LOGINTandu itu memiliki atribut khusus di setiap sudutnya, hingga bagi siapa saja yang melihatnya akan tahu dengan jelas bahwa itu bukan milik sembarang orang.
Di sudut ruangan yang lain, sepasang mata membuka samar-samar. Dapat ia lihat atap langit yang tak sama dari kayu usang di rumah tua miliknya. Harum ruangan beraroma lavender menggelitik indra penciuman. Dengan setengah badan berbalut selimut, ia mendesah lirih meregangkan tubuhnya. "Mmhh..di mana?" Tubuhnya terbenam di atas kasur busa tebal. Pandangannya beralih, di sampingnya terdapat laci meja yang terbuat dari kayu solid mengkilap. Ia mendongak. Di atas sana telah hinggap lampu besar. Ia mengusap kedua matanya. Tenggorokannya masih gersang. Sunyi melanda. Kedua matanya terbuka-tutup beberapa kali sampai akhirnya tersadar dengan sebuah sentakan. "Gasp! Ibu?—" Teriaknya tak cukup lantang. Batuk menderai bak pecahan kaca. Kedua pundaknya bergetar sampai seorang wanita dengan tunik hitam putih mendekat menundukkan kepala. Tangannya bergetar menyodorkan segelas air. "Pangeran, silahkan." ucap wanita muda itu. Tubuhnya merendah dengan mata ke bawah bagai enggan atas keberadaan seseorang. Pangeran? Apa dia baru saja menyebutku dengan panggilan itu? —ujar Cassian dalam batinnya. Ia menyeka kedua bibir dengan sapuan. Diraihnya segelas air putih dari sang pelayan untuk diteguk sebagai pengobat dahaga. Sepertinya aku berhasil masuk ke istana lebih cepat dari rencana. Padahal niatku adalah mendekati Marquis Lucien terlebih dahulu. Jemari Cassian meletakkan balik gelas itu di atas sebuah nampan. Wanita itu menaikkan bibirnya tipis. "Dimana ibuku?" Cassian bertanya dengan dahak lirih, suaranya parau. "Nona Cassandra sedang menghadap kaisar." Ibu? Menghadap kaisar?! Tidak! Aku harus segera kesana. Pemuda itu beranjak dari tempat tidurnya. Langkah pertamanya masih terhuyung, namun setelah beberapa pijakan, ia cukup mampu berlari melesat keluar ruangan. Tujuannya jelas, untuk melihat apa yang ibunya dan kaisar bicarakan. Beberapa menit berlalu, sampailah ia di depan pintu megah dengan tinggi 5 meter yang tersusun dari dua pasang penutup. Dua orang penjaga dengan baju besi berdiri tegak dengan persenjataannya. Cassian mencengkeram dadanya melaju tanpa rencana, sampai dua tombak menahan tubuhnya. "Tidak bisa masuk tanpa perintah kaisar!" cetus dua penjaga itu lantang. Cassian berdecak, masih dengan tunik lusuh yang penuh luka. Ia berdiri dengan pandangan yang tajam. "Aku adalah putra kaisar!" cetusnya percaya diri. Tiba-tiba suara hak sepatu bergema menelusuri lantai berbalut bludru merah itu. Berhasil meraup dominasi atas keheningan ruangan. "Kampungan sekali!" cetusnya melengking. "Yah...tidak terlalu mengejutkan, anak dari seorang pelayan sepertimu pastilah belum tahu aturan dan sopan santun." ujar seorang gadis muda berparas menawan. Rambutnya panjang bergelombang dengan warna merah gelap. Riasan tebal pada wajahnya dipadu gaun bangsawan terbuat dari beludru hitam menambahkan aura kuat nan mencekam. Wanita itu sudah tak asing lagi bagi Cassian di kehidupan sebelumnya. Ruby Rynete Magnus, putri kaisar dengan Selir pertamanya, Rosaline. Mata Cassian menyipit. Ruby? Kenapa dia ada di sini? Hanya sekadar lewat? Di kehidupan sebelumnya aku yakin dia yang paling sering digosipkan acuh terhadap kaisar, bahkan jika itu hanya berbincang-bincang. Cassian menggeleng, kembali memandang pintu besar yang masih disegel penjaga. Tak berniat beradu mulut dengan Ruby untuk saat ini. Karena apa yang terpenting adalah ibunya, Cassandra. "Buka!" ketusnya sekuat tenaga. "Tidak ada perintah kaisar, tidak bisa masuk!" kedua penjaga itu masihlah melemparkan kalimat yang sama. Ruby mengepakkan