Short
Menjadi Tumbal demi Adikku

Menjadi Tumbal demi Adikku

Por:  WantoCompleto
Idioma: Bahasa_indonesia
goodnovel4goodnovel
9Capítulos
101visualizações
Ler
Adicionar à biblioteca

Compartilhar:  

Denunciar
Visão geral
Catálogo
ESCANEIE O CÓDIGO PARA LER NO APP

Di kota kecil tempat aku tinggal, ada satu aturan lama. Jika sebuah keluarga memiliki anak kembar, salah satunya harus dijadikan tumbal. Dia dikorbankan sebagai sasaran hukuman, agar saudara kembarnya belajar dari kesalahan dan keduanya bisa tumbuh dengan selamat. Aku lahir empat menit lebih dulu daripada adikku. Karena itu, akulah yang ditakdirkan menjadi tumbal. Suatu ketika, adikku diam-diam pergi berenang di sungai. Ibu sama sekali tidak memarahinya. Sebaliknya, dia menekan kepalaku ke dalam air berkali-kali. Baru setelah adikku ketakutan dan menangis sambil berteriak, "Aku nggak akan pergi ke sungai lagi!" Ibu melepaskan tangannya. Suatu hari, adikku lupa menekan tombol setelah memasukkan beras. Ketika Ibu pulang kerja, beras di dalamnya masih mentah. Ibu meletakkan dua mangkuk berisi beras mentah di hadapanku. "Habisin. Nggak boleh ada sisa sebutir pun." Beras mentah itu membuat mulutku berdarah setiap kali kukunyah. Namun, sepanjang waktu, Ibu justru mengamati ekspresi adikku. Baru setelah adikku menangis, dia tampak puas dan mengambil kembali mangkuk itu. Selama enam belas tahun, aku menjadi "tumbal" dalam keluarga ini. Sampai akhirnya, pada tahun itu, peringatan bencana topan dikeluarkan dan seluruh kota kecil kami harus mengungsi semalaman. Namun, adikku baru pulang menjelang dini hari setelah bermain gila-gilaan bersama teman-temannya. Tubuhnya basah kuyup, tetapi dia masih saja cengar-cengir.

Ver mais

Capítulo 1

Bab 1

Ibu memasukkannya ke dalam mobil evakuasi, kemudian menoleh kepadaku dengan nada datar.

"Kamu tetap di sini. Setelah topan berlalu, adikmu pasti akan tahu bahwa lain kali dia harus pulang lebih awal."

Seluruh warga kota kecil itu sudah mengungsi.

Satu demi satu genting beterbangan dari atap rumah, disapu angin yang makin menggila.

Aku dijadikan tumbal penerima hukuman, agar adik jera. Begitulah cara Ibu mendidik kami.

Hanya saja, kali ini si "tumbal" benar-benar akan mati.

Sudah puas sekarang?

….

"Dasar si Susan! Dia pergi ke mana lagi? Topan malam ini sangat dahsyat!"

Ibu mondar-mandir di ruang tengah dengan gelisah.

Di luar jendela, langit sudah gelap gulita. Angin menerbangkan baskom besi dari halaman, membuatnya menggelinding ke mana-mana dan berdentang setiap kali menghantam kaki dinding.

Peringatan dari pengeras suara desa sudah terdengar tiga kali.

[Peringatan bencana. Seluruh warga harus mengungsi. Mobil evakuasi akan tiba di pintu masuk desa dalam dua puluh menit!]

Tiba-tiba, Ibu menoleh kepadaku. Kemarahan tampak jelas di matanya.

"Kamu! Cepat keluar, cari adikmu!"

Aku menoleh ke luar jendela.

Hujan turun begitu deras, seolah seluruh langit sedang menumpahkan air ke bumi.

Pohon-pohon pisang nyaris rebah menyentuh tanah diterjang angin. Kandang ayam di dekat tembok halaman juga sudah terbalik, membuat beberapa ekor ayam berlarian sambil mengepakkan sayap, berusaha mencari perlindungan di bawah atap.

"Bu, tadi adik bilang dia pergi main ke rumah temannya ... Lagi pula, sekarang di luar …."

"Aku nggak peduli dia pergi ke rumah siapa! Sekarang juga cari dia dan bawa pulang! Kalau nggak ketemu, jangan pulang sekalian!"

Ibu tidak memberiku kesempatan untuk menyelesaikan ucapanku.

Tanpa sadar, aku menoleh kepada Ayah yang duduk di sudut ruangan.

Bibirnya bergerak-gerak, seolah ingin mengatakan sesuatu.

"Anginnya memang terlalu kencang. Gimana kalau kita tunggu sebentar saja ...."

"Diam!"

Ibu bahkan tidak menoleh kepadanya. "Kalau Susan sampai kenapa-kenapa, apa kamu mau tanggung jawab?"

Ayah langsung bungkam.

