เข้าสู่ระบบ“Oke, Na, tunggu ya. Jangan banyak gerak dulu, aku langsung OTW sekarang!“ ujar Teja sembari menutup sambungan telepon dan bergegas keluar dari kamarnya.
Saat sudah berada di teras dan menyalakan motor matiknya, ayah Teja terlihat baru melangkah memasuki halaman rumah. Pria tua itu nampak membawa sebungkus rokok di tangannya. “Mau kemana, Ja?“ tanya sang ayah. “Mau ke rumah Nana, Yah. Kakinya terkilir!“ Teja menanggapi sambil buru-buru mengenakan helmnya. “Aduh, kasihan Nana, Ja. Cepet kamu berangkat gih!“ wajah Toni ikut tegang setelah mendengarnya. “Kamu butuh bantuan nggak, Ja?“ lanjut Toni menawarkan diri. Teja menggeleng cepat. “Aku bisa ngatasin sendiri, Yah. Ayah istirahat aja, ini udah malem, kasihan fisik ayah juga kalau keluar malem-malem naik motor gini,” jawabnya tetap memperhatikan kesehatan sang ayah tercinta. “Aku berangkat, Yah,” imbuh Teja sembari melajukan perlahan motornya. Toni mengangguk mengiringi deru suara mesin motor anaknya yang mulai melaju meninggalkan halaman rumah. Di perjalanan, Teja memacu laju motor matiknya dengan kecepatan cukup tinggi. Ia sangat kepikiran pada keadaan Nana. Hanya butuh waktu sekitar lima belas menit hingga akhirnya ia tiba di depan rumah megah keluarga Nana. TOK! TOK! Teja mengetuk pintu kayu rumah itu yang langsung disambut teriakan suara Nana dari dalam sana. “Langsung masuk aja, Jo. Pintu nggak dikunci!“ Teja memutar handel pintu dan mendorongnya. Seketika ia bisa melihat Nana yang sedang duduk lemas di kursi ruang tamu dengan kaki yang diletakkan di atas meja. Teja melangkah masuk setelah menutup kembali pintu tersebut. Ia langsung berjongkok di depan kaki Nana yang ada di atas meja. “Udah bengkak gini, Na?!“ Teja bahkan tak menyadari jika rok pendek Nana tersingkap cukup lebar dalam posisi itu. “Iya nih, Jo. Sakit banget!“ keluh Nana sambil meringis. Teja mengamati kaki kanan Nana menggunakan kesadarannya yang sudah bercampur dengan daya pijat ampuh warisan leluhurnya yang tersemat di dalam kepalanya. “Ada masalah di pergelangan kaki kamu, Na. Aku pijat ya sekarang?!“ Teja hendak mengeluarkan minyak urut gandapura dari dalam tas kecil yang ia bawa. Namun, Nana menggeleng pelan. “Pijat di kamarku aja ya, Jo?! Biar aku bisa sambil istirahat rebahan gitu. Kalau sambil duduk gini nggak nyaman rasanya,” pintanya. “Ya udah, berdiri yuk,” ajak Teja meraih tangan halus Nana. Nana pun menurunkan kakinya dari atas meja dan mengangkat tubuh untuk bangkit dari kursi. “Auwww! Sakit banget, Jo. Nggak bisa jalan ini kayaknya.” Teja tersenyum dan mendekat ke kursi Nana. “Ayo jalan pelan-pelan, biar aku tuntun, Na.“ Nana menggeleng, menolaknya. “Bisa gendong aja, nggak, Jo?“ Teja tak sampai hati untuk menolak permintaan Nana. Ia pun segera berjongkok dan menyediakan punggungnya untuk memanggul teman kuliahnya tersebut. “Naik, Na. Pelan-pelan saja!“ perintahnya. Namun Nana lagi-lagi menggeleng. “Gendong depan aja boleh, Jo?“ pintanya dengan suara manja. Teja menghela napas, kemudian memutar tubuh untuk meraih punggung dan paha Nana. Dalam posisi menggendong ala bridal, Teja mengangkat tubuh ramping Nana. Reflek Nana mengalungkan kedua tangannya ke leher belakang Teja. Teja berjalan masuk ke arah ruang tengah rumah tersebut. “Kamarmu yang mana, Na?“ tanyanya sembari terus berjalan tanpa merasa berat meski menggendong Nana. Jari telunjuk Nana yang putih dan lentik terarah ke tangga. “Naik, Jo. Kamarku ada di lantai dua.“ Teja pun melangkah menaiki tangga dengan santai. Nana bahkan sampai mengerutkan kening karena melihat wajah Teja yang biasa-biasa saja membawa berat badan lima puluh kilogram tubuhnya. “Kamu kok kuat banget sih, Jo? Apa nggak berat gendong aku?“ tanya Nana yang merasa penasaran. “Berat sih, aku lempar aja ya kalau gitu?!“ goda Teja sembari berpura-pura hendak melepas genggaman tangannya. Spontan Nana mengeratkan kedua tangannya yang melingkar di tengkuk Teja. “E-eh, jangan dong, Joo! Tega banget sih?!