Home / Romansa / Alur Baru Sang Selir Ketiga / Chapter 87: Bunga dan Pisau

Share

Chapter 87: Bunga dan Pisau

Author: KIKHAN
last update publish date: 2026-06-24 12:11:52

Meskipun beberapa anggota keluarga tidak ikut makan malam bersama, suasana tetap terasa hangat. Mereka menikmati hidangan yang tersedia hingga akhirnya waktu makan selesai.

Setelah itu, Velian memilih kembali ke kamar untuk beristirahat. Sementara Leona memanfaatkan kesempatan untuk mengikuti Rhys mengantar Alverine ke kamarnya.

Begitu tiba di sana, Alverine langsung duduk di meja belajarnya. Malam itu ia akan menjalani pelajaran berhitung bersama pengajar pribadi baru dari Akademi Marindor.

“I
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Alur Baru Sang Selir Ketiga   Chapter 88: Bersikap Adil?

    “Kami juga tidak sudi disamakan dengan situasi atau orang lain, asal kau tahu, Rhys.”Suara itu membuat percakapan mereka terhenti.Leona menoleh cepat ke arah sumber suara. Rhys pun melakukan hal yang sama.Velian berdiri tidak jauh dari mereka, tepat di ujung ruang tamu. Tatapannya tenang, tetapi kalimatnya barusan jelas mengandung ketegasan.Ia sebenarnya tidak berniat mendengarkan percakapan mereka. Saat hendak kembali ke kamar Alverine untuk mengembalikan pita rambut yang tadi dipinjamkan, langkahnya justru terhenti ketika mendengar suara mereka. Pita berbentuk bunga Moryn yang terbuat dari berlian masih berada di tangannya, berkilau samar terkena cahaya lampu mansion.“Aku hanya mendengar sebagian percakapan kalian,” lanjut Velian. “Tapi satu hal yang perlu kau pahami, Rhys.” Ia menatap pria itu lurus. “Kami bukan sekadar orang yang harus memenuhi aturan makan malam keluarga. Kami adalah orang-orang yang memilih untuk berada di sisimu.”Ruangan itu mendadak terasa lebih sunyi.L

  • Alur Baru Sang Selir Ketiga   Chapter 87: Bunga dan Pisau

    Meskipun beberapa anggota keluarga tidak ikut makan malam bersama, suasana tetap terasa hangat. Mereka menikmati hidangan yang tersedia hingga akhirnya waktu makan selesai.Setelah itu, Velian memilih kembali ke kamar untuk beristirahat. Sementara Leona memanfaatkan kesempatan untuk mengikuti Rhys mengantar Alverine ke kamarnya.Begitu tiba di sana, Alverine langsung duduk di meja belajarnya. Malam itu ia akan menjalani pelajaran berhitung bersama pengajar pribadi baru dari Akademi Marindor.“Ingin tidur bersama Alvie?” tanya Rhys pada Leona, melihat perempuan itu masih berdiri di ambang pintu.Leona menggeleng pelan. “Tidak. Aku ingin berbicara denganmu.”Rhys mengangguk memahami. “Baik. Kita bicara di luar saja.” Ia mempersilakan Leona ke luar lebih dulu sebelum menoleh kepada putrinya. “Alvie, dengarkan guru dan perhatikan pelajaranmu.”“Iya, Papa...” Alverine menjawab dengan nada pasrah. Ia duduk di hadapan seorang perempuan muda yang usianya tidak jauh berbeda dengan Eira. Sama s

  • Alur Baru Sang Selir Ketiga   Chapter 86: Kehangatan yang Tidak Pernah Kutulis

    Rhys mengalihkan pandangannya sejenak kepada Alverine.“Alvie, sudah jam berapa sekarang? Cepat masuk dan mandi. Bersihkan badanmu, lalu bersiap untuk makan malam.”Alverine yang masih berdiri di dekat Lucien menatap ayahnya dengan wajah berpikir. “Dame Raven belum datang menemuiku,” katanya polos. “Kalau begitu, aku mandi dengan siapa?”Pertanyaan sederhana itu membuat Rhys terdiam sejenak. Ia baru tahu bahwa Raven tidak ada di mansion dan belum kembali, sementara ia tidak ingin membiarkan putrinya menunggu terlalu lama menjelang waktu makan malam.“Dame Raven belum kembali?” Rhys mengernyit kecil. Tangan kirinya masih menggenggam tangan Velian, sementara tangan kanannya meraih Vox Device untuk menghubungi Raven.Namun sebelum menekan tombol panggilan, matanya menangkap pesan yang dikirim Raven sejak pukul dua belas siang.[Aku akan pergi spa dan berbelanja. Kemungkinan tidak bisa ikut makan malam bersama. Maaf.]Rhys menghela napas panjang. Ini kesalahannya sendiri. Kesibukan di lua

