Beranda / Fantasi / Anak Haram Sang Kaisar / Bab 4 : Aku Kembali [Bagian 4]

Share

Bab 4 : Aku Kembali [Bagian 4]

Penulis: Bakpaokukus
last update Terakhir Diperbarui: 2025-10-06 20:36:52

Yang ibu katakan menggores secarik harapan yang kumiliki.

Pandanganku pudar bersama tandu kereta kuda yang melanjutkan tapaknya di jalan.

Sore berganti menjadi malam, aku dan ibu menikmati hidangan sederhana di atas meja makan yang terbuat dari kayu lapuk. Alas makanan pun jauh dari kemewahan. Tengkuk belakangku bergidik.

Perutku naik ke atas bagai ada batu yang bergerak.

SRAAAKK.

Tak sampai satu sentimeter sebuah pedang menancap dengan laju bak kilat hampir menusuk kepalaku hingga mendarat tepat di meja makan.

"Cassian!" ibu menjerit.

Bayangan melesat dari udara menampilkan beberapa orang berkostum hitam bergerak lincah mengepung kami.

Sentak napasku mengerling pada suara lugas di antara mereka.

"Seharusnya kalian hidup seperti tikus!" satu sapuan tanganku menggait teko berisi air mendidih, menyiram kepala mereka dengan lingkup memutar.

"AKHHHH!" jeritan para pembunuh menggema, rasa panas menghantam dan membakar tubuh mereka.

Aku menggait tangan ibu kabur lewat pintu belakang, jalan semak-semak yang gelap menuju hutan belakang istana kekaisaran.

Seperti jalan buntu, tapi bertujuan supaya tak ada orang yang tahu.

"Ibu, pergilah ke sana dan minta bantuan!" ucapku dengan keringat yang bercucuran.

Kini tugasku adalah menunggu para pembunuh sebagai umpan.

Ibu tak setuju, ia bertanya.

"Bagaimana denganmu?!" ibu menggait lenganku dengan paksa.

"Aku punya rencana sendiri! Bergegaslah, kita tak punya banyak waktu!"

Jika keberuntungan memihak kami, maka ibu akan menemukan tempat rahasia pasukan elite kekaisaran.

Aku melepas jemari ibu dari secarik kain lusuh yang membalut tubuhku.

Ia memandang dengan mata sendu itu.

Aku mengambil langkah mundur, berlari ke arah yang berlawanan.

Untunglah ibu mendengar permintaanku dengan baik.

Ia melaju ke arah yang sudah ku tunjukkan.

SRAKKKK.

Pembunuh itu menebas pepohonan, berhasil mengejar.

Aku berlari sekuat tenaga masuk ke dalam gang sempit semak belukar, lalu terhenti di sebuah bangunan tua yang tak jauh dari rimpun pepohonan.

"Kemana bocah itu pergi!"

Mereka sebelumnya berjumlah lima orang, namun kini hanya sisa empat.

Di mana satu yang lain?

Aku menilik, degup jantungku menendang dahsyat.

Napasku hampir keluar dengan sentakan. Kesunyian menyelimuti, namun justru jantungku semakin menggebu-gebu karena situasi ini.

Aku memindah tubuhku lirih berniat berbalik arah untuk bersembunyi di tempat lain, namun tiba-tiba suara napasku keluar dengan kejut lantang.

GASP!

Sosok bayangan hitam ada di belakangku memandang dengan tatapan runcing meraup leherku dengan mudah dalam genggamannya.

"Ketemu kau tikus!"

Tubuhku menggantung di udara, kakiku menendang-nendang kehampaan tanpa suara.

Jeritan sunyi melolong, air asin yang menetes di ujung mata.

Jemari pembunuh itu menekan erat hingga titik rawan.

Kedua tanganku memukul-mukul dengan ketidakberdayaan.

"Tidak kusangka menangkap tikus seperti dia merepotkan." ucapnya dengan cengkeraman tangan semakin bertenaga.

"Jangan buang waktu! Cepat habis dia, lalu kita cari wanita itu." ujar salah seorang dari mereka bersiap menarik sarung pedangnya.

"KEUGHH! CUIHHH!

Ludahku melesat tepat di atas pipi pria itu. Aku menyeringai, lengannya menegang, lalu dengan penuh kekuatan dia menghempas tubuhku hingga menghantam dinding kayu.

BRUAAKKK.

"KEUKKG! COUGH!"

Dinding itu terpecah belah dengan retakan kayu yang tajam, setelah mendarat dengan dentuman keras, tubuhku tersungkur ke lantai bawah.

Kepalaku berputar, napasku tertahan dengan kucuran darah dari ujung bibir.

Pelipis pria itu berurat, rahangnya mengatup kuat.

Dengan satu gerakan, sebuah pedang terhunus keluar.

Pria itu meledak bersiap dengan tikaman tajam.

