Inicio / Romansa / Alur Baru Sang Selir Ketiga / Chapter 5: Velian Mengubah Cerita

Compartir

Chapter 5: Velian Mengubah Cerita

Autor: KIKHAN
last update Fecha de publicación: 2025-10-15 21:08:30

Suara ketukan tiga kali di pintu kamar membuat Velian mengerang pelan. Ia masih ingin melanjutkan mimpi indahnya, tapi bunyi itu terus terdengar.

Dengan mata setengah terbuka, Velian duduk, meregangkan tangan malas-malasan ke atas, lalu melangkah gontai menuju pintu. Begitu dibuka, koridor di depannya kosong melompong.

Ia menggaruk rambut yang berantakan, mendengus kesal. “Siapa sih, iseng banget pagi-pagi begini…” gumamnya, kemudian menutup pintu agak keras dan berbalik menuju kasur.

Namun baru beberapa langkah, suara ketukan itu terdengar lagi—masih sama, tiga kali. Tok. Tok. Tok.

Velian mendengus panjang, kali ini berjalan menghentak ke arah pintu. “Kalau ini prank, gue sumpahin lu—” Belum sempat menyelesaikan kalimatnya, suaranya terhenti begitu pintu terbuka.

“Nona Eira?” suara lembut terdengar dari bawah.

Velian menunduk perlahan. Di sana berdiri Alverine, gadis kecil bergaun tidur pink, memeluk boneka kelinci berpita merah di pelukannya. Rambutnya bergelombang rapi, mata biru bundarnya menatap polos.

Pantas saja tadi tak terlihat—tingginya bahkan tak sampai ke gagang pintu.

“Jika tidak keberatan, bolehkah aku masuk?” tanya Alverine dengan wajah memelas. “Dame Raven sedang pergi membeli kosmetik ke pusat kota, dan Papa tidak mengizinkanku ikut.” Ia menunduk sebentar, tampak benar-benar kesepian.

Velian tersenyum kaku. “Masuk saja,” ucapnya, terdengar agak terpaksa.

Ekspresi Alverine langsung berubah cerah. Ia berlari kecil masuk ke kamar Eira yang serba pink itu. “Wah! Warnanya sama seperti kamarku!” serunya penuh semangat.

Velian menutup pintu setengah. “Aku mau mandi dulu. Kamu tunggu di sini, jangan ke mana-mana. Kalau ada yang lewat, abaikan saja. Intinya, tetap di kamarku, ya?” katanya dengan tegas agar Alverine mengerti.

Alverine mengangguk cepat, wajahnya masih berseri-seri.

Sementara Velian mandi, Alverine berkeliling, mengamati setiap sudut kamar itu dengan rasa ingin tahu. Di dekat lemari pakaian, matanya tertumbuk pada sebuah telepon yang tampak mencolok. Ia menarik kursi di depan meja rias, lalu naik ke atasnya agar bisa menjangkau benda tersebut.

Sambil menatap telepon itu, Alverine bergumam dalam hati, “Kenapa hanya kamar Nona Eira yang punya telepon?”

Alverine semakin penasaran ketika melihat selembar kertas terselip di bawah telepon. Ia menariknya perlahan, di sana tertera serangkaian angka (042-113). Alverine mengangkat gagang telepon dan menekan nomor yang sama seperti di kertas itu.

“Ya, Eira?” suara berat seorang pria terdengar dari seberang, dalam nada santai namun berwibawa.

Alverine mengernyit bingung. “Eira saja?” ulangnya dengan nada tinggi. “Siapa kamu?! Pria macam apa yang memanggil Nona Eira tanpa rasa hormat begitu?!” serunya keras, dadanya naik turun menahan amarah.

“Saya suaminya,” jawab suara di seberang sana tanpa ragu sedikit pun.

Alverine sempat terdiam. “Suami?” Ia memiringkan kepala bingung. “Suami Nona Eira itu cuma Papa Rhys!”

Suara di telepon mendesah kecil sebelum menjawab, “Alvie, kamu tidak mengenali suara Papamu sendiri?”

Rhys, yang tengah berada di kantor pusat Morwenia Group untuk kunjungan setengah hari, sama terkejutnya. Telepon yang khusus ia pasang untuk menghubungi Eira, berdering untuk pertama kalinya setelah dua tahun.

