LOGINTeja melangkah menaiki tangga kampus dan berpapasan dengan Nana.
Memori tentang desahan aneh Nana kemarin sore kembali menyumpal di benaknya.
Ia hanya mampu menunduk canggung tanpa berani menatap mata si cantik Nana.
Nana memang bukan idola kampus. Dia adalah penyanyi terkenal namun jarang dilirik para mahasiswa karena gayanya yang terkesan tomboy meski sebenarnya cantik.
“Pagi, Jo. Ngapain kok nunduk gitu?“ sapa Nana sedikit tersenyum melihat tingkah aneh Teja.
Teja menghentikan langkah sejenak, namun tetap melempar tatapan matanya ke arah lain. “Pagi, Na. Sori ya aku buru-buru,” ucapnya sambil kembali berjalan.
Nana tak menghentikannya lagi, tatapannya hanya mengikuti langkah Teja yang menjauh dan menghilang di tikungan tangga diiringi senyumannya yang penuh arti.
“Eh, anak gigolo udah datang nih. Gimana kabar bokapmu, Jo, dapet uang banyak dari muasin pelanggan kemarin?” sindir Nando, teman sekelas Teja begitu melihat Teja memasuki ruang kuliah.
Teja tak menanggapi, hanya diam sambil terus melangkah masuk.
“Lho, jalannya kok kayak robot gitu, Jo? Gede banget ya itu kamu? Hahaha,” timpal Gery semakin memanaskan telinga Teja.
Nando ikut terkekeh. “Maklum lah, Ger, keluarga Tejo kan dinasti pijat plus-plus. Cuma ngandelin selangkangan terbesar se-Indonesia doang buat nyari nafkah,” imbuhnya.
“Kalian!“ Teja merangsek maju hendak melayangkan pukulan ke arah Nando dan Gery, entah mengapa kali ini mendengar hinaan mereka, amarahnya naik ke ubun-ubun. Namun tubuhnya sudah dihalau dua mahasiswa lain untuk menjauh.
“Udah, Jo, nggak usah digubris. Kalau kamu lawan, mereka kesenangan. Jangan kasih panggung buat mereka,” bisik Endro, sahabat Teja berusaha menenangkan.
“Jam kuliah udah mau mulai, Jo. Jangan sampai kamu dikeluarin dari kelas hari ini gara-gara meladeni omongan mereka,” imbuh Jesen, sahabat Teja lainnya.
Teja terpaksa mengalah dan mengikuti tarikan tangan kedua sahabatnya untuk duduk.
Dalam diamnya, Teja semakin merasa kesal dan tak terima, tetapi ia lebih merasa tidak terima pada warisan ini.
'Warisan nggak guna! Cuma bisa bikin namaku makin hancur saja di kampus!' dengus Teja dalam hati.
—
Siang harinya saat pulang ke rumah, Teja melihat ayahnya sedang sibuk menyeka peluhnya menggunakan handuk kecil.
Nampaknya sang ayah baru selesai melayani pasien seperti biasanya.
“Melayani wanita lagi, Yah?“ sembur Teja tak mampu lagi membendung emosinya.
Pak Toni menghentikan gerakan handuknya di wajah, kemudian menatap tajam anak semata wayangnya tersebut. “Ini adalah tugas dari leluhur, Ja!“
“Dan kamu nggak bisa menghindar, karena ini takdir warisan turun temurun yang harus kamu terima dengan lapang dada,” imbuh Pak Toni tak mau menunggu sanggahan dari Teja.
“Aku nggak mau, Yah!“ raung Teja sengit. “Gara-gara rumor ini, namaku di kampus jadi jelek,” tolaknya mentah-mentah.
Pak Toni tersenyum tipis dan menatap Teja teduh. “Buat apa kamu pusing sama omongan teman-temanmu? Peduli amat apa kata orang, toh kita makan juga bukan ditanggung sama mereka, kan?!“ tegasnya.
