/ Fantasi / Ampun, Jo, Ini Kegedean! / 2. Warisan Sebagai Jalan Hidup

공유

2. Warisan Sebagai Jalan Hidup

작가: Leva Lorich
last update 게시일: 2026-06-03 18:44:20

Teja melangkah menaiki tangga kampus dan berpapasan dengan Nana.

Memori tentang desahan aneh Nana kemarin sore kembali menyumpal di benaknya.

Ia hanya mampu menunduk canggung tanpa berani menatap mata si cantik Nana.

Nana memang bukan idola kampus. Dia adalah penyanyi terkenal namun jarang dilirik para mahasiswa karena gayanya yang terkesan tomboy meski sebenarnya cantik.

“Pagi, Jo. Ngapain kok nunduk gitu?“ sapa Nana sedikit tersenyum melihat tingkah aneh Teja.

Teja menghentikan langkah sejenak, namun tetap melempar tatapan matanya ke arah lain. “Pagi, Na. Sori ya aku buru-buru,” ucapnya sambil kembali berjalan.

Nana tak menghentikannya lagi, tatapannya hanya mengikuti langkah Teja yang menjauh dan menghilang di tikungan tangga diiringi senyumannya yang penuh arti.

“Eh, anak gigolo udah datang nih. Gimana kabar bokapmu, Jo, dapet uang banyak dari muasin pelanggan kemarin?” sindir Nando, teman sekelas Teja begitu melihat Teja memasuki ruang kuliah.

Teja tak menanggapi, hanya diam sambil terus melangkah masuk.

“Lho, jalannya kok kayak robot gitu, Jo? Gede banget ya itu kamu? Hahaha,” timpal Gery semakin memanaskan telinga Teja.

Nando ikut terkekeh. “Maklum lah, Ger, keluarga Tejo kan dinasti pijat plus-plus. Cuma ngandelin selangkangan terbesar se-Indonesia doang buat nyari nafkah,” imbuhnya.

“Kalian!“ Teja merangsek maju hendak melayangkan pukulan ke arah Nando dan Gery, entah mengapa kali ini mendengar hinaan mereka, amarahnya naik ke ubun-ubun. Namun tubuhnya sudah dihalau dua mahasiswa lain untuk menjauh.

“Udah, Jo, nggak usah digubris. Kalau kamu lawan, mereka kesenangan. Jangan kasih panggung buat mereka,” bisik Endro, sahabat Teja berusaha menenangkan.

“Jam kuliah udah mau mulai, Jo. Jangan sampai kamu dikeluarin dari kelas hari ini gara-gara meladeni omongan mereka,” imbuh Jesen, sahabat Teja lainnya.

Teja terpaksa mengalah dan mengikuti tarikan tangan kedua sahabatnya untuk duduk.

Dalam diamnya, Teja semakin merasa kesal dan tak terima, tetapi ia lebih merasa tidak terima pada warisan ini.

'Warisan nggak guna! Cuma bisa bikin namaku makin hancur saja di kampus!' dengus Teja dalam hati.

Siang harinya saat pulang ke rumah, Teja melihat ayahnya sedang sibuk menyeka peluhnya menggunakan handuk kecil.

Nampaknya sang ayah baru selesai melayani pasien seperti biasanya.

“Melayani wanita lagi, Yah?“ sembur Teja tak mampu lagi membendung emosinya.

Pak Toni menghentikan gerakan handuknya di wajah, kemudian menatap tajam anak semata wayangnya tersebut. “Ini adalah tugas dari leluhur, Ja!“

“Dan kamu nggak bisa menghindar, karena ini takdir warisan turun temurun yang harus kamu terima dengan lapang dada,” imbuh Pak Toni tak mau menunggu sanggahan dari Teja.

“Aku nggak mau, Yah!“ raung Teja sengit. “Gara-gara rumor ini, namaku di kampus jadi jelek,” tolaknya mentah-mentah.

Pak Toni tersenyum tipis dan menatap Teja teduh. “Buat apa kamu pusing sama omongan teman-temanmu? Peduli amat apa kata orang, toh kita makan juga bukan ditanggung sama mereka, kan?!“ tegasnya.