kipasnya, tawanya melolong bagai cemooh. Kakinya melaju melewati Cassian dengan satu ucapan terakhir. "Konyol." Ucapan itu berhasil membuat Cassian mendengus. Matanya lancip memandang Ruby yang telah menapak jauh. Tak berselang lama, seorang pria dengan pakaian bangsawan berwarna putih berukir embordir keluar dari pintu besar itu, langkahnya sunyi namun terasa berat. "Pangeran, kaisar telah memanggil anda." ucap pria itu dengan senyum dingin, yang tidak lain adalah sang administrator Kekaisaran. Marquis Lucien Devereuq. DREEEETTTTT Derit pintu berbunyi lantang, cahaya dari lampu kristal di ruangan itu telah berhasil menusuk kedua pupil hitam Cassian. "Silau." lirihnya dengan gigi yang meringis. Sosok yang ada di hadapannya saat ini adalah kaisar, alisnya tebal dengan garis naik. Bentuk wajah yang maskulin juga rupawan. Kumis dan jenggot tak melekat sama sekali pada wajahnya. Ayah sungguh tidak seperti yang ada dalam bayanganku selama ini. Di kehidupan sebelumnya, aku belum pernah bertemu kaisar. Ia dikabarkan sakit-sakitan dan tidak boleh meninggalkan kamarnya. Sedang, prosedur kepememimpinan dilakukan lewat permaisuri. Di ruangan itu telah tampak sosok yang Cassian cari. "Saya memberi hormat kepada matahari kekaisaran." Cassian menunduk dengan badan tegak. Suaranya lemah nan serak. Namun mata itu masih mengamati wanita yang berdiri tak jauh dari tempat ia berpijak. Ibunya, Cassandra."Saya yakin kalian punya rencana atau setidaknya sedang memantau situasi. Ibu saya selalu mengatakan bahwa saya orang yang cukup pintar. Jadi saya tahu untuk bersikap biasa." Gadis itu menjelaskan, membantu anak lain untuk berjalan. "Nin, obati mereka." Valerius berujar dan Nin segera datang dengan pil yang sama yang ia gunakan untuk menolong yang lain. Daphone memindahkan gelombang air itu di hadapan setiap orang yang akan memakan obat-obatan sehingga ketika mereka membuka mulut air-air itu akan masuk dengan perlahan-lahan seperti layaknya minum air putih."Terimakasih ketua, maafkan saya karena sebelumnya sempat mencurigai anda." kata gadis itu dengan alis yang turun. Daphone mengangguk lalu menggerakkan jarinya membentuk segel komunikasi."Semuanya, masuk ke ruangan terlarang!" hanya dalam beberapa menit saja dan semua anggota organisasi telah berkumpul. Mulai dari pengguna benih roh tingkat lima hingga tingkat tujuh. Dengan jubah resmi organisasi, mereka tampak istimewa dan la
Kunci besi telah ditemukan, nyaring berbunyi di antara mulut Vanressan ketika ia membawanya kepada Nin. Sedangkan dari samping, Valerius segera melangkah ke sisi Daphone yang tergeletak di dinding dengan sekujur tubuh yang kaku, urat-uratnya timbul karena racun."Cough-kalian hampir melupakan aku." Suara dahak keluar dan mata pria itu layu. Valerius menoleh ke arah Nin."Tabib agung, tolong obati dia." cetusnya sebagai perintah, Nin yang tanggap segera pergi setelah menerima kunci dari Vanressan. Ia memindahkan kunci itu ke telapak tangan Valerius kemudian melakukan tugasnya. Kantung berwarna merah muda dengan corak bunga indah keluar dari sutra Nin, ia memasukkan jemarinya membawa tiga pil berwarna putih. Tangannya pelan memasukkan benda-benda itu ke sela bibir Daphone. Untuk sesaat Daphone menggenggam pergelangan tangan Nin seakan ia menolak bantuannya, namun tenaganya tak lagi penuh, sedikit dorongan dan obat-obatan itu telah masuk ke dalam tenggorokannya."Apa anda punya sisa