“ bibir Nana mengerucut menggemaskan. Teja terbahak melihat reaksi ketakutan Nana. Ia pun melanjutkan langkah meniti tangga membawa tubuh berbobot proporsional Nana menuju kamarnya. “Itu, di ujung sebelah kiri kamarku, Jo,” tunjuk Nana. Tak lama kemudian Teja sudah meletakkan Nana di atas ranjang kamarnya yang didominasi warna biru muda. Nana beringsut dan bersandar di ranjang sembari menjulurkan kakinya ke arah Teja yang duduk di bibir ranjang. Teja mengeluarkan minyak urut gandapura dari tas selempang kecilnya. “Tahan sedikit ya, Na. Di awal ini bakal sakit, soalnya urat kamu habis ketarik,” tangan Teja mulai memijat perlahan pergelangan kaki kanan Nana yang terkilir. “Mampus. Bakal lama nggak tuh sembuhnya ya, Jo?“ tanya Nana yang khawatir jika jadwal aktivitas menyanyinya akan terganggu.Teja menatap lekat sepasang mata sayu Berliana. Binar keemasan di matanya memancarkan gairah yang membara, berpadu dengan aura percaya diri yang amat menenangkan. Hawa hangat tenaga dalam Qi tingkat tujuh di dalam tubuhnya mengalir halus, menyebarkan desir kehangatan tatkala jemarinya terus membelai lembut puncak dada Berliana."Aku bakal kasih kamu sensasi yang beda dan baru kali ini, Berli," bisik Teja rendah tepat di depan telinga sang perwira militer, lalu mendaratkan gigitan-gigitan kecil yang menggoda di leher mulusnya."Nghh... sensasi apa lagi, Ja...?" gumam Berliana tersengal pelan dengan napas yang memburu.Dengan pergerakan yang tenang, Teja menggeser pintu kaca tebal yang membatasi kamar suite dengan area balkon luar. Angin pesisir pantai utara yang sejuk dan kencang seketika berhembus masuk, menyapu kulit mereka yang hangat oleh asmara. Teja meraih pergelangan tangan halus Berliana, membimbing raga molek wanitanya untuk melangkah keluar menuju area terbuka balkon di la
Deru mesin Mini Cooper hijau tua itu akhirnya berhenti halus di pelataran parkir sebuah bangunan tinggi bergaya modern yang berdiri kokoh di kawasan pesisir utara. Gedung tersebut merupakan sebuah hotel bintang empat megah, terletak di posisi paling strategis dengan pemandangan terbuka yang langsung menghadap jalan menuju area pelabuhan cadangan.Teja dan Berliana melangkah masuk menuju area lobi dengan tenang, menjaga gestur agar terlihat seperti pasangan biasa yang sedang mencari tempat beristirahat. Tanpa banyak membuang waktu di meja resepsionis, Teja menyelesaikan administrasi pembayaran secara tunai demi menjaga kerahasiaan identitas mereka.Mereka menyewa satu kamar paling atas di hotel bintang empat yang menghadap langsung ke jalur masuk pelabuhan.Begitu pintu kamar suite di lantai paling atas itu terbuka, hembusan udara sejuk berpenyejuk udara langsung menyambut kehadiran mereka. Teja mengunci pintu dari dalam dan memasang selot pengaman ganda. Berliana melangkah mendeka
Suara ketukan pintu kayu ruang CEO bergema halus dua kali, disusul oleh terbukanya pintu. Sosok Berliana melangkah masuk dengan langkah tegap dan anggun. Pakaian dinas lapangan yang melekat di tubuhnya tampak sangat rapi, dan di tangannya terikat sebuah map dokumen tebal berwarna cokelat tua.Melihat keberadaan Bianca di ruang kerja Teja, wajah tegas Berliana seketika melunak, dihiasi oleh senyuman hangat dan bersahabat.Bianca bangkit dari tempat duduknya, melangkah menyambut Berliana. Kedua wanita cantik dengan pesona dan latar belakang yang sangat bertolak belakang itu saling merengkuh, berpelukan hangat, dan menempelkan pipi kanan-kiri dengan penuh keakraban yang begitu alami."Selamat pagi, Berliana. Kamu terlihat sangat gagah dengan pakaian ini," puji Bianca tulus."Selamat pagi, Bianca. Terima kasih ya... kamu juga cantik banget lho pakaian setelan kerja kayak gini," balas Berliana tersenyum manis.Bianca menepuk pelan bahu Berliana. "Teja sudah menceritakan semuanya padaku.