Teja tersenyum sumbang. “Apalagi ayah nerima Nana yang juga teman kampusku. Mau ditaruh mana mukaku ini, Yah?“
“Kamu pikir cuma kamu yang ngalami dilema kayak gini?! Buyut kamu, kakek kamu, dan ayah juga ngalami itu, Ja?! Tapi apakah kami bisa mengelak? Nggak bisa!“ nada suara Pak Toni mendadak menanjak.
“Warisan ini adalah jalan hidup, bukan pilihan hidup, Ja. Lilitan kain itu adalah tongkat estafet dari leluhur kita yang nggak bisa ditolak!“ lanjut sang ayah berusaha memahamkan pemikiran Teja.
“Ini bukan takdir, Yah. Ini kutukan!“ balas Teja meski intonasi suaranya sedikit menurun setelah mendengar ketegasan sang ayah.
“Kutukan? Coba sini ayah tunjukkan!“ Pak Toni bergerak maju dan langsung melayangkan serangkaian serangan ke tubuh Teja.
Teja dengan refleks yang cepat segera melakukan gerakan lincah untuk menghindar.
Pak Toni masih terus memburu, membuat keduanya saling berjual beli serangan dalam tempo sangat cepat.
“Kutukan macam apa yang bisa menjadikan kemampuan bela dirimu sehebat ini?!“ ujar Pak Toni yang tiba-tiba melempar sebuah gelas ke wajah Teja.
Lagi-lagi refleks Teja bergerak sangat cepat. Tangannya terentang ke depan, menolakkan udara padat ke arah gelas yang dua meter lagi hampir mengenai kepalanya.
PRANGGG!
Gelas itu seperti terdorong kuat oleh tolakan itu dan membentur dinding dengan sangat keras.
Tak hanya pecah, gelas itu berubah menjadi serbuk kaca yang lembut seperti pasir karena begitu kuat dan panasnya daya tolak Teja.
“Kutukan apa yang bisa mendongkrak energi Qi di dalam tubuhmu menjadi sedahsyat ini?!“ pungkas Pak Toni yang kini melangkah santai merengkuh dua bahu anaknya.
“Buka hatimu, Nak. Terima ini semua sebagai anugerah,” nasihatnya pada Teja yang kini menatap sang ayah dengan mata kaget sekaligus takjub.
“Ini semua kekuatan warisan dari lilitan kain itu, Yah?“ tanya Teja masih merasa tak percaya dengan perubahan yang terjadi di dalam tubuhnya.
Pak Toni mengangguk. “Masih sepuluh persen dari seluruh kekuatan yang seharusnya ada.“
Mata Teja terbelalak lebar. “Masih sepuluh persen?!“
Sang ayah hanya tersenyum melihat respon kaget anaknya.
“Saat bulan purnama nanti, sisa sembilan puluh persennya akan berpindah dari tubuh ayah ke tubuhmu. Setelah itu, kesempurnaan warisan ini akan menjadi milikmu sepenuhnya, menggantikan tugas ayah menjadi penerus master pijat selanjutnya!“
"Ja, kita sudah sama-sama dewasa. Coba kamu ceritakan, ada berapa banyak wanitamu selain aku?!" bisik Sari ketika keduanya sudah bersandar mesra di sandaran ranjang beberapa menit setelah puncak orgasme Teja tadi."Tapi dilarang cemburu ya," ucap Teja sebelum bercerita. Pria berambut panjang itu mengelus lembut bahu mulus Sari yang masih hangat oleh sisa-sisa peluh."Nggak akan, Ja. Kamu terlalu kuat buat dilayani seorang diri. Katakan, Sayang," balas Sari mengulas senyum lembut."Hmm. Selain kamu, ada seorang janda berusia 30 tahun, namanya Septa," tutur Teja mengawali pengakuannya."Lalu ada teman kampus yang sangat dekat sama aku, namanya Nana," lanjut Teja tenang."Eh tunggu, Ja. Nana yang penyanyi terkenal itu?!" potong Sari mendadak menatap wajah Teja dengan mata membelalak heran."Iya, dia justru yang mengambil keperjakaanku dulu," sahut Teja terkekeh pelan."Wah keren abis. Kamu luar biasa sampai bisa naklukin penyanyi terkenal secantik Nana. Terus, siapa lagi, Sayang?" Sari s
