LOGIN“Nona Eira.”
Mata masih terpejam, Velian merasa seperti ada yang memanggil. “Nona Eira.” Suara itu terdengar lagi. Velian sudah terbiasa mimpi tokoh-tokoh dari novelnya. Biasanya pertanda sudah siang, seakan-akan mereka membangunkannya. Dengan malas, ia membuka mata. Seketika terkejut, buru-buru ia pejamkan lagi rapat-rapat. “Nona Eira?” Pelan-pelan, ia mengintip sebelah mata. Sosok pria tua berdiri di dekat ranjang. Tubuhnya sedikit membungkuk, kedua tangan menyatu di depan perut dengan sopan. Rambut putihnya tersisir rapi, janggut tipisnya memperkuat kesan bijak. Jubah panjang abu-abu bertali kulit menandakan ia seorang tabib Morwenia. Velian mengerjap bingung. “Gue masih mimpi, kah?” lirihnya. Matanya menyapu sekeliling. Sebuah kamar mewah dengan dominasi warna merah muda. Tirai sutra menjuntai hingga lantai, karpet lembut menutupi marmer, dan perabotan berukir emas terasa akrab. Pria tua itu menunduk hormat. “Mohon maaf, Nona Eira. Saya telah memanggil Tuan Rhys untuk segera datang ke rumah. Nona ditemukan jatuh pingsan di lantai dasar, dan tidak kunjung sadar.” Belum sempat Velian mencerna semua itu, seorang wanita masuk ke kamar itu yang pintunya terbuka. Langkahnya tergesa namun tetap anggun. Rambut hitam pekatnya tergerai lembut hingga punggung, memberi kesan dingin sekaligus berwibawa. Wajahnya tirus dengan riasan tipis yang menonjolkan sorot mata tajam berwarna kelam, seakan mampu menembus siapa pun yang berani menantangnya. Gaun malam berkilauan yang membalut tubuhnya tampak mewah, dengan potongan elegan di bagian pinggang. Meski perutnya masih kecil—tanda awal kehamilan—lekuk gaun itu menegaskan bahwa ia sedang mengandung. Balutan kain berpayet halus jatuh anggun hingga lantai. Velian tercekat. “Nggak mungkin ... itu ... selir kedua Rhys Vance, Leona Hart?!” Ia memekik dalam hati. Wanita itu, Leona, menoleh pada tabib. “Bagaimana kondisinya?” Tabib membungkuk lagi meski pinggangnya hampir tak kuat. “Nona Eira harus beristirahat total. Jika terlalu banyak beraktivitas, jantungnya bisa semakin lemah.” Velian memegang kepala yang berdenyut. “Gue jadi ... Eira Shawn?” Leona maju selangkah, mendahului tabib. “Rhys sedang menuju ke sini dari istana karena kau pingsan lagi!” Nada kekesalan tercampur dengan kekhawatiran. Velian justru makin panik. “Gimana ceritanya gue bisa terjebak di sini, jadi Eira Shawn yang penyakitan?” Leona tiba-tiba meninggikan suara. “Tidak bisakah kau membuat suasana rumah ini menjadi damai sehari saja?” Velian yang frustasi, spontan membentak balik. “Berisik!” Leona terperanjat. Tangannya refleks menyentuh perut, seolah melindungi buah hati dari ucapan kasar. “Apa kau bilang? Be-ber-berisik?” Velian yakin ini mimpi. Ia turun dari ranjang, mencincing gaun rumit yang menjuntai agar lebih mudah melangkah. Tujuannya jelas: kabur. Namun langkahnya terhenti. Dua pria baru saja masuk, tubuh mereka menghadang jalan ke luar. Velian menelan ludah, membatin nelangsa bertemu dua tokoh mematikan. “Rhys Vance ... dan ajudan setianya, Garrick Veynar.” Pria paling depan menatap tajam, sorot matanya menusuk. Sedangkan pria di belakangnya berwajah datar, ekspresinya dingin tanpa emosi. Persis dengan deskripsi tokoh dalam novel “Duke of Morwenia”. “Hendak ke mana?” Suara Rhys berat dan dingin. Ia maju setapak. “Masuk kembali.” Leona segera mendekat, menuntun Velian—atau yang semua orang kira Eira—untuk duduk kembali. “Jangan membangkang,” bisiknya cepat di telinga. “Rhys bisa mengamuk kalau kau melawan. Cepat