LOGINBLARRR!
Jantung Teja seperti baru saja dilempar bom molotov. Meski ia sudah menerima tugas pijat sebagai penerus dan pengganti ayahnya, tetap saja ia masih merasa cukup canggung untuk menjamah tubuh wanita. Terlebih, semua pasien umpan lambung dari ayahnya memiliki kecantikan dan keindahan tubuh di atas rata-rata. Bukan hanya itu, semua pasien sang ayah memiliki kedudukan yang tidak bisa dianggap remeh. Sebut saja Nana yang merupakan gadis kaya dan penyanyi terkenal. Kemudian ada Septa yang merupakan istri dari pejabat kaya raya dan berpengaruh. “Lho, kok malah bengong kayak sapi ompong? Gimanahh, Jaaahh?!“ tahu-tahu Septa sudah berada di samping Teja. Hembusan napas yang hangat dan beraroma mint menerpa pipi dan indra penciuman Teja saat wanita itu kembali berucap, bercampur dengan sedikit suara desahan yang genit. SERRR! Darah seperti mengalir lebih cepat ke wajah dan ubun-ubun Teja. Wajahnya seketika memerah! “Oh, anu… saya gerah banget, Bu. Saya mandi dulu, ya?!“ jawabnya dengan terbata. Septa tersenyum lebar dan mengangguk. “Mandi yang bersih dan wangi ya. Biar nyaman aromanya pas mijat aku nantihh,” bisiknya kembali diliputi desahan tepat di samping telinga Teja. Teja melangkah lebar memasuki kamarnya dan masuk ke kamar mandi. Ia segera melucuti semua pakaiannya dan menyalakan semprotan air dingin. Di bawah guyuran air dingin itu, rasa panas dan debaran jantung Teja berangsur menurun. Tapi tidak untuk miliknya di bawah sana. Benda super besar itu tetap saja mengacung keras sekeras pilar beton! 'Aduh, Bongsor! Kamu kenapa nggak tidur sihh?' Teja mengeplak kepala tanduknya dengan frustasi. Benda itu tampak mengangguk-angguk pejal setelah menerima tamparan dari sang empunya. Teja pun perlahan menggenggam miliknya yang kini sudah sebesar kaki kingkong itu. Telapak tangannya bisa merasakan hawa panas yang menyebar di sekujur kulit batang tersebut. Pikiran Teja kembali melayang pada keindahan paha putih Nana yang sekal, lalu berpindah pada ingatan saat pipi kanannya tadi dikecup basah. Semakin mengingatnya, si bongsor di bawah sana semakin mengeras kuat, membuat Teja mengejan sendiri menahan sensasinya. 'Shhhh, Bongsorr! Sialan kamu!' Merasa sudah terlalu lama berada di kamar mandi, Teja segera menyabuni tubuh kekarnya termasuk si bongsornya. Setelah merasa bersih, ia langsung mengeringkan tubuh dengan handuk dan kembali mengenakan pakaian. “Wahh, udah seger nih, Ja?! Bisa kita mulai sekarang?“ sambut Septa saat melihat Teja kembali keluar kamar dengan wajah segar. Rambut panjang Teja yang sedikit basah membuat sisi maskulinnya semakin terpancar. Namun yang membuat Teja tak habis pikir, sang ayah belum juga kembali pulang. 'Beli rokoknya ke Kuwait kali yak?!' dengusnya dalam hati. Ia merasa jika sang ayah memang sengaja menghindar dan mengerjainya. Septa berdiri dari kursinya dan melangkah santai memasuki kamar Teja. “Aku masuk sendiri deh. Kamu kelamaan,” ujarnya sembari terus melangkah gemulai. Sudut mata Teja menatap tubuh Septa dari belakang. Tubuh secanggih gitar spanyol itu terlihat sangat indah dalam balutan rok ketat selutut dan atasan blus tipisnya. Samar Teja bisa melihat garis celana dalam tercetak di bagian belakang rok ketat tersebut. Mau tak mau Teja menjadi menelan ludah kasar! Meski ia tak ingin disebut sebagai pemuda mesum dan gampangan, namun jiwa kelaki-lakiannya tetap saja bangkit jika disuguhi pemandangan menohok yang sebegitu rupa. Teja akhirnya ikut melangkah menyusul Septa yang sudah masuk ke dalam kamarnya. “Aku pakai selimutmu ya, Ja,” ujar Septa sembari meraih selimut Teja seperti sudah hafal dengan kebiasaan ayah Teja dalam memijatnya. Yang berbeda dari Nana, Septa membawa selimut itu masuk ke kamar mandi. Sekitar dua menit kemudian, Septa sudah kembali keluar dengan tubuh berbalut selimut Teja. “Tengkurap kayak biasanya ayahmu kan, Ja?” ucap Septa yang langsung merebahkan diri dalam posisi tengkurapnya. Teja bergerak mengambil botol gel pelicin di meja, kemudian melangkah ke bagian kaki Septa. “Mulai dari jari kaki, Bu, ya,“ ia sedikit mendorong kain selimutnya dari mata kaki Septa ke arah belakang lutut. Kaki kencang dan putih Septa terpampang sudah. Ilmu master pijat dalam pikiran Teja mulai mengarahkan jari jemari Teja untuk menekan titik-titik syaraf yang sesuai. “Ehmm, iya, Ja. Di bagian jempol kaki sejak semalam agak kaku,” Septa mulai mendesah keenakan. Suara desahan itu terdengar begitu merdu di telinga Teja seperti nyanyian riang burung di tengah perkebunan. Tangan Teja terus bergerak menekan kesana kemari untuk melunakkan simpul syaraf yang kaku. Tangan Teja kini bergerak meremas betis Septa yang terlihat seperti singkong yang sudah dikupas. Begitu putih dan mulus! Teja menahan napas. 