Teja mendorong lutut Sari dan memanggul pergelangan kaki Sari di pundaknya. Posisi menanjak itu membuat area panggul sang janda muda terlihat sangat ideal hingga seluruh celah kewanitaannya terbuka tanpa halangan.Dengan begitu, bentukan bokong dan liang merekah Sari menjadi tersembul menghadap tepat di depan milik Teja yang sudah siap untuk mengarunginya lagi. Pemandangan eksotis itu memancarkan kilau pelicin alami yang merefleksikan cahaya lampu ruangan.Sari menahan napas karena posisi ini jelas akan membuat milik Teja yang super-super besar dan panjang itu melesak jauh lebih dalam. Manik matanya yang sayu dipenuhi kabut gairah bercampur sedikit kecemasan akan kedalaman tusukan yang akan ia terima.Teja mendorong keras pinggulnya! Benda berukuran monster itu langsung mendesak kuat mengisi milik Sari yang tidak lagi terhalang paha. Tusukan itu menerobos lurus tanpa hambatan hingga menumbuk dasar terujung dari rahim sang instruktur senam."Ohh, Ja. Ini posisi paling ekstrem. Ras
Teja mulai memompa pinggulnya dengan tempo yang cepat dan bertenaga dari atas tubuh tengkurap Sari. Hentakan keperkasaannya menyeruak beringas, menembus lorong yang amat sempit akibat jepitan kedua bokong kencang sang instruktur senam itu.Jepitan dinding kewanitaan Sari Okta yang begitu ketat memberikan sensasi pijatan luar biasa pada milik Teja. Setiap gesekan basah yang terjadi menghasilkan sensasi kenikmatan yang meletup-letup bagi keduanya."Ouh-shh! Tejaaa! Enak banget, Ja! Ahh-ahh!" raung Sari histeris dengan wajah yang terbenam di atas bantal besar miliknya.Tekanan erat dari posisi tengkurap itu membuat setiap tonjolan urat di sepanjang milik Teja terpijat sempurna oleh otot panggul Sari. Sensasi padat nan mencengkeram ini benar-benar memberikan kenikmatan baru yang belum pernah Teja rasakan sebelumnya dari wanitanya yang lain.Teja memegangi erat pinggang indah Sari sembari terus menghantamkan selangkangannya tanpa jeda. Irama dorongan yang cepat dan konstan membuat selu
Teja memegangi erat kedua pinggul kencang milik Sari dari belakang. Pria berambut panjang itu mulai menggerakkan pinggulnya dengan tempo yang cepat dan bertenaga dari arah belakang.Hentakan demi hentakan kuat meluncur deras menembus bagian terdalam kewanitaan Sari. Gesekan basah yang begitu padat menciptakan decakan riuh yang beradu dengan hembusan pendingin udara kamar."Ouh-shh! Tejaaa! Enak banget dari belakang, Ja! Ahh-ahh!" jerit Sari histeris. Wajah cantiknya terbenam di atas bantal, sementara bokong montoknya terus terangkat tinggi menerima gempuran brutal sang master pijat.Teja menaikkan kecepatan genjotannya tanpa memberi jeda sedikitpun. Setiap dorongan benda tumpul besar yang dilakukan Teja langsung mengenai titik paling sensitif di dalam dinding kewanitaan Sari.PLAK!Sembari memompa pinggulnya, tangan kanan Teja mendaratkan tamparan keras di pipi bokong kanan Sari. Hantaman telapak tangan itu menimbulkan bunyi yang begitu nyaring di dalam ruangan."Ahh! Sakit tapi en