duduk!” Telapak kakinya benar-benar menapak lantai. Velian baru sadar ini bukan sekadar mimpi. Ia benar-benar masuk ke dalam bukunya sendiri. Dan klise sekali bila ia mengaku dirinya bukan Eira, melainkan Velian dari dunia lain. Itu hanya akan merusak plot. Rhys dan ajudannya masuk hampir beriringan, langkah keduanya tegas menghampiri tabib. Velian, yang kini terperangkap dalam tubuh Eira, duduk di tepi ranjang. Meski merasa baik-baik saja, ia tak bisa berhenti menatap wajah Rhys dan Garrick yang tampak nyata di hadapannya. “Hampir setiap hari dia—“ Rhys membuka suara. Velian sontak menoleh. Dia? Hanya itu? Tanpa nama, tanpa penghormatan apa pun? Padahal Eira adalah selirnya juga! Sebagai penulis yang mengatur sendiri hubungan para tokoh, Velian harga dirinya ikut ternoda. Rhys sempat melirik perubahan ekspresi Eira—senyum tipis yang terkesan getir—namun ia tak terlalu peduli. “Bagaimana kondisinya?” Leona segera menyelusup, berdiri di samping Rhys sambil meraih lengannya. “Aku yang menemukan Eira jatuh pingsan di dekat tangga. Aku juga yang pertama menolongnya dan memanggil tabib.” Suaranya mendadak manja, penuh haus pujian. “Begitukah?” Rhys memastikan, menatap bergantian pada Eira dan tabib. Velian hanya bisa menatap lantai, lidahnya kelu tidak bisa berkata-kata mendengar betapa bangganya Leona telah menyelamatkan Eira. Tabib pun membenarkan. “Betul, Tuan. Nona Leona sangat peduli. Sedikit saja terlambat, Nona Eira harus dibawa ke rumah sakit kerajaan.” Rhys mengangguk singkat. “Kalau begitu, kalian bertiga ke luar dahulu. Ada yang ingin saya bicarakan dengan Eira.” “Baik, Tuan,” jawab tabib dan Garrick hampir serentak. “Baiklah...” Leona menahan kecewa, tapi tetap melangkah ke luar. Hatinya masih dipenuhi rasa ingin tahu, apa yang hendak dibicarakan Rhys dengan Eira. Garrick menutup pintu, memberi ruang privat untuk keduanya. Namun di lorong, Leona tak bisa menahan diri. Ia mulai cerita pada ajudan setia Rhys. “Kau tahu apa yang Eira katakan padaku tadi?” Garrick berhenti, tapi tidak menoleh. “Dia berteriak padaku ... ‘Berisik!’” Leona menirukan dengan penuh drama, tangannya sampai ikut mengibaskan rambut ke belakang. Kali ini Garrick menoleh, tatapannya dingin. “Tidak mungkin. Nona Eira tidak pernah meninggikan suara pada siapa pun selama dua puluh satu tahun.” “Tapi sungguh! Eira benar-benar membentakku!” Leona berusaha meyakinkan, bahkan tertawa kecil sendiri. Ekspresi Garrick tetap datar. “Maaf, Nona. Saya lebih percaya melihat beruang kutub berjalan di Hutan Tropis Morwenia ... daripada Nona Eira membentak seseorang.” Sementara di dalam, Velian terus menunduk, sengaja menghindari tatapan Rhys. Ia tak mau berurusan terlalu jauh dengan pria itu. Pedang kematian, pedang istana—apa pun sebutannya, satu hal pasti: Rhys Vance adalah sosok menakutkan. “Mulai sekarang, kamu dilarang keluar dari mansion. Kondisimu terlalu sering memburuk,” ucap Rhys, nada suaranya tegas tanpa ruang untuk dibantah. Velian tertegun. Bukan karena larangan itu, melainkan karena kalimatnya terasa sangat familier. Ini … dialog yang sama persis di novel! Dalam cerita, Eira memang pingsan setelah kembali dari akademi pengetahuan. “Jadi selama Eira pingsan … gue masuk ke tubuhnya? Terus … jiwa aslinya Eira Shawn ke mana?” “Jawab saya,” ulang Rhys, kali ini penuh desakan. Velian buru-buru menjawab, “Ya.” Suaranya terdengar kaku. Ia tak biasa berbicara dengan bahasa formal, apalagi harus menahan diri agar tak keceplosan dengan umpatan khas