Home / Fantasi / Ampun, Jo, Ini Kegedean! / 1. Terbesar se-Indonesia

Share

Ampun, Jo, Ini Kegedean!
Ampun, Jo, Ini Kegedean!
Author: Leva Lorich

1. Terbesar se-Indonesia

Author: Leva Lorich
last update publish date: 2026-06-03 18:43:13

“Oh, ah–jangan kenceng-kenceng, Pak!“

Teja Surya baru saja masuk kamar dan merebahkan diri di ranjang menjadi tersentak saat mendengar suara itu.

Suasana siang yang panas sejak ia pulang dari kampus menjadi semakin panas karena suara desahan tersebut.

“Tahan, Mbak Nana. Ini sudah licin banget kok. Nanti juga enak,” suara Toni, ayah Teja, terdengar menjawab.

Kamar Toni yang berada persis di sebelah kamar Teja membuat semua kalimat itu terdengar jelas di telinga Teja.

'Suara itu lagi?!' Teja memijat pelipisnya.

Sudah bertahun-tahun Teja sering mendengar suara-suara aneh dari kamar ayahnya setiap kali sang ayah menerima pasien pijat.

Rumor tentang ayahnya yang didengungkan teman-teman kampus Teja kembali melayang di dalam benaknya.

“Ayahmu itu gigolo, Jo!“

“Kabarnya kan punya ayahmu paling gede se-Indonesia, Jo. Punyamu juga segede itu nggak?“

“Tukang pijat mah cuma kedok doang. Ayah Teja itu sebenarnya membuka praktik pijat plus-plus pakai ukuran supernya.“

Satu persatu hinaan dari teman kuliah Teja berputar seperti slide di pikiran Teja.

Ia semakin muak tatkala teringat minggu lalu telah menerima warisan lilitan kain dari ayahnya yang berfungsi sebagai celana dalam itu.

“Lilitan kain ini adalah warisan turun temurun, Ja. Mau tak mau kamu harus siap menerimanya,” ucap ayah Teja saat meminta Teja mengenakannya minggu lalu.

Teja membenamkan wajah ke bantalnya, berusaha meminimalisir suara yang masih terdengar dari kamar ayahnya.

'Aku nggak mau dapet warisan benda mesum kayak gini!' pekik Teja tak terima.

“Ooh, ooh Pak, sakit. Sebentar, ini… ini kegedean!“

Suara itu kembali terdengar, menembus bantal yang nyatanya tak mampu mengurangi suara yang sangat tak ingin didengar oleh Teja.

“Tenaga saya memang gede, Mbak Nana. Kalau lemah, gimana bisa mijat dengan baik?!” suara Toni terdengar memberikan penjelasan.

Nana masih terdengar merintih. “Uh, sh. Iya sih, Pak. Tapi jangan keras-keras mijatnya. Aku ini cewek lho, bukan kingkong!“

Dalam diamnya, Teja seketika tersentak karena baru sadar akan nama pasien yang disebutkan oleh ayahnya.

'Nanaa?! Itu Nana temenku kuliah, bukan?' gumam Teja sambil berusaha lebih fokus mendengarkan suara itu.

'Kayaknya sih beneran Nana temenku deh. Aku kenal sama suara dia. Ish, ayah makin kacau dah!' ia menjadi uring-uringan sendiri.

Lambat laun suara-suara mereka berangsur mereda seiring dengan rasa kantuk di mata Teja yang semakin memberat.

Tak lama kemudian Teja sudah terlelap, mengabaikan apa yang terjadi di kamar sebelah.

—

Keesokan harinya, saat Teja sedang mencuci motor matiknya di teras rumah, datanglah seseorang yang tak diduga-duga.

“Permisi, Pak Toni ada?” ucap seorang gadis muda berusia sekitar 19 tahunan, seumuran dengan Teja.

Tubuh gadis berparas cantik itu sangat molek dibalut celana jeans ketat yang menampilkan sepasang kakinya yang jenjang dan kaos yang juga begitu ketat membalut tubuh atas gadis itu.

Teja mengangkat wajahnya dan seketika terhenyak. “Nana?!”

