Mag-log in"Muna tuh kalau ada orang nggak suka ciuman, Ja. Ini naluri alami manusia. Tapi... aku nggak berani berharap lagi," ucap Sekar dengan suara lirih yang bergetar halus, menundukkan pandangannya ke pangkuan sementara sisa-sisa napas hangat akibat ciuman panas tadi masih berhembus tidak teratur di antara bibirnya yang sedikit bengkak."Nggak berani berharap? Apa maksud kamu, Sekar?" tanya Teja dengan nada suara yang melembut, menatap lurus ke dalam manik mata wanita di depannya yang kini menyiratkan kerentanan dan ketakutan mendalam."Aku takut, Teja. Aku takut kalau terlalu menikmati lalu kamu mundur alon-alon dan tegas kayak tadi malam," ungkap Sekar jujur, meluapkan segala kekhawatiran yang berkecamuk di dalam hatinya sebagai seorang wanita berstatus janda yang pernah mengalami kepahitan hidup dan trauma emosional di masa lalu.Teja langsung menatap iba wanita cantik yang baru saja ia lumat bibirnya itu. Ada perasaan bersalah karena mengabaikan harapan wanita yang lama kesepian itu, me
"Iya, Ja. Kopi racik gitu, semacam latte dan sejenisnya. Bukan kopi hitam murni. Lambungku nggak kuat kalau kena yang murni," jelas Sekar sambil tersenyum kecil, merapikan beberapa helai rambutnya yang tertiup angin sepoi-sepoi di halaman belakang."Lho, kamu bisa meracik kopi?" tanya Teja dengan nada penasaran, menoleh ke arah wanita mungil di sebelah kursinya dengan tatapan tertarik."Bisa dong. Janda satu anak ini cukup punya banyak pengalaman lho, Ja. Aku sebelum mendirikan pabrik skincare sempat jadi barista di sebuah kafe," jawab Sekar bangga, sedikit menyombongkan keahlian tersembunyinya di masa lalu sebelum ia merintis karier bisnis kosmetiknya."Wah, hebat juga ya. Berarti kalau main ke sini kapan-kapan, aku bakal dilayani langsung sama mantan barista profesional nih," goda Teja sambil tersenyum miring, menatap jenaka ke arah wanita di sampingnya."Ih, dipikir gampang apa berdiri berjam-jam di balik meja bar? Kakiku pernah bengkak sebelah tahu gara-gara lembur pas weekend," p
Aroma harum masakan rumahan mengepul lembut di atas meja makan minimalis yang terletak di sudut ruang tengah. Sekar dengan cekatan menata dua piring nasi hangat berdampingan dengan mangkuk berisi sup ayam bening berkaldu gurih serta tumisan fillet ayam berlumur saus tiram yang tampak sangat menggugah selera. Di tengah kesibukan kecilnya menyiapkan peralatan makan, wanita beranak satu itu tersenyum manis ke arah sang tamu agung yang duduk tenang di kursi."Silakan dicoba, Ja. Maaf ya masakannya sederhana banget, seadanya bahan yang ada di kulkas," ucap Sekar merendah sambil meletakkan sendok dan garpu di samping piring Teja.Teja menatap hidangan di depannya dengan tatapan menghargai. Tanpa ragu, pemuda berambut dreadlock itu mengambil sendok, mencicipi kuah sup ayam hangat yang masih mengepulkan uap tipis. Perpaduan rasa kaldu asli dengan keharuman bawang putih dan jahe langsung terasa menyegarkan di lidah."Wah, ini sih enak banget, Sekar. Nggak kalah sama makanan restoran bintang
Begitu mobil sport mewah milik Teja terparkir sempurna di halaman depan rumah, pemuda berambut dreadlock itu langsung bergerak cepat keluar dari mobil, membukakan pintu bagi Sekar yang tengah menggendong Pion dalam dekapan hangatnya.Langkah kaki Sekar tergesa-gesa namun tetap berhati-hati menuruni jalan setapak menuju pintu utama rumah. Teja dengan sigap membukakan pintu depan, membiarkan sang ibu dan anaknya berlari kecil masuk ke dalam ruangan yang sejuk.Tanpa membuang waktu, Sekar membawa putranya menaiki anak tangga satu persatu menuju kamar tidur pribadi Pion di lantai dua. Diikuti oleh Teja tepat di belakangnya, Sekar segera membaringkan tubuh mungil Pion yang masih merintih lemah di atas tempat tidur empuk berseprai lembut."Sabar ya, Sayang. Sebentar lagi badan Pion bakal sembuh kok," hibur Sekar dengan suara lembut yang bergetar menahan cemas, mengusap pelan kening buah hatinya yang terasa sangat panas oleh demam tinggi.Teja mendekat, berdiri di sisi ranjang sambil menga