“Papa?!” seru Alverine refleks, matanya membulat.

Rhys tertawa pelan. “Benar, Tuan Putri.”

Alverine memajukan bibir, tampak kesal sekaligus penasaran. “Kenapa cuma Nona Eira yang punya telepon ini? Dame Raven, aku, bahkan Nona Singa tidak punya! Tidak adil!”

Nada manja itu membuat Rhys tersenyum samar. “Karena kondisi Nona Eira sering tidak stabil,” jelasnya lembut. “Papa memberinya telepon agar bisa tahu kondisinya setiap hari.”

Alverine mendadak tersenyum lebar. “Romantis sekali...” ujarnya, seolah baru mendengar kisah cinta dari buku dongeng.

Namun di belakangnya, Velian yang baru ke luar dari kamar mandi terdiam. Ia mendengarkan percakapan itu tanpa suara, keningnya mengerut.

Telepon itu ... seingatnya hanya digunakan Eira ketika keadaan benar-benar gawat, seperti saat serangan geng pemberontak dalam versi novel.

Memang, selama ini Rhys yang setiap hari menelepon untuk mengetahui kondisi tubuhnya. Sekarang giliran Rhys menerima panggilan itu, dari Alverine.

<<<

Eira duduk di kursinya, kedua kaki terangkat, lutut dipeluk erat, dan wajahnya tertimbun di antara lengannya. Suasana kamar terasa hening, hanya detak jarum jam yang terdengar, seakan menghitung waktu sejak Rhys mengikrarkan larangan: ia tak boleh ke luar dari mansion tanpa ditemani dirinya atau Garrick.

Ketika telepon di mejanya tiba-tiba berdering, Eira menegakkan kepala. Suara khas itu hanya terhubung ke satu orang. Rhys, dari kantor pusat Morwenia Group.

Dengan gerakan malas, ia meraih gagang telepon agar deringnya berhenti memekakkan telinga.

“Sudah minum obat?” suara berat Rhys terdengar di seberang, disertai bunyi lembut bolpoin yang berhenti di tengah tanda tangannya. “Bagaimana kondisimu? Kalau belum membaik, saya akan panggilkan tabib—“

“Apa niatmu memperlakukanku sebaik ini?” potong Eira getir.

Rhys terdiam sesaat. “Saya hanya khawatir padamu.”

“Ingin terlihat seperti suami teladan di mata semua orang, karena merawat selir ketiganya yang sekarat?!”

Bolpoin di tangan Rhys patah dalam genggamannya. “Kondisi mentalmu belum stabil jika belum minum obat, Eira.”

Eira menutup telepon dengan hentakan keras. Keheningan kembali menyelimuti kamar. Yang tersisa hanya napasnya yang tersengal dan pantulan wajahnya di cermin.

>>>

Velian menyentuh bahu Alverine dengan lembut. Gadis kecil itu sontak menoleh dan menurunkan telepon dari telinganya, ekspresinya tampak bersalah.

“Maaf … aku terlalu penasaran,” ujarnya pelan.

Velian menggeleng ringan, senyumnya hangat meski sedikit letih. “Tidak apa-apa, Alvie.”

Velian perlahan mengambil alih gagang telepon dari tangan Alverine, lalu menutup sambungan dengan hati-hati. Ia tersenyum, berusaha mengalihkan suasana.

“Aku ingin berjalan-jalan ke taman,” ujarnya lembut. “Kamu mau ikut denganku?”

Velian dan Alverine berjalan bergandengan menyusuri koridor menuju taman yang terletak di depan bangunan utama. Langkah mereka ringan, diiringi obrolan kecil khas adik dan kakak.

Tepat ketika hendak menuruni anak tangga menuju halaman, sosok Garrick muncul dari balik tiang perbatasan antara teras dan pelataran depan.

Velian sontak terlonjak, satu tangannya refleks menahan dada. “Astaga, kaget aku!” serunya kesal.

Garrick segera menunduk dalam, meminta maaf dengan sopan. “Maaf, Nona Eira. Tidak bermaksud mengejutkan.”

