MasukDi dalam mobil yang melaju dengan kecepatan sedang, Alverine berkali-kali melirik Eira yang sibuk memandangi pemandangan di luar jendela. Mereka duduk berdampingan, tetapi jarak di antara keduanya terasa cukup jauh karena tidak ada percakapan.Alverine kemudian meraih botol minumannya yang berbentuk seperti ransel kecil berwarna merah muda, lengkap dengan penutup menyerupai kepala beruang dan tali yang tersampir di bahunya. Ia meneguk air di dalamnya tiga kali sebelum kembali menatap Eira.“Mami merindukan Tuan Dylen?”Pertanyaan spontan itu langsung membuat Eira menoleh.“Hah?” Eira mengerjap. “Tentu saja bukan begitu maksud kedatanganku.”“Papa bilang begitu,” jawab Alverine polos.Eira masih belum memahami maksudnya.“Papa selalu menemui Mami karena merindukan Mami.”Eira terdiam sesaat, lalu tersenyum geli. “Tidak selalu seperti itu, Alvie.”Alverine memiringkan kepalanya, seolah masih belum percaya. “Benarkah?”Eira hanya terkekeh kecil, lalu kembali memandang ke luar jendela. “P
“Aku tidak diam-diam pergi ke Akademi Marindor,” bela Eira. “Saat itu aku hendak meminta izin, tetapi Papa Rhys dan Tuan Garrick tidak ada. Jadi aku terpaksa pergi sendirian.”“Ada puluhan pengawal di rumah kita, Mami.”Eira terdiam.Garrick yang sejak tadi hanya menjadi penonton akhirnya turun tangan. “Kalian berdua sudah. Jangan berdebat lagi.”Alverine dan Eira sama-sama menoleh kepadanya, lalu mengembuskan napas pendek.Garrick hanya menggeleng pelan. Dua orang ini benar-benar memiliki bakat luar biasa dalam mencari alasan untuk membela diri.“Ya sudah. Aku mau meminta izin kepada Papa.” Alverine hendak berbalik ketika Eira tiba-tiba berkata, “Aku ikut.”Alverine menoleh.“Kebetulan aku juga punya keperluan dengan Dylen,” lanjut Eira. “Aku bisa membantumu berkeliling di akademi.”Wajah Alverine langsung berbinar. Ia mengangkat kedua ibu jarinya. “Diterima!”Senyum keduanya bertahan sampai mereka benar-benar menemukan Rhys.Senyum itu seketika menghilang.Di teras mansion, Rhys sed
Rhys akhirnya bisa bernapas lega ketika melihat Alverine sudah terlelap dalam gendongan Dylen begitu mereka kembali ke ruang tamu. Tanpa banyak bicara, mereka kembali bertukar posisi.“Terima kasih, Dylen.”Dylen mengangguk kecil. Matanya kemudian melirik ke arah bangunan kamar Eira. “Nona Eira sudah berhenti menangis?”Pertanyaannya terdengar pelan, nyaris seperti bisikan. Rhys hanya mengangguk.“Selain mengajar Tuan Putri, rupanya saya juga harus mengasuhnya.” Dylen memandang Rhys, menunggu tanggapan.Namun, Rhys justru tampak seperti seseorang yang tidak tahu harus menjawab apa. Dylen segera mengangkat kedua tangannya sedikit.“Saya bukan sedang menyindir, Tuan.” Ia terkekeh kecil. “Anak-anak di Marindor juga ada yang sulit ditenangkan ketika hendak mulai belajar. Saya sudah terbiasa menggendong mereka, makan kudapan bersama, bahkan bermain kejar-kejaran.”Dylen mengangkat bahu. “Jadi, tidak masalah, Tuan Rhys.”Rhys tetap tidak bereaksi. Wajahnya
Dame Raven membuatkan susu cokelat hangat untuk Alverine yang sejak tadi menangis dan tak kunjung bisa tidur. Rhys menggendong putrinya, satu tangan menyangga tubuh kecil itu sementara tangan lainnya menepuk-nepuk punggungnya perlahan. "Alverine, kalau kau menginginkan sesuatu, katakan pada Papa." Suaranya lembut, jauh berbeda dari nada tegas yang biasa ia gunakan di istana. "Papa tidak tahu apa yang kau mau kalau kau hanya menangis seperti ini." Alverine tetap menangis. Sudah lima menit. Lima menit bukan waktu yang sebentar bagi seorang anak yang biasanya langsung tertidur hanya dengan dibacakan dongeng atau diajak berhitung sampai dua puluh. Biasanya, sebelum hitungan mencapai angka terakhir, Alverine sudah terlelap. Dan sekali tidur, ia justru terkenal sulit dibangunkan. Namun, malam ini berbeda. Alverine sempat tertidur sebentar di antara Rhys dan Dame Raven. Keduanya bahkan sudah kembali memejamkan mata ketika tiba-tiba tangisan keras memecah
