Mag-log inSuara ketukan tiga kali di pintu kamar membuat Velian mengerang pelan. Ia masih ingin melanjutkan mimpi indahnya, tapi bunyi itu terus terdengar.
Dengan mata setengah terbuka, Velian duduk, meregangkan tangan malas-malasan ke atas, lalu melangkah gontai menuju pintu. Begitu dibuka, koridor di depannya kosong melompong. Ia menggaruk rambut yang berantakan, mendengus kesal. “Siapa sih, iseng banget pagi-pagi begini…” gumamnya, kemudian menutup pintu agak keras dan berbalik menuju kasur. Namun baru beberapa langkah, suara ketukan itu terdengar lagi—masih sama, tiga kali. Tok. Tok. Tok. Velian mendengus panjang, kali ini berjalan menghentak ke arah pintu. “Kalau ini prank, gue sumpahin lu—” Belum sempat menyelesaikan kalimatnya, suaranya terhenti begitu pintu terbuka. “Nona Eira?” suara lembut terdengar dari bawah. Velian menunduk perlahan. Di sana berdiri Alverine, gadis kecil bergaun tidur pink, memeluk boneka kelinci berpita merah di pelukannya. Rambutnya bergelombang rapi, mata biru bundarnya menatap polos. Pantas saja tadi tak terlihat—tingginya bahkan tak sampai ke gagang pintu. “Jika tidak keberatan, bolehkah aku masuk?” tanya Alverine dengan wajah memelas. “Dame Raven sedang pergi membeli kosmetik ke pusat kota, dan Papa tidak mengizinkanku ikut.” Ia menunduk sebentar, tampak benar-benar kesepian. Velian tersenyum kaku. “Masuk saja,” ucapnya, terdengar agak terpaksa. Ekspresi Alverine langsung berubah cerah. Ia berlari kecil masuk ke kamar Eira yang serba pink itu. “Wah! Warnanya sama seperti kamarku!” serunya penuh semangat. Velian menutup pintu setengah. “Aku mau mandi dulu. Kamu tunggu di sini, jangan ke mana-mana. Kalau ada yang lewat, abaikan saja. Intinya, tetap di kamarku, ya?” katanya dengan tegas agar Alverine mengerti. Alverine mengangguk cepat, wajahnya masih berseri-seri. Sementara Velian mandi, Alverine berkeliling, mengamati setiap sudut kamar itu dengan rasa ingin tahu. Di dekat lemari pakaian, matanya tertumbuk pada sebuah telepon yang tampak mencolok. Ia menarik kursi di depan meja rias, lalu naik ke atasnya agar bisa menjangkau benda tersebut. Sambil menatap telepon itu, Alverine bergumam dalam hati, “Kenapa hanya kamar Nona Eira yang punya telepon?” Alverine semakin penasaran ketika melihat selembar kertas terselip di bawah telepon. Ia menariknya perlahan, di sana tertera serangkaian angka (042-113). Alverine mengangkat gagang telepon dan menekan nomor yang sama seperti di kertas itu. “Ya, Eira?” suara berat seorang pria terdengar dari seberang, dalam nada santai namun berwibawa. Alverine mengernyit bingung. “Eira saja?” ulangnya dengan nada tinggi. “Siapa kamu?! Pria macam apa yang memanggil Nona Eira tanpa rasa hormat begitu?!” serunya keras, dadanya naik turun menahan amarah. “Saya suaminya,” jawab suara di seberang sana tanpa ragu sedikit pun. Alverine sempat terdiam. “Suami?” Ia memiringkan kepala bingung. “Suami Nona Eira itu cuma Papa Rhys!” Suara di telepon mendesah kecil sebelum menjawab, “Alvie, kamu tidak mengenali suara Papamu sendiri?” Rhys, yang tengah berada di kantor pusat Morwenia Group untuk kunjungan setengah hari, sama terkejutnya. Telepon yang khusus ia pasang untuk menghubungi Eira, berdering untuk pertama kalinya setelah dua tahun. “Papa?!” seru Alverine refleks, matanya membulat. Rhys tertawa pelan. “Benar, Tuan Putri.” Alverine memajukan bibir, tampak kesal sekaligus penasaran. “Kenapa cuma Nona Eira yang punya telepon ini? Dame Raven, aku, bahkan Nona Singa tidak punya! Tidak