Alverine menutup mulutnya, menahan tawa kecil yang lolos juga. “Tuan Garrick, bisakah menemaniku mengambil botol kaca berisi gelembung?”

Velian menoleh dengan senyum menggoda. “Untuk main di taman ya?” Alverine mengangguk cepat

Tanpa ragu, Garrick menekuk satu lutut, menempelkan lututnya ke tanah, lalu menunduk hormat. “Untuk Tuan Putri, saya bersedia,” ucapnya dengan nada lembut yang membuat siapa pun merasa dihormati.

Alverine menyambut uluran tangan itu dengan semringah. Mereka berdua lalu pergi bersama mengambil botol gelembung, meninggalkan Velian yang berdiri sendirian di tempatnya.

Velian menghela napas, menepuk-nepuk gaunnya agar lebih rapi. “Mulut cowok di dunia mana pun manis banget,” gumamnya pelan.

Alverine berlari kecil menuju Velian sambil menggenggam sebuah botol kaca mungil berwarna pink di tangan kanan. Di dalamnya, cairan berkilau seperti kristal cair.

“Nona Eira, lihat! Ini cairan gelembung yang kubuat sendiri!” katanya bangga, memamerkan hasil racikannya.

Velian tersenyum, menerima botol itu dengan hati-hati. “Kamu mencampur apa saja?”

“Sabun tangan, air mawar, dan sedikit madu,” jawab Alverine polos, membuat Velian menahan tawa.

Garrick berjalan beberapa langkah di belakang mereka, menjaga dalam diam.

Taman topiary itu semerbak dengan aroma segar dan dipenuhi warna yang menenangkan. Barisan boxwood hijau membentuk pagar rendah yang mengitari jalan setapak batu. Di sela-selanya, lavender ungu bergoyang lembut tertiup angin, berpadu dengan marigold keemasan yang bersinar di bawah cahaya matahari pagi. Dekat air mancur kecil, petunia dan mawar mini bermekaran, menebar gradasi warna ungu muda dan merah muda yang memantulkan cahaya lembut ke seluruh taman.

Gaun yang dikenakan Velian bergradasi lembut antara gading dan merah muda, tampak seperti kelopak bunga yang baru mekar di bawah cahaya pagi. Lapisan tulle yang mengembang memberi kesan ringan dan berkilau, sementara pita satin berhiaskan permata di bagian pinggang menambah sentuhan anggun yang manis. Dipadukan dengan sepatu bot berhak tinggi berwarna gading muda, dihiasi renda, pita, dan bulu lembut di pergelangan, keseluruhan tampilan ini memancarkan aura elegan sekaligus imut di musim semi—lembut, hangat, dan memesona dalam setiap langkahnya.

Sedangkan gaun yang dikenakan Alverine tampak seolah dijahit dari serpihan fajar dan kelopak bunga mawar yang baru mekar. Lapisan chiffon bergradasi merah muda lembut berpadu dengan bordiran perak yang membentuk pola dedaunan halus, memberi kesan seakan setiap helaian kainnya bernapas bersama angin pagi. Potongan bagian bahu yang transparan dibingkai renda tipis, sementara pita besar di pinggang dengan hiasan permata berbentuk kelopak menambah sentuhan anggun bak putri dari dunia peri.

Ketika dipadukan dengan sepatu berenda yang dihiasi mutiara, pita satin, dan bros permata berkilau, seluruh penampilan itu seolah menyatu dalam satu harmoni keindahan. Setiap langkah memantulkan cahaya lembut, bagaikan bunga yang menari di bawah sinar matahari musim semi.

Alverine membuka tutup botol yang sekaligus berfungsi sebagai tongkat gelembung berbentuk mahkota perak kecil. Dengan satu tiupan lembut, puluhan gelembung melayang, memantulkan warna pelangi di bawah sinar matahari pagi.

Alverine menjerit gembira, mengejar gelembung-gelembung itu sambil tertawa. Velian ikut meniup, kali ini gelembungnya pecah di wajahnya sendiri.

“Nona Eira, kamu terlalu dekat meniupnya!” canda Alverine, terbahak.

Velian ikut tertawa. “Ternyata tidak mudah jadi pembuat gelembung handal sepertimu.”

