Share

9. Kepala Kosong

Author: Leva Lorich
last update publish date: 2026-06-05 18:35:02

Teja tak langsung menjawab. Sejenak ia menatap dan sedikit menekan bagian di pergelangan kaki Nana.

“Auwww, sssshh. Pelan, Jo. Sakit banget itu!“ rintih Nana meski Teja hanya menekan ringan bagian tersebut.

“Habis ini aku bakal betulkan posisi uratnya, tapi ya nggak langsung seratus persen pulih gitu. Normalnya sekitar tiga hari sampai satu minggu setelah dipijat baru enakan, itupun juga nggak langsung sembuh total,” terang Teja apa adanya.

Ia tak mau melebih-lebihkan dan banyak janji palsu untuk membuat orang lain terkesan.

Mendengar itu, Nana tampak murung.

“Aduh, gimana ya, Jo? Soalnya jadwal manggungku padat banget minggu ini. Masa mau dibatalin kontraknya?!“

“Aku selesaikan dulu pijatnya, Na. Siapa tahu kondisi jauh lebih baik setelahnya,” ucap Teja memberikan semangat.

Teja kembali berkonsentrasi pada pergelangan kaki Nana yang cedera.

“Uhhh, ssshh, sakittt!“ Nana sesekali meringis kesakitan setiap kali jari Teja menyentuh bagian-bagian tersebut.

Diam-diam tanpa diketahui oleh Nana, Teja mulai menyalurkan energi Qi-nya dari tangannya menuju ke bagian kaki yang terkilir tersebut.

Ia tidak serta merta melakukan itu untuk coba-coba saja, melainkan seperti menerima tuntunan tak kasat mata dari warisan lilitan kain miliknya.

Warisan tersebut seolah menjelma menjadi pemantik motorik yang menggerakkan pijatan serta penyaluran energi Qi Teja.

“Kok rasanya kulit kakiku seperti hangat ya, Jo?“ nampaknya indra di tubuh Nana memiliki tingkat kepekaan yang cukup tinggi untuk merasakannya.

Namun Teja hanya mengangguk pelan, berusaha menutupi kepemilikan energi Qi di dalam tubuhnya tersebut. “Syaraf yang kembali pada posisi normal mulai menunjukkan responnya, Na. Itulah kenapa rasanya jadi hangat,” tuturnya menyembunyikan fakta yang sebenarnya.

Teja dengan telaten terus memberikan pijatan dan terapi energi Qi.

Hingga setengah jam kemudian ia menyudahi pijatannya. “Coba sekarang kamu turun, Na. Coba pakai jalan pelan-pelan, masih sakit nggak?! perintahnya pada sang dara cantik.

Sedikit takut, Nana pelan-pelan menggeser kakinya turun dan bertumpu di lantai kamar. Perlahan pula ia mengangkat tubuhnya dan mencoba untuk berjalan.

Satu langkah, dua langkah, tiga langkah…

“Jo, ajaib banget. Udah nggak sakit, Joo!“ pekik Nana girang sekali. Matanya berbinar penuh rasa simpatik ke arah Teja yang masih duduk di tepi ranjang.

“Syukurlah, Na. Kalau begini kan kamu bisa segera manggung lagi buat nyanyi,” Teja melebarkan senyum tulusnya.

Dalam hati ia juga merasa sangat lega karena efek energi Qi yang terpancar tadi ternyata membawa dampak yang sangat signifikan bagi kesembuhan kaki Nana.

'Ohhh, ternyata energi Qi ini juga punya kaitan dan sumbangsih gede buat menyokong pijatanku?!' ucap Teja membatin, mencermati kemajuan pengetahuan dan kemampuannya.

“Aduhh, makasih banyak, Jo! Kalau nggak ada kamu, gimana coba ini tadi?!“ spontan Nana memeluk Teja.