Bilahnya telah dekat dengan leherku, tiba-tiba—

KLANGG!

Lesatan pedang dari arah tak teduga menepis pedang itu hingga terlempar jauh.

"Lindungi pangeran dan tangkap para pembunuh!" lantang suara salah seorang diikuti gemuruh langkah berat.

Pasukan kerajaan? lirihku dengan mata yang perlahan terbenam.

***

"Cassian!" suara lembut penuh kasih mendarat dengan isak tangis lirih.

Casandra tersungkur di samping putranya yang terbaring bergelimang noda merah penuh goresan.

Wanita itu berhasil melacak keberadaan Cassian dengan kemampuan para anggota pasukan elite kekaisaran yang ia temui berdasarkan arahan.

Dengaan kekuatan yang sama pula, para pembunuh itu telah diberantas habis tanpa jejak.

Kini ibu dan anak itu diangkut kembali menuju tempat yang seharusnya.

***

Malam hari : Istana kekaisaran

Gerbang kekaisaran telah dibuka, sebuah akses yang selama ini menjadi tanda perbatasan antara Istana dan daerah luar.

Terbuat dari besi berlapis seng berukuran lebar × tinggi yaitu 20 × 30 meter dengan bentuk persegi panjang.

Pada permukaan besi terdapat benjolan-benjolan besi kecil sebagai dekorasi juga penguat keamanan.

Lampu-lampu yang berderet pada posisi masing-masing telah bersinar menyinari siapapun yang hendak lewat.

Bersama suara pekikan kuda yang datang, seorang penjaga menggema dengan lantang.

"YANG MULIA KAISAR TELAH TIBA!"

Tandu kereta kuda megah berlapis perak melangkah masuk dengan gemuruh, ukurannya besar, lebih daripada kepunyaan bangsawan biasa.

Sebuah tirai beludru berwarna merah tua tersingkap.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Anak Haram Sang Kaisar    Bab 166 : Kurungan (Part 3)

    "Saya yakin kalian punya rencana atau setidaknya sedang memantau situasi. Ibu saya selalu mengatakan bahwa saya orang yang cukup pintar. Jadi saya tahu untuk bersikap biasa." Gadis itu menjelaskan, membantu anak lain untuk berjalan. "Nin, obati mereka." Valerius berujar dan Nin segera datang dengan pil yang sama yang ia gunakan untuk menolong yang lain. Daphone memindahkan gelombang air itu di hadapan setiap orang yang akan memakan obat-obatan sehingga ketika mereka membuka mulut air-air itu akan masuk dengan perlahan-lahan seperti layaknya minum air putih."Terimakasih ketua, maafkan saya karena sebelumnya sempat mencurigai anda." kata gadis itu dengan alis yang turun. Daphone mengangguk lalu menggerakkan jarinya membentuk segel komunikasi."Semuanya, masuk ke ruangan terlarang!" hanya dalam beberapa menit saja dan semua anggota organisasi telah berkumpul. Mulai dari pengguna benih roh tingkat lima hingga tingkat tujuh. Dengan jubah resmi organisasi, mereka tampak istimewa dan la

  • Anak Haram Sang Kaisar    Bab 165 : Kurungan (Part 2)

    Kunci besi telah ditemukan, nyaring berbunyi di antara mulut Vanressan ketika ia membawanya kepada Nin. Sedangkan dari samping, Valerius segera melangkah ke sisi Daphone yang tergeletak di dinding dengan sekujur tubuh yang kaku, urat-uratnya timbul karena racun."Cough-kalian hampir melupakan aku." Suara dahak keluar dan mata pria itu layu. Valerius menoleh ke arah Nin."Tabib agung, tolong obati dia." cetusnya sebagai perintah, Nin yang tanggap segera pergi setelah menerima kunci dari Vanressan. Ia memindahkan kunci itu ke telapak tangan Valerius kemudian melakukan tugasnya. Kantung berwarna merah muda dengan corak bunga indah keluar dari sutra Nin, ia memasukkan jemarinya membawa tiga pil berwarna putih. Tangannya pelan memasukkan benda-benda itu ke sela bibir Daphone. Untuk sesaat Daphone menggenggam pergelangan tangan Nin seakan ia menolak bantuannya, namun tenaganya tak lagi penuh, sedikit dorongan dan obat-obatan itu telah masuk ke dalam tenggorokannya."Apa anda punya sisa

  • Anak Haram Sang Kaisar    Bab 164 : Kurungan (Part 1)