'Bongsorrrr! tahan diri kamu. Jangan bikin aku hilang kendali!' desis Teja dalam hati seolah sedang berkomunikasi dengan miliknya di balik celana. Tangan Teja terus bergerak naik dan kini memijat paha belakang Septa. Kain selimut itu semakin terdorong ke atas. Tiba pada bagian paha atas Septa, Teja cukup terganggu dengan kain selimut yang terus menerus jatuh menjuntai menghalangi tangannya. Septa yang memiliki pemahaman tinggi segera menggerakkan tangannya meraih ujung selimut. “Dibuka saja sekalian, Ja!“ ucapnya sembari mennyentakkan tangan. SRETTTT! Kain selimut itu jatuh begitu saja menghujam bumi. Namun sedetik kemudian mata Teja terbuka sangat lebar menatap bagian belakang tubuh Septa yang sudah tidak tertutup selimut sama sekali. Jantungnya berdegup sangat kencang diikuti anggukan si bongsor yang seperti ingin meronta keluar dari kungkungan lilitan kain warisan kerajaan leluhurnya. “B-bu Septa! Bu Septa nggak pakai apa-apa di bawah selimut?!"Tetep beda?" Nana membeo, menaikkan sebelah alisnya sambil melirik Teja dengan sisa-sisa senyuman gelinya."Iya, itu beda, Na. Soalnya gini, gairah itu dimiliki sama siapa aja, bukan orang mesum doang. Kembali lagi sama niat awalnya apa? Niatnya emang dari awal mau nikmatin kamu, atau murni dorongan gairah bersama!" tutur Teja panjang lebar berusaha mempertahankan prinsipnya.Nana mengangguk-angguk dan tersenyum simpul, merasa argumen Teja ada benarnya juga sekaligus merasa gemas karena pemuda itu menanggapinya dengan sangat serius."Iya, iya, Jo. Udah ah, nggak usah eyel-eyelan lagi soal beginian. Pokoknya aku cukup tahu kalau kamu itu cowok baik," potong Nana menyudahi perdebatan kecil mereka dengan nada manja.Keduanya pun terdiam dalam pikiran masing-masing hingga akhirnya mobil mewah Nana memasuki area halaman gedung serbaguna kota sebelah yang akan menjadi panggung bagi penampilan Nana hari ini.Keduanya turun dari mobil setelah terparkir dengan aman, lalu melangkah masuk ke da
Keesokan harinya, usai mengikuti mata perkuliahan yang cukup membosankan di kampus, Teja menemani Nana untuk memenuhi jadwal panggung menyanyinya.Awalnya, niat hati Teja ingin menggantikan posisinya dengan Bintang untuk mengawal Nana, namun hati kecil Teja merasa tak tega membiarkannya.Meski begitu, beberapa anak buah Teja yang mengendarai motor tetap ikut berangkat untuk mengawasi perjalanan mereka dari kejauhan guna mengantisipasi bahaya.Jam dua siang lebih sedikit, mobil milik Nana sudah meluncur membelah jalanan menuju kota sebelah untuk mengisi panggung di sana."Kamu harusnya belajar nyetir mobil, Jo. Masa cewek terus yang nyupirin," ujar Nana memecah keheningan perjalanan sembari fokus menatap jalanan di depannya."Ya kapan-kapan ajarin dong. Aku kan nggak punya mobil," jawab Teja dengan nada santai sambil menyandarkan punggungnya di kursi penumpang."Iya pasti itu. Kita cari waktu senggang dulu ya," Nana mengangguk setuju dengan senyuman manis yang tersungging di bibir mung
Teja memegangi pinggang Nana, mencoba menahan pergerakan gadis itu yang hendak kembali menggoyangkan pinggulnya."Tunggu, Na! Ini sudah berlebihan buat kamu. Daya tahan fisikmu sudah di ambang batas normal!" seru Teja mengingatkan dengan raut wajah yang cemas.Nana hanya menatap nanar dengan sepasang mata yang masih sayu dan dipenuhi kilatan gairah yang masih tinggi."Obatnya masih ada reaksi, Jo. Ini harus dituntasin kayak kata kamu tadi," bisik Nana sembari mencondongkan tubuhnya ke depan.Teja menghembuskan napas pendek, menatap lekat-lekat wajah cantik yang kini tampak sangat memelas di atas tubuhnya."Tapi, Na. Kamu udah dua kali klimaks lho. Mau berapa banyak lagi?" tanya Teja, mencoba menggunakan logika untuk menyadarkan teman kuliahnya itu.Nana mengerucutkan bibirnya, lalu memberikan tatapan memohon yang menunjukkan bahwa efek obat itu masih benar-benar menyiksanya."Sekali lagi ya, Jo. Plisss," mohon Nana sembari menggoyang-goyangkan manja lengan Teja dengan kedua tangannya.