Aku mengenakan sandal yang solnya sudah terlepas. Begitu pintu kubuka, hembusan angin langsung menerjang hingga nyaris membuatku terjungkal.

Aku berpegangan pada dinding dan berjalan tertatih, berusaha menembus genangan air yang sudah setinggi mata kaki.

Aku baru saja hendak berlari menuju rumah teman adikku di ujung barat desa ketika sebuah suara ceria terdengar dari belakang.

"Wah, anginnya kencang! Sejuk banget!"

Aku sontak menoleh.

Adikku berlari keluar dari ujung gang. Rambutnya basah kuyup dan menempel di wajah, tetapi dia justru tersenyum lebar, sama sekali tidak terlihat takut.

Entah sejak kapan, Ibu sudah berlari sampai ke depan pintu.

Dia langsung memeluk adikku, lalu meraba tubuhnya dari kepala hingga kaki untuk memastikan tidak ada bagian yang terluka. Suaranya penuh dengan kasih sayang dan kelegaan.

"Akhirnya kamu pulang juga! Kamu kehujanan? Dingin? Cepat masuk dan ganti baju. Jangan sampai masuk angin."

Aku berdiri di tengah hujan deras, seluruh tubuhku basah kuyup dan menggigil diterpa angin.

Ibu bahkan tidak melirikku sedikit pun.

Tepat saat itu, mobil evakuasi tiba.

Cahaya lampunya menembus tirai hujan, sementara klakson terus berbunyi mendesak.

"Semua warga segera naik! Evakuasi darurat!"

Ibu membungkus tubuh adikku dengan selimut, lalu membawanya masuk ke kursi belakang.

Aku ikut mendekat dan baru saja hendak menaiki pijakan mobil ketika ….

"Kamu mau apa?"

Ibu langsung menghalangi langkahku.

"Kamu tahu sendiri aturannya. Adikmu terlalu asyik main sampai hampir nggak bisa pulang malam ini. Kamu tetap di sini. Biar dia tahu bagaimana rasanya takut."

Aku terpaku di tempat. Di dalam mobil, adikku sudah panik. Dia menempelkan wajah ke jendela sambil berteriak, "Ibu, jangan! Kakak akan celaka kalau ditinggal! Topan di luar ...."

"Sekarang kamu tahu rasanya takut? Waktu pergi main tadi, kenapa nggak takut?!"

Ibu membentaknya. "Kakakmu dihukum gara-gara kamu!"

Adikku langsung menciut. Air matanya mengalir deras.

Seorang warga yang berdiri di samping kami akhirnya tidak tahan melihatnya.

"Bu Elsa, ini topan level delapan belas! Orang bisa mati! Rumahmu yang pakai dinding bata dan beratap genting itu nggak mungkin bertahan!"

Ibu tetap tak bergeming.

Dia berbalik masuk ke rumah. Tak lama kemudian, dia keluar sambil menggendong Goldy, anjing besar keluarga kami.

Goldy dimasukkannya ke tempat kosong terakhir di dalam mobil. Wajahnya sama sekali tidak menunjukkan rasa bersalah.

"Goldy ini nggak tahu mencari tempat berlindung. Aku harus bawa dia juga." Setelah itu, Ibu menatapku sekilas. "Sandra, kamu manusia! Kamu tahu cara mencari tempat untuk berlindung!"

Ayah yang duduk di kursi depan membuka mulut, hendak mengatakan sesuatu.

Namun, begitu Ibu melirik tajam ke arahnya, dia langsung memalingkan wajah dan memilih menatap ke luar jendela.

Pintu mobil pun ditutup.

Dari balik kaca yang buram oleh air hujan, aku melihat adikku menempelkan wajah ke jendela sambil mengetuk-ngetuknya sekuat tenaga. Mulutnya terus bergerak, meneriakkan sesuatu kepadaku.

Namun, suara angin terlalu kencang. Aku tidak bisa mendengarnya.

Ibu menahan kepala adikku agar dia tidak bisa lagi melihat ke arahku.

Mesin mobil menyala. Lampu belakangnya membentuk dua garis merah di tengah derasnya hujan, lalu perlahan menjauh dan makin mengecil.

Sampai akhirnya, aku tidak bisa melihat apa-apa lagi.

Seluruh lampu di Kota Langsa padam satu per satu.

Tinggallah aku seorang diri, berdiri di tengah hujan dan amukan angin.

Lalu, dari tengah kegelapan, terdengar suara seseorang berteriak.

"Aku masih punya tempat!"

Expandir
Próximo capítulo
Baixar

Último capítulo

Mais capítulos

Para os leitores

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

Sem comentários
9 Capítulos
Explore e leia bons romances gratuitamente
Acesso gratuito a um vasto número de bons romances no app GoodNovel. Baixe os livros que você gosta e leia em qualquer lugar e a qualquer hora.
Leia livros gratuitamente no app
ESCANEIE O CÓDIGO PARA LER NO APP
DMCA.com Protection Status