Mereka terus bermain hingga taman dipenuhi bayangan berkilau. Velian tidak merasa khawatir nasib tragisnya—setidaknya selama tawa Alverine masih terdengar di telinganya.

Velian menghampiri Garrick dengan senyum cerah. Begitu tiba di hadapannya, ia langsung menengadahkan tangan, meminta sesuatu.

“Pinjam Vox Device-mu sebentar. Aku ingin mengirim gambar Alvie kepada Rhys,” pintanya.

Vox Device di Morwenia berfungsi layaknya ponsel di dunia Velian. Mampu melakukan panggilan suara, mengirim pesan singkat, dan pesan suara. Namun, perangkat ini jauh lebih eksklusif: terbuat dari logam perak berkilau dengan bentuk oval elegan, hanya dimiliki kalangan bangsawan.

Garrick merogoh saku seragamnya dan menyerahkan Vox Device itu kepada Eira. Namun, terasa sedikit tarikan, seperti masih ingin dipertahankan olehnya

“Jika nanti membutuhkan benda ini lagi, sampaikan saja pada Tuan Rhys,” ucap Garrick tenang. “Jangan sungkan ... meski dulu kamu pernah melemparkannya ke kolam.”

Velian tersenyum kaku, menepuk pelan tangan Garrick sebelum mengambil perangkat itu sepenuhnya. “Ya, ya, ya.”

Velian tak lupa ber-selfie, membentuk tanda V dengan jarinya sambil mengembungkan pipi. Di belakangnya, Alvie tampak melompat riang di antara gelembung-gelembung yang berkilauan diterpa cahaya. Dengan satu sentuhan pada layar Vox Device, potret manis itu langsung terkirim ke perangkat milik Rhys—yang saat itu tengah dalam perjalanan menuju istana menggunakan mobil Seraphon PX-9.

Matahari siang Morwenia menembus lembut lewat kubah kaca paviliun, memantul di pilar-pilar marmer. Cahaya itu menari di lantai batu putih, menciptakan kilau keemasan di sekitar sosok Velian yang sedang duduk tenang di bawah bayangan chandelier kristal.

Velian membolak-balik perangkat bernama Vox Device di tangannya. Matanya berbinar kagum, sementara senyum kecil tersungging di wajahnya. “Gue cuma ngarang alat komunikasi buat bangsawan Morwenia,” gumamnya pelan. “Tapi mereka beneran bisa bikin aslinya ... gila, keren banget.”

Alverine sudah kembali masuk ke dalam mansion setelah botol gelembungnya habis dan tenaganya terkuras habis untuk bermain. Sepertinya, begitu selesai dimandikan, gadis kecil itu akan langsung terlelap tanpa perlawanan.

Angin membawa sedikit kesejukan, menggerakkan rambut di pelipisnya. Dari kejauhan, gemericik air mancur mansion terdengar menenangkan, menjadi latar musik alami untuk istirahat singkatnya di tengah aktivitas tanpa tujuan.

Velian menarik napas perlahan. Ia jarang mendapat waktu di mana bisa duduk tanpa perlu memikirkan pekerjaan, uang, atau tagihan. Dalam ketenangan siang yang hangat itu, ia membiarkan pikirannya mengembara.

Saat matanya terpejam, Velian merasakan hangat matahari tiba-tiba terhenti di kulitnya. Awalnya ia mengira awan melintas menutupi langit, tapi bayangan itu bertahan terlalu lama. Perlahan, ia membuka mata.

Di hadapannya berdiri Garrick—tegak, tenang, dan dengan tatapan sedikit menunduk seolah menjaga sopan santun di hadapan bangsawan.

“Sebentar lagi Tuan Rhys tiba,” ucapnya datar namun tegas. “Lebih baik Nona kembali ke kamar. Tuan Putri Alverine juga sudah beristirahat.”

Velian menatapnya lama tanpa menjawab, bibirnya membentuk garis tipis yang sulit ditebak—antara lelah atau menahan tawa. Lalu ia membatin, “Tampang sad man-nya kelihatan banget, Garrick. Kalau suka, bilang aja. Nggak usah repot-repot ngedorong orang lain buat dapetin dia.”

