LOGINSebuah kecelakaan tragis, membawa seorang dokter cantik kembali ke zaman kuno. Jiwanya masuk ke dalam tubuh seorang permaisuri buangan yang diabaikan karena penyakit anehnya, Zi Han. Tak ingin hidup tragis untuk kedua kalinya, dokter cantik itu berencana mengubah hidupnya di tubuh Zi Han. Dengan pengetahuannya di zaman modern, dia berhasil menyembuhkan penyakit yang dianggap kutukan tersebut. Kaisar Zhao yang semula dingin dan acuh, kini mulai menaruh perhatian penuh padanya, mencari berbagai cara agar bisa mendekati permaisuri yang dulu pernah ia abaikan. Akankah Zi Han berhasil mempertahankan takdir barunya, ataukah dia justru akan hancur oleh seseorang yang diam-diam ingin menggulingkannya di istana?
View More"Dokter Rin, tolong tanda tangani laporan autopsi korban kecelakaan beruntun di jalan tol tadi siang. Pihak kepolisian sudah menunggu di luar sejak satu jam yang lalu," suara perawat Lusi memecah keheningan ruang kerjanya yang dingin.
Wanita bernama Xiao Rin tidak langsung menjawab, melainkan hanya menghela napas panjang, sembari mengurut pangkal hidungnya yang terasa kening. Matanya yang lelah menatap tumpukan berkas di atas meja kayu. "Letakkan saja di sana, Suster Lusi. Aku akan menandatanganinya setelah menyelesaikan analisis toksikologi ini." Perawat Lusi berjalan mendekat, meletakkan map tebal tersebut dengan helaan napas yang tidak kalah berat. "Anda sudah berada di ruang forensik selama enam belas jam, Dokter. Apa anda tidak berniat untuk pulang malam ini? Wajah anda sudah sepucat mayat yang kita periksa tadi." Xiao Rin memaksakan sebuah senyuman tipis, melirik jam dinding yang sudah menunjukkan pukul sebelas malam. "Pulang ke rumah pun tidak ada bedanya, Lusi. Rumahku sama dinginnya dengan ruang jenazah ini. Setidaknya di sini, aku tahu ada pekerjaan yang menungguku." "Tapi hidup anda bukan hanya tentang orang mati, Dokter Rin," sahut perawat Lusi dengan nada cemas, mencoba mencairkan suasana yang kaku. "Usia anda sudah menginjak tiga puluh tahun bulan ini. Di usia matang seperti ini, anda seharusnya sedang menikmati makan malam romantis dengan kekasih, atau setidaknya pergi berkencan, bukan terus-menerus membelah dada manusia di ruangan penuh formalin." Mendengar kata kencan, gerakan jemari Xiao Rin yang sedang mengetik laporan seketika terhenti. Sebuah tawa hambar lolos dari bibirnya yang kering. "Kencan? Jangan bercanda, Lusi. Menghadapi manusia hidup jauh lebih rumit daripada menghadapi manusia yang sudah mati. Orang mati tidak pernah berbohong atau mengkhianatimu." "Ah, anda selalu saja skeptis jika menyangkut masalah hati," perawat Lusi menggelengkan kepala, bersiap melangkah keluar ruangan. "Jangan bilang anda masih trauma karena penolakan cinta pertama anda saat masa SMA dulu? Itu sudah belasan tahun yang lalu, Dokter!" "Itu bukan trauma. Itu hanya sebuah kesadaran bahwa cinta tidak diciptakan untuk orang seperti diriku," balas Xiao Rin, dengan nada suara yang sengaja dibuat acuh, meskipun ada setitik rasa hampa yang mendadak mencubit dadanya. Setelah perawat Lusi keluar dan pintu tertutup rapat, keheningan kembali menguasai ruangan. Xiao Rin menyandarkan tubuhnya pada kursi kerja, menatap langit-langit dengan pandangan kosong. Kata-kata perawat Lusi tadi mau tidak mau memicu memori lama yang sudah ia kubur dalam-dalam. Masa SMA, masa di mana dia dengan bodohnya menyatakan cinta kepada seorang pemuda, hanya untuk ditertawakan dan ditolak mentah-mentah di depan koridor sekolah. Sejak hari itu, Xiao Rin mengunci rapat hatinya. Dia membuang seluruh angan-angan tentang romansa, lalu mengabdikan seluruh hidup, waktu, dan energinya demi mengejar gelar dokter forensik. Namun, malam ini, rasa lelah yang luar biasa hebat tiba-tiba menyergapnya, membuat pertahanan mentalnya sedikit goyah. Tiga puluh tahun, dan hidupnya terasa sangat membosankan, begitu-begitu saja, datar tanpa warna. "Kau benar-benar menyedihkan, Xiao Rin," bisiknya pada diri sendiri, meruntuki nasibnya yang malang. Setelah menandatangani berkas kepolisian dan merapikan ruang kerja, Xiao Rin akhirnya memutuskan untuk