adil!” Nada manja itu membuat Rhys tersenyum samar. “Karena kondisi Nona Eira sering tidak stabil,” jelasnya lembut. “Papa memberinya telepon agar bisa tahu kondisinya setiap hari.” Alverine mendadak tersenyum lebar. “Romantis sekali...” ujarnya, seolah baru mendengar kisah cinta dari buku dongeng. Namun di belakangnya, Velian yang baru ke luar dari kamar mandi terdiam. Ia mendengarkan percakapan itu tanpa suara, keningnya mengerut. Telepon itu ... seingatnya hanya digunakan Eira ketika keadaan benar-benar gawat, seperti saat serangan geng pemberontak dalam versi novel. Memang, selama ini Rhys yang setiap hari menelepon untuk mengetahui kondisi tubuhnya. Sekarang giliran Rhys menerima panggilan itu, dari Alverine. <<< Eira duduk di kursinya, kedua kaki terangkat, lutut dipeluk erat, dan wajahnya tertimbun di antara lengannya. Suasana kamar terasa hening, hanya detak jarum jam yang terdengar, seakan menghitung waktu sejak Rhys mengikrarkan larangan: ia tak boleh ke luar dari mansion tanpa ditemani dirinya atau Garrick. Ketika telepon di mejanya tiba-tiba berdering, Eira menegakkan kepala. Suara khas itu hanya terhubung ke satu orang. Rhys, dari kantor pusat Morwenia Group. Dengan gerakan malas, ia meraih gagang telepon agar deringnya berhenti memekakkan telinga. “Sudah minum obat?” suara berat Rhys terdengar di seberang, disertai bunyi lembut bolpoin yang berhenti di tengah tanda tangannya. “Bagaimana kondisimu? Kalau belum membaik, saya akan panggilkan tabib—“ “Apa niatmu memperlakukanku sebaik ini?” potong Eira getir. Rhys terdiam sesaat. “Saya hanya khawatir padamu.” “Ingin terlihat seperti suami teladan di mata semua orang, karena merawat selir ketiganya yang sekarat?!” Bolpoin di tangan Rhys patah dalam genggamannya. “Kondisi mentalmu belum stabil jika belum minum obat, Eira.” Eira menutup telepon dengan hentakan keras. Keheningan kembali menyelimuti kamar. Yang tersisa hanya napasnya yang tersengal dan pantulan wajahnya di cermin. >>> Velian menyentuh bahu Alverine dengan lembut. Gadis kecil itu sontak menoleh dan menurunkan telepon dari telinganya, ekspresinya tampak bersalah. “Maaf … aku terlalu penasaran,” ujarnya pelan. Velian menggeleng ringan, senyumnya hangat meski sedikit letih. “Tidak apa-apa, Alvie.” Velian perlahan mengambil alih gagang telepon dari tangan Alverine, lalu menutup sambungan dengan hati-hati. Ia tersenyum, berusaha mengalihkan suasana. “Aku ingin berjalan-jalan ke taman,” ujarnya lembut. “Kamu mau ikut denganku?” Velian dan Alverine berjalan bergandengan menyusuri koridor menuju taman yang terletak di depan bangunan utama. Langkah mereka ringan, diiringi obrolan kecil khas adik dan kakak. Tepat ketika hendak menuruni anak tangga menuju halaman, sosok Garrick muncul dari balik tiang perbatasan antara teras dan pelataran depan. Velian sontak terlonjak, satu tangannya refleks menahan dada. “Astaga, kaget aku!” serunya kesal. Garrick segera menunduk dalam, meminta maaf dengan sopan. “Maaf, Nona Eira. Tidak bermaksud mengejutkan.” Alverine menutup mulutnya, menahan tawa kecil yang lolos juga. “Tuan Garrick, bisakah menemaniku mengambil botol kaca berisi gelembung?” Velian menoleh dengan senyum menggoda. “Untuk main di taman ya?” Alverine mengangguk cepat Tanpa ragu, Garrick menekuk satu lutut, menempelkan lututnya ke tanah, lalu menunduk hormat. “Untuk Tuan Putri, saya bersedia,” ucapnya dengan nada lembut yang membuat siapa pun merasa dihormati. Alverine menyambut uluran tangan itu dengan