"Hahaha bisa aja kamu, Ja. Tapi keren juga nih Pak Ojolnya pakai mobil mewah Maserati begini buat ngantar pelanggan," canda Sekar dengan tawa renyah yang mencairkan suasana di dalam ruang mobil."Iya nih, Bu. Cuma ada mobil ini selain dump truk dan bus besar di rumah saya. Nggak mungkin kan kalau saya jemput Ibu pakai truk?" canda Teja menanggapi dengan senyuman lebar, menikmati obrolan santai yang mengalir begitu natural di antara mereka."Nggak apa-apa juga sih. Gini-gini aku juga bisa kok jadi kernet truk," balas Sekar tertawa kecil, merasa sangat nyaman dan terhibur berada di samping sang pemuda.Belum sempat tiba di restoran yang dituju, suara dering panggilan dari ponsel milik Sekar menjeda obrolan santai di antara mereka berdua.Sekar segera mengambil tas tangannya, merogoh ponsel pintar tersebut, dan melihat nama penelepon yang tertera di layar.Ternyata itu adalah panggilan dari guru TK Pion."Halo, Ibu Guru..." ucap Sekar dengan suara penasaran. Ia mendengarkan penjelasan pa
"Aku harus menjawab apa, Sekar? Secara profesional atau secara pertemanan?" tanya Teja sambil menatap lurus ke arah wanita di hadapannya dengan ekspresi serius yang dibuat-buat."Profesionalisme dong, Ja. Aku nggak mau kamu membelaku hanya karena kita kenal," jawab Sekar tegas, menunjukkan integritasnya sebagai seorang CEO wanita yang ingin perusahaannya dinilai secara objektif tanpa melibatkan kedekatan personal."Secara pertemanan, aku pengennya kamu bisa lanjut menerima investasi ini, tapi... maaf, Sekar. Secara profesional harus aku katakan kalau..." ucap Teja menggantungkan kalimatnya."Kurang prestasi ya, Ja?" potong Sekar cepat, nada suaranya mendadak berubah panik dan cemas, membayangkan jika laporan kinerjanya ternyata memiliki celah atau kekurangan fatal di mata sang investor."Secara profesional harus aku katakan kalau... kinerja perusahaan kamu dalam mengelolanya juga sangat baik. Jadi nggak ada alasan buat memutus hubungan investasi!" lanjut Teja dengan senyuman lebar yan
“Ohhhh, shhhh. Jangan kenceng-kenceng, Pakk!“ Teja Surya atau biasa dipanggil Tejo yang baru saja masuk kamar dan merebahkan diri di ranjang menjadi tersentak saat mendengar suara itu. Suasana siang yang panas sejak ia pulang dari kampus menjadi semakin panas karena suara desahan tersebut. “Taha
“Nanti lengket semua kena gel pelicin pijat, Ja, kalau pakai baju,” jawab Septa santai—tanpa beban. Teja berusaha keras mengendalikan tatapannya, sekaligus mengendalikan detak jantungnya yang kian berdentum bertalu-talu. “Ba-baiklah, Bu Septa,” tangan Teja bergerak cepat meraih selimutnya yang ter
BLARRR! Jantung Teja seperti baru saja dilempar bom molotov. Meski ia sudah menerima tugas pijat sebagai penerus dan pengganti ayahnya, tetap saja ia masih merasa cukup canggung untuk menjamah tubuh wanita. Terlebih, semua pasien umpan lambung dari ayahnya memiliki kecantikan dan keindahan tubuh d
Teja melangkah menaiki tangga kampus dan berpapasan dengan Nana. Memori tentang desahan aneh Nana kemarin sore kembali menyumpal di benaknya. Ia hanya mampu menunduk canggung tanpa berani menatap mata si cantik Nana. Nana memang bukan idola kampus. Dia adalah penyanyi terkenal namun jarang diliri