pulang. Dia berjalan gulai menuju tempat parkir basement, lalu menyalakan mesin mobil sedan tuanya. Hujan deras mulai mengguyur kota ketika mobilnya melaju membelah jalanan malam yang sepi. Wiper mobil bergerak berirama, menyapu air yang menghalangi pandangannya, menciptakan suara ketukan yang monoton. Kantuk yang teramat berat mulai menyerang. Kelopak matanya terasa seberat batuan seolah memaksa untuk terpejam. Xiao Rin menggelengkan kepalanya kuat-kanat, membuka sedikit kaca jendela agar angin malam yang dingin bisa menerpa wajahnya. Dia menyalakan radio, berharap suara musik bisa mengusir rasa kantuknya. "Sial, kenapa mataku berat sekali..." gumamnya, sembari memegang kemudi dengan tangan yang mulai gemetar karena kelelahan fisik yang teramat sangat. Jalanan yang ia lalui adalah jalur perbukitan yang sepi, dengan jurang dalam di sisi kiri yang berbatasan langsung dengan aliran sungai deras. Pandangan Xiao Rin sempat mengabur selama dua detik, kepalanya terkulai ke depan tanpa bisa ia kendalikan. Rasa kantuk itu terlalu kuat, merenggut kesadarannya dalam sekejap mata. Tepat pada detik ketiga, sebuah klakson nyaring memekakkan telinga berbunyi dari arah berlawanan. TIIIIIIIDDDD! Xiao Rin terperanjat, matanya membelalak lebar seketika. Di depannya, sebuah truk kontainer besar kehilangan kendali akibat jalanan yang licin, meluncur deras tepat ke arah jalurnya. "Ah!" teriak Xiao Rin histeris. Dalam refleks yang panik, dia membanting setir mobilnya ke arah kiri demi menghindari hantaman langsung. Namun, sial baginya, ban mobilnya slip di atas aspal yang basah. Mobil sedan itu berputar hebat, menabrak pembatas jalan dengan benturan besi yang menggelegar keras, sebelum akhirnya terpental bebas melompati bibir jurang. Dunia seolah bergerak lambat di mata Xiao Rin. Mobilnya melayang di udara, terjun bebas menuju kegelapan di dasar jurang. Jantungnya berdegup begitu kencang hingga terasa menyakitkan, adrenalin memuncak, namun tidak ada yang bisa dia lakukan selain memejamkan mata pasrah. BYAAARRRR! Hantaman dengan air sungai di dasar jurang terasa begitu keras, seolah tubuhnya menghantam dinding beton. Kaca mobil seketika pecah, dan air sungai yang luar biasa dingin langsung menerobos masuk dengan beringas, memenuhi kabin mobil dalam hitungan detik. Air dingin itu mulai merayap naik, menenggelamkan kaki, dada, hingga akhirnya mencapai leher Xiao Rin. Dia mencoba melepaskan sabuk pengaman, namun tangannya terlalu lemas dan gemetar akibat syok. Perlahan namun pasti, mobilnya tenggelam semakin dalam ke dasar sungai yang hitam serta sunyi. Oksigen di dalam paru-parunya mulai habis. Xiao Rin terengah, mencoba meraup udara yang sudah tidak ada, membuat air sungai yang dingin masuk menyumbat tenggorokannya. Rasa sesak yang luar biasa hebat mencengkeram dadanya, membakar paru-parunya dengan rasa sakit yang menyiksa. Pandangannya perlahan mulai menggelap, seiring dengan tubuhnya yang semakin kehilangan daya. Di tengah rasa sesak dan dingin yang membekukan itu, sebuah kehampaan yang teramat besar menyelimuti jiwanya. Xiao Rin menatap lamat-lamat air sungai yang bergulung di atasnya dari balik kaca yang hancur. Jadi, begini rasanya mati? batinnya dengan getir. Dia merasa sangat miris. Hidupnya berakhir di tempat sedingin ini, dalam kesendirian yang mutlak, tanpa pernah sekalipun merasakan hangatnya dicintai oleh seseorang. Hidupnya di dunia modern terasa sangat sia-sia dan menyedihkan. Kesadaran Xiao Rin berada di ambang batas, perlahan meredup seperti lilin yang ditiup angin. Namun, tepat sebelum jiwanya benar-benar terenggut oleh kegelapan malam, sebuah bisikan penuh harapan menyeruak dari lubuk hatinya yang paling dalam. "Jika takdir masih berbaik hati memberikan aku satu kali lagi kesempatan... aku ingin hidup dengan lebih baik. Aku ingin menata ulang takdirku, dan aku ingin merasakan bagaimana rasanya dicintai seutuhnya..." Bersamaan dengan runtuhnya kalimat terakhir itu di dalam benaknya, kegelapan total menjemput jiwa sang dokter cantik, menenggelamkannya ke dalam keheningan abadi yang misterius. "Permaisuri