semringah. Mereka berdua lalu pergi bersama mengambil botol gelembung, meninggalkan Velian yang berdiri sendirian di tempatnya. Velian menghela napas, menepuk-nepuk gaunnya agar lebih rapi. “Mulut cowok di dunia mana pun manis banget,” gumamnya pelan. Alverine berlari kecil menuju Velian sambil menggenggam sebuah botol kaca mungil berwarna pink di tangan kanan. Di dalamnya, cairan berkilau seperti kristal cair. “Nona Eira, lihat! Ini cairan gelembung yang kubuat sendiri!” katanya bangga, memamerkan hasil racikannya. Velian tersenyum, menerima botol itu dengan hati-hati. “Kamu mencampur apa saja?” “Sabun tangan, air mawar, dan sedikit madu,” jawab Alverine polos, membuat Velian menahan tawa. Garrick berjalan beberapa langkah di belakang mereka, menjaga dalam diam. Taman topiary itu semerbak dengan aroma segar dan dipenuhi warna yang menenangkan. Barisan boxwood hijau membentuk pagar rendah yang mengitari jalan setapak batu. Di sela-selanya, lavender ungu bergoyang lembut tertiup angin, berpadu dengan marigold keemasan yang bersinar di bawah cahaya matahari pagi. Dekat air mancur kecil, petunia dan mawar mini bermekaran, menebar gradasi warna ungu muda dan merah muda yang memantulkan cahaya lembut ke seluruh taman. Gaun yang dikenakan Velian bergradasi lembut antara gading dan merah muda, tampak seperti kelopak bunga yang baru mekar di bawah cahaya pagi. Lapisan tulle yang mengembang memberi kesan ringan dan berkilau, sementara pita satin berhiaskan permata di bagian pinggang menambah sentuhan anggun yang manis. Dipadukan dengan sepatu bot berhak tinggi berwarna gading muda, dihiasi renda, pita, dan bulu lembut di pergelangan, keseluruhan tampilan ini memancarkan aura elegan sekaligus imut di musim semi—lembut, hangat, dan memesona dalam setiap langkahnya. Sedangkan gaun yang dikenakan Alverine tampak seolah dijahit dari serpihan fajar dan kelopak bunga mawar yang baru mekar. Lapisan chiffon bergradasi merah muda lembut berpadu dengan bordiran perak yang membentuk pola dedaunan halus, memberi kesan seakan setiap helaian kainnya bernapas bersama angin pagi. Potongan bagian bahu yang transparan dibingkai renda tipis, sementara pita besar di pinggang dengan hiasan permata berbentuk kelopak menambah sentuhan anggun bak putri dari dunia peri. Ketika dipadukan dengan sepatu berenda yang dihiasi mutiara, pita satin, dan bros permata berkilau, seluruh penampilan itu seolah menyatu dalam satu harmoni keindahan. Setiap langkah memantulkan cahaya lembut, bagaikan bunga yang menari di bawah sinar matahari musim semi. Alverine membuka tutup botol yang sekaligus berfungsi sebagai tongkat gelembung berbentuk mahkota perak kecil. Dengan satu tiupan lembut, puluhan gelembung melayang, memantulkan warna pelangi di bawah sinar matahari pagi. Alverine menjerit gembira, mengejar gelembung-gelembung itu sambil tertawa. Velian ikut meniup, kali ini gelembungnya pecah di wajahnya sendiri. “Nona Eira, kamu terlalu dekat meniupnya!” canda Alverine, terbahak. Velian ikut tertawa. “Ternyata tidak mudah jadi pembuat gelembung handal sepertimu.” Mereka terus bermain hingga taman dipenuhi bayangan berkilau. Velian tidak merasa khawatir nasib tragisnya—setidaknya selama tawa Alverine masih terdengar di telinganya. Velian menghampiri Garrick dengan senyum cerah. Begitu tiba di hadapannya, ia langsung menengadahkan tangan, meminta sesuatu. “Pinjam Vox Device-mu sebentar. Aku ingin mengirim gambar Alvie kepada Rhys,” pintanya. Vox Device di Morwenia berfungsi layaknya ponsel