Baru saja Velian mengembalikan Vox Device sambil berdiri dan Garrick berbalik untuk pergi, sebuah rasa nyeri mendadak menghantam dadanya—tajam, menusuk, seperti ribuan jarum menembus ke dalam. Napasnya tersengal. Ia spontan menekan dada kirinya, tubuhnya goyah, hampir kehilangan keseimbangan.

“Garrick...” suaranya serak, nyaris tak terdengar. Tubuhnya membungkuk menahan sakit yang terlalu nyata, terlalu menyiksa.

Garrick segera menoleh. Dalam sekejap, ia sudah menahan tubuh Eira sebelum jatuh. Tatapannya membulat panik, napasnya memburu. “Eira!” serunya cemas, matanya memeriksa wajah pucat gadis itu yang kini diselimuti keringat dingin.

Rasa nyeri itu terus berdenyut, menjalar sampai ke seluruh tubuh. Velian nyaris tak mampu berpikir jernih. “Ini ... yang dirasain Eira setiap hari?” pikirnya di antara kabut kesadaran yang mulai menipis. Sakit sekali, seperti jantungnya diremas paksa, seperti akan mati..

Sayangnya, tak ada suara yang bisa ke luar dari tenggorokannya. Tubuhnya semakin lemas, matanya mulai kehilangan fokus, dan satu-satunya hal yang masih bisa ia rasakan hanyalah genggaman kuat Garrick yang berusaha menahannya agar tidak jatuh ke tanah.

Rupanya bukan hanya Velian yang terhuyung karena rasa sakit—Garrick pun kalut melihatnya. Wajahnya tegang, napasnya berat, seolah rasa panik ikut menular dari tubuh gadis itu ke dirinya. Ia memanggil nama Eira berulang kali, tapi tak ada jawaban selain desahan lemah.

Samar-samar, suara derap langkah cepat terdengar dari belakang. Suara sepatu menghantam lantai marmer, semakin dekat, semakin jelas—hingga sosok itu muncul di bawah cahaya siang yang menembus kubah paviliun.

Rhys.

Dengan sigap ia mengambil alih posisi Garrick, menahan tubuh Velian yang nyaris ambruk. Tatapannya tajam, penuh kecemasan yang disembunyikan di balik wajah dingin.

Continúa leyendo este libro gratis
Escanea el código para descargar la App

Último capítulo

  • Alur Baru Sang Selir Ketiga   Chapter 138: Penjelasan Lucien

    Velian baru saja memasuki ruang kesadaran ketika sosok Eira muncul di hadapannya. Namun, sebelum mereka sempat bertukar kata, pusaran energi keemasan yang dikirimkan Alverine telah mencapai tujuannya.Energi itu menembus celah kesadaran, lalu mengalir menuju jantung Eira—tepat ke inti magis yang terhubung dengan Kristal Marindor. Cahaya keemasan menyebar sesaat, berdenyut lembut sebelum menyatu dengan inti magisnya.Celah yang sebelumnya sempat retak dan kembali tertutup itu mulai bergetar. Retakan tipis muncul di permukaannya, merambat perlahan hingga membentuk celah yang cukup lebar untuk memperlihatkan ruang di baliknya.Lalu, seperti pada pertemuan pertama mereka, sosok Pangeran Lucien muncul dari balik celah tersebut.Kehadirannya terasa seolah-olah ia baru saja melangkah masuk ke ruang kesadaran mereka, bukan sekadar bayangan yang terbentuk dari ingatan. Tak ada yang berubah dari caranya muncul saat itu—seakan-akan waktu berputar kembali ke awal, meski kali ini mereka telah meng