“Lho, Tejo?!“ gadis yang dipanggil Nana oleh Teja itu ikut kaget.

Nana adalah teman seangkatan Teja di kampus. Ia sangat terkenal karena merupakan penyanyi tenar di kota itu.

Dan yang membuat Teja merasa heran adalah pamor ayahnya hingga bisa dikenal oleh penyanyi hebat sekelas Nana.

“Kamu kenapa cari ayahku, Na?“ tanya Teja saat telah bisa menguasai keterkejutannya.

“Mau pijat lah! Aku kan kemarin udah pijat, ini disuruh kontrol lagi sekarang!“ jawab Nana cepat.

'Tuh, kann! Beneran Nana kemarin!' rutuk hati Teja kembali kesal.

Teja akan menanggapinya lagi, namun sang ayah tiba-tiba muncul di teras. “Mbak Nana, silakan masuk. Aduh maaf saya nggak dengar tadi kalau mbak sudah dateng,” sapanya ramah.

Teja memandang wajah ayahnya dan Nana bergantian dengan tatapan penuh tanda tanya.

'Ngapain sih sampai nerima pasien dari kampusku segala?! Kalau kayak gini kan rumor itu makin santer nyebar di lingkungan kampus,' batin Teja tak senang.

“Pak Toni ternyata ayahnya Tejo, ya?!“ ujar Nana sambil mengikuti langkah Toni masuk ke kamar.

“Mbak Nana kenal sama Teja?“ tanya Toni balik.

Nana mengangguk. “Kenal dong, Pak. Kan kami satu kampus, bahkan satu kelas.“

Tatapan mata Teja mengiringi langkah keduanya sebelum kemudian pintu kamar ayahnya menutup kembali.

Tidak seperti biasanya yang tak pernah mau peduli pada pasien ayahnya, kali ini Teja cukup merasa penasaran pada pijat seperti apa yang akan dijalani Nana berikutnya.

Ia pun berjingkat masuk ke kamarnya, berniat untuk menguping kegiatan tersebut.

Awalnya Teja hanya mendengar percakapan ringan dari keduanya.

Namun beberapa menit kemudian, lenguhan khas yang biasa ia dengar dari pasien ayahnya mulai terdengar.

“Uh ah, Pak. Iya disitu, pas banget. Tapi geli, Pakk,” erang Nana yang langsung membuat kening Teja berkerut.

“Kalau segini, kegedean nggak buat mbak Nana?“ suara Toni menyusul terdengar.

“Gede banget, Pak. Tapi saya kayaknya masih mampu nahan deh. Sh oh oh, tapi pelanin, Pak!“ jawab Nana yang terdengar seperti menahan sesuatu.

'Duh, ini sebenarnya pijat macam apa sih?! Nana juga gitu, ngapain pakai acara minta pijat ke ayahku segala?' Teja kembali uring-uringan sendiri seperti kemarin.

Ada perasaan tak rela saat melihat teman kuliahnya meminta layanan pijat pada sang ayah.

Sejenak Teja menatap celananya sendiri yang membalut lilitan kain zaman kerajaan itu di dalamnya.

'Benda ini yang bikin ukuran ayah jadi segede kaki kingkong. Dan aku harus mewarisinya buat melayani para pasien pijat aneh itu?!'

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (3)
goodnovel comment avatar
Om Sumijan
pas banget
goodnovel comment avatar
Desrianto
bagus lanjut
goodnovel comment avatar
Asmar Nasution
lanjut kk seru
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   613. Butuh Pendapat

    Pajero Sport putih milik Teja terparkir sempurna di pelataran asri rumah klinik. Hari sudah beranjak sore, membiaskan warna jingga temaram di langit Surabaya. Desan dengan penuh semangat membantu membawa beberapa kantong plastik berisi camilan dan buah-buahan segar masuk ke dalam rumah, sebelum akhirnya bocah itu berbaring santai di sofa ruang tengah sembari menikmati jajanan barunya.Teja dan Desy melangkah masuk membawa sisa kantong belanjaan yang dipenuhi bahan makanan mentah serta tumpukan pakaian baru. Saat Teja meletakkan kantong-kantong itu di atas meja dapur, Desy mendekatinya, melingkarkan kedua lengan halusnya di pinggang tegap Teja dari belakang."Mas, aku mau melayani Mas lebih privasi, tapi kalau ada Desan begini ya mana bisa?" ucap Desy lirih.Paras ayunya disandarkan di punggung tegap Teja. Ada nada kepasrahan bercampur kecemasan halus dalam bisikannya, khawatir keberadaan sang adik akan membatasi keleluasaannya untuk memberikan pengabdian utuh kepada pria terkasihny