Posisinya yang berdiri dan Teja yang masih duduk membuat wajah Teja sepenuhnya terbenam di antara gundukan dua payudara montok Nana yang menonjol di balik kaos ketatnya.

Cepat-cepat Teja mendorong pinggang ramping Nana untuk menjauh.

Wajahnya seketika berubah merah padam.

“Kira-kira dong, Na! Masa wajahku kamu kekep pakai dada kamu sampai aku megap-megap kehabisan napas?!“ raung Teja pura-pura protes untuk menutupi lonjakan hasratnya yang seketika melambung tinggi.

Namun Nana justru tersenyum tanpa merasa bersalah. “Enak enggak, Jo? Mau lagi? Ayo sini mimik cucu lagi!“

Bisikan Nana itu justru terdengar seperti desahan di telinga Teja.

Teja tercekat dan tak bisa berkata-kata untuk beberapa saat.

Ingatannya kembali melayang pada ciuman basah bibir Nana di pipinya tadi siang.

Ingatan tentang paha putih dan sekal Nana saat ia pijat tadi pagi juga ikut berdesakan menyumpal, memenuhi benaknya.

“Joo, kok bengong sih? Nggak suka ya sama punya aku?“ kejar Nana demi melihat wajah Teja yang sudah berubah merah kuning hijau seperti lampu lalu lintas di perempatan.

Teja mengangkat wajahnya, isi kepalanya mendadak terasa kosong tanpa tahu harus menanggapi Nana dengan kalimat apa.

“Aku… aku…” Teja tergagap.

Sebagai pemuda yang masih polos mengenai hal seperti itu, ditambah dengan prinsipnya yang tak ingin di cap sebagai pria mesum, terjadilah pergolakan besar di dalam dadanya.

Teja seketika berdiri dari ranjang. “Aku mau pulang dulu,” ujarnya sembari hendak melangkahkan kaki untuk menghindari Nana.

Namun gerakan Nana jauh lebih cepat. Gadis cantik itu langsung memeluk tubuh Teja yang kini dalam posisi berdiri di hadapannya.

Tak hanya itu, Nana bahkan memperat pelukannya, membuat payudaranya yang besar dan montok menekan selaksa dada Teja yang lebar dan tegap.

Dalam posisi sedekat itu, Teja jelas bisa menghirup aroma wangi parfum Nana yang berpadu dengan aroma tubuhnya yang khas dan memabukkan.

Kekosongan di dalam kepala Teja semakin meluas. Logikanya seperti terkebiri paksa tatkala berada di posisi itu.

“N-na, aku… aku—”

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (1)
goodnovel comment avatar
Kustiwa Kartawiria
sampai sini belum seru Boss?
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   668. Bantuan Sang Ayah

    Cahaya keemasan menerobos masuk melintasi sela-sela tirai bambu yang tergantung anggun di jendela kayu, menyinari sekeliling ruangan yang hangat dan beraroma semerbak minyak cendana. Kelopak mata Teja terbuka pelan-pelan, menyesuaikan ketajaman penglihatannya dengan pendar sinar pagi yang menerangi kamar. Seluruh persendian di raganya terasa teramat kaku, dan setiap kali ia mencoba menghela napas, dada bidangnya berdenyut nyeri akibat sisa-sisa pendar racun Qi A Shiang yang sempat menghantam organ dalamnya.Teja memutar kepalanya perlahan ke sisi kiri. Tak jauh dari tempat tidurnya, dua ranjang ukir berukuran sedang tampak terisi. Panda terbaring berbalut selimut sutra merah dengan raut wajah yang masih agak pucat, sementara di ranjang sebelahnya, Liong To tidur terlentang dengan dada yang dibalut perban kain putih.Ornamen naga dan burung phoenix yang terukir halus di tiang-tiang kayu jati, dipadu dengan langit-langit berarsitektur Tionghoa klasik, mengonfirmasi keberadaannya. Ia

