Aku lihat Haris. Dia sungguh hidup? Dia kembali?" "Kau melihatnya?" Senyum Elina menghiasi wajahnya. "Bagaimana perasaanmu? Kau
Terakhir Diperbarui: 2023-03-08
Chapter: Pergi BerbelanjaAira sedikit kurang nyaman dipandang banyak orang gara-gara outfit yang dikenakan Haris lebih mirip penculik. Haris memakai pakaian dan aksesoris serba hitam. Topi, jaket kulit, masker, celana, bahkan sepatu. "Kau yakin mereka tidak curiga?" bisik Aira. "Keturunan konglomerat harus maksimal dalam penyamaran," jawab Haris merasa baik dan nyaman. "Bukan itu." Aira juga tidak tahu dari kapan tangan mereka gandengan. "Kau lebih mirip penjahat yang menculik seorang gadis." "Aku memang menculikmu." Pria itu sama sekali tidak tersinggung malah bangga disebut penculik. "Benar Deva bilang kepalanya belum sembuh," lirih Aira memalingkan muka sekejap. "Apa yang harus kita beli?" "Pertama! Kita ubah penampilanmu dulu. Setuju?" Haris berdecak pelan. "Hei, aku selalu menawan pakai apa pun. Tidak mau. Kalau ada yang mengenaliku di sini bagaimana? Mau tanggung jawab?" "Katamu kau orang kaya." Aira berani mencibir. Haris berkacak pinggang mengira pergaulan Aira sudah tercemar oleh Elina da
Terakhir Diperbarui: 2023-03-06