daerahnya. Sedikit saja salah bicara, bisa-bisa mereka langsung curiga. Rhys kemudian duduk di tepi ranjang, terlalu dekat. Refleks, Velian bergeser sambil merapikan gaun ribet itu, berusaha menjaga jarak aman dari pria yang selama ini cuma ia kagumi lewat layar monitor. "Saya harus menemui Alvie. Beristirahatlah, nanti malam pelayan akan mengantarkan makan malam ke kamar," ucap Rhys sembari beranjak, hendak membuka pintu. Velian menegang. Bayangan nasib tragis Eira—yang mati mengenaskan dalam kesendirian—menyeruak begitu saja. Jika ia hanya berdiam, maka akhir yang sama mungkin menantinya. "Tunggu." Refleks, Velian menghentikannya. Rhys berbalik, menatapnya dengan sorot mata tajam. Velian menggenggam erat jemari gaunnya. Ia harus bicara, harus mengubah jalan kisah. Mati karena penyakit jantung bawaan Eira mungkin bisa ia terima … tapi mati sia-sia dalam kesepian? Tidak. "Kondisiku memang takkan bertahan lama," katanya dengan gugup, suara dibuat setenang mungkin. "Bisakah setidaknya aku diberi kelonggaran … untuk tetap beraktivitas seperti biasa?"Urusan di istana selesai. Rhys dan Velian berpamitan dengan raja dan ratu, lalu melangkah menuju agenda masing-masing. Velian akan beristirahat, sementara Rhys hendak berburu bersama Garrick."Langsung?" Velian spontan bertanya, langkah mereka berhenti kompak di depan pintu rumah.Rhys menatapnya tenang, tapi matanya menaruh rasa ingin tahu. "Ya. Ada apa?""Kamu tidak lelah seharian di istana?"Rhys mengangkat alis, setengah tersenyum. "Kamu … peduli dengan saya?"Velian menunduk sebentar. "Kesehatanmu."Di bawah anak tangga, Garrick sudah menunggu, matanya mengamati interaksi mereka. Rhys sekadar melirik, menandakan dia tak keberatan, lalu menoleh kembali pada Velian.Velian melipat kedua tangan di depan dada, nada suaranya bercampur canda dan skeptis. "Lagipula, apa yang kamu buru di malam hari? Gelap, sunyi, sepi…"Rhys tersenyum tipis, nada santai tapi tajam. "Saya tidak punya waktu untuk menjawab pertanyaanmu. Malam ini saya tidur sendiri, jadi t
Velian dan Ratu berdiri di depan jendela besar yang terbuka, memandangi hamparan kebun bunga: camellia putih berpadu poppy merah yang bergoyang diterpa angin.Velian menoleh ke arah Rhys, yang terlihat di kejauhan bersama seorang pria yang dari pakaian resminya jelas anggota keluarga kerajaan. Matanya membelalak. "Pangeran?!" gumamnya lirih, penuh penasaran untuk melihat rupa aslinya di dunia nyata.Ratu tersenyum hangat, matanya mengikuti punggung putranya. "Putra Mahkota sudah begitu besar … padahal rasanya baru kemarin ia belajar berjalan. Ah, jantung ini selalu berdebar setiap kali menatap putra saya sendiri," ucapnya lembut.Dalam dunia yang Velian tulis, Putra Mahkota Morwenia adalah sosok Asia tampan—tegas, kekar, dan menguasai segala hal. Sementara Rhys, Duke of Morwenia: Pedang Istana, hadir sebagai sosok pedang yang bengis, tak kenal ampun. Pangeran, bagai rubah: licik, berhati lembut, dan penuh perhitungan, berbeda namun sama-sama memikat."Sejujurnya … sa