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   667. Terkulai Tumbang

    Tubuh A Shiang yang sudah kehilangan tempurung kepalanya roboh perlahan ke atas permukaan beton yang dingin. Darah pekat menyembur membasahi pelataran, menyisakan keheningan mencekam yang menusuk hingga ke tulang. Teja berdiri tegap di samping jasad musuhnya, bernapas secara teratur dengan Binar mata keemasan Murni Qi tingkat tujuh setengah yang perlahan surut meninggalkan paras tampannya.Semua mata anak buah A Shiang menatap kaget ke arah Teja dan tubuh A Shiang yang tumbang tanpa kepala.Sepuluh orang pria berbadan tegap berpakaian hitam yang berdiri di depan pintu gudang mendadak membelalak kaku. Senjata tajam di genggaman mereka gemetar hebat, rahang mereka melorot tak percaya menyaksikan sang pelatih khusus yang sangat ditakuti dan memiliki kemampuan Qi beracun tingkat tinggi justru tewas seketika hanya dalam satu hentakan tangan dari pemuda berambut dreadlock tersebut.Begitu pula dengan Liong To dan Panda yang terpekik kagum melihat kehebatan pemuda ahli pijat legendaris it

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   666. Tujuh Setengah

    A Shiang menyapu bercak darah di sudut bibirnya dengan jubah hitam yang sudah terkoyak. Pria tua itu menggeram kencang, lalu melesat maju kembali dengan dorongan kaki kokohnya. Di sisi lain, Teja menyapu memar di dadanya dan langsung menyambut serbuan musuh dengan lonjakan Murni Qi yang bergelora di seluruh pembuluh darahnya.Kedua raga itu kembali bertabrakan di udara malam. Adu fisik jarak dekat dalam tempo kilat kembali tercipta, memicu dentuman-dentuman keras yang beruntun. A Shiang memutar pinggulnya, mengayunkan cakar beracunnya secara membabi buta ke arah Leher dan rusuk Teja."Mati kau, Bocah! Kamu pikir bisa menang mudah dari pelatih khusus Keluarga Johar?!" geram A Shiang dengan suara parau yang membahana.Teja menangkis sabetan cakar tersebut menggunakan benteng siku Murni Qi tingkat tujuh miliknya. Namun, kepak energi hitam beracun A Shiang terbukti sangat padat dan ulet. Setiap kali tangkisan Teja mendarat, getaran Qi beracun itu merembes tipis, menggerogoti lapisan

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   665. Sama Kuat

    Binar mata keemasan Teja menajam menembus remang malam. Sentilan kerikil bermuatan Murni Qi tadi hanyalah sekadar peringatan tipis. Melihat bagaimana A Shiang mampu mengendalikan energi Qi beracun dengan tingkat kepadatan yang lumayan pekat, Teja menyadari bahwa pria tua berjubah hitam ini bukanlah musuh kroco biasa seperti para anggota Keluarga Johar yang pernah ia tumbangkan sebelumnya. Kendati demikian, tidak ada waktu untuk menimbang-nimbang risiko. Nyawa Toni yang disekap di dalam gudang menjadi prioritas utama yang tak bisa ditawar sedikit pun.A Shiang menarik kakinya yang sempat kebas sejenak akibat hantaman kerikil tadi. Pria tua itu menggerakkan persendian pahanya yang terasa panas menyengat, lalu menatap Teja dengan raut wajah yang campur aduk antara kaget, heran, dan gusar yang besar."Ka-kamu... cukup bagus juga ternyata energi kamu, Nak!" puji A Shiang.A Shiang mengibas-ibaskan jubah hitamnya yang berdebu. Suaranya terdengar sedikit berat, mencoba menutupi rasa terke