  • Alur Baru Sang Selir Ketiga   Chapter 137: Harapan Semua Orang

    Dylen memandang Velian yang masih diliputi kecemasan.“Kontrol suasana hatimu.” Tangannya menepuk pelan bahu Velian. “Kau dan Alverine terhubung. Kalau kau tidak tenang, Alverine juga akan merasakan hal yang sama.”Velian terdiam. Napasnya perlahan ia atur, berusaha menekan kegelisahan yang sejak tadi memenuhi dadanya.Dylen menatapnya dengan tenang. “Kita sudah menduga hal ini akan datang.” Ia menghela napas pelan. “Rhys meminta Eira kembali untuk menjelaskan semuanya kepadanya. Jadi, kita penuhi permintaannya.”Velian menundukkan kepala. Untuk sesaat, ia memejamkan mata, mencoba mengendalikan pikirannya sendiri.Benar. Mereka memang sudah tahu hari ini akan tiba. Hanya saja, tidak ada yang benar-benar siap ketika hari itu akhirnya datang.Dylen masih memegang buku tanpa judul itu. Ia membolak-balik beberapa halaman sebelum akhirnya berhenti.“Aku tidak bisa terus berada di sini. Aku harus menemui Pangeran Lucien. Dia mungkin lebih tahu apa yang harus kita lakukan selanjutnya.”Dylen

  • Alur Baru Sang Selir Ketiga   Chapter 136: Rhys Kehilangan Kepercayaan

    Raven, Leona, dan Alverine masih belum memahami alasan Garrick mengutus beberapa pengawal untuk menutup jalan keluar dari ruang makan setelah Dylen membawa Eira pergi.“Pasti mereka menyembunyikan sesuatu,” gumam Leona dari tempat duduknya.Sebagai seseorang yang mudah curiga, perubahan sikap mereka tentu saja membuat pikirannya dipenuhi berbagai kemungkinan.“Sebaiknya jangan berspekulasi sebelum ada penjelasan,” timpal Raven dengan tenang.“Kenapa Papa belum ke sini?” Alverine tidak merengek. Ia hanya kebingungan di sela-sela sarapannya ketika melihat lima pengawal berdiri tegak di pintu masuk ruang makan. Ia menoleh kepada Raven. “Apa jangan-jangan ada perang di luar sana, Dame?”Pikiran buruk yang sama seperti Leona rupanya mulai memenuhi kepala anak kecil itu.Raven menggeleng pelan. “Tidak ada perang. Tunggu Papa saja, ya.”Namun, Leona tetap tidak mampu menghentikan pikirannya sendiri. Ia tidak bermaksud berpikir buruk. Hanya saja, berbagai kemungkinan terus bermunculan tanpa b

  • Alur Baru Sang Selir Ketiga   Chapter 135: Keputusan Rhys

    "Kau berhak marah, Rhys. Mereka menyembunyikan sesuatu darimu. Aku juga. Apa yang kau rasakan terhadapku tidak pernah menjadi kebohongan hanya karena Velian berada di dalam tubuhku. Aku tetap Eira. Dan dia tetap Velian. Kami hanya terjebak dalam satu tubuh.”Mereka menyembunyikannya bukan karena ingin mengkhianati Rhys, tetapi karena mereka takut apa yang akan terjadi jika Rhys mengetahui semuanya sebelum mereka menemukan cara mengembalikan Velian.Eira meminta Rhys tidak mengambil keputusan dalam keadaan marah. "Kalau kau ingin membenciku setelah semuanya selesai, aku tidak akan menghentikanmu. Tapi jangan hukum mereka sebelum kau mendengar seluruh kebenarannya.”Rhys tidak langsung percaya. Karena setelah mengetahui bahwa “Eira yang selama ini bersamanya ternyata juga ditempati Velian”, pertanyaan terbesar Rhys justru, “Kalau begitu ... selama aku mencintaimu, siapa yang sedang mencintaiku?”Eira menjawab dari dalam cermin, “Aku.”Rhys menundukkan kepala. “Sejak kapan...?” Suaranya

