Home / Fantasi / Anak Haram Sang Kaisar / Bab 6 : Istana [Bagian 2]

Share

Bab 6 : Istana [Bagian 2]

Author: Bakpaokukus
last update Last Updated: 2025-10-15 23:59:04

"Angkat kepalamu." ungkapan kaisar terdengar berat, setiap kata yang keluar menyatakan keyakinan dan tujuan yang jelas tanpa memberikan ruang bantahan.

Apa aku sekarang gemetar?

Cassian mengepalkan tangan, menaikkan pandangannya tepat ke arah kaisar.

Figur itu tampak gagah, berdiri tanpa ragu.

"Cassian, benar?" tanya pria paruh baya itu, seakan memberi komando pada sebuah perang.

"Ya, yang mulia." jawab Cassian dengan tangan menggantung di udara.

"Cassandra. Kamu sepertinya tidak becus mengurus seorang anak." bibir tipisnya berujar, matanya lancip memandang.

Cassandra menumpukan kedua tangan dan berlutut dengan gemetar.

Dari sana, Cassian mengerling kaisar dengan tajam, melangkah memperisai ibunya.

"Cassian!"

Cassandra memanggil putranya dengan isak tangis, ekhawatiran dan takut akan menyinggung sosok di hadapan mereka.

"Jangan bicara seenaknya pada ibuku!" cetus Cassian, rahangnya mengatup kuat.

Kaisar menyipitkan matanya.

Ia mengamati pemuda itu dari atas hingga bawah seakan memindai sebuah objek.

"Lucien. Jelaskan apa yang terjadi."

Kaisar melanjutkan.

Lucien memberikan hormat kepada kaisar dan berdehem.

"Baik, yang mulia."

"Jadi...singkatnya, anak laki-laki ini adalah putra anda dengan mantan pelayan pribadi anda Cassandra. Cassian Leonce Magnus" usai Lucien menjelaskan, tubuhnya kembali rileks.

"Magnus?" sela Kaisar dengan ketus.

"Bukankah anda sudah mengijinkan Cassian untuk memasuki istana?" tanya Lucien memastikan.

Tak menanggapi lebih lanjut.

Ia melangkah dengan berat membenamkan dirinya di kursi kerjanya.

"Aku hanya akan mengatakannya sekali." hening mendera ruangan itu.

Tak satupun berani bersuara bahkan seekor lalat sekalipun.

"Kau seorang anak haram dan itu fakta."

"Dulunya Ibumu Cassandra adalah pelayan pribadiku, kesalahanku waktu itu karena tak cukup dewasa."

"Darah memang tetaplah darah dan siapapun tak bisa menyangkal."

"Tapi istana ini bukanlah tempat bermain. kekaisaran punya aturan sendiri, tak akan ada pengecualian atau perlakuan khusus." ia masih melanjutkan.

"Kehadiranmu sendiri adalah kekacauan...banyak pihak akan keberatan atas keputusan yang kubuat."

"Ingatlah satu hal, bahwa ketidakbergunaan manusia adalah dosa. Kau boleh menyandang nama Magnus. Tapi..." pria itu terdiam sejenak.

Sorot matanya berubah.

"Hidup dan mati, kau tanggung sendiri. Kau bisa menjadi pengeran dan ibumu akan kuangkat sebagai selir, titahku adalah mutlak di istana tempatmu berpijak."

Cassandra membungkam kedua bibirnya dengan tangan berkulit putih itu, harunya tampak.

Meneteskan secercah kebahagiaan.

Cassian terdiam, memejamkan kedua matanya kemudian melihat kaisar dengan kepalanya yang terangkat.

Bahkan sekalipun aku berhasil memasuki istana.

Pada akhirnya, tak ada seorangpun yang akan menjamin keselamatanku dan Ibu.

Termasuk kaisar sendiri.

Pandangan Cassian menjadi kosong.

Ia menerawang ke arah jendela, namun pikirannya telah berlabuh lebih jauh.

***

Pagi hari : Hari berikutnya

Semerbak bunga mawar menjangkau di antara sela jalan berpagar tanaman.

Di salah satu area yang masih dalam cakupan istana, berderet pohon hijau subur dengan aroma segar khas embun pagi. Cassian melangkah bersama Casandra.

Jalan setapak itu terbuat dari batu paving yang ditanam rapi berhiaskan bunga mawar putih di pinggirannya.

Baju lusuh telah berganti.

Sunyi datang, bibir Casandra bersela.

"Cassian...maafkan ibu." lirih wanita dengan gaun putih itu.

Langkahnya terkunci di tengah jalan dengan mata sayu.

Ia memandang Cassian.

Sesuatu ingin keluar, namun belum tersampaikan.

Cassian menoleh ke wanita itu, menggelengkan kepalanya.

Bibirnya melekuk ke atas.

Pandangannya melaju ke depan.