Teja tersenyum sumbang. “Apalagi ayah nerima Nana yang juga teman kampusku. Mau ditaruh mana mukaku ini, Yah?“

“Kamu pikir cuma kamu yang ngalami dilema kayak gini?! Buyut kamu, kakek kamu, dan ayah juga ngalami itu, Ja?! Tapi apakah kami bisa mengelak? Nggak bisa!“ nada suara Pak Toni mendadak menanjak.

“Warisan ini adalah jalan hidup, bukan pilihan hidup, Ja. Lilitan kain itu adalah tongkat estafet dari leluhur kita yang nggak bisa ditolak!“ lanjut sang ayah berusaha memahamkan pemikiran Teja.

“Ini bukan takdir, Yah. Ini kutukan!“ balas Teja meski intonasi suaranya sedikit menurun setelah mendengar ketegasan sang ayah.

“Kutukan? Coba sini ayah tunjukkan!“ Pak Toni bergerak maju dan langsung melayangkan serangkaian serangan ke tubuh Teja.

Teja dengan refleks yang cepat segera melakukan gerakan lincah untuk menghindar.

Pak Toni masih terus memburu, membuat keduanya saling berjual beli serangan dalam tempo sangat cepat.

“Kutukan macam apa yang bisa menjadikan kemampuan bela dirimu sehebat ini?!“ ujar Pak Toni yang tiba-tiba melempar sebuah gelas ke wajah Teja.

Lagi-lagi refleks Teja bergerak sangat cepat. Tangannya terentang ke depan, menolakkan udara padat ke arah gelas yang dua meter lagi hampir mengenai kepalanya.

PRANGGG!

Gelas itu seperti terdorong kuat oleh tolakan itu dan membentur dinding dengan sangat keras.

Tak hanya pecah, gelas itu berubah menjadi serbuk kaca yang lembut seperti pasir karena begitu kuat dan panasnya daya tolak Teja.

“Kutukan apa yang bisa mendongkrak energi Qi di dalam tubuhmu menjadi sedahsyat ini?!“ pungkas Pak Toni yang kini melangkah santai merengkuh dua bahu anaknya.

“Buka hatimu, Nak. Terima ini semua sebagai anugerah,” nasihatnya pada Teja yang kini menatap sang ayah dengan mata kaget sekaligus takjub.

“Ini semua kekuatan warisan dari lilitan kain itu, Yah?“ tanya Teja masih merasa tak percaya dengan perubahan yang terjadi di dalam tubuhnya.

Pak Toni mengangguk. “Masih sepuluh persen dari seluruh kekuatan yang seharusnya ada.“

Mata Teja terbelalak lebar. “Masih sepuluh persen?!“

Sang ayah hanya tersenyum melihat respon kaget anaknya.

“Saat bulan purnama nanti, sisa sembilan puluh persennya akan berpindah dari tubuh ayah ke tubuhmu. Setelah itu, kesempurnaan warisan ini akan menjadi milikmu sepenuhnya, menggantikan tugas ayah menjadi penerus master pijat selanjutnya!“

이 작품을 무료로 읽으실 수 있습니다
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요
댓글 (1)
goodnovel comment avatar
Asmar Nasution
mantap ilmunya
댓글 더 보기

최신 챕터

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   320. Sedang Dituntun

    "Karena aku nggak mau hidup miskin di kemudian hari, Mas!" jerit Sonya meluapkan kepanikan dan ego kepicikannya.Yulio menggeleng frustrasi sembari menatap anak dan istrinya tersebut. Sorot matanya memancarkan kehancuran batin yang amat dalam, tak menyangka orang-orang terdekat yang ia cintai ternyata tega merancang kematiannya secara perlahan demi tumpukan harta.Teja yang tak tega melihat beban mental yang begitu besar dari Yulio segera maju. Pria berambut panjang itu melangkah tegas, memotong pusaran drama keluarga yang kian tidak menentu tersebut dengan wibawanya."Kita selesaikan dulu janji kita tadi," ucapnya pelan namun sangat terdengar menusuk gendang telinga hingga menembus ke jantung.Nakula, Sonya, dan Bagas menatap cepat ke arah Teja. Ketiganya seketika memucat kaku saat menyadari bahwa taruhan yang mereka sepakati sebelumnya kini berbalik menjadi belati tajam yang menancap di leher masing-masing."Bagas janji menyembahku, Bu Sonya janji bakal pergi membawa Bagas keluar