di dunia Velian. Mampu melakukan panggilan suara, mengirim pesan singkat, dan pesan suara. Namun, perangkat ini jauh lebih eksklusif: terbuat dari logam perak berkilau dengan bentuk oval elegan, hanya dimiliki kalangan bangsawan. Garrick merogoh saku seragamnya dan menyerahkan Vox Device itu kepada Eira. Namun, terasa sedikit tarikan, seperti masih ingin dipertahankan olehnya “Jika nanti membutuhkan benda ini lagi, sampaikan saja pada Tuan Rhys,” ucap Garrick tenang. “Jangan sungkan ... meski dulu kamu pernah melemparkannya ke kolam.” Velian tersenyum kaku, menepuk pelan tangan Garrick sebelum mengambil perangkat itu sepenuhnya. “Ya, ya, ya.” Velian tak lupa ber-selfie, membentuk tanda V dengan jarinya sambil mengembungkan pipi. Di belakangnya, Alvie tampak melompat riang di antara gelembung-gelembung yang berkilauan diterpa cahaya. Dengan satu sentuhan pada layar Vox Device, potret manis itu langsung terkirim ke perangkat milik Rhys—yang saat itu tengah dalam perjalanan menuju istana menggunakan mobil Seraphon PX-9. Matahari siang Morwenia menembus lembut lewat kubah kaca paviliun, memantul di pilar-pilar marmer. Cahaya itu menari di lantai batu putih, menciptakan kilau keemasan di sekitar sosok Velian yang sedang duduk tenang di bawah bayangan chandelier kristal. Velian membolak-balik perangkat bernama Vox Device di tangannya. Matanya berbinar kagum, sementara senyum kecil tersungging di wajahnya. “Gue cuma ngarang alat komunikasi buat bangsawan Morwenia,” gumamnya pelan. “Tapi mereka beneran bisa bikin aslinya ... gila, keren banget.” Alverine sudah kembali masuk ke dalam mansion setelah botol gelembungnya habis dan tenaganya terkuras habis untuk bermain. Sepertinya, begitu selesai dimandikan, gadis kecil itu akan langsung terlelap tanpa perlawanan. Angin membawa sedikit kesejukan, menggerakkan rambut di pelipisnya. Dari kejauhan, gemericik air mancur mansion terdengar menenangkan, menjadi latar musik alami untuk istirahat singkatnya di tengah aktivitas tanpa tujuan. Velian menarik napas perlahan. Ia jarang mendapat waktu di mana bisa duduk tanpa perlu memikirkan pekerjaan, uang, atau tagihan. Dalam ketenangan siang yang hangat itu, ia membiarkan pikirannya mengembara. Saat matanya terpejam, Velian merasakan hangat matahari tiba-tiba terhenti di kulitnya. Awalnya ia mengira awan melintas menutupi langit, tapi bayangan itu bertahan terlalu lama. Perlahan, ia membuka mata. Di hadapannya berdiri Garrick—tegak, tenang, dan dengan tatapan sedikit menunduk seolah menjaga sopan santun di hadapan bangsawan. “Sebentar lagi Tuan Rhys tiba,” ucapnya datar namun tegas. “Lebih baik Nona kembali ke kamar. Tuan Putri Alverine juga sudah beristirahat.” Velian menatapnya lama tanpa menjawab, bibirnya membentuk garis tipis yang sulit ditebak—antara lelah atau menahan tawa. Lalu ia membatin, “Tampang sad man-nya kelihatan banget, Garrick. Kalau suka, bilang aja. Nggak usah repot-repot ngedorong orang lain buat dapetin dia.” Baru saja Velian mengembalikan Vox Device sambil berdiri dan Garrick berbalik untuk pergi, sebuah rasa nyeri mendadak menghantam dadanya—tajam, menusuk, seperti ribuan jarum menembus ke dalam. Napasnya tersengal. Ia spontan menekan dada kirinya, tubuhnya goyah, hampir kehilangan keseimbangan. “Garrick...” suaranya serak, nyaris tak terdengar. Tubuhnya membungkuk menahan sakit yang terlalu nyata, terlalu menyiksa. Garrick segera menoleh. Dalam sekejap, ia sudah menahan tubuh Eira sebelum jatuh. Tatapannya membulat panik, napasnya