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   612. Berbelanja Kebutuhan

    "Ke kampus sebentar. Cuma satu mata kuliah dua SKS kok. Habis itu langsung ke sini lagi buat ngajak kamu dan Desan beli baju yang aku janjikan semalam," jawab Teja lembut seraya mengusap pelan helai rambut panjang Desy yang masih harum shampo.Mata Desy seketika berbinar terang. Senyuman manis merekah di paras tirusnya yang seputih kapas. "Iya, Mas... Aku sama Desan tunggu di rumah klinik ya. Hati-hati di jalan."Teja melangkah ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Kucuran air segar menyiram tubuh tegap berototnya, menyegarkan kembali sirkulasi hawa Murni Qi tingkat tujuh di dalam pembuluh darahnya. Usai mengeringkan raga dan mengenakan pakaian kasual yang rapi, Teja berpamitan singkat pada Desy dan Desan.Sedan Maserati Quattroporte GTS V8 hitam milik Teja menyala halus, membelah jalanan kota Surabaya menuju universitasnya. Perkuliahan dua SKS pagi itu berjalan singkat. Sebagai mahasiswa tingkat akhir yang cerdas, Teja menyerap materi perkuliahan dengan amat cepat tanpa kendala s

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   611. Makan Besar

    "Iya… iya. Mbak masak nasi nih!" sahut Desy cepat dengan wajah yang masih memerah padam.Gadis berparas ayu itu buru-buru mengambil beras dari dalam wadah penyimpanan, membilasnya hingga bersih di bawah kucuran air kran yang jernih, lalu memasukkannya ke dalam wadah penanak nasi otomatis. Jemari lentiknya yang lincah menekan tombol memasak pada alat penanak nasi tersebut dengan gerakan terburu-buru, mencoba mengalihkan perhatian dari candaan vulgar Teja yang hampir saja tertangkap oleh sang adik.Teja hanya terkekeh renyah melihat tingkah panik kekasih barunya tersebut. Pemuda berambut gondrong itu dengan santai memindahkan koloke ayam yang renyah dan fuyunghay beraroma asam manis ke atas piring porselen besar, lalu menyajikannya di tengah meja makan bersih yang tertata rapi.Tak butuh waktu lama, uap harum dari nasi putih yang baru matang merebak memenuhi udara, berpadu sempurna dengan aroma masakan Teja di meja. Desy dengan sigap menyendokkan nasi hangat yang berasap tipis ke dal

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   610. Masak Nasi

    Sinar matahari pagi yang hangat menerobos tipis melalui celah tirai jendela kamar tidur, membiaskan pendar keemasan di atas kasur empuk. Desy masih terlelap amat nyenyak dalam balutan kemeja putih kebesaran Teja, napasnya teratur dengan raut wajah ayu yang begitu damai usai melewati malam panjang yang penuh kehangatan. Di ruang tengah, Desan pun tampak tertidur pulas di atas ranjang pasien yang sejuk, terbebas sepenuhnya dari cengkeraman demam tinggi.Teja melangkah pelan tanpa menimbulkan suara, melepaskan cengkeraman halus jemari Desy di pinggangnya agar tidak mengganggu tidur nyenyak sang gadis.Ia sejenak mencuci wajah di kamar mandi, kemudian keluar kamar menuju dapur.Segarnya usapan air dingin menyapu paras tampannya, membangkitkan kebugaran alami dari sirkulasi hawa Murni Qi tingkat tujuh yang mengalir stabil di dalam tubuhnya. Dengan langkah tegap berbalut pakaian kasual santai, pemuda berambut gondrong itu melangkah melintasi koridor klinik, menuju ke area dapur bersih ya