Fajar baru saja menyingsing di ufuk timur, membiaskan sinar keemasan yang menembus celah-celah pepohonan di sepanjang jalan raya ibu kota. Suasana pagi yang masih cukup lengang memberikan ketenangan tersendiri di dalam mobil Mini Cooper warna hijau tua milik Berliana. Deru mesin halus berpadu dengan udara sejuk berpenyejuk udara yang berhembus lembut.Di kursi kemudi, Berliana tampil sangat anggun dan tegas. Pakaian lapangan intelijen militer yang melekat di tubuh padatnya memancarkan wibawanya.Sementara itu, di kursi penumpang, Teja duduk santai mengenakan kemeja kasual yang melapisi dada tegapnya. Tatapan mata keemasan pemuda berambut gondrong itu sesekali melirik pada wajah cantik Berliana yang tampak fokus menatap jalanan di depan.Pintu gerbang utama kantor Surya Pengamanan Nusantara (SPN) terbuka. Berliana menghentikan laju Mini Cooper hijau tuanya persis di area drop-off depan lobi utama.Teja menoleh, menatap Berliana dengan senyuman hangat."Terima kasih sudah mengantarka
Teja tertegun sejenak, mencerna kata demi kata yang baru saja diucapkan oleh Berliana. Fakta bahwa seorang pimpinan gembong internasional berjuluk Blackviper secara khusus menyebut dirinya tentu menyiratkan bahaya yang tak biasa.Manik mata keemasan Teja bergetar halus sebelum akhirnya mendingin, dipenuhi oleh ketenangan kembali. Hawa murni Qi tingkat tujuh di dalam tubuhnya mendadak bergejolak pelan, merespon naluri bertarungnya yang terpicu."Kalau kayak gini ya aku harus ikut terjun bantu kamu, Berli," tegas Teja dengan nada suara yang dalam, memecah keheningan menegangkan di kamar tersebut.Berliana menatap kekasihnya tanpa berkedip. Ia bisa merasakan kehangatan sekaligus dorongan aura perlindungan yang sangat kuat terpancar dari tubuh tegap pemuda berambut gondrong di sampingnya."Kamu serius, Ja?" tanya Berliana pelan, memastikan kesungguhan pria itu.Teja mengangguk cepat. Jemari kekarnya meremas lembut bahu mulus Berliana untuk memberikan ketenangan batin."Di satu sisi kamu
Usai letupan gairah yang menguras tenaga di bawah gemericik pancuran air, Teja dan Berliana akhirnya benar-benar membasuh diri secara bersih. Sabun kembali membalut sisa-sisa kenikmatan dari permukaan kulit mereka, sementara bilasan air hangat mengembalikan kesegaran raga yang sempat terkuras habis.Teja mematikan kran pancuran, membiarkan tetesan air terakhir jatuh memantul di keramik. Ia mengambil dua lembar handuk tebal berukuran besar, membalutkan salah satunya ke tubuh molek Berliana sebelum mengeringkan tubuhnya sendiri. Tanpa banyak bicara, Teja membimbing perwira wanita berambut bondol pendek itu melangkah keluar dari kamar mandi menuju kamar tidur.Di dalam kamar ber-AC yang sejuk, mereka tak lantas mengenakan pakaian lengkap kembali. Keduanya hanya mengenakan pakaian dalam. Berliana menarik selimut katun tebal, merebahkan tubuhnya di atas kasur berseprai putih bersih, disusul oleh Teja yang langsung berbaring di sampingnya.Dalam keheningan sore yang merambat perlahan m
“Buat apa kamu teriak, Jaaa?!“ sentak Toni usai mengirimkan tendangannya. “Sakit dong, Yah, gimana sih?!“ raung Teja spontan. “Memangnya beneran sakit?“ pancing sang ayah lagi. Teja terdiam sejenak, kemudian meraba miliknya yang kini berukuran luar biasa, mencoba memastikan apa yang ia rasakan.
Ternyata bulan purnama yang dimaksudkan ayah Teja itu datang keesokan harinya. Di halaman belakang rumah yang tertutup tembok keliling, Teja dan Toni berdiri saling berhadapan. Mereka bertelanjang dada. Di bagian bawah, Teja hanya mengenakan lilitan kain warisan leluhur mereka. Sedangkan Toni yan
Teja melangkah menaiki tangga kampus dan berpapasan dengan Nana. Memori tentang desahan aneh Nana kemarin sore kembali menyumpal di benaknya. Ia hanya mampu menunduk canggung tanpa berani menatap mata si cantik Nana. Nana memang bukan idola kampus. Dia adalah penyanyi terkenal namun jarang diliri
“Ohhhh, shhhh. Jangan kenceng-kenceng, Pakk!“ Teja Surya atau biasa dipanggil Tejo yang baru saja masuk kamar dan merebahkan diri di ranjang menjadi tersentak saat mendengar suara itu. Suasana siang yang panas sejak ia pulang dari kampus menjadi semakin panas karena suara desahan tersebut. “Taha







