Share

Sebuah Rencana

Author: Ida Ann
last update Petsa ng paglalathala: 2026-08-19 23:28:50

Nila Hastuti tahu bahwa jadwal kunjungan hanyalah sebuah jadwal belaka. Malam ini ia berada di Bangsal Prabayasa seorang diri. Selalu seperti biasanya. Namun baginya itu bukan sebuah masalah, karena sejak awal ia sudah menduga hal ini akan terjadi. Namun ada satu hal yang mengganjal pikirannya, sehingga membuatnya merasa tidak tenang.

Sekembalinya ke Bilik Serayu, Nila Hastuti mulai menyusun segala sesuatunya. Sakit hati? Tentu! Cemburu, jangan tanya lagi. Namun ia paham, jika melampiaskannya a
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter

Pinakabagong kabanata

  • Amartapura : Cinta di balik Dinding Keputren   Teluh Jaga Satru

    Matahari pagi baru saja menyingsing di ufuk timur, memancarkan sinar keemasan yang menembus celah-celah ukiran jendela. Suasana Bilik Sedayu yang semula tenang dan tenang seketika pecah oleh jeritan histeris dari dalam kamar utama."Aagghh! Mbok! Mbok Lasmi!"Jeritan melengking dari Raras Anjani bergema menggetarkan dinding-dinding kayu. Mbok Lasmi yang sedang menata kain di selasar luar langsung menjatuhkan nampannya. Dengan napas terengah-engah dayang itu berlari menembus tirai pintu.Di atas ranjangnya, Raras duduk gemetar. Tangannya bergetar hebat, menyentuh setiap pori kulitnya yang muncul ruam tanpa diketahui penyebabnya. Wajahnya yang semula halus jelita kini dipenuhi bercak-bercak bintik merah tebal yang menyebar kian ganas—mulai dari leher, pipi, hingga menutupi seluruh lengan dan dadanya."Gusti Ayu! Ada apa ini?!" Mbok Lasmi menjatuhkan dirinya di sisi pembaringan, panik luar biasa melihat kulit junjungannya yang mendadak rusak dalam semalam."Sakit, Mbok... gatal dan panas

  • Amartapura : Cinta di balik Dinding Keputren   Kiriman Teluh untuk Raras

    Pedang pusaka milik Sultan Aji masih tergeletak sembarangan setelah dilempar begitu saja. Kilau baja pamornya memantulkan cahaya obor yang bergoyang tertiup angin malam.Tumenggung Danur Gunawan masih berlutut di lantai batu yang dingin. Tangannya terangkat rapat menghaturkan sembah, matanya tak bergeming menatap ujung kasut sang raja."Gusti Kanjeng Sultan," suara Danur terdengar amat tenang namun berbobot, memecah ketegangan yang baru saja tercipta.Sultan Aji mengepalkan tangannya rapat-rapat. Ia menghembuskan napas berat, lalu berbalik membelakangi pedangnya."Lalu apa rencanamu?" tanya Sultan Aji pelan, namun sarat dengan kemarahan yang masih tersirat jelas."Dua langkah, Gusti. Pertama, kita harus menguji kebenaran kabar dari Raden Ayu Mayang. Kita tidak bisa menaruh nasib kerajaan dan keselamatan Raden Ayu Raras hanya pada lidah seorang selir pertama Amartapura yang sedang terbakar cemburu. Kita harus mendengar langsung dari bibir Raden Ayu Raras sendiri.""Bagaimana caranya? B

  • Amartapura : Cinta di balik Dinding Keputren   Sebuah Upaya

    Kamar utama Bilik Sedayu kini dipenuhi kehangatan yang tak pernah Raras bayangkan sebelumnya. Pengertian Sultan Panji terasa begitu nyata ketika pria itu memilih untuk hanya membelai puncak kepala Raras atau mengusap lembut pipinya sebelum mereka tertidur. Tak ada paksaan, tak ada tuntutan atas haknya sebagai seorang suami dan penguasa. Sikap sang Sultan yang biasanya memandang Raras sekadar sebagai mahkota kemenangan atas Sultan Aji, kini perlahan luruh, berganti menjadi sebuah kelembutan yang dewasa.Raras merasa lega. Strategi perubahan sikapnya yang mulai melunak dan mau terbuka terbukti membuahkan hasil positif. Dalam masa pemulihan fisik serta duka mendalam usai keguguran atas dampak pahit dari racun warangan yang pernah menyusup ke tubuhnya, Raras dihujani perhatian yang luar biasa dari Sultan Panji.Setiap pagi, ada saja abdi dalem yang dikirim ke Bilik Sedayu untuk mengantarkan barang. Beragam hadiah yang tak putus-putus mulai dari kain sutra bermotif langka dari negeri seber