Vanressan berdecak, siapa lagi yang bisa memerintah Dewa dengan semaunya jika itu bukan putra angkatnya sendiri."Lemparkan aku dengan kuat ke leher pria itu." Vanressan mendesis lirih, Nin tersenyum tipis mendapati persetujuan Van dan menatap Valerius seraya mengangguk. Dari sana Daphone dan Lavetan masih berdiri memandangi satu sama lain dengan ketidakcocokan."Kau memang layak menjadi pengguna benih roh tingkat tujuh, ketua." cetus Lavetan mengangkat kedua lengannya dengan bebas."Tapi aku belum mengeluarkan senjata terakhir yang kumiliki. Aku ingin lihat apa nyawamu masih utuh setelah menerimanya." Lavetan menaikkan bibirnya miring, belati yang ia genggam dengan tangan kanan itu naik ke atas kemudian turun menyayat telapak tangannya, darah meluncur tipis, meksipun niatnya bernyali namun giginya meringis menahan rasa perih. Tidak ada yang tahu langkah Lavetan selanjutnya, oleh karena itu semua orang sudah mempersiapkan diri dengan waspada. Lavetan menyapu darah dengan dua jarinya
"Aku memanggapmu sebagai rekan kerja yang dapat diandalkan selama ini! Kau sungguh mengecewakan!" tubuh Daphone bergetar hebat sampai perlahan-lahan ia mendesah dan tangannya kembali ke samping, sia-sia saja jika ia harus berkelut dengan emosi yang hanya akan membuang waktunya."Lalu teh yang kau berikan?! Apa itu untuk menjebakku dalam halusinasi?!" Pertanyaan itu membuat Lavetan menyimpan kembali seringainya dan matanya tamapk gelap."Semuanya sudah sempurna! Hanya tinggal beberapa hari lagi dan anak-anak itu akan jadi bahan yang sempurna untuk membangkitkan pemimpin kultus! Tapi, semuanya sia-sia hanya karena teh!" Lavetan mengigit giginya dan kerutan dahinya menampilkan ketidakpuasan yang nyata. "Lupakan saja. Aku bisa membunuh semua anggota organisasi Dewa pelindung dan menjadikan kalian bahan pengganti! Hahahahah! Kegelapan akan mendominasi cahaya!" pekikan Lavetan membuat ruangan itu tenggelam dalam kengerian. Valerius hendak melangkah dan membantu Daphone tetapi Nin menyentu
"Lukisan apa itu?" tanya Valerius, matanya merayapi tembok di hadapannya."Aku tidak bisa mengatakannya sebelum segalanya pasti." Daphone bersikeras dan tak ada paksaan lebih dari Valerius. Tangannya datang dan dengan waspada, ia meletakkannya di batu berbentuk persegi itu. Dorongan yang tak begitu kuat lalu dari arah depan suara gemuruh datang.ZRRTTTSemua orang terkejut melihat tembok itu dapat terbuka, tidak ada yang menyangka ruang rahasia berada di tempat yang dilarang untuk dimasuki. Daphone bergegas ke ruangan itu terlebih dahulu dan ternyata di hadapannya area ya cukup luas telah terpampang dengan banyak jeruji-jeruji besi dan obor yang menempel pada temboknya. Ia memandang lebih dekat kemudian terbelalak. Langkahnya mundur beberapa jengkal dan ia bergumam dengan dirinya sendiri."Tidak mungkin...ini... bukanlah organisasi Dewa pelindung. Semua ini.... bukanlah organisasi yang Tuan Yivon ciptakan! Siapa yang merencanakan ini semua!" Daphone histeris dalam kepala yang berp
Nin mengumpulkan kedua tangannya dan berdoa lebih khusyuk, kekuatan intinya adalah keberuntungan dari alam semesta, dimana hukum timbal balik akan datang beserta jiwa yang murni. Semakin suci pikiran, semakin doanya akan lekas dikabulkan. Setelah beberapa waktu ia membuka matanya dan perlahan-lahan serbuk-serbuk cahaya keluar dari tubuhnya melesat ke salah satu pintu seakan sebuah pemandu arah. Valerius dengan cepat segera pergi mengikuti cahaya itu seakan sudah tahu bahwa itu adalah kekuatan Nin, sedangkan dari sisi satunya, Daphone berdiri dengan bingung dan bertanya-tanya kemana sang kaisar akan pergi.Tanpa pikir panjang, ia mengikuti dari belakang, diikuti Nin yang tengah kembali membuka matanya.Mereka berjalan terus setelah melalui beberapa ruangan dan lorong hingga sampailah pada sebuah pintu yang digembok dengan beberapa rantai tua. Daphone melangkah terlebih dahulu seraya menatap Valerius."Tunggu, kita tidak bisa pergi. Ini adalah ruangan yang tidak boleh dimasuki oleh s