"Itu sudah berlalu Bu, kita akan tinggal di sini mulai sekarang." ucapnya dengan tenang, ia menilik tangan yang bergantung saling menggenggam.

Tawa samar-samar keluar bersama gema langkah yang melesat kembali.

Dua orang wanita dengan tunik hitam putih telah menghadang.

Satu memandu Pemuda berambut hitam itu.

Satu lagi membawa ibunya.

Tujuan mereka adalah istana khusus.

Istana kekaisaran adalah wilayah yang terbentang dengan luas 288 Hektar berisi segala bangunan di atasnya.

Denahnya telah membagi area itu dalam beberapa arsitektur, di antaranya :

Empat istana utama, bangunan besar perpustakaan , satu area lapangan luas sebagai latihan berpedang, aula halaman utama, area kompetisi, gudang persenjataan, asrama para prajurit, area perkumpulan umum, paviliun tamu dan masih banyak lagi.

Cakupan dari empat istana utama adalah istana kaisar dengan sebutan istana Matahari.

Istana permaisuri atau disebut juga istana Bulan.

Istana para pangeran dan putri yang dinamai istana Bintang.

Sedangkan istana para selir disebut istana Langit.

Sementara Cassandra telah menuju istana Langit, Cassian telah melalui jalan setapak cukup lama hingga akhirnya melangkah pada gerbang tanpa penutup.

Dua orang penjaga merendahkan kepalanya.

Cassian mengangguk, namun perjalanan belum usai.

Ia melaju hingga terhenti pada deretan cahaya berbentuk oval.

"Ini... adalah sihir?" ujarnya dengan pandangan berkeliling.

Dalam ingatannya, benda-benda ini tak pernah ada, apakah ada alasan tertentu dari kemunculannya?

"Yang mulia, ini adalah arsitektur yang kaisar buat sendiri untuk para pangeran dan putri. Mereka akan mendapatkan satu Paviliun pribadi dengan tempat yang saling berjauhan." ucap pelayan itu mempersilahkan.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Anak Haram Sang Kaisar    Bab 166 : Kurungan (Part 3)

    "Saya yakin kalian punya rencana atau setidaknya sedang memantau situasi. Ibu saya selalu mengatakan bahwa saya orang yang cukup pintar. Jadi saya tahu untuk bersikap biasa." Gadis itu menjelaskan, membantu anak lain untuk berjalan. "Nin, obati mereka." Valerius berujar dan Nin segera datang dengan pil yang sama yang ia gunakan untuk menolong yang lain. Daphone memindahkan gelombang air itu di hadapan setiap orang yang akan memakan obat-obatan sehingga ketika mereka membuka mulut air-air itu akan masuk dengan perlahan-lahan seperti layaknya minum air putih."Terimakasih ketua, maafkan saya karena sebelumnya sempat mencurigai anda." kata gadis itu dengan alis yang turun. Daphone mengangguk lalu menggerakkan jarinya membentuk segel komunikasi."Semuanya, masuk ke ruangan terlarang!" hanya dalam beberapa menit saja dan semua anggota organisasi telah berkumpul. Mulai dari pengguna benih roh tingkat lima hingga tingkat tujuh. Dengan jubah resmi organisasi, mereka tampak istimewa dan la

  • Anak Haram Sang Kaisar    Bab 165 : Kurungan (Part 2)

    Kunci besi telah ditemukan, nyaring berbunyi di antara mulut Vanressan ketika ia membawanya kepada Nin. Sedangkan dari samping, Valerius segera melangkah ke sisi Daphone yang tergeletak di dinding dengan sekujur tubuh yang kaku, urat-uratnya timbul karena racun."Cough-kalian hampir melupakan aku." Suara dahak keluar dan mata pria itu layu. Valerius menoleh ke arah Nin."Tabib agung, tolong obati dia." cetusnya sebagai perintah, Nin yang tanggap segera pergi setelah menerima kunci dari Vanressan. Ia memindahkan kunci itu ke telapak tangan Valerius kemudian melakukan tugasnya. Kantung berwarna merah muda dengan corak bunga indah keluar dari sutra Nin, ia memasukkan jemarinya membawa tiga pil berwarna putih. Tangannya pelan memasukkan benda-benda itu ke sela bibir Daphone. Untuk sesaat Daphone menggenggam pergelangan tangan Nin seakan ia menolak bantuannya, namun tenaganya tak lagi penuh, sedikit dorongan dan obat-obatan itu telah masuk ke dalam tenggorokannya."Apa anda punya sisa

  • Anak Haram Sang Kaisar    Bab 164 : Kurungan (Part 1)