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   609. Tetap Konsisten

    "Mas, aku masukin ya?" pinta Desy lirih sembari mulai membuka kancing kemeja kebesarannya.Jemari lentiknya yang bergetar halus merayap turun melintasi barisan kancing kemeja putih milik Teja yang melekat di tubuh mulusnya. Satu per satu kancing itu terlepas dari lubangnya, membiarkan kain putih tipis tersebut terkuak perlahan ke arah sisi samping tubuhnya.Kancing-kancing itu sudah terbuka sebagian, menampilkan keindahan belahan dada sang gadis yang curam dan putih.Aroma harum sabun mandi yang berpadu dengan kehangatan alami tubuh Desy seketika menyeruak semakin pekat. Kulit seputih salju di area dadanya tampak memikat, memancarkan kilau halus yang belum pernah tersentuh oleh polusi kehidupan malam. Seiring dengan jemarinya yang terus melepaskan ikatan kancing ke bawah, lekukan indah raga sang dara kian terpampang nyata.Tak lama kemudian bentuk bulatan buah dada berikut puting merah mudanya yang kaku juga mulai terlihat.Gumpalan kenyal yang mengkal dan ranum itu membusung anggu

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   608. Jalur Membara

    "Aku pegang ya, Mas," bisik Desy dengan nada suara bergetar dan napas yang tertahan, matanya terpaku tanpa berkedip pada keperkasaan Teja yang mengacung gagah di udara terbuka.Tanpa menunggu persetujuan Teja, Desy menggenggamnya.Kedua telapak tangan halus Desy merapat, melingkari batang besar yang terasa begitu hangat dan keras sekeras beron bertulang. Ibu jari dan jemari lentiknya nyaris tidak saling bertemu saat menggenggam lingkar luar keperkasaan Teja. Hawa murni Qi tingkat tujuh yang bersirkulasi di tubuh Teja memancar langsung ke telapak tangan Desy, mengalirkan sensasi hangat yang mendinginkan rasa canggung sang gadis dan menyulut naluri purbanya yang teramat dalam."Ya ampun... bener-bener padat banget, Mas... nggak muat kalau cuma pakai satu tangan," cicit Desy lirih, memandangi helaian urat menegang yang menghiasi batang super jumbo tersebut dari pangkal hingga ke puncaknya.Desy mulai menggerakkan kedua tangannya, memberikan pijatan perlahan di sepanjang batang kejantan

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   9. Sengaja Memperlambat

    “Nanti lengket semua kena gel pelicin pijat, Ja, kalau pakai baju,” jawab Septa santai—tanpa beban. Teja berusaha keras mengendalikan tatapannya, sekaligus mengendalikan detak jantungnya yang kian berdentum bertalu-talu. “Ba-baiklah, Bu Septa,” tangan Teja bergerak cepat meraih selimutnya yang ter

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   8. Menghujam Bumi

    BLARRR! Jantung Teja seperti baru saja dilempar bom molotov. Meski ia sudah menerima tugas pijat sebagai penerus dan pengganti ayahnya, tetap saja ia masih merasa cukup canggung untuk menjamah tubuh wanita. Terlebih, semua pasien umpan lambung dari ayahnya memiliki kecantikan dan keindahan tubuh d

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   7. Gitar Spanyol

    Nana yang tak pernah melihat Teja berkelahi menjadi khawatir. “Jo, kabur aja yuk. Hitungan ketiga kita langsung masuk mobil dan tancap gas!“ bisiknya pelan di telinga Teja. Namun Teja justru menggeleng dan mengerlingkan mata. “Kamu diam saja dan tetap di posisimu. Biar aku yang ngurus ini,“ jawab T

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   6. Menunjukkan Sikap Dominan

    Teja cepat-cepat meloloskan diri dari pelukan itu. Wajahnya merah padam antara malu dan sisa hangat hasrat setelah melihat paha putih Nana tadi. Ia mundur beberapa langkah. “Apa-apaan kamu, Na?!“ seru Teja salah tingkah. Namun Nana tak mengindahkan seruan itu. Mata beloknya tetap menatap lekat tan

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status