Tidak terlintas sedikit pun di benak Velian bahwa hari ini ia harus berpisah dengan Rhys di Istana Morwenia. Saat berdampingan di hadapan Raja Aethelred dan Ratu Isolde, membungkuk dengan penuh hormat, Velian tetap menggenggam tangan Rhys. Rhys sendiri tak mempermasalahkan hal itu.“Selamat datang, Tuan Rhys Vance dan Putri Eira Shawn, di Istana kami,” sapa Ratu Isolde, senyum hangatnya menenangkan namun tetap menegaskan wibawa.Raja Aethelred tertawa pelan, suaranya terdengar gagah dan maskulin. “Dua bangsawan yang klan-nya menjadi sejarah turun-temurun Morwenia. Sudah lama kami tidak melihat kalian datang bersama. Bagaimana kabar kalian berdua?”Velian sibuk menatap interior Istana, matanya berbinar kagum, sementara Rhys tetap tenang dan formal. “Kami selalu baik, Baginda. Terima kasih atas sambutan yang hangat dan penuh perhatian,” jawab Rhys, suaranya tenang tapi penuh hormat.Ratu Isolde mengangguk perlahan, menoleh ke Raja. “Tuan Rhys ke Istana pasti bukan urusan kecil. Apakah k
Velian kembali berdiri di ruang yang tak pernah benar-benar ia pahami. Sunyi, pucat, seperti batas tipis antara mimpi dan kesadaran. Udara di sana tidak bergerak, waktu seakan membeku. Namun satu hal selalu pasti: ia tidak pernah sendirian.Di hadapannya berdiri Eira Shawn.Pemilik tubuh yang kini ia tinggali.Hampir setiap malam ruang itu membuka diri bagi mereka, seolah takdir sengaja memberi celah agar dua jiwa dalam satu raga dapat saling menatap tanpa topeng. Tidak selalu dengan amarah. Tidak selalu dengan penolakan. Kadang hanya tatapan panjang yang sarat tanya—tentang hari yang telah berlalu, tentang Rhys, tentang Istana, tentang bisik-bisik yang belum padam.Tentang perasaan yang mulai berubah bentuk.Ada malam-malam ketika Velian merasa Eira hanyalah pantulan ketakutannya sendiri.Namun ada malam lain ketika Eira menatapnya terlalu hidup, terlalu sadar untuk sekadar disebut bayangan.“Kau seharusnya bersikap seperti aku,” ujar Eira akhirnya, suaranya lembut namun tegas. “Sepe
Malam sudah lebih sunyi ketika Rhys berdiri di depan kamar Velian. Ia tidak langsung masuk. Tangannya sempat terangkat untuk mengetuk … lalu turun lagi.Akhirnya, ia mengetuk pelan.Tidak ada jawaban.Beberapa detik kemudian, Rhys membuka pintu perlahan dan masuk tanpa suara. Ia menutupnya kembali. Velian duduk di sisi ranjang, memeluk lututnya. Lampu kamar redup, membuat suasana terasa lebih sunyi dari biasanya.“Saya tidak datang untuk berdebat atau memarahi kamu,” ucap Rhys pelan.Velian tidak menoleh. “Kalau begitu tidak perlu datang.”Kalimat itu terasa lebih tajam daripada bentakan sebelumnya. Rhys menarik napas perlahan. “Saya ingin menjelaskan. Bukan membenarkan.”Velian terdiam.“Saya membunuhnya,” lanjut Rhys, suaranya rendah namun stabil. “Bukan karena dia melukai kamu. Tapi karena dia berani menyentuh wilayah yang menjadi tanggung jawab saya.”“Kami bukan wilayahmu,” balas Velian pelan.“Saya tahu.” Rhys mengangguk. “Kalian bukan barang. Bukan kepemilikan. Tapi keselamatan
Velian tetap duduk di kursinya di meja makan, sementara para pelayan mulai sibuk mencuci piring dan peralatan dapur yang digunakan sebelumnya. Di seberangnya, Rhys menatap Vox Device dengan serius, fokus penuh sampai dahinya berkerut.Velian ingin membuka percakapan, tapi suasana sepi dan kursi lain kosong membuatnya merasa canggung. Semua orang sudah kembali ke kamar masing-masing setelah makan malam.“Kamu bilang.”Velian sedikit terkejut, menyadari Rhys memperhatikannya.Rhys menutup Vox Device di atas meja dan menatap Velian. Ia bersedia mendengarkan.Setelah menelan ludahnya, Velian akhirnya memutuskan untuk urung bertanya. Rasa penasarannya terhadap perkataan Alverine memang ada, tapi ia sadar, pertanyaan itu bisa saja mengusik Rhys.“Aku kembali ke kamar.” Velian memaksakan senyum tipis sebelum bangkit dari duduknya.Namun rupanya Rhys belum puas. Desahan beratnya terdengar jelas hingga ke telinga Velian.“Untuk bertanya atau sekadar mengucap satu kalimat saja, apa sesulit itu?