    Vanressan berdecak, siapa lagi yang bisa memerintah Dewa dengan semaunya jika itu bukan putra angkatnya sendiri."Lemparkan aku dengan kuat ke leher pria itu." Vanressan mendesis lirih, Nin tersenyum tipis mendapati persetujuan Van dan menatap Valerius seraya mengangguk. Dari sana Daphone dan Lavetan masih berdiri memandangi satu sama lain dengan ketidakcocokan."Kau memang layak menjadi pengguna benih roh tingkat tujuh, ketua." cetus Lavetan mengangkat kedua lengannya dengan bebas."Tapi aku belum mengeluarkan senjata terakhir yang kumiliki. Aku ingin lihat apa nyawamu masih utuh setelah menerimanya." Lavetan menaikkan bibirnya miring, belati yang ia genggam dengan tangan kanan itu naik ke atas kemudian turun menyayat telapak tangannya, darah meluncur tipis, meksipun niatnya bernyali namun giginya meringis menahan rasa perih. Tidak ada yang tahu langkah Lavetan selanjutnya, oleh karena itu semua orang sudah mempersiapkan diri dengan waspada. Lavetan menyapu darah dengan dua jarinya

  • Anak Haram Sang Kaisar    Bab 163 : Ruang Rahasia (Part 3)

    "Aku memanggapmu sebagai rekan kerja yang dapat diandalkan selama ini! Kau sungguh mengecewakan!" tubuh Daphone bergetar hebat sampai perlahan-lahan ia mendesah dan tangannya kembali ke samping, sia-sia saja jika ia harus berkelut dengan emosi yang hanya akan membuang waktunya."Lalu teh yang kau berikan?! Apa itu untuk menjebakku dalam halusinasi?!" Pertanyaan itu membuat Lavetan menyimpan kembali seringainya dan matanya tamapk gelap."Semuanya sudah sempurna! Hanya tinggal beberapa hari lagi dan anak-anak itu akan jadi bahan yang sempurna untuk membangkitkan pemimpin kultus! Tapi, semuanya sia-sia hanya karena teh!" Lavetan mengigit giginya dan kerutan dahinya menampilkan ketidakpuasan yang nyata. "Lupakan saja. Aku bisa membunuh semua anggota organisasi Dewa pelindung dan menjadikan kalian bahan pengganti! Hahahahah! Kegelapan akan mendominasi cahaya!" pekikan Lavetan membuat ruangan itu tenggelam dalam kengerian. Valerius hendak melangkah dan membantu Daphone tetapi Nin menyentu

  • Anak Haram Sang Kaisar    Bab 162 : Ruang Rahasia (Part 2)

    "Lukisan apa itu?" tanya Valerius, matanya merayapi tembok di hadapannya."Aku tidak bisa mengatakannya sebelum segalanya pasti." Daphone bersikeras dan tak ada paksaan lebih dari Valerius. Tangannya datang dan dengan waspada, ia meletakkannya di batu berbentuk persegi itu. Dorongan yang tak begitu kuat lalu dari arah depan suara gemuruh datang.ZRRTTTSemua orang terkejut melihat tembok itu dapat terbuka, tidak ada yang menyangka ruang rahasia berada di tempat yang dilarang untuk dimasuki. Daphone bergegas ke ruangan itu terlebih dahulu dan ternyata di hadapannya area ya cukup luas telah terpampang dengan banyak jeruji-jeruji besi dan obor yang menempel pada temboknya. Ia memandang lebih dekat kemudian terbelalak. Langkahnya mundur beberapa jengkal dan ia bergumam dengan dirinya sendiri."Tidak mungkin...ini... bukanlah organisasi Dewa pelindung. Semua ini.... bukanlah organisasi yang Tuan Yivon ciptakan! Siapa yang merencanakan ini semua!" Daphone histeris dalam kepala yang berp

  • Anak Haram Sang Kaisar    Bab 161 : Ruang Rahasia (Part 1)

    Nin mengumpulkan kedua tangannya dan berdoa lebih khusyuk, kekuatan intinya adalah keberuntungan dari alam semesta, dimana hukum timbal balik akan datang beserta jiwa yang murni. Semakin suci pikiran, semakin doanya akan lekas dikabulkan. Setelah beberapa waktu ia membuka matanya dan perlahan-lahan serbuk-serbuk cahaya keluar dari tubuhnya melesat ke salah satu pintu seakan sebuah pemandu arah. Valerius dengan cepat segera pergi mengikuti cahaya itu seakan sudah tahu bahwa itu adalah kekuatan Nin, sedangkan dari sisi satunya, Daphone berdiri dengan bingung dan bertanya-tanya kemana sang kaisar akan pergi.Tanpa pikir panjang, ia mengikuti dari belakang, diikuti Nin yang tengah kembali membuka matanya.Mereka berjalan terus setelah melalui beberapa ruangan dan lorong hingga sampailah pada sebuah pintu yang digembok dengan beberapa rantai tua. Daphone melangkah terlebih dahulu seraya menatap Valerius."Tunggu, kita tidak bisa pergi. Ini adalah ruangan yang tidak boleh dimasuki oleh s

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status