Teja sedikit terkejut mendengar permintaan Nana yang tiba-tiba ingin memegang kendali di atas tubuhnya.Nana tersenyum manja, lalu dengan sisa tenaganya ia membalikkan posisi hingga kini duduk di atas perut Teja.Rambut panjang Nana yang sedikit berantakan terurai ke depan, menambah kesan seksi pada penampilannya malam itu.Teja hanya bisa pasrah dan menatap keindahan tubuh gadis di atasnya yang kini mulai bergerak meraba dadanya."Kamu siap, Jo? Aku bener-bener udah nggak tahan lagi," bisik Nana dengan napas yang kembali memburu hebat.Teja mengangguk pelan, membiarkan Nana menuntun sendiri permainan panas mereka.“Hati-hati, Na. Jangan terlalu menggebu, soalnya punyaku terlalu besar. Nanti bisa bahaya buat milik kamu!“ pesan Teja memberikan perhatian.Nana perlahan menggeser duduknya ke bawah, mengarahkan pusat miliknya tepat di atas milik Teja yang sudah menegang tegak seperti pohon jati raksasa.Saat ujung milik Teja yang berukuran raksasa itu menyentuh celahnya, Nana seketika ter
Mendengar respon Nana yang begitu menyukainya, Teja tentu saja semakin bersemangat.Tak hanya lidah, kini bibirnya mulai terkembang dan mulai menerjang labia mayora Nana yang sudah sangat basah itu.“Hoemmhhh, hemmm.“Lidahnya menjulur kaku menyeruak di dalam celah merah merona milik Nana!“Jooo. Ohhhh shhhh ahhhhh,” suara lenguhan Nana meledak, sangat tinggi hingga menggema di dalam kamarnya.Gerakan pinggul Nana pun semakin liar karena rangsangan yang diberikan Teja melalui lidah dan bibirnya.Pinggul itu bergeser resah ke kiri dan kanan, sesekali terangkat naik mengejar pergerakan bibir Teja. “Uhhh, Jooo,” mata Nana terpejam erat menikmatinya.Demi melihat gelora tersebut, Teja juga merasa gairahnya meningkat drastis.Ia pun tanpa menunda lagi segera menghadirkan jari tengahnya untuk membantu pekerjaan lidah dan bibir yang sedang bekerja keras pada lubang berlendir wangi Nana SLOPPP!“Ohh, Jooo!“ teriak Nana saat jari Teja menerkam masuk, mengorek sisi dalam dari lorong basahnya.
“Kenapa, Jo, kaget ya?“ senyum lembut Nana kembali terulas di bibirnya, namun tetap saja senyuman itu mengandung napas hasrat yang kian meninggi.Napas Nana yang semakin panas tersebut menerpa selaksa kulit perut Teja yang terbuka, membuat pria berambut panjang itu sedikit menggelinjang geli.“Lanjutkan saja, Na. Biar pengaruh obat itu bisa cepet hilang,” jawab Teja berusaha meredakan kembali rasa terkejutnya.Tanpa diminta untuk kedua kalinya, Nana langsung bergerak turun, memposisikan wajahnya tepat di hadapan monster milik Teja yang masih terbungkus celana dalam hitam.Meski masih terbungkus ketat oleh celana dalam tersebut, milik Teja yang berukuran luar biasa besar itu tetap tercetak jelas di sana. Bahkan, karena tak muat lagi, ujung kepala miliknya yang seperti jamur raksasa terlihat menyembul dari celah karet bagian atas celana dalam.Tubuh Nana yang masih terpengaruh obat afrodisiak semakin gemetar menatap benda itu dari jarak yang sangat dekat. Hingga kemudian—Cupp!“Ehmmahh