Zi... tolong bangun! Zi Han.. Permaisuri...""Jing Er, hentikan jeritan konyolmu itu," suara Zi Han menginterupsi keheningan pagi, terdengar parau namun sarat akan ketenangan mutlak. Zi Han menggeliat perlahan di atas peraduan kayu. Gerakannya kaku, diikuti suara keriat-keriut dari kulit hitam tebal yang mongering dan pecah di sepanjang leher serta lengannya. Lapisan hitam itu tampak berkerak seperti busuk yang membusuk, menyebarkan aroma amis dan pahit yang begitu pekat. "P-Permaisuri... kulit Anda..." Jing Er merangkak mundur hingga punggungnya menabrak pintu kamar, jemarinya menunjuk dengan gemetar hebat. "Kulit Anda hancur! Wajah Anda... leher Anda... semuanya menghitam dan membusuk! Hamba... hamba harus memanggil Tabib Kang sekarang juga!" "Diam di tempatmu!" bentak Zi Han, mendudukkan tubuhnya tanpa memedulikan kerak hitam yang mulai runtuh berjatuhan ke atas kasur. "Kau berpikir kulitku memburuk? Lihat lebih dekat." "Tapi Permaisuri, itu jelas-jelas lapisan kulit yang membusuk!" tangis Jing Er memecah. "Hamba mohon, i
"Ada keributan apa pagi-pagi sekali di taman herbal ini?" Suara lembut yang penuh kepura-puraan itu memecah keheningan. Selir Yao Xian melangkah anggun menyusuri jalan setapan taman, dibalut jubah sutra merah muda yang mewah. Kilau perhiasan emas di sanggulnya memantulkan sinar matahari pagi, menatap Zi Han dengan pandangan meremehkan yang terselubung. Zi Han tidak gentar sedikit pun. Dia bahkan tidak sudi membuang tenaga untuk membungkuk atau menyapa selir kesayangan kaisar itu. Dengan raut wajah yang dingin di balik cadarnya, Zi Han hanya menatap datar ke arah wanita yang menghampirinya tersebut. "Hamba memberi salam kepada Permaisuri Zi dan Selir Yao Xian," Tabib Kang membungkuk makin dalam, merasa terjepit di antara dua wanita berpengaruh di istana. "Permaisuri Zi, bukankah Yang Mulia Kaisar sudah memerintahkan Anda untuk menetap di Paviliun?" Yao Xian tersenyum tipis, langkahnya berhenti tepat beberapa jengkal di hadapan Zi Han. "Mengapa Anda justru berkeliaran di sini, bahka
"Sungguh kelancangan yang luar biasa. Apa yang sedang Permaisuri lakukan di taman obat terlarang ini pagi-pagi buta?" Langkah Zi Han seketika terhenti. Dia tidak langsung berbalik, melainkan merapikan genggaman tangan pada kelopak tanaman di balik lengan bajunya yang lebar. Mata di balik cadar itu bergulir tenang, mencoba menguasai keadaan sebelum menghadapi siapapun yang berada di belakangnya. Ketika dia membalikkan badan dengan anggun, berdiri seorang lelaki tua berjangkut putih tebal dengan jubah bordir sutra hijau tua. Matanya yang tajam dan terlatih langsung tertuju pada tanah yang sedikit teracak di bawah kaki Zi Han, lalu berpindah menatap jeli jemari sang permaisuri. "Sejak kapan Permaisuri Zi yang terhormat begitu tertarik dengan tanaman obat di istana ini?" tanya lelaki tua itu lagi, suaranya sarat akan rasa heran namun terselip keangkuhan terselubung. "Hamba rasa, tugas mengurus tanaman dan penyakit bukanlah wewenang seorang Permaisuri. Jadi, apa sebenarnya yang sedang A
"Yang Mulia, hamba mohon diamlah sebentar. Darah di pelipis anda masih terus mengalir," Selir Yao Xian berbisik lembut, jemarinya yang lentik memegang selembar kain sutra putih yang kini mulai bernoda merah tua. Kaisar Zhao Jun tidak bergeming, rahangnya mengatup begitu rapat hingga urat-urat di lehernya menegang. Ketika kain sutra itu menyentuh luka gores di dahinya agak terlalu menekan, rasa perih seketika menyengat, menyulut kembali amarah yang sejak tadi tertahan di dadanya. "Singkirkan tanganmu, Yao Xian!" bentak Kaisar Zhao Jun, menyentak kasar tangan sang selir hingga kain sutra di genggamannya terjatuh ke lantai. "Yang Mulia... hamba hanya ingin—" "Aku bilang keluar!" suara Zhao Jun menggelegar di dalam paviliun utama, dipenuhi nada otoriter yang tidak menerima bantahan sedikit pun. "Tinggalkan aku sendiri sekarang juga! Pergi!" Selir Yao Xian tersentak mundur, wajahnya yang cantik seketika memucat melihat sepasang mata sang kaisar yang berkilat penuh emosi membara.






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.