    Vanressan berdecak, siapa lagi yang bisa memerintah Dewa dengan semaunya jika itu bukan putra angkatnya sendiri."Lemparkan aku dengan kuat ke leher pria itu." Vanressan mendesis lirih, Nin tersenyum tipis mendapati persetujuan Van dan menatap Valerius seraya mengangguk. Dari sana Daphone dan Lavetan masih berdiri memandangi satu sama lain dengan ketidakcocokan."Kau memang layak menjadi pengguna benih roh tingkat tujuh, ketua." cetus Lavetan mengangkat kedua lengannya dengan bebas."Tapi aku belum mengeluarkan senjata terakhir yang kumiliki. Aku ingin lihat apa nyawamu masih utuh setelah menerimanya." Lavetan menaikkan bibirnya miring, belati yang ia genggam dengan tangan kanan itu naik ke atas kemudian turun menyayat telapak tangannya, darah meluncur tipis, meksipun niatnya bernyali namun giginya meringis menahan rasa perih. Tidak ada yang tahu langkah Lavetan selanjutnya, oleh karena itu semua orang sudah mempersiapkan diri dengan waspada. Lavetan menyapu darah dengan dua jarinya

  • Anak Haram Sang Kaisar    Bab 163 : Ruang Rahasia (Part 3)

    "Aku memanggapmu sebagai rekan kerja yang dapat diandalkan selama ini! Kau sungguh mengecewakan!" tubuh Daphone bergetar hebat sampai perlahan-lahan ia mendesah dan tangannya kembali ke samping, sia-sia saja jika ia harus berkelut dengan emosi yang hanya akan membuang waktunya."Lalu teh yang kau berikan?! Apa itu untuk menjebakku dalam halusinasi?!" Pertanyaan itu membuat Lavetan menyimpan kembali seringainya dan matanya tamapk gelap."Semuanya sudah sempurna! Hanya tinggal beberapa hari lagi dan anak-anak itu akan jadi bahan yang sempurna untuk membangkitkan pemimpin kultus! Tapi, semuanya sia-sia hanya karena teh!" Lavetan mengigit giginya dan kerutan dahinya menampilkan ketidakpuasan yang nyata. "Lupakan saja. Aku bisa membunuh semua anggota organisasi Dewa pelindung dan menjadikan kalian bahan pengganti! Hahahahah! Kegelapan akan mendominasi cahaya!" pekikan Lavetan membuat ruangan itu tenggelam dalam kengerian. Valerius hendak melangkah dan membantu Daphone tetapi Nin menyentu

  • Anak Haram Sang Kaisar    Bab 162 : Ruang Rahasia (Part 2)

    "Lukisan apa itu?" tanya Valerius, matanya merayapi tembok di hadapannya."Aku tidak bisa mengatakannya sebelum segalanya pasti." Daphone bersikeras dan tak ada paksaan lebih dari Valerius. Tangannya datang dan dengan waspada, ia meletakkannya di batu berbentuk persegi itu. Dorongan yang tak begitu kuat lalu dari arah depan suara gemuruh datang.ZRRTTTSemua orang terkejut melihat tembok itu dapat terbuka, tidak ada yang menyangka ruang rahasia berada di tempat yang dilarang untuk dimasuki. Daphone bergegas ke ruangan itu terlebih dahulu dan ternyata di hadapannya area ya cukup luas telah terpampang dengan banyak jeruji-jeruji besi dan obor yang menempel pada temboknya. Ia memandang lebih dekat kemudian terbelalak. Langkahnya mundur beberapa jengkal dan ia bergumam dengan dirinya sendiri."Tidak mungkin...ini... bukanlah organisasi Dewa pelindung. Semua ini.... bukanlah organisasi yang Tuan Yivon ciptakan! Siapa yang merencanakan ini semua!" Daphone histeris dalam kepala yang berp

  • Anak Haram Sang Kaisar    Bab 161 : Ruang Rahasia (Part 1)

    Nin mengumpulkan kedua tangannya dan berdoa lebih khusyuk, kekuatan intinya adalah keberuntungan dari alam semesta, dimana hukum timbal balik akan datang beserta jiwa yang murni. Semakin suci pikiran, semakin doanya akan lekas dikabulkan. Setelah beberapa waktu ia membuka matanya dan perlahan-lahan serbuk-serbuk cahaya keluar dari tubuhnya melesat ke salah satu pintu seakan sebuah pemandu arah. Valerius dengan cepat segera pergi mengikuti cahaya itu seakan sudah tahu bahwa itu adalah kekuatan Nin, sedangkan dari sisi satunya, Daphone berdiri dengan bingung dan bertanya-tanya kemana sang kaisar akan pergi.Tanpa pikir panjang, ia mengikuti dari belakang, diikuti Nin yang tengah kembali membuka matanya.Mereka berjalan terus setelah melalui beberapa ruangan dan lorong hingga sampailah pada sebuah pintu yang digembok dengan beberapa rantai tua. Daphone melangkah terlebih dahulu seraya menatap Valerius."Tunggu, kita tidak bisa pergi. Ini adalah ruangan yang tidak boleh dimasuki oleh s

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status