  • Alur Baru Sang Selir Ketiga   Chapter 134: Jangan Lukai Mereka

    Dylen langsung menyambar tangan Velian dan menariknya bangkit dari kursi. Ia membawanya menjauh dari meja makan tanpa memberi kesempatan untuk bertanya.Keterkejutan, kekhawatiran, dan kepanikan orang-orang di sekitarnya sama sekali tidak dihiraukannya. Yang ada di pikirannya hanya satu: mereka harus pergi sebelum terlambat.“Dylen, tunggu!” seru seseorang.Namun Dylen terus menarik Velian.Bahkan ketika Garrick segera mencekal lengannya, berusaha menghentikannya sebelum ia membawa Velian pergi, Dylen akhirnya berterus terang. “Pamanku akan membuka segel buku itu.”Garrick mengerutkan kening. Dylen menatapnya dengan wajah tegang. “Dan Rhys akan menemukannya.”Velian yang sejak tadi hanya mengikuti tarikan Dylen tiba-tiba membeku. Matanya melotot lebar. Napasnya tercekat. “R-Rhys?!”Di tengah pelarian mereka, Velian berteriak dengan napas tersengal. “Rhys ke kamar Eira! Gimana dong?!”“Lari saja!”Dylen mempercepat langkahnya. Namun, berlari mengenakan gaun jelas bukan perkara mudah. V

  • Alur Baru Sang Selir Ketiga   Chapter 133: Energi Dytheron

    Dytheron menghadap Dylen. Tatapannya tenang, tetapi ada ketegasan yang tidak memberi ruang untuk dibantah.“Temui Velian.”Dylen menatapnya, menunggu kelanjutan perkataan sang penyihir tua.“Katakan kepadanya, sebelum takdirnya berakhir di sini, dia harus kembali ke dunianya.”Dylen terdiam.“Velian tidak seharusnya berada di Morwenia,” lanjut Dytheron. “Apa pun alasan yang membawanya kemari, tempat ini bukan miliknya.”Tatapan Dytheron mengeras. “Kehidupan Eira adalah milik Eira. Begitu pula kehidupan Velian adalah milik Velian.”Ia menarik napas pelan sebelum menambahkan, “Tidak seorang pun seharusnya hidup menggantikan kehidupan orang lain.”Dylen bergegas menuju kediaman Rhys di Morwenia menggunakan mobil. Kendaraan itu melaju secepat kilat, membelah jalan tanpa memberi banyak waktu untuk berhenti. Ia mengejar waktu—sebelum perkiraan Dytheron berubah menjadi kenyataan.Rhys akan mengetahui rahasia ini. Tak seorang pun bisa mencegahnya jika dia menganggapnya sebagai pengkhianatan.

  • Alur Baru Sang Selir Ketiga   Chapter 6: Rhys Menghunuskan Pedang

    “Panggil tabib sekarang,” perintahnya rendah, tapi cukup untuk membuat udara di sekitar seolah menegang.Garrick segera berlari, sementara Rhys tetap menahan Velian di pelukannya—menatap wajah pucat yang berkeringat itu dengan rahang mengeras, seolah menahan sesuatu yang lebih dari sekadar kekhawa

  • Alur Baru Sang Selir Ketiga   Chapter 4 : Eira yang Lain

    Ketika Rhys sudah berdiri di hadapannya, Velian justru bergeser menutupi sebagian tubuh Garrick dengan tubuhnya sendiri. Garrick mengerutkan dahi, tak mengerti dengan sikap aneh itu.Jika ada yang paling mengenal Rhys, maka itu adalah Velian—karena dialah pencipta tokoh pria ini dalam dunia asliny

  • Alur Baru Sang Selir Ketiga   Chapter 3: Lepas Kendali

    Pundak Rhys tak setegang biasanya, seolah bersiap mendengar permintaan Eira. “Jika ingin bepergian, bawa saya atau Garrick untuk menemani.” Velian hampir mendengus. Bukankah sama saja? Rhys dan Garrick bagai pinang dibelah dua. “Kalau sendiri, tidak boleh?” tanyanya hati-hati. “Jika kamu ping

  • Alur Baru Sang Selir Ketiga   Chapter 2: Masuk ke Tubuh Selir Ketiga

    “Nona Eira.” Mata masih terpejam, Velian merasa seperti ada yang memanggil. “Nona Eira.” Suara itu terdengar lagi. Velian sudah terbiasa mimpi tokoh-tokoh dari novelnya. Biasanya pertanda sudah siang, seakan-akan mereka membangunkannya. Dengan malas, ia membuka mata. Seketika terkejut, buru

Más capítulos
Explora y lee buenas novelas gratis
Acceso gratuito a una gran cantidad de buenas novelas en la app GoodNovel. Descarga los libros que te gusten y léelos donde y cuando quieras.
Lee libros gratis en la app
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP
DMCA.com Protection Status