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   319. Musuh Di Dalam Selimut

    "Teja, terima kasih banyak. Aku hampir mati di tangan mereka!" Yulio beralih menatap Teja. Pria berjambang lebat itu mengusap dadanya yang kini terasa begitu lapang dan lega tanpa ada lagi himpitan rasa sakit."Sama-sama, Pak Brewok. Sudah jadi kewajibanku buat membantu sesama manusia," balas Teja tenang. Pria berambut panjang itu tersenyum tipis, menyapa sahabat ayah angkatnya itu dengan panggilan akrabnya yang sebelumnya.Teja mengalihkan tatapannya pada Sonya dan Bagas.Tatapan itu bukan sekadar tatapan menagih janji. Di sana ada tatapan membunuh yang pernah Teja lakukan saat berhadapan dengan Denny dan Suko. Hawa dingin yang mengancam seketika membumbung dari tubuh Teja, menekan suasana kamar tamu itu.Sonya dan Bagas yang menangkap kilatan mematikan dari manik mata Teja seketika menyusut kaku. Pria muda dan ibunya itu melangkah mundur setengah langkah dengan raut wajah memucat pasi akibat tekanan hawa membunuh dari Teja."Siapa yang masukin lipan itu ke tubuh Pak Yulio?" tany

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   318. Kaki Bergerigi

    "Ini... ini kondisi penyakit khusus. Om Yulio harus segera dirujuk ke rumah sakit sebelum terlambat!" ucap Nakula berusaha menutupi kegagalan penanganannya. Suara dokter muda itu bergetar hebat dengan peluh dingin yang mengucur deras di pelipisnya."Itupun tetap terlambat, Bro Dokter. Rumah sakit terdekat dari sini masih tiga puluh menit perjalanan. Pak Yulio sudah kritis!" bentak Teja.Teja segera maju dan menarik paksa bahu Nakula agar mundur. "Minggir!"Cengkeraman tangan Teja yang kuat seketika melontarkan tubuh Nakula hingga terhuyung dua langkah ke belakang. Dokter berpenampilan perlente itu hendak merangsek maju kembali demi membela harga dirinya yang hancur, namun gerakannya langsung tertahan kaku.Bob ikut maju dan menahan tubuh Nakula yang ingin kembali maju. "Kamu sudah gagal, Dokter!" tegas Bob Salim dengan suara menggelegar dan tatapan mengintimidasi.Kepanikan di dalam kamar tamu itu semakin menjadi-jadi tatkala Yulio memucat pasi dengan napas yang semakin tersendat-s

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   317. Menuju Maut

    Nakula segera melakukan pemeriksaannya. Pria berpenampilan perlente itu mengatur kembali posisi stetoskop di telinganya lalu menempelkan bagian ujung logam dingin tersebut ke beberapa titik di atas perut Yulio.Keningnya berkerut serius mengamati setiap tanda yang ia peroleh. Sorot matanya nampak begitu tekun seolah sedang membaca sebuah teka-teki medis yang amat rumit di dalam tubuh pria berjambang lebat tersebut.Ia lantas menelan ludah ringan dan menepuk beberapa kali perut Yulio. Bunyi ketukan pelan bergema halus saat jemari Nakula menguji tingkat kerapatan udara dan cairan di dalam rongga pencernaan pasiennya.Sekitar sepuluh menit memeriksa dan membuat catatan kecil di atas kertas medis miliknya, ia menoleh pada yang lain. Pria itu menyunggingkan senyum penuh percaya diri sembari merapikan kembali stetoskop yang menggantung di lehernya."Asam lambung tinggi yang membuat rasa nggak nyaman di perut Om Yulio. Dengan obat golongan antasida dan penunjang lainnya aku yakin akan bisa m