  • Alur Baru Sang Selir Ketiga   Chapter 85: Tangan yang Menangkap Kegelisahan

    Velian akhirnya ke luar dari kamar. Langkahnya terasa lebih berat daripada biasanya. Bukan karena tubuh Eira, tetapi karena pikirannya sendiri.Dari kejauhan, ia masih bisa melihat Lucien dan Alverine bermain bersama Xuu. Pemandangan itu terasa asing baginya.Lucien seharusnya hanya karakter dalam novel.Namun sekarang, ia tertawa dan berbicara seperti Arlan ketika masih hidup. Ia memiliki kebiasaan kecil yang bahkan tidak pernah Velian tulis secara detail. Karakter yang hidup...Begitu Velian mendekat, Alverine langsung menyadarinya.“Mami!” Anak kecil itu berlari menghampiri.Velian refleks tersenyum dan menangkap tangannya. “Aku sudah bilang jangan berlari terlalu cepat.”“Tapi Mami sudah turun!” jawab Alverine senang.Lucien yang berdiri tidak jauh dari sana hanya tersenyum kecil. “Sepertinya kondisimu sudah lebih baik.”Velian menatapnya. Dan sekali lagi, dadanya terasa sesak.Wajah itu.Cara tersenyum itu.Namun kali ini ia tidak mundur.“Ya. Aku sudah lebih baik.”Lucien memper

  • Alur Baru Sang Selir Ketiga   Chapter 84: Wajah yang Sama, Orang yang Berbeda

    Dalam beberapa jam, Velian akhirnya kembali mengambil alih tubuh Eira Shawn ketika perempuan itu tertidur lelap.Jam digital berbentuk kotak di atas meja, yang menampilkan prediksi cuaca serta suhu terkini, menunjukkan pukul empat sore.Velian segera bangkit hingga duduk. Ia mengatur napasnya perlahan, memastikan ekspresi dan pikirannya kembali terkendali sebelum keluar kamar dan berhadapan dengan orang-orang di mansion.Namun, ia tidak menyangka Lucien masih berada di sana.Dari jendela kamar, Velian melihat sosok pangeran itu berada di taman bunga mansion bersama Alverine. Mereka sedang bermain dengan Xuu, anjing kecil berbulu putih bersih milik Dame Raven.Alverine melempar sebuah piringan kecil ke arah taman, dan Xuu langsung berlari mengejarnya dengan lincah. Setelah berhasil menangkapnya, anjing kecil itu kembali membawa piringan tersebut dengan ekor yang bergoyang penuh semangat.Permainan itu kemudian bergantian dilakukan bersama Lucien.Hal yang

  • Alur Baru Sang Selir Ketiga   Chapter 83: Penulis dan Tokohnya

    “Jangan.” Larangan Lucien terdengar tegas, hampir memotong gerakan Alverine.Tangan kecil yang semula hendak meraih gagang telepon antik milik Eira langsung berhenti di udara. Alverine menoleh dengan tatapan bingung.Sementara itu, Eira memperhatikan perubahan ekspresi Lucien. Wajah pria itu mendadak menjadi datar, seolah sedang menahan sesuatu. Ada ketegasan yang berbeda dalam suaranya, tetapi ia masih berusaha menjaga sikap lembut di hadapan mereka.Lucien kemudian beralih menatap Alverine. Ekspresinya kembali melunak, disertai senyum tipis. “Tidak perlu menelepon ayahmu,” ujarnya. “Sebaiknya kita pergi saja berdua dan memberikan ruang bagi Nona Eira untuk beristirahat.” Ia melangkah mendekat, lalu mengangkat Alverine turun dari kursi dengan hati-hati. “Bukankah itu lebih baik?”Alverine menatap Eira sebentar, lalu mengangguk kecil meski terlihat sedikit kecewa. “Pangeran benar,” jawabnya pelan.Eira hanya diam memperhatikan mereka. Ada sesuatu dalam cara Lucien bertindak yang membu

  • Alur Baru Sang Selir Ketiga   Chapter 31: Detak yang Menyimpang

    Ia tahu jawabannya. TANAH ITU TIDAK DIJUAL. Dan justru karena itulah kejengkelannya terasa semakin nyata.Keluarga Istana, termasuk Putra Mahkota adalah penyedia lahan dan modal terbesar. Morwenia Group sebagai pengembang utama, teknologi, manajemen, dan branding. Mereka—keluarga Istana meminta ko

  • Alur Baru Sang Selir Ketiga   Chapter 29: Garrick Berpapasan dengan Rombongan Anak Kecil yang Selesai Berlatih Sihir

    “Kenapa tidak menemui Tuan Rhys?” tanya Dylen, jelas tak memahami alasan gadis itu justru berbalik dengan wajah panik.“Masih bertanya juga,” geram Velian lirih. “Aku pasti dimarahi. Sudah berlarian tak tahu adat, ditambah lagi bersama pria.”“Eira Shawn.”Suara Rhys kembali terden

  • Alur Baru Sang Selir Ketiga   Chapter 28: Terciduk Main di Akademi

    Velian menarik napas panjang, mencoba merangkai kalimat dengan rapi agar Dylen mengerti. “Aku bukan sengaja masuk ke sini. Semuanya terjadi tiba-tiba. Entah bagaimana awalnya, aku—” Kalimat itu patah bukan karena ia kehabisan kata. Rasa nyeri menghantam dadanya, keras dan mendadak, membuat seluruh

  • Alur Baru Sang Selir Ketiga   Chapter 18: Dibuat Kepanasan oleh Rhys

    Velian terbelalak kaget. Raven yang berdiri di belakang Rhys hanya bisa menghela napas pelan—ia sudah menduga ada sesuatu yang berbeda di antara mereka berdua.Saat Velian menoleh ke Leona, ia bisa melihat jelas bagaimana kepala dan telinga wanita itu seakan mengeluarkan asap. Wajah Leona me

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status