memburu. “Eira!” serunya cemas, matanya memeriksa wajah pucat gadis itu yang kini diselimuti keringat dingin. Rasa nyeri itu terus berdenyut, menjalar sampai ke seluruh tubuh. Velian nyaris tak mampu berpikir jernih. “Ini ... yang dirasain Eira setiap hari?” pikirnya di antara kabut kesadaran yang mulai menipis. Sakit sekali, seperti jantungnya diremas paksa, seperti akan mati.. Sayangnya, tak ada suara yang bisa ke luar dari tenggorokannya. Tubuhnya semakin lemas, matanya mulai kehilangan fokus, dan satu-satunya hal yang masih bisa ia rasakan hanyalah genggaman kuat Garrick yang berusaha menahannya agar tidak jatuh ke tanah. Rupanya bukan hanya Velian yang terhuyung karena rasa sakit—Garrick pun kalut melihatnya. Wajahnya tegang, napasnya berat, seolah rasa panik ikut menular dari tubuh gadis itu ke dirinya. Ia memanggil nama Eira berulang kali, tapi tak ada jawaban selain desahan lemah. Samar-samar, suara derap langkah cepat terdengar dari belakang. Suara sepatu menghantam lantai marmer, semakin dekat, semakin jelas—hingga sosok itu muncul di bawah cahaya siang yang menembus kubah paviliun. Rhys. Dengan sigap ia mengambil alih posisi Garrick, menahan tubuh Velian yang nyaris ambruk. Tatapannya tajam, penuh kecemasan yang disembunyikan di balik wajah dingin.Velian bahkan bermimpi Rhys masih menodongkan pedang ke arah Dylen. Ia terbangun mendadak dari pingsannya, dalam posisi duduk, dengan napas tersengal dan kebingungan melihat begitu banyak orang di sekelilingnya. Di sisi kanan berdiri Tabib, Rhys, dan Alverine. Di sisi kiri—Raven, Leona, dan Garrick. Kecuali Leona, mereka semua berdiri diam, menunggu Velian benar-benar sadar. Pandangan Velian langsung mencari Rhys. Begitu mata mereka bertemu, matanya berkaca-kaca. “Kamu salah paham…” lirihnya, suaranya nyaris pecah oleh penyesalan. Rhys tidak bergerak. Alverine menatap mereka tanpa ekspresi apa pun. Raven menghela napas pendek, lalu memberi isyarat agar semua orang ke luar, menyisakan hanya Rhys dan Velian. Leona menggeleng pelan sebelum pergi, heran—tak habis pikir mengapa yang bisa dilakukan gadis itu hanyalah menangis. Alverine sempat ingin bertahan, namun Raven menariknya keluar tanpa memberi kesempat
Garrick cemas membiarkan Eira pergi sendirian. Gadis itu tampak tergesa-gesa, seolah membutuhkan sesuatu. Baru sepuluh menit berlalu, Garrick memutuskan keluar dari mobil dan hendak masuk ke Akademi Pengetahuan.Namun, sebelum ia mencapai gapura, sebuah mobil hitam mengkilap melaju kencang melewatinya dan berhenti tepat di depan pintu masuk."Rhys?"Kacau. Rahang Rhys mengeras, raut wajahnya penuh amarah. Garrick segera menyusul, langkahnya tergesa-gesa. Kehadiran Rhys membuat semua orang berhenti sejenak, penasaran dengan kekacauan yang akan terjadi."Selamat datang, Tuan Rhys," ucap penjaga sambil membungkuk hormat, tapi Rhys tak menghiraukan. Fokusnya hanya satu: perpustakaan. Ia datang untuk membawa pulang istrinya.Dari jendela perpustakaan, Rhys melihat pemandangan yang membuat darahnya mendidih. Dylen menyentuh wajah Eira—wajah istrinya.Tanpa pikir panjang, Rhys menghunus pedangnya dan melangkah masuk, hatinya terbakar api amarah.Velian membelala