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   316. Tantangan Bertaruh

    "Apaa?!" Bob dan Yulio tersentak. Begitu juga dengan Sonya dan Bagas.Pernyataan Teja bahwasanya ada hewan bersarang di dalam perut Yulio benar-benar mengejutkan semua orang yang berada di dalam kamar tamu tersebut.Namun, sebelum Yulio dan Bob menanggapi, Bagas sudah lebih dulu mengomentari. "Nah, kan! Aku bilang juga apa?! Tabib tebar pesona doang ini mah. Diagnosanya ecek-ecek! Gampang banget dia menyimpulkan kayak gitu?!"Bagas tertawa sinis sembari menggeleng-gelengkan kepalanya. Pria muda itu menunjuk Teja dengan raut wajah puas karena baru saja memenangkan sebuah argumen besar.Sonya ikut mengangguk. "Kamu menyumpahi hal buruk pada suamiku?! Ini nggak bisa dibiarkan. Ini pencemaran nama baik!""Terserah aja. Tapi yang aku katakan adalah fakta," jawab Teja malas menanggapi lebih jauh lagi.Pria berambut panjang itu bersedekap dada dengan wajah tenang. Ia tidak berniat untuk melayani emosi tak berdasar dari ibu dan anak yang terus memojokkannya tersebut."Aku bisa melaporkanmu me

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   315. Bayangan Asing

    Teja menghentikan aktivitasnya dan menatap ke arah Bagas serta Sonya yang merangsek masuk ke arah ranjang. Pria berambut panjang itu memutus aliran energi Qi-nya, lalu menarik telapak tangannya kembali dengan raut wajah yang tetap tenang."Mau malapraktik ya? Dasar dokter gadungan! Masih berani-beraninya kamu cari keuntungan di rumah ini?!" sembur Sonya dengan nada melengking penuh tuduhan yang berprikemanusiaan. Mata wanita paruh baya itu membelalak tajam menatap Teja seolah sedang menangkap basah seorang pencuri."Yah, ngapain sih mau diperiksa sama si miskin ini?!" imbuh Bagas tak kalah sinis. Pria muda itu melangkah maju dua jengkal, melipat kedua tangannya di dada sembari memamerkan tatapan meremehkan seperti saat berada di ruang tamu tadi.Bob segera pasang badan. Pria konglomerat itu melangkah perlahan dan berdiri tepat di samping Teja, menghalangi gerak Bagas dan Sonya. "Teja sedang memeriksa kondisi Yulio. Kalian tolong jangan mengganggu!" tegurnya dengan suara berat berw

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   9. Sengaja Memperlambat

    “Nanti lengket semua kena gel pelicin pijat, Ja, kalau pakai baju,” jawab Septa santai—tanpa beban. Teja berusaha keras mengendalikan tatapannya, sekaligus mengendalikan detak jantungnya yang kian berdentum bertalu-talu. “Ba-baiklah, Bu Septa,” tangan Teja bergerak cepat meraih selimutnya yang ter

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   8. Menghujam Bumi

    BLARRR! Jantung Teja seperti baru saja dilempar bom molotov. Meski ia sudah menerima tugas pijat sebagai penerus dan pengganti ayahnya, tetap saja ia masih merasa cukup canggung untuk menjamah tubuh wanita. Terlebih, semua pasien umpan lambung dari ayahnya memiliki kecantikan dan keindahan tubuh d

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   7. Gitar Spanyol

    Nana yang tak pernah melihat Teja berkelahi menjadi khawatir. “Jo, kabur aja yuk. Hitungan ketiga kita langsung masuk mobil dan tancap gas!“ bisiknya pelan di telinga Teja. Namun Teja justru menggeleng dan mengerlingkan mata. “Kamu diam saja dan tetap di posisimu. Biar aku yang ngurus ini,“ jawab T

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   6. Menunjukkan Sikap Dominan

    Teja cepat-cepat meloloskan diri dari pelukan itu. Wajahnya merah padam antara malu dan sisa hangat hasrat setelah melihat paha putih Nana tadi. Ia mundur beberapa langkah. “Apa-apaan kamu, Na?!“ seru Teja salah tingkah. Namun Nana tak mengindahkan seruan itu. Mata beloknya tetap menatap lekat tan

더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status