  • Amartapura : Cinta di balik Dinding Keputren   Satu Malam Kebersamaan

    Bayang-bayang sosok Mayang Guritno baru saja menghilang di balik tirai sutra Bilik Sedayu. Seketika itu pula, kehangatan dan rasa haus akan perlindungan yang baru saja diperlihatkan Raras Anjani menguap tanpa bekas. Raras menarik jemarinya dari genggaman Sultan Panji dengan gerakan yang halus namun tegas. Kakinya bergerak mundur beberapa langkah. Wajahnya kembali dingin, seolah peristiwa manja dan sikap manis beberapa saat lalu hanyalah sebuah sandiwara.Sultan Panji terpaku sejenak, mengamati perubahan raut wajah selir terakhirnya itu. Senyum tipis mengembang di bibir sang penguasa Amartapura. Ada sedikit rasa kesal yang menyengat dadanya melihat betapa cepat Raras melepaskan topeng kelembutan itu begitu musuh mereka keluar ruangan. Namun di saat yang sama, Sultan Panji merasa terhibur."Kau sungguh pandai bersandiwara, Raras," ujar Sultan Panji sambil melangkah mendekat, kembali mengikis jarak di antara mereka. Suaranya terdengar berat, menyimpan campuran antara kekaguman dan kejeng

  • Amartapura : Cinta di balik Dinding Keputren   Muslihat Mayang

    Asap dupa kayu cendana tipis-tipis merayap di antara celah ukiran pintu bilik Sedayu. Membawa aroma manis yang menenangkan. Raras Anjani duduk menyandar pada sandaran kursi kayu jati. Tangannya yang masih agak bergetar menggenggam cangkir tembaga berisi racikan jamu penawar sisa-sisa racun. Wajahnya yang memucat justru menegaskan tajamnya sorot mata yang tak lagi menyimpan kepasrahan.Langkah kaki yang halus namun terasa disengaja terdengar dari arah selasar luar. Raras tak perlu menoleh untuk mengetahui siapa yang datang. Mayang Guritno kembali melangkahkan kakinya ke kediaman Raras, hanya selang dua hari sejak kunjungannya yang pertama."Dhimas Raras... bagaimana keadaanmu hari ini?" suara Mayang mengalun merdu.Ia melangkah masuk tanpa menunggu diundang penuh, anggun berbalut kebaya sutra hijau lumut yang disulam benang emas."Keadaanku makin membaik, Mbakyu," jawab Raras singkat. Suaranya datar, tanpa ada lagi kehangatan yang dulu pernah ia bagikan sebagai sesama penghuni keputren

  • Amartapura : Cinta di balik Dinding Keputren   Intrik Baru Keputren

    "Mencari sesuatu yang telah menjadi milik orang lain hanya akan melelahkan mata, Gusti Sultan Aji."Rahang Sultan Aji menegang. "Jaga bicaramu, Raden Ayu. Aku datang untuk kunjungan keluarga.""Jangan bersandiwara …." potong Mayang dengan nada rendah yang tajam, namun memikat."Raden Ayu Raras tidak akan menemui Gusti Sultan Aji. Dia masih lemah oleh racun yang hampir merenggut nyawanya tempo hari." Ucap Mayang Guritno dengan nada yang dibuat seolah iba pada nasib sang selir ketiga.Sultan Aji terdiam, kata-kata Mayang menghunjam tepat di pusat rasa bersalahnya karena telah melepaskan wanitanya pada musuh bebuyutannya."Bagaimana keadaannya sekarang? Apakah dia... bisa pulih dari racun itu?" tanyanya, kehilangan sikap dingin yang tadi ia tunjukkan.Mayang Guritno mendekat satu langkah lagi, menurunkan volume suaranya hingga nyaris berupa bisikan angin."Dia pulih secara raga, namun hamba rasa … jiwanya tidak. Dia tidak mempercayai siapa pun di istana ini, termasuk Sultan Panji. Dan Pa

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status