Pikiran Velian seketika kosong.Sebagai penulis, ia baru menyadari satu hal yang mengusik—ternyata ada begitu banyak rahasia yang bahkan tak ia ketahui dari novel yang ia ciptakan sendiri. Termasuk isi hati para tokoh di dalamnya.Setahunya, Eira tak pernah mengatakan hal itu pada Garrick. Tidak pernah, setidaknya di dalam naskah. Bahkan, jika mengikuti alur cerita yang ia tulis, adegan Eira jatuh cinta pada Rhys masih terletak beberapa halaman ke depan—belum seharusnya terjadi sekarang.Lalu mengapa Garrick bisa berkata demikian?Velian menelan ludah.Jangan-jangan…“Jadi maksudnya,” gumamnya dalam hati, “Eira sudah jatuh cinta pada Rhys sejak lama?”Dan untuk pertama kalinya, Velian merasa takut pada ceritanya sendiri—cerita yang mulai berjalan tanpa menunggunya menulis akhir.Velian tak bisa menunggu lebih lama. Ia harus melihat buku yang Dylen maksud—sekarang juga.“Antarkan aku ke Akademi Pengetahuan Marindor. Sekarang,” perintahnya singkat,
“Baru kali ini aku merasa tersinggung,” kata Dylen, nada suaranya setengah serius, setengah bercanda.Velian mengerutkan dahi. “Kapan aku menyinggungmu?”Dylen menoleh, menatap Velian sebentar, lalu menarik napas pelan. “Aku datang bersamamu, Rhys juga ada di sini … tapi kau hanya melihatnya. Itu membuatku tersinggung.”Velian menatap Dylen, sedikit terkejut.Dylen hanya menggeleng, bibirnya tersungging. Ada rasa geli yang samar di balik tatapan seriusnya.*“Kalian membicarakan apa tadi?” tanya Rhys. Alverine terlelap di dalam gendongannya, napas kecilnya teratur, kelelahan setelah bermain.Velian tak segera menjawab. Pikirannya masih tersangkut pada ucapan Dylen—tentang buku yang mirip dengan novel yang ia tulis sendiri. Tentang cerita yang seharusnya hanya ada di tangannya, namun kini seolah hidup… di Morwenia.Di sini.“Rhys,” ucap Velian akhirnya, suaranya pelan, “apa kamu percaya … kalau selain dunia ini, ada dunia lain tempat manusia tingga
Velian dan Alverine serempak mendongak ketika langit di atas mereka tiba-tiba terang.“Apakah…” Velian tersenyum lebar, tanpa beban. Saat kunang-kunang itu turun perlahan mendekatinya, dadanya terasa hangat. Untuk pertama kalinya, ia melihat kunang-kunang dari jarak sedekat ini—bukan sekadar cahaya, melainkan makhluk kecil yang hidup dan berkilau.Sementara itu, Alverine tak perlu ditanya. Putri kecil Rhys itu berlarian riang, mengejar cahaya-cahaya kecil yang beterbangan di sekelilingnya. Tawa dan senyumnya tak pernah lepas, seolah dunia malam ini hanya milik mereka bertiga.Velian mengangkat kedua telapak tangannya. Seekor kunang-kunang hinggap di sana, tenang, bercahaya lembut.“Rhys melakukan ini?” Matanya berkaca-kaca, bukan karena sedih—melainkan haru yang tak tertahan.“Itu aku.”Suara yang tak asing membuat Velian menoleh ke kiri—ke arah Rhys tadi menghilang. Kini ia kembali, berdiri di sisi Dylen.Velian segera menghampiri Rhys, wajahnya berseri-
“Tidak…” Velian memalingkan wajahnya perlahan. Rasa malu merambat sampai ke ujung telinga.Rhys makin yakin. “Benar-benar tidak?”Alverine menangkup pipi Rhys dengan kedua tangannya, penuh rasa ingin tahu. “Apa itu menstruasi, Papa?”Rhys tersenyum kecil. “Nanti, kalau Alvie sudah besar, kamu akan mengerti sendiri, Putriku.”Ia kembali menatap Velian, sorot matanya lembut—berbeda dari sebelumnya. “Saya tahu apa yang kamu inginkan.”Velian melirik sekilas, masih bersikap defensif.“Alih-alih merajuk karena tidak ikut ke Istana,” lanjut Rhys, kali ini nadanya terdengar lebih hidup, “saya ingin mengajakmu ke suatu tempat.”Velian terdiam sejenak. Tanpa ia sadari, kekesalan di dadanya mereda perlahan.“Ke mana?” tanyanya, nyaris tanpa nada ketus.“Aku tidak diajak?” suara Alverine terdengar sendu.“Kita bertiga,” jawab Rhys tanpa ragu.Velian terdiam sejenak, lalu mengangguk kecil. “Ya sudah… aku mau.” Nadanya masih malu-malu. Setidaknya, ini







