Mag-log inTuan Jinji yang sudah putus asa jatuh berlutut.
"Tuan, saya benar-benar ceroboh! maafkan saya!" Tuan Jinji meminta maaf kepada Ares dengan panik.Ares tidak meliriknya sama sekali, dia sudah banyak memberi kesempatan tapi orang seperti Tuan Jinji benar-benar bodoh."Sudahlah, tidak ada tawar menawar lagi!" Ares berkata, dia melambaikan tangan ke arah Tuan Jinji dan Rian."Tuan...jika anda membantai kami semua...anda akan di salahkan petugas hukum! ini negara hukSampai di luar, Ares pergi ke parkiran mobil, masuk ke dalam mobil, lalu melajukan mobilnya keluar dari tempat tersebut. Suara deru mesin mobil sport yang menggelegar bergema di sepanjang jalan yang di lewati mobil Ares. Ares kembali ke vila. Sampai di sana, Ares melihat ~ mobil milik Stevani sudah terparkir di garasi vila, tandanya wanita itu sudah pulang.Ketika dia masuk ke dalam vila, dia melihat wanita sudah berkumpul di ruang tamu. Bahkan, Tante Siska ada di sana."Sayang, kamu dari mana?" tanya Stevani dengan nada riang."Kepo banget sih..." balas Ares dengan nada main-main, lalu dia duduk di samping Stevani. Tangannya langsung melingkar di pinggang wanita itu."Ih, kok gitu sih!" Stevani cemberut lucu. Melihat ekspresi Stevani, semua wanita tertawa karena merasa geli."Tante, kamu ikut ke sini lagi," ujar Ares sambil menatap Tante Siska."Emangnya gak boleh kalau aku ikut ke sini?" tanya Tante Siska, ada sedikit keluhan di ekspresi wajahnya."Eh, enggak gitu kok tante! bole
"Tante... kamu malah menertawakanku," gerutu Ares dengan nada tak berdaya. "Hihi, maaf... Tante hanya merasa lucu saja!" ucap Tante Yuna. "Oh iya, kenapa Sandra gak bisa ikut?" tanya Tante Yuna. "Dia lagi sibuk! sama kayak tante," balas Ares. "Huh, sayang sekali! kalau janda itu bisa ikut, pasti kamu bisa mencicipinya," ucap Tante Yuna dengan nada main-main. "Tadi siang aku ke kantornya, dia memintaku membantunya menilai barang antik. Tadi, aku hampir saja bisa menidurinya... tapi sayangnya dia ada urusan mendesak," ucap Ares dengan nada lesu. Tante Yuna sedikit terkejut. "Benarkah? walaupun begitu... pasti kamu sudah berhasil dong mendapatkan beberapa keuntungan darinya?" tanya Tante Yuna ingin tahu. Ares menyeringai bangga, lalu dia berkata, "Tentu saja, aku sudah mencicipi tubuh bagian atasnya!" "Aku gak nyangka ~ dia akan semudah itu di taklukkan olehmu," ucap Tante Yuna dengan nada takjub. Setahu dia, temannya itu sulit di taklukkan pria. Setelah dia jadi janda,
Tante Yuna menatap Ares dengan tatapan panas. Senyuman genit itu terlukis jelas di bibir seksinya. "Mau langsung... apa mau di kulum dulu?" tanya Tante Yuna dengan nada menggoda. "Terserah mertua saja," balas Ares sambil memeluk wanita itu, sehingga batangnya bergesekan langsung dengan apem wanita itu. "Langsung aja yah! kalau kelamaan, takutnya... ada yang datang," ucap Tante Yuna menyarankan. "Boleh... gak masalah," Ares langsung setuju. "Tante nungguin yah, aku main dari belakang," lanjutnya dengan nada nakal. Tante Yuna mengangguk setuju. Dia membalikkan tubuhnya, lalu sedikit membungkuk. Tante Yuna menopangkan tangannya di meja untuk menyeimbangkan tubuhnya. "Ayo.. masukin!" udang Tante Yuna dengan penuh godaan. "Oke. Aku masukin yah." Ares memosisikan batangnya di lubang apem wanita itu. Setelah posisinya pas, dia mendorongnya masuk ke dalam sana. "Ahhh... masuk!" Tante Yuna seketika mendesah keras sambil mendongakkan kepalanya saat merasakan benda besar itu me