Garrick mendengarnya. Ia juga memahami setiap ucapan Dylen. Namun, Garrick bukan lagi pemuda yang menginjak usia remaja dan setiap pagi mengajak Eira berjalan-jalan sebelum berangkat ke sekolah hanya karena gadis kecil itu hampir selalu bangun lebih awal daripada penghuni istana lainnya.Ia bukan lagi Garrick yang duduk di samping Eira untuk mengajarinya menulis, berhitung, atau mengeja kata-kata sederhana.Waktu telah mengambil semua itu darinya.Eira kini sudah mampu melakukan semuanya sendiri.Garrick menyaksikan pertumbuhannya dari waktu ke waktu.Dari seorang gadis kecil yang selalu membawa buku ke mana pun ia pergi, menjadi seorang perempuan muda yang anggun dan menawan.Semakin dewasa, Eira semakin menyerupai mendiang ibunya.Jelita.Anggun.Namun, ada sesuatu yang tidak pernah mampu Garrick lihat.Kebahagiaan.Sejak kedua orang tua Eira tiada, Garrick tidak pernah benar-benar bisa melihat gadis itu menjalani hidup dengan bahagia.
Kedatangan Garrick juga menjadi salah satu hal yang sama sekali tidak mereka duga malam itu.Untungnya, ia datang ketika percakapan mereka telah berakhir. Tidak ada lagi pembahasan mengenai Lucien, kekuatan magis, ataupun rahasia Velian yang seharusnya tidak terdengar oleh siapa pun.Mereka bahkan terkadang lupa bahwa Garrick juga mengetahui rahasia Velian.Mungkin karena terlalu lama bersama, keberadaan rahasia itu perlahan terasa seperti sesuatu yang biasa bagi mereka. Sesuatu yang tidak perlu lagi disembunyikan di antara orang-orang yang sudah mengetahui kebenarannya.Namun, bukan berarti mereka boleh lengah.Terutama di tempat seperti Morwenia, di mana satu percakapan yang terdengar oleh orang yang salah dapat mengubah arah kehidupan seseorang."Sudah malam. Lekas kembali dan beristirahat."Garrick tidak mengatakannya sebagai saran. Itu perintah.Velian menatapnya beberapa detik, lalu memasang wajah polos seolah benar-benar tidak memahami maksud kedatangannya. "Bukankah malam ini
“Panggil tabib sekarang,” perintahnya rendah, tapi cukup untuk membuat udara di sekitar seolah menegang.Garrick segera berlari, sementara Rhys tetap menahan Velian di pelukannya—menatap wajah pucat yang berkeringat itu dengan rahang mengeras, seolah menahan sesuatu yang lebih dari sekadar kekhawa
Suara ketukan tiga kali di pintu kamar membuat Velian mengerang pelan. Ia masih ingin melanjutkan mimpi indahnya, tapi bunyi itu terus terdengar.Dengan mata setengah terbuka, Velian duduk, meregangkan tangan malas-malasan ke atas, lalu melangkah gontai menuju pintu. Begitu dibuka, koridor di depa
Ketika Rhys sudah berdiri di hadapannya, Velian justru bergeser menutupi sebagian tubuh Garrick dengan tubuhnya sendiri. Garrick mengerutkan dahi, tak mengerti dengan sikap aneh itu.Jika ada yang paling mengenal Rhys, maka itu adalah Velian—karena dialah pencipta tokoh pria ini dalam dunia asliny
Pundak Rhys tak setegang biasanya, seolah bersiap mendengar permintaan Eira. “Jika ingin bepergian, bawa saya atau Garrick untuk menemani.” Velian hampir mendengus. Bukankah sama saja? Rhys dan Garrick bagai pinang dibelah dua. “Kalau sendiri, tidak boleh?” tanyanya hati-hati. “Jika kamu ping