Mendengar permintaan dari Sari, Teja tidak membuang waktu lagi. Pria berambut panjang itu langsung menghentakkan pinggulnya dengan ritme cepat dan bertenaga dari atas.Sorongan tebal nan panjang itu meluncur deras, menghantam dinding terdalam kewanitaan Sari secara bertubi-tubi. Gesekan basah yang begitu padat menciptakan suara tepukan riuh yang memenuhi seisi kamar beraroma terapi tersebut."Ouh-shh! Tejaaa! Enak banget, Ja! Ahh-ahh!" raung Sari histeris. Kepalanya mendongak pasrah ke atas dengan mata terkatup setengah menerima gempuran brutal dari sang master pijat.Teja memegangi erat kedua pinggang langsing milik sang instruktur senam. Pegangan kuat itu menjadikannya tumpuan kuat untuk menyalurkan genjotan tanpa jedanya yang sangat mendominasi."Gila... punya kamu ketat banget, Sar. Sempittt!" desah Teja sembari terus memompa pinggulnya. Perpaduan hawa panas dari selangkangan mereka berdua semakin membakar gejolak hasrat purba di dalam tubuh."Hantam terus, Ja! Jangan terlalu p
Sari mengepalkan tangan kanannya yang masih gemetaran dengan pendar gairah yang amat pekat. Matanya yang sayu menatap tajam ke arah jemari Teja yang bersiap memutar kepalan di udara."Batu... Gunting... Kertas!"Teja mengeluarkan batu, sedangkan Sari meluruskan dua jarinya membentuk guntin, namun di detik terakhir ia dengan cepat merubahnya menjadi kertas."Aku menang! Hahaha, aku menang putaran ketujuh ini, Ja!" pekik Sari kegirangan. Suara seraknya bergema riuh di dalam kamar beraroma terapi tersebut.Teja terkekeh pelan sembari menyandarkan punggungnya di bantal ranjang. "Oke, kamu yang menang. Mau minta hukuman apa sekarang, Sar?"Sari memiringkan tubuhnya, menatap lurus ke arah selangkangan Teja yang memamerkan keperkasaan sang pemuda maskulin tersebut. Senyuman sensual terkulum di bibir bergincunya yang kini sedikit basah."Aku mau penetrasi sekarang, Ja! Aku udah nggak tahan lagi, dari tadi dipancing mulu!" tuntut Sari penuh semangat sembari merenggangkan kedua paha mulusnya l
BLARRR! Jantung Teja seperti baru saja dilempar bom molotov. Meski ia sudah menerima tugas pijat sebagai penerus dan pengganti ayahnya, tetap saja ia masih merasa cukup canggung untuk menjamah tubuh wanita. Terlebih, semua pasien umpan lambung dari ayahnya memiliki kecantikan dan keindahan tubuh d
Nana yang tak pernah melihat Teja berkelahi menjadi khawatir. “Jo, kabur aja yuk. Hitungan ketiga kita langsung masuk mobil dan tancap gas!“ bisiknya pelan di telinga Teja. Namun Teja justru menggeleng dan mengerlingkan mata. “Kamu diam saja dan tetap di posisimu. Biar aku yang ngurus ini,“ jawab T
Teja cepat-cepat meloloskan diri dari pelukan itu. Wajahnya merah padam antara malu dan sisa hangat hasrat setelah melihat paha putih Nana tadi. Ia mundur beberapa langkah. “Apa-apaan kamu, Na?!“ seru Teja salah tingkah. Namun Nana tak mengindahkan seruan itu. Mata beloknya tetap menatap lekat tan
“Nanti lengket semua kena gel pelicin pijat, Ja, kalau pakai baju,” jawab Septa santai—tanpa beban. Teja berusaha keras mengendalikan tatapannya, sekaligus mengendalikan detak jantungnya yang kian berdentum bertalu-talu. “Ba-baiklah, Bu Septa,” tangan Teja bergerak cepat meraih selimutnya yang ter