Ares terkekeh pelan. "Hehe, aku bercanda! aku kesini mau kasih Tante sesuatu!" "Apa itu?" tanya Tante Yuna ingin tahu. Ekspresinya menjadi serius. Ares mengepalkan tangannya di hadapan Tante Yuna, saat tangannya di buka kembali, terlihat sebuah cincin dan gelang tergeletak di telapak tangannya. Mata Tante Yuna membelalak karena kaget. "Ares... cincin dan kalung ini sangat indah! gak kalah indah dari milik Keysha," ucap Tante Yuna. "Hey, ini kalung dan cincin yang sama kayak milik Keysha, hanya saja... desainnya aku ubah sedikit," balas Ares dengan santai. "Jadi... kalung dan cincin yang Keysha pakai, pemberian kamu?" "Iya. Itu pemberianku! cincin dan kalung ini bukan barang biasa... cincin ini sebuah cincin penyimpanan dan kalung ini sebuah kalung perlindungan!" ucap Ares menjelaskan. Mendengar itu, Tante Yuna sangat terkejut dan ragu. "Ares... bukannya... cincin menyimpan sudah langka, kenapa kamu me
Ares mengeluarkan beberapa bahan langka yang akan digunakan untuk membuat kalung dan cincin penyimpanan. Potongan logam spiritual dan batu inti kecil tersusun rapi di hadapannya. Pertama, Ares membuat cincin penyimpanan terlebih dahulu. Semua bahan yang di butuhkan dia panaskan dengan api miliknya. Saat bahan tersebut sudah menyatu dan menggumpal menjadi cairan kental, Ares membentuknya menjadi bentuk cincin yang sangat indah. Setelah cincin terbentuk, Ares memberikan menerapkan beberapa susunan formasi di cincin tersebut. Tak lama kemudian, cincin tersebut telah selesai di jadikan cincin penyimpanan. Ares lanjut meleleh bahan untuk membuat kerangka kalung. Beberapa rapa menit kemudian, sebuah kalung indah selesai di buat oleh Ares. Ares meletakkan kalung tersebut, lalu dia mengambil sebuah batu berwarna biru gelap seukuran telapak tangan. Batu tersebut merupakan batu giok yang sangat langka. Ares ingin menggunakan batu tersebut untuk di jadik
Ares menatap Meli dan Sisil, lalu menjelaskan. "Kalau pakai cara biasa, akan membuang sia-sia bakatnya. Desi memiliki hal pendukung kultivasi yang sangat baik, bisa di bilang, sangat mirip dengan kalian berdua," Meli dan Sisil mengangguk paham. "Aku gak nyangka, ternyata Saudari Desi calon jenius," ucap Meli dengan antusias. "Iya... perkembangannya mungkin akan sangat cepat," tambah Sisil. "Kalau dia di bimbing sedari dulu, mungkin sekarang, dia sudah setara kalian," ucap Ares dengan santai. Meli dan Sisil mengangguk setuju. "Sangat banyak orang jenius, tapi sayangnya terpendam di kehidupan fana," ucap Meli dengan nada prihatin. Ucapan wanita itu di beri anggukan setuju oleh Ares dan Meli. === Beberapa menit kemudian, Desi membuka matanya. Dia telah selesai berkultivasi awal dan menyerap semua pengetahuan kultivasi yang di berikan oleh Ares. Desi bangkit berdiri, lalu menghampiri Ares dan langsung memeluk pria itu. Ekspresi wajahnya tampak sangat gembira. "Tuan muda, aku
Rian tertawa jijik."Haha, kau hanya berbicara omong kosong, bilang saja jika kau iri," Semua orang menatap Ares dengan tatapan penuh cemoohan. Mereka tentu saja tidak percaya dengan ucapan Ares.Bahkan Anne dan Tante Yuna menatap Ares dengan tatapan heran."Jika tidak percaya, buka saja bagian be
Beberapa menit kemudian, mereka keluar dari kamar sudah dalam keadaan rapi. "Mau sarapan di vila, atau di luar?" tanya Ares. "Di luar saja, sekalian kita berangkat ke pameran batu giok. Tante juga mau ketemuan dengan teman tante, dan kebetulan nanti saja di restoran," balas Tante Yuna. "Oke, t
Ares dan Nyonya Yuna masuk ke jalan masuk khusus, untuk yang ingin menggunakan jet pribadi. "Ares, kenapa jalannya berbeda? tidak seperti biasanya," tanya Nyonya Yuna, yang belum mengetahui hal tersebut. "Ini jalan untuk pengguna Jet Pribadi, jadi berbeda tante," balas Ares, sambil tersenyum. "J
Erfan dan para wanita itu, sampai di restoran yang cukup mewah. Lokasi restoran tersebut tidak terlalu jauh dari perusahaan Keysha.Kedatangan mobil sport edisi terbatas, tentu saja menjadi pusat perhatian pengunjung restoran. "Mobilmu, sangat mencolok," ucap Keysha, sambil memutar bola matanya de