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   664. Kerikil Kecil

    Panda melayang di udara, melayangkan tendangan lurus berputar yang menyasar pelipis A Shiang dengan kekuatan tinggi. Angin yang berhembus dari gerakan kakinya terdengar cukup tajam, membuktikan bahwa gemblengan fisik dan latihan beladiri Tiongkok sejak kecil telah menyatu sempurna dalam raga gadis keturunan Tionghoa tersebut.A Shiang yang mendadak diserang dari arah samping refleks membatalkan eksekusi susulannya kepada Liong To. Pria berjubah hitam itu menarik kepalanya sedikit ke belakang, membiarkan sol sepatu Tangzhuang milik Panda melintas tipis hanya beberapa sentimeter di depan hidungnya."Boleh juga refleksmu, Bocah!" geram A Shiang seraya mengayunkan cakar tangannya untuk mencengkeram pergelangan kaki Panda.Panda yang memiliki fleksibilitas fisik muda yang jauh lebih lincah dibanding ayahnya, tidak membiarkan kakinya tertangkap dengan mudah. Saat berada di udara, Panda memutar pinggulnya secara cepat, menarik kembali kakinya lalu melancarkan dua dorongan telapak tangan b

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   663. Energi Gelap Dan Beracun

    Emosi Liong To yang mendidih tak lagi dapat ditahan. Sebagai praktisi senior yang sangat menjunjung tinggi etika dan kehormatan dunia persilatan, tindakan A Shiang yang menggunakan cara licik dengan menculik orang tua tak bersalah telah menginjak-injak martabat mereka.Dengan hentakan kaki yang amat kuat ke permukaan tanah, Liong To melesat maju bagaikan kilat. Pakaian Tangzhuang abu-abu gelap yang dikenakannya berkibar kencang membelah angin malam. Sepasang telapak tangannya terbentang lebar, melancarkan jurus telapak angin dari aliran Wushu klasik yang mengincar langsung area dada A Shiang.A Shiang tidak menunjukkan sedikit pun raut panik. Pria berjubah hitam itu justru menyunggingkan senyuman meremehkan tatkala melihat serangan cepat dari rekan sesama praktisi seniornya tersebut."Liong To! Kamu sudah tua dan makin bodoh karena mau menjadi anjing suruhan pemuda bau kencur ini!" seru A Shiang seraya menggeser pinggulnya sedikit ke samping.Dengan gerakan yang amat fleksibel, A Sh

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   7. Gitar Spanyol

    Nana yang tak pernah melihat Teja berkelahi menjadi khawatir. “Jo, kabur aja yuk. Hitungan ketiga kita langsung masuk mobil dan tancap gas!“ bisiknya pelan di telinga Teja. Namun Teja justru menggeleng dan mengerlingkan mata. “Kamu diam saja dan tetap di posisimu. Biar aku yang ngurus ini,“ jawab T

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   6. Menunjukkan Sikap Dominan

    Teja cepat-cepat meloloskan diri dari pelukan itu. Wajahnya merah padam antara malu dan sisa hangat hasrat setelah melihat paha putih Nana tadi. Ia mundur beberapa langkah. “Apa-apaan kamu, Na?!“ seru Teja salah tingkah. Namun Nana tak mengindahkan seruan itu. Mata beloknya tetap menatap lekat tan

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   5. Gundukan Besar

    “Nggak. Cuma mau numpang sarapan doang!“ dengus Nana kesal. “Ya jelas mau pijat dong, Tejooo!“ Teja masih sedikit linglung. Sekilas ia menatap ayahnya yang duduk di ujung ruang tamu seolah meminta pertimbangan. Toni justru terkekeh. “Pekerjaan pijat memijat mulai hari ini sudah sepenuhnya beralih

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   4. Kelinci Percobaan

    “Buat apa kamu teriak, Jaaa?!“ sentak Toni usai mengirimkan tendangannya. “Sakit dong, Yah, gimana sih?!“ raung Teja spontan. “Memangnya beneran sakit?“ pancing sang ayah lagi. Teja terdiam sejenak, kemudian meraba miliknya yang kini berukuran luar biasa, mencoba memastikan apa yang ia rasakan.

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status